Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 72


__ADS_3

Seminggu setelah perdebatan antara Edmund dan orang tuanya, hari-hari Edmund dipenuhi dengan kesibukan, dia pulang dan pergi dari mansion ke istana. Dia bersama dengan Leona jika malam hari saja, sedangkan pagi-pagi sekali dia telah berangkat sebelum Leona bangun tidur, entah apa yang sedang di lakukan Edmund.


Leona bangun pagi itu, dia berusaha bangun sebelum Edmund, tetapi sama halnya dengan kemarin, Edmund bangun mendahului Leona lagi. Leona mengucek matanya dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah mandi, dia segera mengenakan gaunnya dan turun ke meja sarapan, di sana telah menunggu tuan Viss yang berdiri di dekat meja.


"Selamat pagi Nyonya Leona, silahkan sarapan, tuan Edmund berpesan agar hari ini anda berangkat ke kediaman Nyonya Laura."


Leona mengernyitkan alisnya. "Untuk apa aku kesana?" Tanyanya.


"Nyonya Laura ingin mengajak anda berkeliling kota Cambridge, dia ingin mengajak anda berjalan-jalan, karena tuan Edmund begitu sibuk di istana, jadi dia menghubungi tuan Hoult agar anda bersama Nyonya Laura berjalan-jalan bersama, mungkin anda bosan berada di dalam mansion setiap hari." Ucap kepala pelayan Viss.


Leona terdiam, "Viss, kau tahu kenapa Edmund sangat sibuk? apa yang dikerjakannya di istana sehingga seminggu ini aku kesulitan bertemu dengannya."


"Maafkan aku Nyonya, tetapi kelihatannya ada pekerjaan yang diberikan tuan Alexander kepada tuan Edmund, seperti tuan Hoult yang memiliki posisi penting di istana, tuan Edmund pun memiliki posisi penting yang di bebankan padanya."


"Hmm, Oh ya, jam berapa aku harus bersiap-siap bertemu Nyonya Hault?"


"Pagi ini Nyonya, kereta kuda akan menjemput anda, silahkan anda bersiap-siap, saya akan menunggu mereka di depan gerbang."


Setelah sarapan, Leona mengenakan gaun bepergiannya, dua orang pelayan membantunya bersiap-siap. Leona menatap dirinya, wajahnya telah banyak berubah, mungkin karena gaun mahal ini atau aksesoris mewah yang di kenakannya. Dia terlihat cemberut.


Setelah bersiap-siap, dia menunggu di taman mansion, tidak lama kemudian terdengar kereta kuda milik keluarga Hoult datang dan menunggu di depan gerbang.


Laura melambaikan tangannya kepada Leona, dengan tersenyum senang, Leona masuk ke dalam kereta dengan di antar oleh Kepala pelayan Viss.


"Selamat bersenang-senang Nyonya."


Kereta pun berangkat, Laura sangat ramah dan begitu baik kepada Leona, mungkin karena dia merasa sama-sama berasal dari suatu pulau, sehingga Laura merasa nyaman dengan leona, begitupun sebaliknya.


"Kita akan berkeliling dulu di koleksi gaun-gaun Nyonya Meny setelah itu aku akan memperkenalkan toko Cake yang sangat lezat."


"Tentu aku tidak sabar ingin melihatnya." Ucap Leona, dia kemudian menatap Laura. "Mm, boleh aku bertanya? Apakah suami anda sibuk di istana? karena Edmund sangat sibuk, kami bahkan jarang berbincang." Ucap Leona, wajahnya terlihat sedih.


"Apa aku boleh memanggilmu Leona? kau boleh memanggilku Laura."


"Tentu saja, aku lebih suka dengan panggilan biasa saja." Ucap Leona dengan memijat bahunya, merasa jengah dengan gelar kehormatan.


"Sepertinya tuan Edmund di berikan tugas yang berat oleh pihak istana, bagaimanapun dia putra Alexander jadi dia memegang beberapa peran penting di istana, Tuan Alexander seorang pejabat di kementrian, biasanya Edmund membantu ayahnya mengerjakan tugas-tugasnya.


"Dia sangat sibuk." Gumam Leona sambil menatap murung alun-alun kota menuju pusat kota Cambridge.


Laura menepuk bahunya. "Jangan khawatir, pekerjaan itu tidak akan berlangsung selamanya, sebentar lagi dia tidak akan sibuk, sama halnya seperti Sean." Ucap Laura memberikan semangat kepadanya. Hari itu mereka bersenang-senang, Leona tampak ceria, mereka masuk ke berbagai toko yang ada di sana, menikmati makanan lezat serta membeli beberapa gaun yang indah. Leona merasa Laura sangat cocok dengannya, dia mudah di ajak berkomunikasi dan dia sangat baik hati.


Setelah pukul 1 siang saatnya mereka kembali ke Mansion. Sepanjang perjalanan, mereka saling bercerita dan tertawa, dan tanpa terasa Leona telah tiba di mansion. "Lain kali aku akan mengajakmu ke musium, Leona."


"Kapan saja, aku akan sangat senang." Dia melambai kepada Laura dan segera masuk ke dalam. Dua orang penjaga membukakan pintu gerbang mansion, Leona kemudian masuk. Dia berjalan perlahan-lahan, dan menatap ke arah taman. Leona berbelok dan duduk di taman yang tersembunyi itu, dia menengok dari taman ketika mendengar suara-suara perempuan mengomel dari arah mansion.


"Tsk, itu ibu tiri Edmund, apa maunya dia datang kemari." Gumam Leona mengintip dari taman.


"Tunggu saja, jika wanita itu tahu kedudukannya, dia tidak akan bertahan lama, biar bagaimanapun wanita itu tidak akan memegang nama belakang Alexander, jika dia menginginkannya, dia harus membiarkan Edmund menikahi wanita bangsawan."


Leona terkejut, dia lalu terduduk. "Jadi yang dikatakan sofia itu benar? agar aku diakui menjadi istri sah Edmund dan memegang nama belakang Alexander, seorang wanita bangsawan harus terlebih dahulu menikah dengan Edmund?"


"Itu benar sekali." Suara itu membuat Leona berbalik, dia tidak menyangka wanita tua itu menemukannya, mungkin ada seorang pelayan yang melaporkan bahwa dia duduk di taman.


"Siapa yang mengizinkanmu untuk keluar dari mansion ini, apa kau ingin mempermalukan keluarga Alexander lagi? Leona berdiri, dia masih terdiam, dan belum menjawab semua ucapan wanita di hadapannya.

__ADS_1


"Katakan siapa?" Ucapnya dengan suara keras, siapapun yang mendengarnya akan mengira Nyonya Alexander sedang memarahi seorang pelayan.


"Edmund. Saya keluar berjalan-jalan bersama dengan Nyonya Hault, dia mengajakku berjalan-jalan ke kota." Jawab Leona.


Ekspresinya lalu berubah, "Benarkah? dari mana kau mengenal Nyonya Hault?" Ucapnya jengkel.


"Dia mengundangku sewaktu minum teh baru-baru ini." Jawab Leona.


"Lain kali jika kau berbicara padaku, panggil aku dengan sebutan Nyonya, kau masih belum kuanggap sebagai menantuku, kau paham? kau hanyalah gadis desa tidak berguna yang mencuri perhatian Edmund." Geramnya.


Leona sakit hati, dia tipe yang membalas dua kali lipat jika dia merasakan sakit yang mengiris di hatinya, kenapa dia harus menerima semua ucapan nenek di hadapannya, dia tidak layak di perlakukan seperti ini, mengapa mereka membencinya.


"Dasar Nenek tua." Ucap Leona.


"A-APA KAU BILANG?".


Para pelayan di belakangnya terkejut, mereka mundur beberapa langkah. Leona menatapnya tajam.


Dari awal mereka sudah tidak menyukaiku, kenapa tidak sekalian saja aku membuat diriku lebih buruk di matanya, toh meskipun aku berusaha baik, dia tetap akan membenciku, aku juga tidak tahan mendengar segala cacian penghinaan dari mulut keriputnya.


"Aku bilang Nenek tua."


Tangkap wanita ini, dia pikir dia berada dimana, berani sekali menghinaku." Tiga orang pelayan berusaha memegang Leona, dengan cepat Leona memukulnya, dan menampar kedua pelayan itu, dan salah satunya, Leona tarik rambutnya dan menendangnya.


Leona terlalu bosan mendengar segala makian, baik di desa, dia harus menghadapi orang-orang yang menganggapnya anak yang tidak diinginkan karena anak yang berasal dari bajak laut mengerikan, sehingga dia dikucilkan oleh penduduk desa.


Sekarang mereka kembali menghina Leona hanya karena dia berasal dari pulau. "Aku muak." Dia menendang pelayan yang mencoba memegang tangannya, dan mengenai Nyonya Alexander sehingga mereka berdua terjatuh.


"Apa yang terjadi?" Suara itu membuat Leona berbalik, Edmund berdiri di sana bersama dengan kenan dan beberapa orang lainnya. Nyonya Alexander membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara Edmund.


"Leona kemarilah." Ucap Edmund, dia mendatanginya lalu berdiri di hadapannya.


"Minta maaflah kepada ibu, biar bagaimanapun dia bertanggung jawab atas keluarga Alexander, jadi minta maaflah, itu hanya membuatmu akan kesulitan kelak." Ucapnya. Mata Leona memanas, dia merasa ini tidak adil.


"Dia menyuruh 3 pelayan itu memegangku, aku tidak bisa membiarkan siapapun menyakitiku, bahkan ibumu sekalipun aku tidak bisa menerima di perlakukan seperti ini." Geram Leona, dia teriak di depan Edmund dengan mata menyala dan menatap tajam kepadanya.


"Bawa Nyonya Alexander kembali ke kastil." Perintah Edmund kepada pelayan itu.


"Baik tuan."


"Dan bawa Nyonya Leona kembali ke kamarnya."


"Baik tuan."


Leona menatapnya tajam, dia menampar pipi Edmund, setelah itu dia berbalik dan pergi, dua orang pelayan mengikutinya dari belakang tampak ketakutan.


Edmund menghembuskan napas sambil menatap Leona dari kejauhan. Suasana canggung terasa di antara mereka, kenan menepuk bahu Edmund, temannya yang lain tentu saja terkejut, karena tidak ada seorangpun yang berani memukul Edmund, apalagi Edmund sama sekali tidak marah.


***


Pukul 11 malam Leona belum bisa tidur, dia mengingat kejadian siang tadi, menghadapi mereka semua perlu tenaga ekstra, jika mereka licik, Leona merasa dia harus lebih licik lagi sehingga mereka tidak akan mempermainkannya. Suara pintu membuka, Edmund baru saja kembali dari istana, dengan cepat Leona membalik tubuhnya. Dia berpura-pura tidur.


Edmund terlihat lelah, apa yang membuatnya begitu lelah? mengapa dia terus mengerjakan pekerjaan ayahnya?


Edmund masuk ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya. Tidak lama kemudian dia keluar dan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.

__ADS_1


Dia menatap Leona yang telah tidur, setelah mengeringkan rambutnya, dia segera naik ke atas tempat tidur dan menyelimuti dirinya. Dia mendekat ke Leona dan menariknya dengan lembut dan memeluknya erat. Dia kemudian menutup matanya dan tidak lama kemudian dia sudah tertidur.


Leona membuka matanya, lalu memandang wajahnya. Dia kemudian kembali menutup matanya.


***


Pagi-pagi sekali seperti biasanya, dia sudah berangkat ke istana, Leona menghembuskan napasnya, dia memikirkan apa yang akan di lakukannya hari ini, setelah mandi dan bersiap-siap, Leona turun ke lantai satu, tanpa di sangka, Mansion kosong, tidak ada seorang pelayan pun yang ada di mansion dan tidak ada sarapan yang tersedia di atas meja.


"Kemana semua orang?" Gumam Leona. Dia berjalan mengelilingi mansion dan tidak mendapati seorangpun pelayan yang ada di sana. Leona menuju dapur, tetapi sama saja, karena pelayan tidak ada di mana-mana.


"Apa ini cara baru yang dilakukan nenek sihir itu? Kau pikir aku akan kelaparan jika kalian tidak melayaniku?" Ucap Leona. Dia membuka-buka ruang penyimpanan makanan dan mendapatkan segala yang dia butuhkan untuk sarapan. Hari ini setidaknya dia memasak untuk memulai harinya. Makanan yang masih panas itu di bawanya ke ruang makan tepat ketika seorang pelayan berlarian.


"Hei, ada apa? kenapa kau berlari seperti itu?"


"Ah itu ..."


"Cepat katakan apa yang terjadi." Perintahnya.


"Kami semua berada di kastil tuan Alexander, karena beliau sakit keras, jadi semua pelayan ke sana karena mengkhawatirkan beliau." Ucap pelayan itu.


Leona terduduk di kursi, sekarang dia mengerti mengapa Edmund sangat sibuk, dia mengerjakan semua pekerjaan ayahnya, hingga larut malam, karena ayahnya sedang sakit keras.


"Mengapa dia tidak mengatakan semua itu kepadaku? Mengapa tidak ada yang memberitahukan berita itu kepadaku?" Leona sarapan dengan cepat, dia kemudian berangkat ke kastil tetapi dia mengenakan pakaian pelayan, agar dia tidak terlihat mencolok. Dia tiba di kastil dan di sana sangat ramai, banyak orang yang berkumpul di sana.


Dengan mengendap-endap dia berjalan menuju ke belakang kastil ingin mencari informasi. Tidak di sangka Edmund ada di sana, banyak tamu berdatangan menjenguk tuan Alexander.


Leona menarik dengan erat penutup kepalanya agar wajahnya tidak terlalu tampak, dia kemudian bertanya kepada pelayan yang bekerja di kastil itu.


"Ada apa dengan tuan Alexander, dia sakit apa?"


"Kau tidak tahu? Seminggu yang lalu tuan Edmund menolak lamaran Nona Sofia, dan itu membuat tuan Alexander sangat marah, dia akhirnya jatuh sakit, dan itu berlanjut sampai sekarang, sepertinya tuan Alexander sangat membenci menantunya yang dari desa itu. Semua pekerjaan ayahnya di kerjakan oleh tuan Edmund."


"Benarkah?"


"Lihat ! lihat, nona Sofia datang lagi, dia sudah datang ke kastil ini yang kelima kalinya sedangkan menantunya tidak pernah datang bahkan sekalipun, akhirnya semua berpihak kepada Nona sofia, padahal aku lumayan menyukai istri tuan Edmund, dia supel dan baik dan juga tidak gila hormat." Ucap pelayan itu.


Leona menatap Sofia, dia berbicara dengan Edmund, mereka terlihat berbicara dengan serius. "Hei, hei coba kau mendekat ke sana, pura-pura menuangkan teh dan dengarkan apa yang mereka bicarakan, aku sangat penasaran."


"Haa, oh ok tenang saja," Pelayan itu melakukan apa yang di suruhkan Leona, dia menuangkan teh ke cangkir mereka berdua dengan perlahan.


~


"Menyerahlah Edmund, ayahmu bisa saja mati jika kau tidak memenuhi keinginannya." Ucap wanita itu.


"Bukankah di sini tidak ada kerugian yang kau dapatkan? Setelah kau menikah denganku, Ayahmu akan sehat kembali, dan kau bisa bersama istrimu secara sah, dia tidak perlu lagi mendengarkan ucapan istri tidak sah atau tidak di akui dari orang-orang."


"Bagaimana? bukankah ini tawaran yang terbaik?" Ucap Sofia.


"Terimalah Edmund agar ayahmu bisa bahagia, jika dia bisa bertahan malam ini, setidaknya kau memenuhi keinginannya untuk terakhir kalinya, dengan pernikahanmu ini, Nona Sofia bisa memperkuat pondasi keluarga Alexander, dengan penggabungan dua keluarga, maka tidak akan ada lagi yang berusaha menyerang keluarga kita." Ucap Nyonya Alexander.


Dokter telah datang dan memeriksa kondisi ayah Edmund, mereka semua berkumpul di depan kamar utama.


"Tuan Edmund ayah anda ingin bicara dengan anda, silahkan masuk."


Leona hanya menatap mereka dari kejauhan, kesedihan terpancar dari wajah Leona. Setelah menunggu cukup lama, dokter, Edmund dan ibunya keluar dari kamar utama.

__ADS_1


Senyum merekah di wajah Nyonya Alexander. "Selamat Sofia, Edmund menyetujui pernikahan bersyarat itu, sebentar lagi kau akan menjadi istrinya." Kemenangan akhirnya terlintas di wajah Sofia.


__ADS_2