
"Aku ingin kembali ke rumah Rossie". Laura mengatakan kepada Edmund ketika sarapan, sudah hampir seminggu Laura berada di villa Edmund, dia menatap Edmund karena dia tidak menghiraukan kata-kata Laura.
"Aku tidak bisa tinggal di sini, mereka akan khawatir". Gumam Laura masih menatap Edmund, pria ini sama sekali tidak menghiraukan Laura, dia masih membaca berita pagi di tangannya. "Edmund kau mendengarku?"
"Aku yang memutuskan kau pergi dari sini atau tidak, jadi diamlah !" Kata Edmund sambil membaca kembali kertas yang ada di tangannya.
Laura melempar serbet di atas pangkuannya, dia kemudian beranjak dari kursi, mengapa dia menahanku di sini? Laura berjalan sambil menatap pemandangan taman di hadapannya, dia duduk di salah satu kursi di taman. Aku melarikan diri dari tangan Sean dan sekarang terperangkap di tangan Edmund, mengapa mereka melakukan ini padaku?
Aku sudah cukup bahagia tinggal bersama rossie. Kecupan ringan mendarat di puncak kepala Laura. Edmund menarik Laura kedalam pelukannya.
"Apa yang kau pikirkan hem?"
Laura tidak menjawabnya, juga tidak memandang wajah Edmund. "Kau ingin kembali ke rumah itu?" Tanyanya. Seketika Laura mengangguk.
"Aku tidak ingin membuat Rossie khawatir." Kata Laura di dada edmund.
"Hanya rossie? tidak ada yang lainnya?" Edmund menarik dagu Laura agar memandangnya.
"Aku akan memikirkannya jika kau bersikap dengan baik dan menurutiku malam ini, jangan melawanku, atau aku akan memaksamu dan menyakitimu".
Laura tidak menjawabnya, mereka hanya saling memandang. Pria ini hanya menginginkan tubuhku saja, dia tidak memperdulikan sama sekali perasaanku.
"Aku akan memulangkanmu jika kau patuh padaku, kau mengerti Laura." Kata Edmund di sela-sela kecupan-kecupan ringannya di wajah Laura.
Kecupan ringan Edmund berubah menjadi menuntut dan menyesakkan dada Laura, dia mengangkat tubuh Laura hingga kakinya melayang, Edmund kemudian menurunkannya.
"Tunggu aku malam ini, aku akan segera kembali." janji Edmund, dia segera pergi di pagi itu entah kemana, Laura memandangnya dari kejauhan.
Hanya tiga orang pelayan yang di tugaskan untuk menjaga laura, lebih tepatnya mengawasi laura.
Edmund pikir laura akan melarikan diri darinya. Laura menghembuskan napasnya, bibirnya terasa sangat bengkak, selama ini Edmund tidak menyentuh laura dia pikir tubuh laura masih kesakitan karena perbuatannya yang memukul Laura waktu itu, dia pria yang menyukai kekerasan dan ringan tangan, dia menggantinya dengan ciuman yang membuat laura hampir pingsan setiap harinya.
"Apa yang harus aku lakukan? dia menginginkanku malam ini, aku tidak mau di sentuh olehnya. Sean...hanya Sean tapi pria itu....Laura lalu menggeleng-gelengkan kepalanya, lupakan Sean ! mungkin saja sekarang dia berada di lautan bersama wanita penggantiku, dia hanya seorang perompak yang tidak memperdulikan perasaan cinta.
__ADS_1
Hari itu Laura membersihkan taman dan meminta ijin kepada pelayan agar diizinkan keluar sebentar, cuma dihalaman villa saja, dia ingin menikmati pohon-pohon rindang yang menutupi gerbang villa milik Edmund. Dengan pengawasan salah satu pelayan pria yang berdiri tidak jauh dari Laura.
"Sungguh indah, cantik sekali bukan?" gumam Laura menatap pohon-pohon yang sudah berubah menguning. Tiba-tiba saja kereta kuda berhenti tepat di depan Laura.
"Psst..psst..Laura ! Naik cepat ! suara Ethan menggema lalu tanpa menunggu lama Laura melompat ke atas kereta kuda, pelayan yang mengawasinya berlari sekencang-kencangnya, tetapi dia tidak dapat menjangkau kami.
"Kau baik-baik saja Laura?" Teriak Ethan yang mengendarai kereta kudanya. Laura tersenyum senang.
"Aku baik Ethan terima kasih kau menolongku". Teriak Laura dari dalam kereta.
"Kita harus bergegas sebelum tuan edmund menemukan kita", Teriak ethan.
"Kau mengetahui aku di mana?"
"Aku ini seorang detektif ulung Laura, sangat mudah menemukanmu". teriaknya lagi sambil tertawa keras.
"Kita akan kemana?" tanya Laura padanya.
"Kita tentu saja pulang".
Suara tapak kaki kuda dan roda kereta yang melaju kencang membuat laura tertawa senang, setidaknya seseorang mengingat keberadaannya.
Rossie pasti khawatir padaku, apa yang harus aku katakan padanya? aku di culik oleh tuan muda Edmund yang menginginkan tubuhku? pikir Laura. Kereta itu berhenti di belakang rumah Rossie, Ethan membantu Laura turun dari kereta dan di sana sudah menunggu Bertha pacar Ethan.
"Terima kasih ethan, kau pasti Bertha", senyum Laura sambil memeluknya sebentar.
"Ethan, Rossie mengatakan padaku sebaiknya Laura bersembunyi di rumahku untuk sementara waktu". Jelas Bertha. Ethan menggaruk kepalanya.
"Boleh juga, pemikiran yang bagus untuk nenekku tersayang, aku harus cepat kembali ke kastil, Bertha sayang jaga Laura." Dia mencium Bertha lalu mengedip padaku, kemudian Ethan berlari menuju kastil.
"Ikut aku Laura, dan kenakan jubah ini". Kata Bertha menutupi Laura dengan jubah berwarna ungu yang cukup besar.
"Trims Bertha kalian sangat baik padaku". Bertha melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Jangan sungkan, ngomong-ngomong kau sangat cantik laura." Dia tersenyum manis menatap Laura.
~
"KATAKAN PADAKU DIMANA LAURA !" Suara Edmund menggelegar di ruangan itu, pelayan pria yang bertugas menemani Laura babak belur darah mengalir di bibirnya.
Beberapa barang di ruangan itu melayang dan berserakan di lantai.
Edmund berjalan dengan terhuyung-huyung, berani sekali kau laura pergi dariku, Kali ini kau akan kubuat menyesal Laura, aku akan membuatmu menyesali pilihanmu. Dia berjalan dan mengendarai kuda menuju kediaman Kent Windsor.
Laura berjalan di sepanjang kota Cambridges dan tidak jauh dari kediaman Kent Windsor, mereka berhenti di sebuah rumah yang cukup terpencil dari rumah-rumah lainnya. Laura menatap rumah itu meskipun kecil tetapi sangat indah dan asri di penuhi rumput liar tetapi sudah dipangkas sehingga nampak bersih dan rapi, satu pohon maple berdiri tegak di dekat pagar kayu itu.
Bertha mempersilahkan laura masuk kedalam rumahnya, ruang tamu dan dapur serta dua kamar tidur, "Kau tinggal sendiri?" tanya Laura.
Dia kemudian tersenyum, "Ethan yang membelikanku rumah ini, dulu aku tinggal di toko bunga itu karena aku sebatang kara, dan kerja di sana, hingga aku bertemu ethan, kami akan tinggal di sini jika sudah menikah nanti." Dia tersenyum malu-malu, lalu dengan cepat menuju ke dapur membuatkan secangkir teh.
Sungguh beruntung Bertha, dia sama sepertiku tapi dia menemukan Ethan yang mencintainya dengan tulus. Laura duduk di salah satu kursi dan menatap pemandangan dihalaman rumah.
~
Ethan mengerling seseorang yang turun dari kuda dengan terburu-buru, dia dengan cepat memalingkan wajahnya, napasnya memburu kemudian dia mendatangi rumah rossie dan matanya mengelilingi tempat itu.
"Dimana wanita itu? bentak Edmund.
Rossie yang sedang memetik sayuran dikebun lalu berdiri menghadap Edmund.
"Ada apa tuan Edmund?" Kata Rossie. Edmund menggertakkan giginya.
"Dimana Laura !?" bisiknya mengancam.
Rossie yang bingung menatap Edmund, "Anda tahu dimana laura? sudah seminggu aku tidak bertemu dengannya, aku kira sesuatu yang buruk telah terjadi pada gadis malang itu." Dia menggumam di balik saputangannya. Edmund menyipit memandangnya.
"Aku tidak percaya padamu Rossie." Edmund lalu masuk kedalam rumah Rossie mencari-cari Laura dan masuk kedalam kamarnya. Kamarnya nampak rapi tetapi jejak-jejak Laura tidak ada sama sekali, dia memeriksa setiap sudutnya dan membuka lemari kecil di samping jendela.
__ADS_1
Edmund keluar dari rumah Rossie tanpa memperdulikan rossie, wajahnya sungguh menakutkan, kemarahannya membuat orang-orang menghindar padanya, 'Dimana kau laura' gumamnya.
Malam itu Laura duduk di sisi tempat tidur sehabis mandi dia merasa sangat segar, rambutnya basah, dia mengeringkannya dengan handuk yang diberikan Bertha padanya. Sekarang ini mungkin Edmund sedang marah besar, apa yang akan di lakukannya jika dia menemukanku? tubuh Laura bergetar membayangkannya. Dia berbaring telentang melihat langit-langit kamar. "Mom, dad..aku merindukanmu", bisik laura.