Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 63


__ADS_3

"Apa yang kau lihat? S-sebaiknya kau menjauh, aku ingin membersihkan tubuhku." Leona menutupi tubuhnya di bagian depan, sementara Edmund berdiri di hadapannya melipat kedua tangannya, dia kemudian menyerah, karena gadis di depannya sungguh keras kepala, dia tidak bergerak sedikitpun hanya memandang marah kepadanya.


"Ok, aku akan duduk di meja makan dan menunggumu, agar kita bisa makan bersama." Edmund kembali ke tempatnya duduk lalu membelakanginya. Ketika dia sudah merasa yakin bahwa pria ini tidak akan berbalik, Leona dengan cepat mengambil handuknya dan melilitkan handuk itu di tubuhnya.


Edmund melihat dari sudut matanya, dia tersenyum, ketika gadis itu berjalan pelan dan mengambil jarak darinya. Dengan berlari kecil dia masuk ke kamar mandi.


Tidak lama setelah membersihkan tubuhnya, Leona keluar dari kamar mandi dan tidak melihat Edmund ada di sana, dia mengambil kesempatan itu dengan terburu-buru mengenakan pakaiannya, dress panjang yang biasa di pakainya. Setelah itu dia keluar dan mencari Edmund.


"Sedang apa malam-malam begini diluar?" Tanyanya.


Edmund memandang langit yang di taburi bintang dan duduk di teras rumah. "Kemarilah, aku akan menunjukkan mana bintang yang kusukai."


"Bintang?" Leona menatap langit, dia juga menyukai memandang langit malam, tetapi dia sudah terbiasa menatap langit indah seperti ini, tetapi sayangnya dia tidak begitu peduli dengan bintang-bintang itu karena terlalu sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Leona lalu duduk di samping Edmund sama-sama menatap langit.


"Bintang apa maksudmu?"


"Kau lihat bintang yang paling terang di antara semuanya, yang paling terang dilangit malam." Ucap Edmund sambil menunjuk dari kejauhan satu bintang yang paling bercahaya diantara bintang lainnya.


"Ah ya, aku melihatnya, bintang itu selalu yang paling terang." Ucap Leona sambil mendongakkan kepalanya menatap bintang.


"Bintang itu bernama Aldebaran, bintang paling terang di langit malam, dan kau seperti itu, bagiku kau paling terang dan bersinar di antara wanita lainnya.


Rona kemerahan terlihat jelas di wajahnya, dia tidak bisa mengucapkan apa-apa jika Edmund berbicara seperti itu kepadanya. Dia tersenyum melihat gadis di sampingnya tampak merona.


"Hanya kau satu-satunya yang tahu mengenai bintang kesukaanku ini, tidak ada seorangpun yang tahu, jadi kau harusnya merasa terhormat mendapatkan kesempatan mengetahui bintangku."


Leona berdecak, "Cara bicaramu seperti seseorang yang berasal dari anggota keluarga kerajaan di suatu negara, aku dengar hanya anggota keluarga kerajaan yang peduli dengan hal seperti itu, mereka memberikan putra atau putri mereka sejak lahir dengan nama-nama bintang di langit, dan mendoakan mereka agar terang dan bersinar seperti nama-nama bintang pilihan mereka.


Edmund tersenyum. "Kau benar, hanya anggota kerajaan yang peduli mengenai hal ini. Kau harus mengingatnya, bintang kesukaanku adalah Aldebaran."


"Kenapa aku harus mengingatnya?"


"Karena sekarang kau adalah istriku, kau harus tahu semuanya tentangku." Ucap Edmund.


"Mm, kalau begitu, berikan aku satu nama bintang yang cocok untukku, aku juga ingin punya satu." Ucap Leona bersemangat sambil menunjuk langit malam.


"Mm, bagaimana dengan bintang Alpa Centauri?"


"Bintang apa itu?"


"Bintang itu adalah bintang tercerah di langit malam, karena bagiku kau secerah seperti itu." Ucapan Edmund sekali lagi membuat pipi Leona merah. Dia membisikkan nama bintangnya sambil tersenyum.


"Kau suka?"


"Mm, ya aku suka," Senyuman Leona terhenti ketika mereka saling menatap, Leona tidak bisa menghindari tatapan matanya yang seakan menguncinya. Tubuh Leona tidak bisa bergerak, Edmund mendekatkan wajahnya dan memegang dagunya, dia mendaratkan bibirnya perlahan di bibir Leona, dia menciumnya dengan lembut.


Leona merasakan tubuhnya melayang diudara, bibir mereka masih terpaut erat, seakan terhipnotis dengan ciuman lembut Edmund yang membuat kakinya tidak mampu bergerak. Leona telah terbaring di atas tempat tidur Edmund, kini bibir mereka terpisah, Edmund menatapnya dengan wajah yang menginginkan, mata coklatnya memaku Leona sehingga dia mengikuti keinginan pria di atasnya.


Edmund membisikkan sesuatu di telinganya. Bisikan itu membuat Leona merona merah. "Aku akan melakukannya dengan lembut, kau percaya padaku kan?" Ucap Edmund. Leona meskipun malu, dia masih menganggukkan kepalanya.


"A-apa yang akan kau lakukan, apa kau akan menyakitiku?" Ucap Leona ketika Edmund mulai menciumnya kembali. "Aku akan berusaha selembut mungkin." bisiknya.


Leona menelan ludahnya, dia tidak menyangka akan memberikan hati dan tubuhnya kepada pria yang pernah di tolongnya, sekarang pria ini telah menjadi suaminya, dan dia akan mempercayainya. Tangan Edmund mulai bergerak melepaskan Dress Leona.

__ADS_1


"A-apa yang kau lakukan? kau pengintip mesum." Ucap Leona sambil membelalak ketika Edmund menarik dressnya ke bawah. Edmund tertawa, wajahnya yang tertawa membuat Leona menyadari bahwa tawa Edmund sangat mempesonanya dan dia menyukai tawanya.


"Aku harus melakukannya, aku kan suamimu." Ucap Edmund, dia kembali menutup bibir Leona yang sepertinya ingin protes dan mengucapkan sesuatu. Tetapi ciuman Edmund yang memabukkan membuat Leona tidak bisa berkutik.


Tidak ada yang tertinggal dari ciuman Edmund di tubuh Leona, ciuman panas Edmund membuatnya pening dan merasakan sensasi menggelitik di tubuhnya. Dia memekik dan memegang apa saja di sekitarnya ketika dia berada di sana, mereka saling menatap, seketika hentakan Edmund membuat Leona mencakar punggungnya. Napas berat dan keras seirama dengan desahan mereka malam itu, Edmund merasakan tubuh mereka saling menyatu dan melengkapi satu sama lainnya.


***


Leona merasakan tubuhya seperti bukan miliknya lagi, terasa ngilu dan perih, napasnya masih belum kembali normal, setelah Edmund baru saja melepaskannya, percintaan mereka malam itu sangat panjang bagi Leona, Edmund pun berusaha menahan hasratnya agar dia berlaku lembut kepada Leona, karena ini pertama kali untuknya, tetapi kelembutan Leona tidak mampu menahan hasrat Edmund, sehingga dia melakukannya dengan segenap kekuatannya.


Edmund berbaring di sebelahnya terlihat khawatir. Dia memegang wajah Leona dan memanggilnya.


Leona masih menutup matanya, "Leona? kau baik-baik saja? bagaimana dengan tubuhmu?"


tanyanya ketika melihat Leona masih menutup kedua matanya.


Dia tidak menjawabnya karena rasa kantuk dan lelah membuatnya tertidur begitu saja. Edmund tersenyum dan menariknya mendekat, dia memeluknya erat dan mulai merasakan kantuk menyerangnya.


***


Pagi menyapa, matahari telah masuk ke dalam rumah kecil itu. Tubuh keduanya masih saling berpelukan. terdengar burung-burung di pepohonan saling bersahutan menandakan pagi yang cerah dan udara yang sejuk. Leona perlahan membuka matanya,


"Ugh panas," gumamnya.


Dia membuka matanya kebar-lebar ketika menyadari dia berada di pelukan Edmund. Matanya menerawang ke tempatnya tidur dan merasakan tubuh besar yang memeluknya erat itu masih terlelap. Leona merasakan seluruh tubuhnya terperangkap dalam pelukannya.


Apa yang mereka lakukan semalam kembali ke dalam ingatan Leona, wajahnya tiba-tiba memanas, dia merasakan panas di seluruh tubuhnya, dia tidak menyangka akan menikah dan menyerahkan dirinya kepada pria ini. Dia memperhatikan wajahnya. Hangat tubuhnya dapat dia rasakan, kedua mata coklat terang itu terbuka lebar. Dia tersenyum ketika mendapati Leona sedang menatapnya sejak tadi.


"Selamat pagi." Ucapnya sambil memberikan kecupan kilat di bibirnya.


Pipi Leona memerah, dia menarik selimutnya tinggi-tinggi sampai ke dagunya. A-aku baik-baik saja." Edmund berbaring menyamping dan menahan kepala dengan tangannya menghadap ke Leona. Dia tidak peduli selimutnya melorot hingga ke pinggangnya, membuat Leona mengarahkan pandangannya ke arah lain, apalagi tempat tidur milik Edmund sangat kecil di peruntukkan untuk satu orang saja, jadi jarak mereka sangat dekat.


Edmund menarik dagu Leona agar mereka saling menatap. "Kau sudah melihat dan merasakannya, kau masih malu?"


"A-apa sih yang kau katakan?" Ucap Leona malu setengah mati. Dia ingin sekali bergerak, tetapi itu tidak mungkin karena selimut itu menutupi tubuh mereka berdua.


Melihat Leona yang bersemu merah dan bibirnya yang terlihat bengkak, membuat Edmund mendesiskan sesuatu dan tiba-tiba dia duduk dengan tangan terkepal kuat, dia menatap Leona tajam seperti sedang berpikir keras.


Edmund bangun dari tempatnya tidur begitu saja, terdengar napas keras keluar dari hidungnya, Leona melihatnya dengan heran. dia harus segera mandi di sungai saat ini juga, jika tidak, dia akan menyerang Leona dan memuaskan hasratnya, dan sekarang ini Leona masih merasakan sakit dan perih, dia tidak mungkin menyakitinya. Tidak peduli dengan ketelanjangannya di depan Leona yang memekik melihatnya, dia mengambil handuk dan segera keluar ke sungai di belakang rumahnya.


"D-dia kenapa sih." Gumam Leona dengan pipi merona karena melihat pemandangan menakjubkan pagi ini.


***


Pagi-pagi sekali semua tampak normal di desa Zaudett. Aktivitas penduduk di desa itu seperti hari-hari biasanya, tetapi ada satu yang berubah dari gadis cantik yang sedang berusaha bangun dari tidurnya, meskipun dia masih merasakan perih tetapi dia mampu menahannya, Leona mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


Setelah masuk ke kamar mandi dia seketika membelalak pada sesuatu, di tubuhnya terlihat seperti banyak luka kecil, di beberapa tempat terdapat luka kecil tetapi tidak sakit sama sekali. "Apa sih yang dia lakukan semalam." Ucap Leona. Dia kemudian mandi sesegera mungkin sebelum Edmund datang.


Sementara itu Edmund sedang berada di bawah air terjun kecil, dia berada di bawahnya sehingga air deras yang dingin itu membasahi seluruh tubuhnya.


Leona seakan menjadi candu baginya, dia seperti mabuk ketika bersamanya. Ini baru pertama kali yang di rasakannya, meskipun pengalaman Edmund mengenai wanita bisa dibilang cukup banyak dan dia tipe yang mudah bosan, tetapi bersama Leona membuat dirinya berbeda, seakan dia ingin berada di tempat tidur saja dan bercinta dengannya seharian.


Leona sedang berada di dapur dan menyiapkan sarapan mereka, Edmund masuk ke dalam rumah dengan terlihat segar, dia tersenyum dan menghampiri Leona dan memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"A-apa yang kau lakukan?"


"Aku hanya memeluk istriku apa tidak boleh?" Pipi Leona bersemu merah lagi.


"Segeralah berpakaian dan kita sarapan." Edmund melepaskannya dan segera mengenakan pakaiannya. Setelah berpakaian, mereka duduk di meja makan. Baru saja mereka hendak makan, suara itu mengagetkan mereka berdua. Lonceng keras dari desa berdentang sebanyak 7 kali dan Leona tiba-tiba berdiri dengan tiba-tiba, membuat Edmund kaget.


"Ada apa Leona?"


"K-kita harus pergi, bajak laut ... bajak laut datang, lonceng itu berbunyi 7 kali, itu tandanya jika bajak laut datang di pulau ini, sudah hampir 20 tahun ketika lonceng itu berbunyi kembali."


Leona menarik tangan Edmund, dengan tergesa-gesa dia membuka lemari penyimpanannya dan mengambilnya, begitupun Edmund mengambil barang-barang penting, setelah itu dia menarik Leona keluar dari rumah mereka.


Warga desa panik, mereka keluar berhamburan dan berlarian. "Jangan lepaskan tanganku." Ucap Edmund. Mereka berdua berlari menuju ke kebun di sana ada hutan kecil yang bisa di jadikan tempat bersembunyi. Dari kejauhan terdengar teriakan orang-orang, mereka panik dan berlari tetapi suara letusan seperti kembang api di udara dan meledak membuat semuanya menatap ke arah langit.


"TERUS BERGERAK LEONA, JANGAN BERBALIK, KITA HARUS BERSEMBUNYI." Teriak Edmund, dia memegang tangan Leona dan setelah jauh dari desa, mereka masuk ke dalam hutan, mereka berbalik dan melihat dari kejauhan api telah membakar seluruh rumah-rumah penduduk. Leona menangis melihat desanya dalam sekejap saja telah hancur.


"Kita harus masuk ke hutan dan berlindung di sana sampai bajak laut itu pergi. Mereka terus berlari hingga mendapati satu rumah pohon yang tertutupi dengan daun-daun yang lebat dan ranting dan batang yang kokoh.


"Kita naik, aku yang membuat rumah pohon ini, tidak ada seorangpun yang tahu tempat ini." Ucap Leona.


Rumah pohon kecil tetapi cukup nyaman untuk mereka berdua. Mereka masuk dan duduk di dalam, segala perlengkapan telah Leona siapkan di tempat itu. Napas mereka berdua masih terengah-engah karena berlari. Leona tidak bisa menahan air matanya.


"Berhenti menangis," Bisik Edmund, dia menarik Leona ke dalam pelukannya. Leona memeluknya erat, dia takut sesuatu yang buruk akan menimpa mereka berdua.


Selama berjam-jam terdengar dari kejauhan suara letusan di berbagai tempat, mereka nampaknya ingin menaklukkan tiga desa sekaligus yang ada di pulau ini, asap yang mengepul terlihat dari desa yang telah hancur porak poranda. Edmund memeluk erat Leona.


Ini bukan main-main, jika bajak laut itu menemukan mereka berdua, nyawa mereka tidak akan selamat.


Setelah seharian di dalam hutan, dan sore telah menjelang, ledakan mulai berhenti tetapi mereka terkejut karena mendengar sesuatu. Terdengar ranting yang patah. Leona dan Edmund saling menatap. Mereka berdua tidak bergerak sama sekali, bahkan seakan bernapas pun membuatnya ketakutan.


"Apa semua penduduk desa telah terkumpul?" Ucap suara yang berat.


"Sepertinya sudah."


"Kita kembali ke lapangan, kapten sepertinya mencari seseorang, entah siapa yang di carinya." Mereka akhirnya pergi setelah memeriksa hutan dan tidak menemukan apapun.


"Edmund? Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan?" Ucap Leona.


"Tenanglah sayang, kita hanya harus menunggu sampai bajak laut itu pergi dari pulau ini."


***


Udara yang sesak karena asap menutupi desa itu, hangus dan hancur terlihat di setiap rumah dan tercium di desa itu, rumah-rumah hancur dan terbakar, seluruh penduduk di kumpulkan di desa itu, mereka semua duduk di lapangan dengan ketakutan.


Suara tapak kaki seseorang membuat semua penduduk mengangkat kepalanya sembunyi-sembunyi, seorang pria datang dengan rambut panjang yang terikat, dengan garis panjang luka di wajahnya, matanya tajam menatap mereka semua.


"Ronald, kau yakin semua penduduk ini telah berkumpul?"


"Iya kapten, kami telah menyusuri pulau ini dan mengumpulkan mereka yang ingin lari dan menangkap mereka semua." Ucapnya.


"Kerja yang bagus."


Tatapannya tajam menatap mereka semua. Dia berjalan dan menatap perlahan satu persatu dari mereka. "Aku yakin salah satu dari kalian telah mengambilnya, saat itu dia mengenakan kalung dan kuletakkan di pinggir pantai.

__ADS_1


"Dimana kalian sembunyikan dia, di kalung itu ada nama yang kuukir untuknya, Leona Lewstin, dimana dia !"


__ADS_2