Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 71


__ADS_3

Kereta kuda bergerak kencang di bawah sinar malam bulan purnama di kota Cambridge, mereka berdua kembali ke Mansion setelah makan siang dan dilanjutkan mengobrol bersama tuan Lewstin yang tidak lain ayah Leona, dia banyak memberikan nasehat kepada Edmund, meskipun nasehat-nasehatnya terdengar seperti sebuah ancaman kepada Edmund, mereka menghabiskan waktu hingga malam hari tiba.


Leona berbaring di lengan Edmund, dia merasa sedikit lelah dan mengantuk. "Tidurlah sayang, aku akan membangunkanmu jika kita telah tiba di mansion." Ucap Edmund. Leona mengangguk dalam diam, dan mulai menutup matanya. Membiarkan kepalanya terkulai di atas pangkuan Edmund.


Sesampainya di Mansion, Edmund membopong Leona karena tidak mau membangunkan Leona yang tertidur sangat lelap, dia membawanya hingga masuk ke dalam mansion.


Edmund hendak naik ke atas tangga, ketika seorang pelayan memberitahunya sesuatu. "Tuan, Nyonya tadi datang kemari, sebenarnya dia ingin membawa Nyonya Leona ke kastil, tetapi karena anda berdua tidak ada maka Nyonya menunggu di kastil."


"Beritahu Nyonya Alexander, istriku sudah tidur, dia tidak bisa pergi malam ini ke kastil."


"Baik tuan." Utusan dari kastil Alexander akhirnya pergi. Edmund membaringkan Leona di atas tempat tidur, setelah itu dia melepaskan aksesoris yang Leona gunakan di tubuhnya, dia berjalan menuju lemari dan mengambil gaun tidur untuk Leona. Edmund mengganti pakaian yang Leona kenakan dengan pakaian tidur yang ringan dan lembut.


Setelah mengganti pakaiannya dia membersihkan tubuhnya, meskipun hasratnya kini memuncak, tetapi dia tidak memaksakan keinginannya kepada Leona yang sedang tidur. Dia mencoba mengalihkan perhatiannya dengan mandi air dingin, setelah itu dia menyalakan lampu baca dan mulai membaca.


Waktu menunjukkan pukul 12 malam, Edmund menutup bukunya dan segera ke tempat tidur, dia menyelimuti Leona dan mengecup keningnya, dia pun mulai menutup matanya.


Bunyi jam yang berdetak setiap detiknya di kesunyian malam membuat Edmund tidak bisa menutup matanya, dia mencoba berbagai cara agar dirinya tertidur, tetapi sayang sekali dia tidak mengantuk. Leona terbangun, dia merasakan tempat tidur bergoyang, dan melihat Edmund sedang tidur dengan gelisah.


"Kenapa kau tidak tidur, Hm?" Tanya Leona dengan suara serak. Edmund berbalik memutar tubuhnya, dengan cepat meraih tubuh Leona dan memeluknya. "Aku gelisah, aku tidak bisa tidur Leona."


"Kenapa?" tanyanya heran.


"Kau betul-betul tidak tahu?" Tanyanya sambil tersenyum.


"Tidak, kenapa?"


"Kalau seperti ini apa kau sekarang merasakannya." Ucap Edmund mengeratkan pelukannya agar Leona mengetahui apa yang diinginkannya.


"Sekarang bagaimana? Apa kau sekarang sudah tahu apa yang kuinginkan?" bisik Edmund. Mendengar keinginan Edmund, Leona merasakan tubuhnya berubah menjadi panas dan akhirnya mengangguk.


Mmh, aku tahu yang kau inginkan tuan mesum." Ucap Leona.


***


Pukul 08.10


Leona telah bersiap-siap, dia membangunkan Edmund yang masih tertidur lelap, dia terlihat lelah sehabis pertarungan mereka semalam, meskipun begitu, Leona sudah terbiasa bangun pagi-pagi sekali, apalagi pagi ini mereka harus kembali ke kastil memberi salam kepada Ayah dan ibu Edmund.


"Edmund bangun, ayo bangun." Leona menggoyangkan tubuh Edmund agar bangun.


"Mhm, hari ini kita tidak ke kastil sayang, aku masih ngantuk, kau sarapan saja duluan." Gumamnya, dia lalu melanjutkan tidurnya.


"Tch, dasar tukang tidur."


Leona bersiap-siap, dia keluar dari kamarnya dan segera menuju ke ruang sarapan, dia melihat sarapan pagi telah terhidang di atas meja, membuat Leona tersenyum senang. Menu lezat tersaji di atas meja, dengan cepat Leona duduk dan mengambil Brioche atau roti manis yang empuk dan lembut dengan segelas susu yang hangat, setelah itu dia mengambil sandwich dan melahapnya.


Kepala pelayan bernama tuan Viss datang dan memberi hormat kepada Leona. "Nyonya, apakah sebaiknya anda menunggu tuan Edmund? Agar tuan dan Nyonya bisa sarapan bersama."


"Itu tidak perlu, Edmund menyuruhku untuk sarapan terlebih dulu, dia masih ngantuk, mungkin saat siang dia akan bangun."


"Baiklah Nyonya. Kebetulan saya kemari ingin membawakan undangan untuk Nyonya." Leona berhenti mengunyah sandwichnya.


"Undangan?" Leona mengambilnya dan membuka surat undangannya. "Hm, Nyonya Laura Nicholas Hault? Ahh aku mengetahuinya, dia adalah keponakan tuan Kenan bukan?" Ucap Leona. Kepala pelayan itu mengangguk pelan.


"Itu bagus sekali Nyonya, anda bisa memulai debut anda di kalangan Nyonya-nyonya bangsawan, apalagi Nyonya Hault orang yang sangat penting di kota Cambridge."


"Benarkah? di sini tertulis aku harus datang jam 10 pagi ini, sekarang pukul 08.30 pagi, kalau begitu aku harus bersiap-siap." Ucap Leona, dia lalu berdiri dan berlari pelan menuju ke kamarnya.


"Nyonya anda tidak boleh berlari ...." Pelayan itu menghembuskan napasnya.


***

__ADS_1


"Edmund, bangun. Coba lihat ini, aku mendapat undangan dari wanita bernama Laura, apa aku harus menghadiri undangannya?" Ucapnya.


Edmund membuka matanya, dia lalu mengambil undangan itu dan membacanya. "Kalau begitu kita harus bersiap-siap, kau tidak mau terlambat bukan?"


"Kau juga ikut?" tanyanya.


"Tentu. Aku akan ikut, tetapi setelah sampai di sana para wanita akan memiliki mejanya sendiri, sedangkan pria berkumpul di ruangan lainnya. Bagaimana, apa kau masih ingin pergi ke sana? Semua terserah padamu sayang, kalau kau merasa tidak nyaman, kita tidak usah menghadiri undangannya."


"Aku ingin pergi, aku penasaran bagaimana jika wanita bangsawan berkumpul." Ucap Leona sambil tersenyum.


"Kau yakin? terkadang mereka akan menyinggung masalah status sosial dan memerkan barang-barang mewah yang mereka miliki."


"Cepatlah bersiap-siap, aku ingin pergi."


Edmund bangun dan bersiap-siap, begitupun Leona yang sibuk mencari gaun, tetapi tiga orang pelayan membawanya ke ruangan gaun dan dress dan mereka mendandaninya di sana.


***


Mereka akhirnya telah tiba di kediaman mansion Sean Nicholas Hault. Mansion itu seperti halnya mansion milik Edmund, luas dan indah, mereka berdua masuk. Dua orang penjaga dan kepala pelayan menyambut mereka dan mengantar mereka ke ruang utama.


"Silahkan lewat sini Nyonya," Seorang pelayan wanita mengantar Leona ke ruangan lain, sedangkan Edmund pergi keruangan lainnya.


Leona di antar ke sebuah taman yang indah, di sana telah tertata rapi meja panjang yang sudah terisi oleh sebagian wanita-wanita bangsawan yang duduk di meja itu, Laura menyambut kedatangan Leona dengan senang, meskipun mereka pertama kali bertemu muka, tetapi Laura betul-betul menyukai kehadiran Leona.


"Aku sangat senang bertemu dengan anda Nyonya Alexander." Ucap Laura.


"Terima kasih undangannya, aku sangat senang menerima undangan dari anda." Ucap Leona berusaha sesopan mungkin dan sewajarnya berbicara, dia sudah berlatih diam-diam, ketika akan berbicara di depan orang-orang dengan bahasa sopan seperti bangsawan lainnya.


"Kemarilah, silahkan duduk di sini." Laura memegang tangan Leona dan mempersilahkan dia duduk. Tampak bisik-bisik terdengar dari tempat duduk yang telah terisi. Laura mendekatkan kepalanya berbisik kepada Leona.


"Jangan khawatir, mereka semua senang bergosip, sepertinya anda akan menjadi topik utama perbincangan bulan ini." Ucap Laura terlihat bosan dengan tingkah mereka, seperti telah biasa menghadapi gosip-gosip mereka.


"Owh, benarkah?" Leona berbalik, tetapi mereka terang-terangan tidak menyapanya, hanya Laura yang menyambutnya dan mengajaknya mengobrol.


"Benar kataku kan Nona Leona, anda pasti di undang oleh Nyonya Hoult." Ucapan wanita itu membuat mereka semua berbisik-bisik. Laura mengernyitkan alisnya ketika mendengarkan ucapannya.


"Nona Sofia Ridle, bukankah anda tidak sopan menyebut Nona kepada Nyonya Alexander? dia telah menikah dengan tuan Edmund Alexander." Ucap Laura terlihat jengkel dan menyesal telah mengundangnya.


"Bagaimanapun pernikahan mereka belum di akui di negara ini, bagaimana bisa saya menyebut Nona Leona istri dari Edmund Alexander sedangkan belum ada pengakuan dari keluarga Alexander sendiri."


Sebelum acara teh itu dimulai, suasana telah memanas akibat kedatangan Sofia Ridle yang sejak dulu mengincar Edmund.


"Maafkan atas ketidaknyamanan ini, Nyonya Alexander." Ucap Laura.


"Jangan khawatir Nyonya Hault, aku tidak begitu mengkhawatirkan ucapan orang tidak penting, kami berencana akan meresmikan pernikahan kami segera." Ucap Leona.


Suara tawa kecil terdengar lagi dari wanita bernama sofia. "Kalau boleh tahu, dengan cara apa anda akan meresmikan pernikahan anda? sedangkan pernikahan keluarga bangsawan hanya akan di akui dengan sesama gelar kebangsawanan pula, mungkin anda akan di akui setelah tuan Edmund menikah lagi dengan wanita lain dan anda akan di terima menjadi istri keduanya."


Leona sangat geram, tetapi dia mencoba bersikap tenang, dia tiba-tiba berbalik dan mengenal wanita yang pernah menggosipkan Sofia ridle yang duduk di depannya ini.


"Jadi menurutmu siapa yang pantas menjadi istri Edmund? Aah, apakah anda berharap menjadi istri Edmund? bagaimana bisa anda menjadi istri dari keluarga Alexander sementara wanita itu mengatakan bahwa anda telah melempar tubuh anda kesana kemari kepada pria-pria bangsawan. Ataukah itu hanya gosip saja?" Ucap Leona dengan tajam.


Mereka semua terdiam, sementara Laura menutup mulutnya karena tidak ada seorangpun yang berani mengucapkan gosip itu langsung di depan sofia Ridle, meskipun itu adalah rahasia umum yang di ketahui oleh mereka semua.


"A-apa kau bilang?" B-beraninya kau ....


Wajahnya telah berubah menjadi merah padam, sementara Leona melipat kedua tangannya dan mengangkat satu alisnya, dan tersenyum jahat kepadanya.


Dia lalu berdiri, "Ucapan itu tidak akan kumaafkan, aku tidak akan tinggal diam dikatai oleh wanita rendahan sepertimu." Ucapnya sambil menunjuk Leona. Sementara itu Leona turut berdiri di hadapannya.


"Rendahan? kenapa aku di sebut rendahan, apa karena aku berasal dari desa? itu tidak masuk akal bukan? kau tahu apa arti rendahan? Jika dia mengobral tubuh mereka kepada pria dimana-mana."

__ADS_1


Serangan balasan Leona membuat mereka semua ketakutan, suasana semakin memanas tidak terkendali. Laura tiba-tiba berdiri. "T-tenang semuanya, sebaiknya kita tidak melanjutkan pertikaian ini. Erm ... bagaimana jika kita memulai acara minum tehnya dulu."


Tidak ada yang mendengarkan Laura berbicara, wanita bernama sofia sangat geram, dia tidak menyangka wanita di hadapannya ini balas menyerangnya dengan mempermalukannya di depan semua orang.


Leona tampak berdiri dengan tenang, dia melihat wajah kebingungan Laura, karena menghormati tuan rumah, dia mencoba duduk dengan tenang, tetapi wanita itu dengan marahnya mengambil jus strawberry yang ada di hadapannya dan menyiram Leona, hingga jus itu membasahi gaunnya.


Leona tidak tinggal diam, dengan gesit Leona mengambil Jus jeruk di hadapannya, dan menyiram langsung ke wajahnya, setelah itu dia mengambil Cake yang di penuhi cream dan langsung melemparkan ke wajah wanita itu.


Semua orang berdiri, sebagian berusaha membersihkan kotoran di wajah sofia, wanita yang membersihkan gaun sofia menatap tajam pada Leona.


"Kenapa anda kasar sekali, bagaimana keluarga Alexander mengajari anda bersikap."


Leona terlanjur jengkel dia hanya tersenyum dan menatapnya. "Bukankah kau yang mengatakan lebih memilih aku yang menjadi pasangan Edmund di bandingkan wanita pel4cur itu?"


"K-kapan aku ....


Sofia menghentakkan tangan mereka semua dan berlari pulang, ketika dia berlari dia terjatuh di atas rerumputan, tepat ketika para pria baru saja keluar dari ruangan setelah mengobrol panjang lebar.


"Itukan Sofia?" Ucap Kenan. "Ada apa dengan wajahnya?"


Karena semakin malu, dia tidak memperdulikan mereka dan terus berlari menuju kereta kudanya, dengan cepat dia menyuruhnya segera pergi dari mansion itu.


"Leona, ini pasti ulahnya." Gumam Edmund.


***


Mereka kembali ke mansion saat itu juga, Leona tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi, dia tahu mengapa Sofia mengalami hal seperti itu karena ulahnya sendiri, dia tidak tahu siapa lawan yang dia hadapi.


Edmund menghembuskan napas, dia lalu menatap Leona, gaunnya berubah kemerahan karena jus strawberry yang di tumpahkan di dadanya.


"Kau marah?" tanya Leona.


"Tidak, aku hanya mengkhawatirkanmu, kita berdua mungkin kena omelan sesampainya di mansion," Ucap Edmund.


"Kenapa? wanita itu yang memulai semuanya, Ed, dia mencari gara-gara."


"Iya aku tahu sayang, tetapi Sofia licik akan mengatakan yang tidak-tidak kepada Ayahnya dan melaporkan kepada Ayah, itu akan menjadi alasan lain untuk tidak meresmikan pernikahan kita."


Leona tertunduk. "Jadi, apa aku harus diam ketika aku di hina seperti itu?" Ucapnya.


"Tentu saja tidak, aku tidak akan membiarkan siapapun menghinamu." Dia memeluk Leona hingga sampai ke mansionnya.


***


Benar saja yang di katakan Edmund, sesampainya di mansion, Tuan Alexander dan istrinya telah menunggu mereka. Wajahnya terlihat sangat marah.


"Edmund kemarilah, ayah ingin bicara denganmu."


Mereka pergi ke ruangan lain, sedangkan Leona berdiri di ruang keluarga di hadapan Ibu tiri Edmund, tiba-tiba tangannya terangkat, dia hendak menampar Leona, tetapi leona menghindari tamparannya hingga dia hampir terjatuh.


"Anda ingin menamparku?" Tanyanya.


"Dasar wanita tidak tahu diri." Gumam Nyonya Alexander dengan marah.


~


Sementara itu, Edmund duduk di hadapan ayahnya, "Saya sudah mendengar apa yang terjadi di kediaman tuan Hoult, kau harus berpikir baik-baik Edmund, pernikahanmu masih belum resmi, setidaknya peraturan itu berlaku di kerajaan ini. Bagaimana bisa wanita itu beradaptasi dengan keluarga kita, keluarga Alexander. Baru kali ini nama Alexander tercoreng karena ulahnya."


Edmund menatapnya tajam. "Apa yang ingin Ayah katakan."


"Bagus kalau kau paham, aku ingin kau menikahi seorang wanita bangsawan contohnya seperti Nona Sofia Ridle, jika kau ingin wanita itu di terima secara resmi di keluarga Alexander sesuai peraturan di kerajaan ini, kau harus menikahi wanita bangsawan terlebih dahulu dan pernikahanmu dengan wanita itu baru akan di akui secara sah, setidaknya dia akan menjadi istri keduamu."

__ADS_1


"Edmund menyeringai mengerikan. "Apa ayah menganggap terhormat jika aku menikahi seorang pel4cur? Apa ayah masih waras?" Geram Edmund.


__ADS_2