Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 20


__ADS_3

Suara-suara dapat terdengar dari sebelah kamar, Laura memakluminya karena penginapan ini sangatlah murah tentu saja dia bisa mendengar suara orang-orang yang melintas di depan kamarnya, tetapi suara yang familiar membuatnya terpaku, suara itu adalah suara Sean yang berada di sepanjang lorong kamar. Laura dengan cepat bersembunyi di balik pintu kamarnya dan mendekatkan wajahnya, Suara yang begitu samar tetapi Laura yakin itu adalah suara Sean yang sedang bercakap-cakap dengan pemilik penginapan.


'Apakah kau melihat seorang wanita cantik menginap di sini'? rambutnya hitam kecoklatan dengan kulit pucat, matanya berwarna tosca'.


'Maaf sir kami tidak melihat wanita seperti anda katakan'. Suara langkah kaki menggema, Laura menutup mulutnya, mengintip dari lubang pintu dan menatap Sean yang berdiri di pintu luar penginapan bersama orang-orangnya. Mereka lalu berbalik, Laura akhirnya bernapas lega, dia tidak ingin Sean menemukannya.


~ Sean


Aku menyadari sikap Laura berbeda ketika kami baru saja kembali dari kota Cambridges, apalagi ketika Emy datang, wajahnya tidak ceria lagi, apakah dia cemburu? aku harap begitu, tetapi Emy tidak menyerah padaku, meskipun pertunangan kami sudah batal, dia terus mendatangiku untuk bercinta, aku tidak punya pilihan lain wajahnya yang mengiba-iba padaku membuatku tidak berpikir panjang.


Hari itu Emy datang kepadaku dengan menangis dan mengatakan jika Laura hilang entah kemana, tubuhku seperti tersapu ombak, tanpa berkata-kata aku berlari mencarinya menyusuri kota Cambridges dari sudut kota sampai perbatasan kota Cambridges.


Hari sudah petang, Laura belum kutemukan, aku terduduk di sudut jalan ingin menenangkan pikiranku, baru kali ini aku merasa seperti ini, tiba-tiba tangan yang lembut memegang pundakku.


"Sean, kau baik-baik saja? kenapa kau seperti ini hanya karena seorang wanita seperti dia?" Mata Sean terbuka, dia lalu berdiri di hadapan Emy.


"Apa maksudmu? apa yang kau katakan pada Laura?" bentaknya kepada Emy.


Emy menaikkan sudut bibirnya. "Sepertinya kau sudah terhipnotis Sean, mengapa dia begitu penting bagimu? apakah dia lebih penting dariku??" teriak Emy.


"Kau tega sekali Sean, aku hanya menjelaskan padanya bahwa kau milikku dan dia hanyalah penghangat ranjangmu selama dilautan."


Rahang Sean kaku, sebuah tamparan melayang di pipi Emy, "kau bukan apa-apa bagiku Emy, kita sudah lama berakhir, jangan muncul dihadapanku lagi." Suara Sean begitu tenang tetapi penuh ancaman.


Emy memegang pipinya yang merah, dia berlari sambil menangis, Sean menghembuskan napasnya, dia mengacak rambutnya yang panjang lalu menatap ke kanan dan kekiri.

__ADS_1


"Kapten sebaiknya kita pulang hari sudah malam, besok kita akan mencarinya lagi." Kata Al menenangkannya.


"Kalian kembali dulu ke kapal". Kata sean, dia lalu melanjutkan pencariannya menyusuri jalanan mencari Laura.


Hari sudah begitu larut, Laura berbaring dikamar sempit itu memikirkan kemana dia akan pergi, dia kemudian menutup matanya karena hari ini dia begitu lelah, hal yang perlu dia lakukan adalah bersembunyi darinya sehingga sean tidak akan berbuat seenaknya terhadap dirinya, dia sama sekali tidak memiliki perasaan padaku untuk apa aku bersamanya, dia sama sekali tidak memperdulikan diriku.


Dengan berbekal emas yang diambilnya ketika rembo menjatuhkan emas-emas itu di lantai kapal dia bisa pergi meninggalkan Sean, setidaknya dia memiliki sesuatu untuk bisa dijual.


Laura kembali berjalan di sepanjang jalan, setelah menukar emas dengan beberapa lembar uang yang lumayan cukup untuk bekal di perjalanannya, dia akhirnya pergi, dia menyembunyikan dirinya dari balik kain-kain Kumal sehingga orang-orang tidak mendekatinya, mereka akan mengira dia hanyalah gelandangan.


Dia berhenti di pinggir sungai meneguk beberapa air sungai dan memakan bekalnya yang tinggal sedikit yang dibelinya di pasar, roti kering itu tinggal separuh, dia hanya makan roti kering itu dan sudah dua hari lamanya sehingga membuatnya pusing, keringatnya berjatuhan dia berjalan sempoyongan, langkahnya begitu berat hingga Laura jatuh pingsan di dekat pohon yang lebat.


~


"Cepatlah, hari sudah mulai gelap, kita harus menyiapkan makan malam sebentar lagi bodoh !" ketusnya. Tiba-tiba kereta kuda itu berhenti.


"Kenapa kau berhenti aku menyuruhmu melaju dengan cepat."


Tetapi wanita tua itu terdiam melihat seorang wanita dipinggir jalan. "Astaga, siapa dia? dia keluar dari kereta kudanya dan menghampiri Laura yang masih tidak sadarkan diri.


"Dia masih hidup, Ethan bantu aku angkat dia ke dalam kereta, malang sekali nasibnya." Kata nenek tua itu yang masih berbicara dengan bahasa Perancis yang fasih.


"Ayo berangkat kita sudah terlalu terlambat Ethan."


Suara tapak kaki kuda yang terdengar dan Laura merasakan hentakan ditubuhnya karena guncangan jalanan yang tidak rata, membuatnya tersadar, meskipun begitu dia masih belum sanggup mengangkat tubuhnya. Dia begitu lemah dan lapar.

__ADS_1


~


Kota Cambridges begitu luas jika dibandingkan dengan tempat-tempat yang telah di datanginya, tempat ini dua kali lebih besar dari dua kota yang disinggahi sebelumnya, dan sudah 5 lima hari Laura menghilang dia seakan di telan bumi, Sean sungguh khawatir gadis itu begitu lemah, apalagi dia sama sekali tidak tahu tentang kota ini, bagaimana jika seseorang mengganggunya atau menculiknya dan dia membutuhkan pertolonganku. Sean kembali berlari menyusuri tempat demi tempat, tetapi dia sama sekali tidak menemukannya.


"Kau sungguh penipu, gadis muda itu seharusnya mendapatkan lebih dari yang kau berikan, tuhan akan membalas perbuatanmu rob." Kata seorang pedagang di samping kiri dari pedagang barang antik.


"Gadis bodoh itu terlihat sangat membutuhkan uang katanya bekal selama perjalanannya, aku sudah berbaik hati membantunya, tentu saja seandainya dia memperlihatkan wajah cantiknya, dia tidak perlu repot-repot menjual emas, siapapun akan membantunya dengan sukarela.


Sean langsung saja menghampiri penjual barang antik itu, pisau belati tepat di lehernya.


"Katakan ! Apakah gadis yang menjual emas padamu, bermata tosca dengan wajah sangat cantik!?" tanya Sean dengan napas memburu.


Pedagang itu ketakutan, dia menelan ludahnya. "I..iya tuan dia bermata tosca dengan wajah sangat cantik." Katanya dengan takut-takut.


"Dia mengatakan ingin pergi kemana?" tanya Sean lagi. Pedagang itu menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak tuan, dia hanya mengatakan uang itu bekalnya selama di perjalanannya."


Sean mengambil sisa uang dari harga sebenarnya dari gelang yang di jual Laura, dia berlari menyusul ke tempat dimana Laura berjalan dan berhenti di sebuah sungai, dia melihat di sekelilingnya hanya Hutan yang lebat, kemudian matanya tertuju pada saputangan yang terjatuh di dekat pohon besar.


Saputangan itu milik laura terukir huruf L dan S yang di jahitnya selama di kapal. Sean berteriak-teriak memanggil nama Laura tetapi tidak ada gunanya.


"LAURA...LAURA...." Dia berlari lagi sampai kehutan yang dalam dan kembali teriak sekuat tenaga, hanya hembusan angin dari pepohonan yang lebat yang terdengar.


Sean berdiri mematung, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah rahangnya terkatup rapat, "Kau sengaja pergi dariku Laura, kau lari dariku? aku pasti akan menemukanmu". Gumam Sean sambil memegang erat saputangan milik laura di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2