Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 62


__ADS_3

Mata coklatnya seakan mengunci tubuhnya, dia tidak bisa bergerak, apalagi dengan gaun yang di kenakannya, senyuman terpancar pada wajah tampannya. Dia berjalan mendekati Leona dan berdiri tepat di hadapannya.


"Bagaimana kau bisa membuatku terpesona hanya karena sentuhan make-up? di mana gadis tomboi yang suka membuat keributan?" Ucap Edmund pura-pura berpikir.


Leona menyipitkan matanya, "Jangan membuatku marah, saat ini aku bahkan bisa menyerangmu dengan gaun sesak seperti ini."


"Oh ya, ide yang bagus, tapi kau harus bersabar sampai pernikahan kita selesai, kau bisa melakukan apa saja kepadaku." Bisik Edmund sambil menarik dagu Leona dengan telunjuknya.


Terdengar lonceng yang bergema di desa itu, mereka berdua menghentikan perdebatan mereka. "Sebaiknya kita pergi, upacaranya akan segera di mulai." Edmund memegang tangan Leona yang nampak bertahan di tempatnya.


"Tidak ada waktu untuk berpikir ulang, jika kau tidak bergerak aku bisa mengangkatmu ke pesta itu, jika itu yang kau inginkan." Ucapnya tajam.


Leona akhirnya mengikuti kemana Edmund membawanya, dia menatap pria yang berjalan di sampingnya, tubuh tinggi dengan wajah tampan, mata tajam dengan garis rahang yang tajam, wanita yang melihatnya akan terpesona dengan wajah tampannya, dan pria ini ingin menikah dengannya, entah apa yang di pikirkannya, memutuskan sesuatu yang penting dengan semaunya. Dan Leona mengikuti rencana pria arogan ini.


Dia memegang tangannya, membawa Leona ke tempat pernikahan. Mereka tiba di perayaan itu, lapangan itu telah di sulap menjadi sangat indah, di penuhi dengan bunga-bunga serta hiasan seperti lampion dari atas langit-langit dan karpet berwarna merah yang di sediakan untuk para calon pengantin yang akan masuk ke tempat perayaan itu.


Nampak gaun putih tersebar di berbagai tempat, dan para pengantin pria dan wanita telah berdiri di tempat mereka masing-masing, bersama dengan keluarga mereka.


Kehadiran Leona dan Edmund menjadi perhatian seluruh warga desa, mereka tampak terkejut ketika memandang mempelai wanita, bisik-bisikpun terdengar di antara mereka, mereka tidak percaya wanita cantik dan menawan itu adalah Leona, wanita yang terkenal di desa ini dengan sikapnya yang kasar dan selalu menimbulkan gosip di desa Zaudett.


Pria tampan yang berdiri di samping Leonapun membuat para wanita bergumam-gumam kagum dengan ketampanannya. Semua wanita menatapnya, dan terlihat dengan jelas, wanita yang berdiri di samping Jastin tengah menghentakkan kakinya pelan, dia menggigit bibirnya, terlihat sangat membenci Leona, sementara Jastin tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Leona.


Setelah bisik-bisik mereda, seorang pria berdiri di depan mereka semua dan berpidato panjang. Akhirnya tibalah saat waktu di mulainya acara pernikahan penduduk Zaudett, mereka bersorak ketika setiap pasangan berjalan ke depan dan meresmikan pernikahan mereka, ketika tiba saat giliran Edmund dan Leona, terdengar tangis seorang wanita di belakang sana yang menyita perhatian semua orang. Seorang wanita menangis histeris, dia terlihat menangis meraung-raung, setiap orang berbalik dan mendekati wanita yang terlihat kesurupan itu.


Leona berbalik dan lebih tertarik dengan keributan yang di timbulkan oleh wanita itu. "Apa yang terjadi padanya, kenapa dia bisa kesurupan seperti itu?"


"Berisik sekali, jangan menengok lagi, sekarang giliran kita." Ucap Edmund.


~


"Merry bodoh ! Aktingnya kurang menyakinkan, mereka tetap melangsungkan pernikahan, mereka bahkan tidak terganggu sedikitpun."


Jastin yang mendengar semuanya hanya diam, dia hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak mau mencampuri urusan wanita di sebelahnya ini, menatapnya saja sudah membuatnya jengkel.


"Jangan membuat kekacauan Sarah, atau aku akan meninggalkanmu dan mempermalukanmu sekarang juga," Ucap Jastin sambil menatap Pria itu yang sedang mencium Leona dengan kepemilikan yang nyata terlihat dari sikapnya, dan itu membuat Jastin sangat marah. Leona mencoba menghindar beberapa kali, hingga Edmund menarik pinggang Leona dan akhirnya menciumnya.


Tangannya terkepal kuat, dia tidak sanggup untuk melihat semua ini, tetapi dia tidak memiliki pilihan lain, situasi keluarganya sekarang sangat sulit, jika saja dia meninggalkan gadis ini dan mempermalukannya, maka tanah milik ibunya akan di ambil oleh keluarga Marshmille.


~


Senyumannya terlihat angkuh dan puas, sedangkan Leona sendiri sangat malu dan wajahnya berubah merah padam, dia tidak menyangka ada acara ciuman setelah pernikahan mereka.


"Kau menciumku, di depan banyak orang?"


"Memang kenapa, kita semua bebas memilih."


"Pasangan sebelum kita hanya mencium dahi wanitanya dan apa yang kau lakukan, pria mesum?"


"Ini gayaku, setiap orang berbeda, aku tidak mungkin hanya mencium keningmu, dan aku bukan pria mesum, tetapi suami mesummu, kau bisa mengatakannya begitu."


Leona ingin sekali menendang kakinya, kenapa pria ini sangat berubah? Apa yang telah di lakukannya sehingga pria ini merubah isi kepalanya.


"Kau bilang aku bukan tipe wanitamu, bukankah sekarang kau sedang menjilat ludahmu sendiri?" Ucap Leona sambil berjalan kembali ke tempat duduk dengan tepukan meriah para warga desa.


"Anggap saja seperti itu. Aku berubah pikiran, setiap orang bisa berubah, apa yang di sukai dan tidak di sukai, tenang saja, aku akan berusaha menjadi suami yang sangat mencintai istriku, dan membuatnya bahagia, aku tidak akan berubah seperti dulu lagi."


"Memangnya kau dulu seperti apa?" tanya Leona.

__ADS_1


"Lebih baik kita tidak membicarakannya, atau nanti kau akan cemburu." Ucap Edmund sambil memegang erat tangan Leona.


"J-jangan bercanda, siapa yang cemburu?" Ucap Leona memalingkan wajahnya.


Tatapannya jatuh pada wanita yang duduk tidak jauh darinya, dia Sarah Marshmille, wanita itu menatap Leona tajam, dia menggertakkan giginya ketika melihat tangan Leona menggenggam tangan Edmund, dan itu membuat Leona semakin tertarik. Dia sengaja mengangkat kedua tangan mereka yang saling bertautan dan menatap Edmund sambil tersenyum.


"Aku tahu kalau aku tampan, tetapi ada apa denganmu? kau sedang mempermainkan siapa, sampai kau menatapku seperti itu." Edmund memutar tubuhnya dan bertatapan mata dengan Jastin.


Dia kemudian berbalik dan menatap tajam Leona. "Apa kau berusaha membuat pria itu cemburu?" Desis Edmund.


"Jastin? tentu saja tidak, aku hanya membuat seseorang yang marah karena di bakar cemburu, lihat saja wanita itu, sejak kau menakutinya sepertinya dia malah menaruh hati padamu, meskipun dia telah menikah, tetapi dia sepertinya menginginkanmu."


Edmund merasa merinding, bulu kuduknya meremang mendengarnya. "Tch, jangan bicarakan wanita itu, dia selalu ada di mana-mana, dia mengerikan, aku tidak menyangka psikopat ada di pulau terpencil ini." Leona lalu tertawa bebas mendengar ucapannya dan itu membuat Edmund menatapnya dengan senyuman.


"Aku suka jika kau tertawa seperti itu, kau terlihat sangat mempesona."


Leona berhenti tertawa, lalu melepaskan genggaman tangannya dari Edmund, dia memperbaiki posisi duduknya dan sedikit menjauh.


***


Pagi menyambut kapal yang terapung-apung di atas lautan. Satu persatu mereka terbangun di tempat yang bahkan mereka tidak sangka. Pria itu menggelengkan kepalanya sedikit keras agar air di telinganya dapat keluar, dia mencoba berdiri dan memegang tiang kapal.


Pria tua itu menatap kapalnya yang terlihat porak poranda akibat terjangan gelombang air laut yang ganas semalam.


"Kapten, sepertinya dua awak kita di bawa ombak semalam, mereka tidak akan bisa bertahan meskipun kita menurunkan sekoci untuk mencarinya." Ucap pria bermata hitam dengan garis rahang yang tegas, rambutnya yang panjang sebahu masih basah begitupun pakaian yang di kenakannya. "Aku tidak peduli Ronald, cari mereka, mungkin saja salah satu dari mereka masih hidup, jika tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka, tinggalkan saja mereka dan kembali ke kapal."


"Baik kapten."


Pria bernama Ronald Falviero itu pergi, dia adalah wakil kapten, dan juga tangan kanan Furious Lewstin ketika mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh kaptennya.


***


Festival itu berlangsung hingga malam hari, mereka betul-betul menikmati pesta yang di adakan sekali setahun itu, para pengantin pun telah banyak yang meninggalkan lokasi pesta, mungkin karena mereka akan berganti pakaian atau sudah tidak sabar untuk menikmati percintaan mereka.


"Kau tidak akan berganti gaun?" Tanya Latty.


"Ah, kau benar, aku sesak mengenakan ini, apalagi aku sangat sulit berjalan." Leona berdiri dan mencoba berjalan pelan. Dia mencari-cari keberadaan Edmund dan dia berada di ujung sana sambil bercakap-cakap dengan para mempelai pria yang asyik mengobrol sambil duduk di salah satu kedai makanan.


"Kenapa para pria suka sekali berbincang, pembicaraan membosankan apa yang membuatnya betah berlama-lama di sana," Ucap Leona dengan susah payah mengangkat gaunnya.


"Leona."


Pria berjas dengan rambut ikal yang tersisir rapi ke belakang sedang menghampiri Leona, ketika melihatnya berjalan seorang diri.


"Kau." Ucap Leona jengkel, dia masih ingat bagaimana pria ini menyerangnya ketika di kebun sayurnya, semenjak kejadian itu, dia tidak pernah lagi pergi ke kebun.


"Leona, maafkan aku ... sebenarnya aku tidak pantas kau maafkan. Aku sungguh menyesal, aku seperti kehilangan kesadaran karena minuman itu, apalagi ketika aku tidak bisa lagi bersamamu." Ucapnya sambil memandang Leona dengan wajah penyesalan yang mendalam.


"Aku tidak akan meminta kau memaafkanku dengan segera, tetapi aku ingin kau tahu bahwa aku sangat menyesal dengan perbuatanku."


Leona hanya terdiam, dia tidak tahu harus mengucapkan apapun.


Tiba-tiba saja seseorang menarik gaunnya dengan kasar dan menamparnya. Leona dan Jastin begitu terkejut. Wanita bernama Sarah berlari dengan cepat ketika melihat suaminya sedang berbincang dengan Leona.


"Dasar wanita j4lang, kau betul wanita penggoda, kau tidak pantas menikah, berani-beraninya kau menggoda Jastin." Dia terlihat histeris dan sekali lagi ingin meraih Leona dan hendak mencakarnya.


Leona tentu saja tidak dapat menerimanya, dia membalas tamparan di wajah Sarah dengan segenap kekuatannya hingga dia terpelanting ke belakang.

__ADS_1


"Aku tidak pantas? bukankah kau yang lebih tidak pantas? Nenek sihir culas sepertimu sangat menyeramkan, beruntung saja Jastin mau menikahi wanita mengerikan seperti dirimu, sekarang coba kau bercermin dan lihat wajah mengerikanmu itu, pria mana mau menikahi wanita sinting sepertimu."


"B-berani sekali kau ....


Wanita itu hendak menarik rambut Leona tetapi sebelum itu terjadi, Jastin menariknya dengan menyeretnya ke belakang, sedangkan Leona yang sudah siap menerkam wanita itu dan hendak melompatinya, di peluk erat oleh Edmund. Kaki keduanya melayang-layang diudara memberontak ingin di bebaskan agar mereka berdua saling serang.


Terdengar tamparan kuat, dan itu berasal dari Jastin, wanita itu bergetar hebat, dia tidak menyangka di malam pernikahannya dia malah di tampar oleh pria yang sudah menjadi suaminya sendiri. Dia kemudian menangis histeris dan membuat keributan di festival, Jastin hanya berdiri di sana menatapnya acuh dan segera meninggalkannya.


Sementara Leona dan Edmund sedang dalam perjalanan pulang. Edmund menggendong Leona, sejak tadi dia hanya diam dan tidak berbicara, dia terlihat kesal sekali. Leona yang sejak tadi mengomel akhirnya berhenti bicara dan menatapnya.


"Kau diam, apa kau marah?" Tanyanya, dia memperhatikan raut wajahnya yang sejak tadi diam tidak menanggapi Leona.


Sesampainya di rumah, Edmund mendudukkan Leona di tepi tempat tidur dan menyuruhnya agar tidak bergerak. Dia sendiri berdiri dan mencari kotak obat untuk mengobati warna kemerahan di pipi kiri Leona.


"Apa yang kau bicarakan dengan pria itu?"


"A-apa? Oh, maksudmu Jastin? dia hanya meminta maaf mengenai kejadian di kebun, lalu nenek sihir itu datang dan menyerangku jadi aku tidak punya pilihan lain selain kembali menyerangnya." Ucap Leona seakan ingin menjelaskan semua kepadanya, bahwa bukan dia yang memulai keributan.


"Aku tahu, karena aku sempat melihatmu berbincang dengan pria itu. Kau tahu apa yang kurasakan ketika kau sedang bersama pria lain?"


Leona menggeleng canggung, "A-apa?" Tanyanya.


"Aku ingin membunuhnya, sekarang kau adalah milikku, kau mengerti, aku tidak akan membiarkan milikku bersama dengan pria lain, apalagi tanpa aku di sampingmu."


Leona menelan ludahnya, "kata milikku terdengar menakutkan, apa tidak bisa diubah dengan kata lainnya?" Ucap Leona mengernyitkan alisnya.


"Tidak, karena sekarang kau telah menjadi istriku, tentu saja kau sudah menjadi milikku seutuhnya."


"Apa maksudmu aku tidak boleh berbicara lagi dengan seorang pria?" Ucap Leona heran.


"Boleh saja jika itu kepentingan mendesak atau aku berada bersamamu." Edmund memberikan obat yang meringankan luka kemerahan di pipi Leona.


"Apa masih perih?"


Leona mengangguk. "Sedikit, tapi tidak sesakit yang di rasakan wanita itu, dia telah menerima tamparan dariku dan dari Jastin, itu cukup membuat pipinya bengkak dalam semalam." Ucap Leona sambil tersenyum puas. Dia tiba-tiba berhenti tertawa ketika pria di hadapannya menatapnya dan mengamatinya.


"A-apa?"


"Bersihkan badanmu yang berdebu dan ganti pakaianmu, kita akan makan malam, kau pasti lapar setelah bertarung hebat." Leona mengangguk dan segera menuju tempat tidurnya yang berada berlainan sisi dengan tempat tidur milik Edmund, dan hal itu mengganggunya.


Leona ingin melepaskan gaun pengantinnya tetapi ada Edmund di sana. "Kau tidak berbalik? aku ingin melepaskan gaunku." Ucap Leona menatapnya dengan heran, karena dulu tanpa dimintapun Edmund akan segera membalikkan tubuhnya.


"Kenapa? Aku sudah menjadi suamimu."


"A-apa hubungannya? Aku berganti baju dan kau menjadi suamiku?"


"Banyak sekali hubungannya, tetapi tidak akan kukatakan kepadamu, kau harus belajar mengetahuinya sendiri." Ucap Edmund sambil mengambil makanan dari lemari dan menyiapkan di atas meja.


Leona masih berdiri terdiam di sana, Edmund lalu menghembuskan napasnya. "Ok, ok aku tidak akan melihat, jadi segera bersihkan tubuhmu dan kita makan."


Leona segera menarik resleting gaun pengantinnya yang berada di belakang punggungnya, dia terlihat kesusahan menariknya ke bawah, mendengar suara berisik darinya, Edmund berbalik dan menatap Leona yang sedang berkutat dengan gaunnya. Dia segera menghampiri Leona dan menarik resleting gaun pengantinnya.


"A-apa yang kau lakukan?" Ucap Leona panik.


"Mencoba membantumu membuka gaun ini, kau tidak akan bisa membuka gaunmu hingga esok hari."


Perlahan Edmund menariknya hingga mencapai ke bagian pinggang Leona, dengan tidak sabar Leona menarik tubuhnya menjauh ketika merasakan angin menerpa punggungnya. Mata coklatnya melotot ketika gaunnya hampir saja jatuh di depan pria ini, dia menatap Edmund yang tersenyum penuh arti malam itu kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2