
Sudah dua hari ini Laura terbayang-bayang wajah sein yang terus menghantui pikirannya. Ketakutan dan penasaran yang dia rasakan ketika terbayang sentuhan pria kasar itu padanya.
Laura terbangun, dia mengusap wajah pucatnya, mencoba mencari udara segar, dia keluar dari rumahnya menatap langit yang yang dihiasi bintang-bintang, hal itu tidak pernah membuatnya bosan, angin malam membuatnya memekik, tubuhnya kedinginan yang hanya mengenakan pakaian tidur.
Bunyi gemerisik di malam yang gelap membuatnya terkejut. Laura memundurkan langkahnya, kemudian masuk kedalam rumahnya.
~
Pagi itu Laura mengemasi beberapa barang yang akan diantarkan kerumah nyonya beagel , ibunya selalu membuat roti gandum hitam dan kama merupakan makanan penutup yang menjadi populer di kalangan para lady, mereka tahu kama buatan ibu sangat sempurna untuk sajian penutup setelah makanan utama.
"jangan lupa bawa bungkusan yang satu ini untuk lady george, dia menunggu tepat pukul 11 di kapal pesiar itu, jangan sampai lupa."
"Oky mom jangan khawatir." Laura berjalan ke kediaman lady Bigael mengantarkan satu bungkus roti gandum hitam, lalu setelah mengantarnya dia menuju kapal pesiar tempat kerjanya semalam dan juga memori buruk yang ingin dilupakannya.
Laura memandang kapal pesiar yang begitu besar, memperhatikan orang-orang sedang berbincang-bincang diatas dek kapal. Dia mencari-cari lady george yang memesan kama sebagai makanan penutup.
"Kau Laura, putri dari carlotta? apakah pesananku sudah ada?" seorang lady berambut pirang dengan belahan dada begitu pendek memperhatikan bungkusan yang dibawa oleh Laura.
Laura mengangguk kepadanya, "ini nyonya kama pesanan anda." Dia tersenyum ceria, "Uhh, kama aku suka sekali, susah mencari kama selezat buatan ibumu meskipun aku mengelilingi desa ini." Dia melambai-lambai dengan saputangannya.
"Oh ya, kau mau membantuku? Aku harus menata makanan untuk makan siang dan kau bisa menyiapkan kamanya setelah makan siang usai."
Laura mengangguk, mengiyakan.
"Baik nyonya George." Dia lantas mengikuti wanita itu menuju ke dapur, mereka melintasi beberapa tempat peristirahatan, beberapa orang sedang berkumpul dan berbincang.
"Membosankan bukan? tidak ada yang menarik di tempat ini." Kata Jon yang memandang orang-orang desa dari atas kapal. Edmund bersandar sembari memainkan pemantik di tangannya.
"Tidak juga." Ucap Edmund wajahnya menemukan gadis bermata tosca yang di carinya semalam.
"Benarkah?" Edmund mengedikkan bahunya dan segera pergi.
Laura segera mengeluarkan kama yang disusun di keranjang, kama adalah makanan penutup yang terbuat dari tepung barley, rye, oat, dan kacang polong serta butter milk agar lebih gurih dan nikmat. Kama adalah hidangan tradisional yang sangat digemari di Estonia.
Laura menyajikannya di piring-piring kecil lalu menatanya di atas nampan. "Setelah makan siang kau bisa membawakannya ke ruang makan Laura."
__ADS_1
"Baik nyonya."
Hidangan penutup akhirnya disajikan, Laura dengan cekatan membawa nampan-nampan berisi kama dan dihidangkan diatas meja di depan para keluarga Alexander dan tamu-tamunya. Setelah hidangan penutup di sajikan Laura segera kembali ke dapur, dia berjalan di sepanjang koridor, seorang pria dengan mata coklat karamel memandangnya lalu melipat tangan di tubuhnya, tentu saja dia menghalangi jalan Laura.
Laura berhenti melangkah, sontak mata cantiknya menatap langsung manik mata Edmund, "Kita bertemu lagi." dia tersenyum.
Laura menatapnya dengan tersenyum ragu. "Erm iya tuan." Dengan cepat menurunkan kembali matanya ke bawah.
Edmund hanya berdiri tanpa mengucapkan apapun lagi, tapi dia tidak kunjung bergeser di koridor sempit itu. "Em..permisi tuan." Kata Laura tanpa memandangnya.
"Apakah kau punya waktu?" tanya Edmund menatap Laura dengan wajah datar.
"Waktu? aku, maaf tuan, saya harus kembali kerumah dan bersiap kerja." Kata Laura cepat.
"Kerja? berapa bayaranmu?" Mata Edmund menyala menginginkan sesuatu dari gadis dihadapannya ini.
"Em..saya di bayar seminggu sekali sir, tidak begitu banyak, tapi aku menginginkan pekerjaan itu."
"Aku ingin waktumu, apakah kau bisa? mungkin beberapa jam saja." Tanyanya.
Dia berkedip beberapa kali ketika pria itu tersenyum miring terhadapnya.
"Bawa aku ketempat menarik di desa ini." Katanya lagi. "Tempat yang tidak membosankan, kau tahu?" Dia berjalan pelan tepat dihadapan Laura.
"Banyak tempat yang menarik di desa ini tuan, tapi saya tidak yakin tuan, maksud saya apakah saya pantas sebagai pemandu anda." Laura mundur sedikit, tubuh pria itu sudah hampir menyentuh nampan Laura yang di pegangnya.
"Aku yakin kau akan menjadi pemanduku yang tidak akan membuatku bosan, berapa yang kau inginkan." Katanya tanpa basa basi.
"Emm saya tidak tahu berapa bayaran seorang pemandu." Laura tertunduk, dia tidak ingin menatap mata karamel pria ini.
"Apakah kau memang seperti ini? betul-betul lugu dan tidak tahu apapun, tapi aku suka tipe sepertimu." Katanya terus terang.
"Apa?" kata Laura kaget, matanya membulat menatap Edmund.
Dia melengkungkan mulutnya, tiba-tiba tangannya memerangkap laura, "Wanita lemah sepertimu membuatku bergairah." Dia berbisik di telinga laura dengan mengendus sedikit telinga dan leher Laura.
__ADS_1
Laura begitu terkejut, dia lalu mendorong keras tubuh pria itu. "Apa yang tuan lakukan, lepaskan saya."
Tanpa berkata-kata dia menarik Laura ke ruangan di sebelahnya, ruangan itu kosong, beberapa pakaian laundry tersusun rapi di tempat itu.
Edmund mencekal kedua tangannya, sehingga Laura kesusahan untuk bergerak.
"Lepaskan aku, apa yang anda lakukan." bentak Laura.
Wajah datarnya membungkuk tepat dihadapan Laura, edmund menyerang bibir Laura yang merah. Laura menggeram, mendorong sekuat tenaga pria yang tiba-tiba menciumnya.
Suara laura teredam, ciumannya begitu kasar, dia menggigit bibirnya, memaksanya untuk membuka. Dia menarik rambut Laura ke belakang hingga mata Laura dipaksa untuk menatap pria yang menciumnya dengan seenaknya.
"Mmphh," Laura mendorongnya, dia lalu bernapas kasar mencari-cari udara. Suara tamparan keras mendarat di pipi lelaki berdiri kokoh dihadapannya.
Laura menangis, dan menjauh darinya, kenapa hari ini dia begitu sial?? apa yang dilakukannya sampai dia sesial ini?? Edmund menghampiri Laura yang terisak.
"ini untukmu, jadi berhentilah menangis." Beberapa lembar uang di selipkan di tangannya, membuat napas Laura memburu, dia merasa sangat direndahkan, apakah memang tingkah laku mereka yang bangsawan seperti ini? merendahkan mereka yang tidak memiliki apa-apa seperti ini? dia membuang uang yang diselipkan ditangannya langsung ke wajah Edmund, Uang itu berjatuhan di lantai.
"Menjauh dariku brengsek." Laura membuka pintu dan berlari sepanjang koridor menahan tangisnya. Dia betul-betul tidak cocok dengan kapal ini kesialan selalu menghampirinya .
Edmund masih menatap lembaran uang yang diberikannya kepada Laura.
"Laura? berani sekali wanita itu menamparku?" Edmund keluar dari ruangan itu sambil menggosok pipinya bekas tamparan Laura tadi.
~
Laura berhenti di tepi laut, dia bersandar di balik pohon, tempat dia dan ayahnya biasa menghabiskan waktu ketika berlibur beberapa tahun yang lalu. Dia menghapus air matanya lalu memegang bibirnya yang bengkak. Dua pria kurang ajar telah menciumnya dalam semalam, apa yang telah kulakukan sampai menerima kesialan ini?
Setelah puas menangis Laura kembali kerumahnya, menatap ibunya yang sedang menjemur beberapa ikan yang dibelinya di pelelangan ikan di pasar.
"Kau sudah kembali Laura, apa yang dikatakan nyonya George apakah dia menyukai kama buatanku?" kata Charlotte senang.
Laura menganggukkan kepalanya.
"Aku mau mandi mom." Laura masuk kerumahnya dan masuk ke kamarnya. Dia masih mengingat ciuman kasar pria itu, Laura membersihkan bibirnya dengan air dan menatap wajah pucatnya yang cantik, "Aku harus menjauhi pria-pria itu, mereka brengsek dan berbahaya." Laura berendam di bathtub dan mencoba merilekskan tubuhnya, step akan menghubungiku jika dia membutuhkan pekerja nantinya. Uang yang kuterima dari kapal itu hanya setengah, semua itu gara-gara pria perompak itu, mengacaukan segalanya.
__ADS_1