
Sinar matahari telah menerangi kota Cambridge, segala aktivitas di pagi itu mulai terlihat sibuk, pelayan di mansion itu terlihat sibuk menyiapkan sarapan dan tidak lepas dengan bisik-bisik ketika mereka berpapasan di jalan.
Mansion Edmund Alexander memang tidak sebesar dengan milik keluarganya, mereka tinggal di kastil dekat dengan istana kerajaan, begitupun dengan kediaman kastil tuan Windsor. Meskipun begitu, mension itu mewah, elegan dan indah juga memiliki taman yang luas dan air mancur di antara taman.
Sementara itu, ruangan itu mulai terlihat terang karena sinar matahari pagi telah menyusup di antara sela-sela jendela kamar dan menerangi sosok mereka berdua yang berbaring di bawah selimut. Tubuh mereka menempel begitu erat, entah mengapa mereka belum bangun juga, padahal sinar matahari telah menyinari tubuh mereka.
"Ngh, panas sekali," Leona membuka kedua matanya, dia langsung menatap wajah tampan yang sedang bernapas normal, terdengar alunan napas yang naik turun, hembusan napasnya bisa Leona rasakan diwajahnya. Leona melepaskan pelukan Edmund yang begitu erat, dia terlihat sangat kelelahan dan memutar tubuhnya membelakangi Leona.
"Ugh, Edmund bodoh, kenapa kau seperti itu? kau bahkan tidak membuatku beristirahat sebentar. Tch, badanku sakit semua." Leona mencoba bangun dan berjalan. Dia mengambil selimut itu dan melilitkan di tubuhnya.
Rambutnya panjang terurai dan jatuh di punggungnya, dia melihat dirinya di cermin dan melihat perubahan besar padanya. Leona memegang kedua pipinya yang memanas. "Kenapa aku merasa seperti bukan diriku yang dulu? Aku merasa berbeda setelah menikah dengan Edmund." Ucapnya sambil berputar di depan cermin dan menggelengkan kepalanya ketika menatap beberapa lebam di tubuhnya.
Ketukan terdengar dari luar pintu kamar, Leona terkejut, dia mencari sesuatu yang bisa menutup dirinya, karena sekarang ini dirinya terlihat jelas telah habis bercinta dengan Edmund.
"Tuan Edmund, saya minta maaf telah mengganggu, tapi tuan dan Nyonya, telah menunggu di kediamannya, mereka ingin sarapan dengan anda." Leona berdiri di depan kamar, tetapi dia tidak mau membukanya karena sekarang tubuhnya hanya terlilit selimut dan itu terlihat memalukan. Tiba-tiba saja gagang pintu itu bergerak-gerak dan diketuk kuat.
"Tuan, ini saya Rodeth, saya ingin memberitahu bahwa tuan dan Nyonya telah menunggu anda, sebaiknya anda bangun." Suara itu terdengar tidak sabar, membuat Leona mengernyitkan alisnya. Apakah dia seorang pelayan? mengapa dia bersikap kurang ajar seperti itu? meskipun aku dari desa, aku bisa membedakan jika dia bersikap sopan dan tidak. Siapa wanita itu?"
Edmund perlahan membuka matanya, dia mencari-cari dengan tangannya, "Leona kau dimana?" Ucapnya sambil mencoba membuka matanya dengan lebar. Sementara itu Leona telah masuk ke kamar mandi, dia ingin segera selesai berpakaian, dan segera menyapa kedua orang tua Edmund.
Setelah selesai, Leona mengenakan pakaian yang di sediakan oleh Edmund semalam, dia telah memerintahkan pelayan membawa seluruh gaun-gaun indah dan langsung di bawa ke kamar pribadinya.
"Mengapa kau cepat sekali mandi dan berpakaian?" Leona berbalik dan berdiri di depan cermin, dia harus berusaha tampil dengan terbaik.
"Aku akan memanggil pelayan untuk mendandanimu, kau tidak perlu sibuk untuk mempersiapkan dirimu, sayang." Leona berbalik dan mengangkat bahunya.
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri, kau tahu kan, aku lebih suka mengerjakan semuanya sendiri." Ucap Leona.
Edmund bangun dari tempat tidurnya, dia mengenakan handuk lalu menghampiri Leona. "Sayang, aku tahu kau tidak terbiasa dengan semua ini, tapi kau harus belajar untuk semua hal, termasuk belajar untuk di layani." Dia memegang bahu Leona dan memeluknya, aku akan mandi dan segera bersiap-siap."
Edmund masuk ke kamar mandi, sementara itu Leona masih menatap dirinya, dia terlihat cantik dan natural, meskipun polesan make-up tidak terlalu nampak di wajahnya, rambutnya yang panjang dia kepang menjadi bentuk yang indah.
"Mm, kupikir ini cukup, Huuf, aku tidak perlu takut, aku sudah berada di sini. Karena aku sekarang bersama Edmund, aku akan menghadapi semuanya."
"Kira-kira apa yang di lakukan seorang istri dan menantu jika dia baru saja menikah? Aku tidak tahu bagaimana budaya di kota ini." Ucap Leona.
Setelah Edmund selesai mandi, Leona yang membantu Edmund bersiap-siap dengan mengambil pakaian yang akan di kenakannya, serta mengancing kemejanya dan memilihkan jas untuknya, dia mencari warna yang senada dengannya.
"Hmm, ide yang bagus, biasanya Rodeth yang menyiapkan segalanya untukku, dia salah satu pelayan yang menyiapkan pakaian-pakaianku setiap harinya."
"Benarkah? Jadi, dia ada di kamarmu sepanjang waktu dan melihatmu berpakaian?" Ucap Leona sambil menaikkan alisnya.
"Apa pertanyaan ini karena kau cemburu? Dia hanya seorang pelayan, sayang. Setiap bangsawan memiliki pelayan yang menyiapkan kebutuhan majikannya." Leona mendengus tidak suka mendengarnya. Ketukan kembali terdengar di luar pintu, Edmund lalu membukanya. Tampak seorang wanita berdiri di sana, dia mengenakan seragam berwarna hitam dan putih.
"Tuan, anda sudah selesai? sejak tadi saya sudah mengetuk, saya ingin menyiapkan pakaian anda." Ucapnya matanya terarah kepada Leona yang berdiri di belakang Edmund.
"Mulai hari ini, kau tidak perlu menyiapkan pakaianku, karena istriku ingin menyiapkannya sendiri, lain kali jika dia menyuruhmu, maka kau hanya perlu mengerjakannya." Ucap Edmund.
__ADS_1
"T-tapi tuan, sudah sejak lama saya yang menyiapkan segala keperluan anda, saya sudah terbiasa melakukannya." Dia berkata seperti itu sambil menunduk sedih.
"Sekarang tidak perlu lagi, saya tidak mengatakan perintahku untuk kedua kalinya, kau mendengarnya? kau boleh pergi." Mata pelayan itu seketika membulat, Leona dapat melihat wajah wanita yang sedang patah hati. Dia menunduk sebentar seperti hendak menangis dan segera undur diri.
"Pria ini. Tch berapa banyak wanita yang telah patah hati? bahkan pelayan itu terlihat marah ketika melihatku." Gumam Leona.
Edmund berbalik dan mengulurkan tangannya kepada Leona. "Kita berangkat sekarang, mereka rupanya tidak sabar menunggu kita." Ucap Edmund sambil tersenyum. Leona berdecak dan memegang tangannya.
***
Kastil Alexander, kediaman keluarga Alexander.
Mereka berdua tiba di kastil milik orang tuan Edmund, Leona sejak tadi memperhatikan Edmund, dia terlihat tidak nyaman untuk pergi ke kastil itu, apa yang dipikirkannya?
"Kondisimu terlihat kurang baik, kau pucat Ed." Ucap leona.
"Mm, mungkin karena semalam aku mengurangi porsi tidurku, aku tidak bisa melihatmu berbaring begitu saja tanpa sentuhanku." Ucap Edmund sambil memegang erat tangannya.
"Kenapa di kepalamu hanya itu yang kau pikirkan?" Leona menyandarkan kepalanya di lengan Edmund.
"Kita akan sarapan, sejauh ini?" Gumamnya.
"Hehe, ya sayang, bagaimana menurutmu?"
"Mm, cukup menarik, dan aku bisa bertemu dengan orang tuamu." Ucap Leona, Wajahnya tiba-tiba berubah dingin.
Leona kembali menatapnya, Ada apa dengan ekspresi itu? mengapa wajah tidak suka terpancar lagi dari wajahnya.
"Tch, pelayanmu itu kuat sekali bergosip, apa mereka tidak ada kerjaan? lihat mata mereka, kenapa mereka menatapku seperti itu?" Gumam Leona, Edmund terkekeh ketika melihatnya bergumam-gumam ketika mereka berjalan. Seperti yang Edmund perkirakan Leona tidak mudah terintimidasi dengan suasana baru ini, dia terlihat kuat, dan sangat manis, dengan terang-terangan Edmund menarik pinggang Leona dan memberikan kecupan di pipinya. Melihat hal itu beberapa pelayan tampak senang dan mengatakan mereka sangat cocok dan terlihat romantis. Tetapi sayangnya tidak semua kegembiraan itu di menjadi kebahagiaan mereka.
Roudeth nama pelayan itu, dia melihatnya dengan mata tajam berbahaya, dia tidak suka melihat tuan mudanya bersama gadis kampung itu.
"Kita akan lihat, bagaimana Nyonya baru kita akan menghadapi Nyonya muda Alexander, aku tidak sabar melihatnya."
Seorang pelayan mencibir, "Roudeth, coba kau bercermin dan lihat wajahmu itu, mengerikan sekali. Sekarang ini di wajahmu terlihat sangat cemburu, kenapa kau cemburu? Kau kan hanya seorang pelayan, hanya saja kau beruntung mengatur pakaian tuan Edmund, jika saja dia tahu perasaan apa yang kau simpan padanya, dia pasti akan jijik dan menendangmu sekarang juga." Ucap pelayan bernama Oval, dia berjongkok sambil menggigit wortel, pelayan satu ini terkenal dengan mulutnya yang pedas.
"Kau ! berani sekali kau." Geramnya.
"Apa? memangnya aku salah?" Ucapnya cuek.
Dia kemudian berdiri dan meninggalkan pelayan itu dengan kemarahan.
***
Mereka duduk di ruang makan, Edmund menyapa banyak orang di kastil itu, beberapa anggota kerajaan yang mampir dan prajurit kenalannya yang berhenti sebentar dan memberikan selamat kepadanya.
"Pagi Edmund dan Nyonya Edmund." Ucap Kenan yang menghampiri mereka berdua, pandangannya jatuh kepada Leona, dia hendak mengambil tangannya dan mengecup punggung tangan Leona. Mata Leona membulat, dia memukul tangan kenan dengan gerakan refleks.
__ADS_1
"Apa yang di lakukan pria mesum ini?" Ucap Leona sambil menarik tangannya dan memegang dada Edmund dengan erat. Sontak Edmund tertawa, dia hampir membungkuk karena dia tertawa lepas. Kenan menatap Edmund, sambil menunggu tawanya berhenti.
"Sayang, kau tahu benar pria yang harus di panggil dengan sebutan mesum." Ucap Edmund.
Dia mengabaikan Edmund yang masih terkekeh lalu menatap Leona sambil tersenyum sopan, "Maafkan aku, tapi itu adalah salam penghormatan untuk anda." Ucap Kenan sambil menjelaskan.
"B-benarkah itu Edmund." Tanya Leona. Edmund menghentikan tawanya.
"Dia benar sayang, tetapi meskipun itu salam yang wajar di negara ini, aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuh tanganmu, tidak akan." Ucap Edmund memperingati kenan.
Kenan terkekeh, baru kali ini Edmund terlihat sangat posesif dengan wanitanya, dia betul-betul sangat berubah. "Sepertinya wanita cantik ini yang beruntung meluluhkan hatimu seperti batu itu." Ucap kenan.
"Ya, kau benar. Hanya Leona permata di hatiku, dia meluluhkan hatiku yang sekeras es."
Leona melepaskan paksa tangannya, dia berpura-pura muntah karena ucapan Edmund, "Jangan menyentuhku kalau kau bicara seperti itu, aku menjadi mual." Ucap Leona menjauh dari Edmund dan mendengus.
Edmund malah tertawa keras, dia tahu Leona tidak suka ucapan seperti itu, "Jangan mendekat, kakiku masih bisa menendang meskipun aku mengenakan dress seperti ini, Edmund." Ucap Leona menjauhi Edmund.
Kenan menatap wajah bahagia Edmund, dia terlihat sangat berbeda dari Edmund yang dulu, pancaran matanya penuh cinta ketika menatap wanita itu. Kenan tersenyum melihat mereka berdua.
"Sepertinya kau harus masuk, ayah dan ibumu sudah menunggu kalian di dalam." Ucap Kenan.
"Ah, sial ! kau benar, kita harus segera masuk Ed." Ucap Leona sambil menarik tangannya. Edmund sekali lagi tertawa, dan memegang tangan Leona. Kenan terkejut ketika mendengar umpatan Leona.
Mereka akhirnya masuk ke dalam kastil keluarga Alexander. Kepala pelayan dan seluruh pelayan memberikan hormat atas kedatangan mereka berdua. Leona bisa merasakan tatapan-tatapan mata yang tertuju padanya. Dia akhirnya bisa melihat orang tua Edmund yang duduk di sana sambil berbincang, mereka menyadari kedatangan Edmund dan Leona.
"Kami menunggu sejak tadi, aku memanggil kalian sampai tiga kali agar kalian segera ke kastil." Ucap Wanita yang duduk di sana, Leona menatapnya langsung, dia mengernyitkan alisnya.
Kenapa wajah Edmund berubah dingin lagi, dan sepertinya wanita itu agak sedikit muda jika dia menjadi ibu Edmund, siapa dia?
"Kau terlambat Edmund, nenekmu sejak tadi menunggumu untuk sarapan pagi, dia tidak makan dari tadi hanya untuk menunggumu." Ucap pria tua itu dengan dingin.
Wajahnya sedikit mirip dengan Edmund, suasana apa ini? sepertinya Edmund tidak nyaman bersama mereka.
"S-sudahlah, aku tidak makan bukan karena menunggu Edmund, aku memang suka terlambat sarapan, jadi berhenti bicara dan kita mulai makan." Wanita tua itu menatap ke arah Leona.
Tahu dia di tatap, Leona menundukkan kepalanya memberikan hormat kepada wanita tua itu. Leona menatap pisau, garpu dan sendok yang di letakkan dengan saling berdampingan.
Tch, kenapa banyak sekali alat makan yang digunakan? kita kan hanya sarapan.
"Oh ya, Nona Lewstin, bisakah kau jelaskan kau berasal dari pulau mana dan bagaimana hidupmu di pulau itu?" Ucap wanita yang selalu menatap ke arah Leona dengan cara paling merendahkan. Leona tahu betul wanita model seperti ini, dia sangat mirip dengan Nyonya Marshmille, arogan dan menilai orang dengan pandangan paling rendah jika dibandingkan dengan dirinya. Untuk menghadapi wanita seperti ini, hanya ada satu cara yaitu menyerang balik.
"Saya berasal dari pulau Zaudetta, di desa Zaudet, anda tahu pulau yang terkenal dan berhantu di kalangan bajak laut? mereka bahkan takut ke pulau kami, tapi saat itu ketika aku memancing ikan, aku melihat Edmund yang terdampar, jadi aku menolongnya, dan dia tinggal di rumahku. Aku hidup seperti warga desa lainnya, berkebun dan memancing, bahkan Edmund juga mengambil sayuran bersamaku, benarkan Ed?" Ucap Leona sambil menepuk punggungnya karena dia tertawa.
Dia kemudian berbisik di telinga Leona, "Bukannya kau mencuri di kebun orang." Ucapnya sambil menahan senyum. Leona mencubit pahanya menyuruhnya diam. Nenek Edmund sejak tadi memperhatikan mereka berdua,
Ck anak itu, dia kini terlihat bahagia, dia tidak pernah tersenyum seperti itu, apalagi di depan ayah dan ibu tirinya, siapa gadis ini, yang merubah cucuku seperti ini?
__ADS_1
Nyonya Alexander tidak suka dengan sikap Leona, dia terdiam, tetapi di kepalanya penuh dengan rencana.
Nenek Edmund juga tidak luput memperhatikan wanita itu memandang istri Edmund, dia memang saudara dari ibu Edmund yang menikah dengan ayah Edmund, tetapi wanita itu hanyalah saudara tirinya, dialah wanita yang menyingkirkan ibu kandung Edmund hingga dia sakit-sakitan dan akhirnya meninggal.