Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 38


__ADS_3

Mereka membawa max ke tepi sungai, dan menatapnya yang sedang berlarian bersama teman-teman sebayanya. Dia terlihat begitu senang berlarian dengan bebas.


Sean menggenggam tangan laura, dan tiba-tiba berujar kepada Laura dan menatapnya.


"Keputusan apapun yang akan kau ambil laura aku tetap mencintaimu dan ingin menikah denganmu, mungkin bagimu ini terdengar egois, tapi aku tidak ingin kau pergi dariku. Aku tidak akan membiarkan tuan Windsor membawamu jauh dariku."


Ucap Sean sambil menatap max yang berlarian.


Laura menyandarkan kepalanya di lengan Sean, "Aku tidak akan kemana-mana Sean, aku akan selalu berada di sampingmu, meskipun dia keluargaku, lagi pula mereka asing bagiku" Ucapnya.


~


Sore itu kereta kuda tengah berhenti di dekat sungai, dari kejauhan Edmund menatap Sean dan Laura bersama putranya yang berada di tepi sungai. Mata tuan Windsor mengikuti pandangan Edmund dan melihat seorang gadis yang menyandarkan kepalanya di lengan seorang pria.


"Apakah dia Laura?" Tanyanya.


"Iya paman, dan pria yang berdiri di sampingnya adalah Sean Nicholas Hoult, paman pasti tahu siapa dia, ayahnya dahulu pemilik kapal terbesar di wilayah timur dan Utara amerika, tetapi keluarga mereka berakhir tragis di tangan sahabatnya sendiri." Ucap Edmund.


Dan itu merupakan kartu jackpot bagi Edmund untuk memisahkan Laura dan sean.


"Benarkah? Ya, aku mendengar kabar terbaru dari pria bernama Sean Nicholas Hoult ini, dia adalah pria yang memiliki berbagai macam kapal-kapal besar di Asia maupun di Eropa."


"Dulunya dia seorang perompak paman, menjarah kapal-kapal barang di lautan dan menjalin hubungan dengan Laura."


"Hem, begitukah? Aku ingin turun di sini Edmund bawa aku kepada mereka." Ucap tuan Windsor.


Edmund tersenyum tipis, kemenangan berpihak kepadanya, pamannya ini sangat terkenal dengan karakternya yang keras kepala apalagi untuk menjaga nama baik silsilah keturunan Windsor. Mereka harus datang dari golongan bangsawan terpandang yang jelas asal usulnya. Dan Sean sudah mendapat kartu merah dari pamannya ini.


Tuan Windsor mendekati tempat Laura berpijak bersama Sean, dari kejauhan seorang bocah kecil tengah melambaikan tangannya kepada Laura dan Sean.


Tuan Windsor menghentikan langkahnya, dia melihat bocah kecil itu berlari lalu memeluk Sean dan Laura.


'Seorang anak laki-laki?' jadi Laura memiliki seorang putra?' Dia terus berjalan dengan di dampingi Edmund yang berada di sisinya.


"Laura?" Ucapnya perlahan.


Sean berbalik perlahan dan begitupun Laura yang mendengarkan namanya di sebut.

__ADS_1


Wajah terkejut terlihat jelas di wajah tuan Windsor, wajah Laura begitu mirip dengan menantunya Scarlett istri dari putranya.


Laura membeku di tempatnya, dia tahu siapa tuan Windsor, saat itu dia bekerja di rumahnya ketika Rossie menolongnya yang jatuh pingsan di hutan dan membawanya ke sana, meskipun dia tidak secara langsung bertemu dengan tuan windsor.


Apakah dia kakekku? Pikir Laura kemudian menatap tuan Windsor.


Dia mendekat dan menghampiri Laura. Genggaman Sean begitu erat, dia memegang erat-erat tangan Laura seolah-olah Laura akan menghilang dari hadapannya.


Pandangan tuan Windsor tidak pernah lepas dari wajah Laura. Dia seakan-akan bertemu dengan Scarlett sewaktu George pertama kali membawanya kerumah untuk di perkenalkan kepadanya, hanya saja warna pada matanya begitu berbeda, warna tosca cerah seperti mendiang neneknya.


Gara-gara hal takhayul konyol inilah hingga Laura di buang oleh istrinya sendiri, dan dengan bodohnya George sang ayah lalu mendengarkan omongan ngawur dari ibunya yang sakit-sakitan mengenai takhayul tentang kehancuran keluarga Windsor jika tetap memelihara anaknya sendiri yang bermata tosca.


Tuan Windsor menghela napasnya dan menghampiri Laura.


Mata mereka saling bertemu, meskipun Laura melihat wajah kakeknya, baginya dia nampak asing di matanya.


"Kau pasti sudah mendengar kedatanganku Laura, kau pasti tahu siapa aku, sebenarnya aku tidak pantas dan malu bertemu denganmu, kau sudah ditelantarkan oleh keluargamu sendiri dan hidup di desa ini."


Laura memegang erat tangan Sean agar dia diberikan kekuatan untuk menghadapinya.


"Aku hidup bahagia bersama orang tuaku selama aku tinggal di desa ini." Ucap Laura kikuk.


"Dia putramu?" Tanyanya.


"Ya, tuan windsor Max adalah putra kami." Jawab sean.


"Kau adalah tuan Sean Nicholas Hoult bukan? pengembaraanmu dan popularitas anda sudah cukup terkenal di Eropa tuan Hoult, tentu saja aku tahu siapa anda."


"Bagaimana jika anda kami undang ke kediaman kami untuk makan malam." Ucap Sean.


"Aku senang menerima tawaranmu tuan Hoult, Ngomong-ngomong kalian sudah menikah?" Tanyanya.


"Kami akan segera melangsungkan pernikahan kami tuan, dalam waktu dekat ini." Ucap Sean tegas.


Wajah Edmund seketika membeku mendengarnya, kemarahannya jelas terpampang di mata birunya, buku-buku jarinya mengepal dengan kekuatan penuh, dia menyeringai menatap sean.


Tentu saja hal ini tidak luput dari perhatian tuan Windsor, meskipun dia pria tua kejam dan keras kepala dia cukup bijaksana dan tahu dalam menempatkan keadilan pada posisi seharusnya tanpa memandang siapa orang yang ada didekatnya.

__ADS_1


"Dan pria kecil ini adalah max bukan?" Ucap tuan Windsor.


"Ya sir, aku adalah max dan aku bisa memainkan layang-layang dan mengambil buah berry di hutan dan mencari cacing dan...." Laura menutup mulut max dengan tangannya sambil tersenyum.


"Anak pintar, bagaimana jika nanti kita mengobrol bersama?" Tanyanya.


"Tentu, aku punya segudang cerita sir."


Tuan Windsor tertawa mendengar ocehan max yang menggemaskan.


~


Secercah harapan terlihat di wajah Laura, dia menatap kakeknya dan merasa dia cukup baik ketika melihat dirinya dan Sean bersama, dia akan menerima pernikahan kami bukan? Pikir Laura.


Laura tiba-tiba menatap Edmund yang berdiri di samping kakeknya, wajahnya terukir dengan seringai, dia memandang Laura dengan tajam, ketakutan seketika menyertai Laura ketika melihat kemarahan di mata Edmund.


"Jangan lepas dari genggamanku sayang." Bisik Sean.


Laura menatap Sean dan mengangguk padanya. Max berlari-lari di depan tuan Windsor dan berceloteh riang tentang desa pirita.


Nampak suara tawa yang keluar dari suara tuan Kent Windsor yang terdengar begitu senang dengan ocehan max, sebenarnya dari dulu dia begitu menginginkan cucu laki-laki untuk meramaikan kastilnya yang terlalu tenang.


"Max jangan lari nanti kau jatuh." teriak Laura kepada putranya.


Kecupan datang dari Sean dengan cepat, dia menarik dagu Laura dan membenamkan ciumannya.


"Apa yang kau lakukan Sean." bisik Laura menarik bibirnya dari Sean.


Sean hanya menyeringai menatap Laura dan membisikkan sesuatu kepadanya. "Jika kau menatap pria itu lagi, aku akan menciummu lebih dari ini Laura dimanapun tempatnya aku tidak perduli sayang." ucap Sean menatap tajam Edmund yang berjalan di hadapan mereka.


Laura tidak menyadari jika ternyata Sean memperhatikannya sejak tadi, dan itu membuatnya sedikit terkejut.


"Bukan aku yang memandangnya dia yang memandangku Sean." ucap Laura sambil memukul lengan Sean.


"Aku tidak perduli Laura, yang terpenting jangan menatap pria itu apalagi dekat dengannya." bisik Sean.


Mereka akhirnya tiba di kediaman Sean, pelayan-pelayan tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk tamu- tamunya. Laura bergegas masuk ke dalam kamarnya bersama max untuk mengganti gaunnya dan pakaian max yang terlihat kotor karena berlarian seharian di sekitar sungai.

__ADS_1


πŸ’“


Tmn2 readers πŸ’• jgn lupa tekan tombol like and vote yaaaa, comentnya slalu kutunggu πŸ‘πŸ˜†


__ADS_2