Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 36


__ADS_3

Udara di desa pirita sangat segar dan begitu hangat, matahari sudah masuk lewat kisi-kisi jendela di rumah mewah itu, Laura membuka kedua matanya dan melihat bahwa max sudah bangun begitupun Sean, dia seorang diri di kamar.


Laura bangun dari tidurnya, dan mengambil handuk untuk segera mandi.


Setelah membersihkan dirinya dia membuka lemari pakaiannya dan memilih dress panjang berwarna pink cerah, sebelum dia mengenakannya Sean membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.


"Pagi sayang." Ucapnya dia melangkah mendekati Laura dan mengecupnya.


"Kau terlihat segar sekali pagi ini." Ucap Sean menatap Laura yang menghindari tatapannya.


"Kau.. baik-baik saja Sean?" Tanyanya.


"Maksudmu?"


"Maksudku, semalam kita tidak....


Sean tersenyum miring, dia mengecup bibir Laura cepat. "Kita akan menuntaskannya bukan?" Bisik Sean mengangkat tubuh Laura dan membawanya kembali ke tempat tidur.


"Kita akan menuntaskan apa yang terhenti semalam." Senyum Sean.


~


Edmund berjalan-jalan di dekat pertokoan di desa pirita, dia mendekati Jon dan kawan-kawannya yang ada di sana.


"Selamat siang tuan-tuan, aku tidak tahu kalau kalian ada di sini." Mereka berdiri dan menjabat tangan Edmund.


"Tuan Edmund, anda juga di sini?"


"Ya, aku sedang singgah sebentar di desa ini, tapi urusanku belum selesai, Oh ya apa yang membuat anda semua berada di desa ini?" Tanya Edmund.


"Kami tidak bisa begitu saja membicarakannya sir." Ucap Jon sambil memegang cerutu di tangannya.


"Bukan bermaksud ikut campur urusan kalian tapi mungkin saja aku bisa membantu."


Mereka saling melirik gelisah, suara batuk dari temannya di sampingnya membuat Jon menatapnya, dia mengedikkan bahunya pertanda itu terserah kau mau memberitahukan kepadanya atau tidak.


Dan akhirnya dia memutuskan memberitahu Edmund.


"Kami mencari seorang gadis sir, tapi kami tidak kunjung menemukannya." Ucapnya.


"Siapa nama gadis itu." Tanya edmund.


"Laura Scarlett, dia memiliki warna mata tosca cerah."


Edmund tidak bertanya dengan terburu-buru, dia berpura-pura berpikir lalu kembali menatap mereka.


"Untuk apa kalian mencarinya."


Mereka kembali saling melirik, dan pria bernama jon memutuskan untuk memberitahunya.


"Tuan Windsor sedang mencari cucu perempuannya dan dia mencurigai bahwa Nona Laura Scarlett adalah cucunya yang menghilang beberapa tahun yang lalu."


Edmund terkejut, dia tidak menyangka berita yang di dengarnya begitu luar biasa baginya, dia melengkungkan Senyumnya.


"Aku tahu dimana wanita yang kalian cari, tapi ada satu hal yang harus kalian lakukan." Ucap edmund tiba-tiba memiliki sebuah rencana di benaknya.


"Apa itu tuan?" Tanyanya.


Edmund tersenyum dan akhirnya memberitahukan dimana tempat Laura sekarang ini berada.


~


Napas Laura begitu memburu, entah sudah jam berapa sekarang, Sean masih belum melepaskan Laura dari percintaannya.


"Sean cukup ! kau akan menyakitiku jika kau tidak berhenti." Ucap Laura dengan tubuh yang bergerak-gerak.

__ADS_1


"Sedikit lagi sayang." Ucap Sean dengan gigi menggertak, dan Sean kembali membawa Laura mendapatkan pelepasannya.


Suara napas mereka menggema di kamar itu, Laura berada di pelukan Sean dan mencoba menormalkan napasnya.


"Kau seperti kesetanan Sean ada apa denganmu." Ucap Laura padanya.


"Kita menikah."


Tubuh Laura tiba-tiba membeku, dia mengangkat kepalanya yang tengah berbaring di dada Sean dan menatap Sean di hadapannya.


"Apa yang...." Suara Laura tercekat


"Kita segera menikah Laura, aku minta maaf kepadamu seharusnya aku sudah melakukannya dari dulu sayang." Ucapnya sambil membelai wajah Laura yang begitu dekat dengannya.


Mata Laura menggenang dengan air mata, dia lalu memeluk erat Sean di atas tubuhnya.


Laura mengangkat kepalanya lalu mengecup bibir Sean, "Aku sangat senang Sean." Ucap Laura, dia menyembunyikan wajahnya di leher Sean.


"Kapanpun kau inginkan laura, aku ingin segera melangsungkan pernikahan kita." Sean membalas pelukan erat Laura dan tersenyum bahagia.


Laura tiba-tiba mengernyitkan alisnya, sesuatu mengeras di bawah sana membuat Laura berhenti untuk bergerak.


"Sean Kau tidak lelah?" Tanyanya.


"Seorang perompak memiliki stamina yang cukup besar sayang."


"Tapi aku bukan perompak, aku masih nyeri Sean." Protes Laura karena Sean mulai mendesaknya.


"Jika kau melakukannya lagi kali ini aku betul-betul harus berada di atas tempat tidur seharian, aku tidak akan bisa bergerak." Ucap Laura memukul tubuh bidang Sean.


"Baiklah sayang maafkan aku." Tapi perkataan Sean berbeda dengan gerak tubuhnya.


"Sean !" Teriak Laura.


~


Tuan Windsor sedang duduk di meja kerjanya dan membaca dokumen penting yang ada di tangannya, suara ketukan mengalihkan perhatiannya.


"Masuk."


Seorang pelayan sedikit menunduk dan memberikan sebuah surat kepada tuan Windsor.


"Surat dari tuan Jonathan tiba pagi tadi tuan." Ucap pelayan itu.


"Baiklah, kau boleh keluar."


"Baik tuan."


Tuan Windsor membuka surat itu dan membacanya, dia mengernyitkan alisnya.


Tuan Windsor mengambil kertas lalu mulai menulis untuk membalas surat Jonathan.


"Baiklah, idemu cukup bagus Jon, aku sendiri yang akan menjemput cucuku di desa itu."


~


Max berlarian di halaman mansionnya, sambil bermain dan berpura-pura menjadi bajak laut meskipun dia bermain seorang diri.


Dua orang pelayan tengah mengikuti kemanapun max pergi dan ikut berlari jika max berlari.


"Ck, Berhentilah mengikutiku apa kalian tidak bosan?" ucap max dengan wajah putus asa.


Pedang kayu itu berada di tangannya. Huff, mereka keras kepala." Ucap max menggelengkan kepalanya.


"Terserah kalian saja, lariku sangat kencang lho." Teriak max sambil berlari.

__ADS_1


Tiba-tiba max menabrak tubuh seseorang hingga dia terjatuh di tanah.


"Kau tidak apa-apa?" Ucap suara berat dan terdengar lembut itu. max mencoba bangun dan berdiri lalu menatap orang yang di tabraknya.


"Anda lagi? Sepertinya ayahku tidak menyukaimu sir, mengapa anda kemari?" Tanya max tanpa takut sedikitpun sambil melipat kedua tangannya di depan Edmund.


Edmund tersenyum miring, ck dia mirip sekali dengan pria itu. Pikirnya.


"Aku ingin bertemu dengan ibumu." Ucap Edmund yang juga menyilangkan kedua tangannya dihadapan max. Mereka berdua bertatapan sedang saling menilai.


Max memegang dagunya menatap Edmund lalu menilainya.


"Mengapa kau ingin bertemu ibuku? Sepertinya ibuku tidak menyukaimu juga sir."


"Benarkah? Edmund tersenyum miring.


"Dan kenapa kau bermain seorang diri? Kau tidak memiliki seorang teman ya, apakah karena mereka tidak menyukaimu?"


"Bukan masalah sir, bukankah setiap orang di lahirkan seorang diri di dunia ini."


Ucap max masih menyilangkan kedua tangannya.


Meskipun Edmund sedikit jengkel dengan bocah kecil ini tapi dia tidak bisa memungkiri jika putra Laura sangat lucu dan menggemaskan, dia juga sangat pintar untuk ukuran anak kecil seperti dirinya.


Seorang pelayan datang dan sedikit menunduk kepada Edmund.


"Sebentar lagi tuan Hoult akan datang sir, anda bisa menunggunya di ruang tamu." Ujar pelayan itu.


Edmund mengikuti pelayan itu masih di pelototi oleh max yang memperhatikan setiap gerak gerik edmund.


"Pria tua itu harus di jauhkan dari ibuku, aku tidak suka kedua bola matanya ketika menatapku, lagi pula daddy lebih tampan darinya." Gumam max lalu segera berlari dan memantau edmund dari jendela rumah.


~


Sean sudah bersiap keluar dari kamarnya ketika Laura masih tertidur lalu mengerjapkan matanya memandang Sean yang sudah rapi.


"Kau akan kemana Sean?" Tanya Laura lalu duduk di atas tempat tidur menarik selimut hingga menutupi separuh tubuhnya.


"Pria itu datang kemari, dia ingin bertemu denganmu tetapi kau jangan menemuinya biar aku yang menghadapinya." Ucap Sean terdengar sangat marah.


Laura terkejut, dia segera mengangguk mengikuti saran Sean.


"Dimana max?" Tanyanya.


"Tenanglah sayang dia bersama pelayan-pelayan yang mengawasinya ketika max bermain di halaman." Ucap Sean menenangkan Laura.


Sean keluar dari kamar dan segera menemui Edmund di ruang tamu.


'Berani sekali orang itu mendatangi rumahnya, apa yang diinginkan pria itu.'


Sean masuk ke ruang tamu dan mendapati max sedang duduk di hadapan edmund sambil menyilangkan kedua tangannya, mereka saling menatap.


"Max?" Ucap sean.


"Daddy?" Max berlari ke Sean dan melompat ketubuhnya, Sean mengecup pipi putranya.


"Bermainlah di luar, dad ingin berbicara dengannya." Bisik Sean.


"Okey Daddy, panggil aku jika orang itu macam-macam dad." Bisik max tetapi Edmund masih mendengarkan setiap kata-katanya.


Sean menurunkan max dari gendongannya dan membiarkannya pergi.


"Apa yang kau inginkan tuan edmund."


Edmund tersenyum tipis. "Sesuatu yang akan membuatmu tertarik untuk mendengarkannya." Ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2