Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 76


__ADS_3

Kediaman Sofia Ridle


Kamar itu berantakan, semua barang-barang itu berserakan di lantai, wanita itu menghancurkan semua barang-barang yang ada di kamarnya. Dia tidak bisa menerima semua ini. Dia tidak bisa di perlakukan seenaknya. "Edmund, kau akan mendapatkan balasan karena telah menghinaku seperti ini. Aku rela menunggumu bertahun-tahun agar bisa menjadi istrimu kelak, tetapi setelah kau datang, kau membawa seorang wanita yang kau cintai, akupun mengalah dan bersedia untuk menjadi istrimu yang kedua, tetapi dengan seenaknya kau membatalkan dan mempermalukanku di depan orang-orang? Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia."


Suara teriakan di mansion kediaman bangsawan Ridle membuat para pelayan menjauh dan tidak mau dekat-dekat dengan kamar nonanya. Mereka akan menjadi sasaran empuk wanita itu.


Kediaman Alexander


"Apa telingaku tidak salah dengar? Bangsawan Lewstin, dari kota chester? Bukankah bangsawan itu bergerak atas perintah yang mulia Raja, dia merupakan tangan kanan raja, tetapi sudah lama terdengar gosip bahwa putra kedua dari bangsawan itu membangkang, dia memilih meninggalkan gelarnya sebagai duke dan mengejar keinginannya menjadi bajak laut sejak usianya 18 tahun, apakah bangsawan Lewstin itu yang di maksud?" Ucap ayah Edmund.


"Iya tuan, satu-satunya bangsawan bernama Lewstin hanya berada di kota Chester. Farious Lewstin memiliki kakak pertama yang sekarang bekerja di pemerintahan, dia memegang jabatan penting disamping yang mulia raja, sedangkan adiknya yang sekarang adalah Ayah dari Nyonya Leona bernama Farious Lewstin, dia meninggalkan keluarganya bertahun-tahun, tetapi meskipun begitu, Lewstin sangat terkenal di lautan, menurut informasi yang saya dengar, perdagangan dari inggris utara dan barat, di awasi langsung olehnya, siapa saja yang menjadi musuhnya, tidak akan melewati jalur laut dengan aman, tuan."


"Ughhh, Edmund bodoh ! Mengapa dia tidak memberitahu kalau ayah leona adalah seorang bajak laut terkenal itu? Apalagi dia seorang bangsawan terkenal. Perdagangan kita bisa hancur kalau kita menjadi musuh Lewstin. Segera kumpulkan seluruh penjaga dan sebarkan di seluruh kota Cambridge kita harus mencari menantuku kembali."


***


Edmund melanjutkan pencariannya sampai di pelosok kota cambridge, tetapi Leona seakan telah menghilang. Dia mengerahkan segenap kekuatannya untuk mencarinya siang dan malam, mengumpulkan seluruh pengawalnya, tanpa henti dia mencarinya.


Edmund berada di sebuah penginapan, setelah larut malam dia baru mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Matanya beralih ke jendela yang terbuka, dia menatap bintang-bintang yang bertaburan, dia seakan melihat wajah leona yang tersenyum kepadanya. Leona memanggil namanya sambil tersenyum. Kebahagiaan bersama Leona ketika berada di pulau zaudetta membuatnya semakin rindu padanya. Dia menggertakkan giginya, rasa kesal dan sesal akan kebodohannya.


***


Desa Leaf menjadi tujuan utama Leona. Dia akan hidup dan menjadikan desa ini sebagai tempat untuk menenangkan diri, dia membawa uang yang cukup untuk membeli rumah dan kebun, dia sangat ingin bercocok tanam seperti penduduk desa lainnya, memulai dari awal dan hidup tenang. Meskipun keinginannya begitu kuat untuk melupakan Edmund tetapi semua itu tidak mudah. Siang dan malam wajah Edmund selalu membayanginya dan dia sangat merindukannya.


"Berhenti Leona bodoh, dia sudah menikah. Dia tidak akan sama seperti dahulu, dia bukan Edmundmu yang dulu kau cintai, dia telah melupakanmu." Leona menggelengkan kepalanya agar nama Edmund dapat hilang dari kepalanya.


"Mulai hari ini nama Edmund akan terhapus dari kepalaku, nama itu tidak akan muncul lagi untuk selamanya." Ucap Leona bersemangat.


"Edmund, hei Edmund jangan berlari nanti kau jatuh." Panggilan nama itu membuat jantung Leona berdetak kencang. Dia berbalik dan melihat seorang anak kecil berumur 5 tahun berlari-lari di kebun sambil tertawa-tawa, sementara wanita di belakangnya mengejar sambil memanggil-manggil namanya.


"Edmund, ibu bilang jangan berlari di kebun orang nanti tanamannya rusak." Teriak sang ibu. Leona berusaha menjauh karena nama itu terus terulang di mulut wanita itu.


"Tsk, aku tidak menyangka dia menamai anaknya dengan Edmund. Bagaimana aku bisa melupakannya kalau begini." Ucap Leona menarik napas dan menghembuskannya, dia lalu duduk di atas bebatuan yang di sekitarnya penuh dengan bunga-bunga liar.


Ibu dan anak itu terus berlarian di belakang Leona dengan suara keras memanggil-manggil namanya.


"Edmund, ayah akan marah kalau kau merusak tanaman warga desa, Edmund perhatikan kakimu itu. Edmund jalan pelan-pelan." Leona beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan menjauh dari ibu dan anak itu.


"Bagaimana aku bisa melupakan Edmund kalau dia berteriak sekeras itu."


Sudah lima hari sejak Leona berada di desa itu, dia akhirnya membeli sebuah rumah kecil. Meskipun kecil tetapi sangat bersih dan luas, sangat sesuai untuk di tinggali oleh Leona yang akan hidup sendirian. Halamannya cukup luas untuk menanam sayuran dan bunga-bunga. Rumah Leona berada di ujung desa dari rumah para warga desa. Rumah itu milik dari tempat penginapan, melihat Leona yang sedang mencari-cari rumah, pemilik penginapan itu menawarkan rumah kecilnya, karena lokasinya cukup jauh dari penginapan jadi dia menjualnya kepada Leona.

__ADS_1


Seharian Leona bersih-bersih dan memperbaiki tempat itu, tidak banyak yang Leona lakukan untuk bersih-bersih karena pemilik sebelumnya telaten membersihkan rumah itu, meskipun dia tidak menempati rumah itu lagi, sehingga Leona hanya membersihkan seperlunya dan mengisinya dengan barang-barang.


"Ugh lelahnya. Ah, aku harus ke pasar untuk membeli peralatan rumah tangga, mungkin tempat penyimpanan makanan dan beberapa jenis bibit tanaman agar besok pagi aku bisa memulai menanam di kebunku." Leona dengan bersemangat berangkat ke pasar yang tidak jauh dari rumahnya. Berbagai macam barang-barang di jual di tempat itu, Leona membeli segala keperluannya mulai dari piring, gelas, serta segala macam peralatan masak.


Dia berhenti pada satu toko yang menjual berbagai bibit segala macam sayuran dan bunga, Leona segera masuk dan melihat-lihat semua jenisnya.


"Hmm, coba aku lihat. Aku mencari bibit sayuran, Ah ini dia." Leona mengambil berbagai jenis bibit sayuran dan segera membayarnya. Leona sedang mengantri untuk membayar belanjaannya, seorang pria berdiri di hadapannya. Dia berbalik dan menatap Leona.


"Anda penghuni baru di desa ini?" Suara itu mengagetkan Leona, dia mengangkat kepalanya dan melihat seorang pria dengan tubuh tinggi sedang membeli berbagai bibit tanaman. Matanya menatap manik mata Leona yang berwarna coklat, mata abu-abu yang dalam sedang memandangnya sambil tersenyum.


"Ah ya, aku baru di desa Leaf." jawabnya.


"Sepertinya anda tertarik dengan sayuran di bandingkan dengan bibit bunga." Ucap pria itu ketika matanya menatap berbagai macam jenis bibit sayuran yang dibeli Leona.


"Saya lebih tertarik dengan sayuran." Ucap Leona sambil mengangkat bahunya. Pria itu tersenyum sopan, setelah membayar belanjaannya, pria itu pamit dan segera pergi.


***


Edmund bersama para prajurit mencari Leona sampai ke pinggiran kota, dia menyisir tempat itu, sampai-sampai mengeluarkan seluruh penduduk untuk di tanyai mengenai wanita berambut kecoklatan yang pernah mendatangi desa mereka. Tetapi tidak ada satupun warga desa yang mengetahui wanita yang di tunjukkan oleh Edmund.


Kegilaan Edmund terus berlanjut, dia mencari Leona dari satu desa ke desa lainnya. Tetapi anehnya dia masih belum menemukannya.


Dia berjalan dan memeriksa satu persatu wanita yang ada di setiap desa. Memastikan wajah mereka dengan baik.


"Tuan, desa berikutnya tidak begitu jauh dari desa ini. Meskipun jalanannya rusak dan berbatu tetapi desa itu juga terkenal di kalangan penduduk, desa itu bernama desa Leaf. Kita bisa menuju ke sana sore ini, tuan." Ujarnya.


"Bagus. Kumpulkan yang lain. Kita berangkat sekarang."


***


Hari itu Leona sedang berada di kebunnya. Dia mencoba menggarap tanah yang akan di jadikan kebun sayur-sayurannya. Kebetulan kebunnya tidak jauh dari rumahnya, dia dapat melihat rumah kecilnya dari jauh. Hari itu hatinya sangat senang. Meskipun kegiatan menanam tidak banyak menarik perhatian orang-orang, tetapi bagi Leona memiliki kebun sendiri merupakan impiannya sejak berada di pulau Zaudetta. Sambil bersenandung Leona mendengar suara-suara dari arah belakangnya.


Ibu dan anak yang tinggal tidak jauh dari rumah Leona kebetulan melewati kebun miliknya. Dia menyapa Leona ketika dia sibuk menggarap tanahnya.


"Hai selamat sore, anda pasti yang tinggal di ujung desa. Aku senang sekali bisa bertetangga dengan anda. Nama saya Cristy Howl dan ini putraku Edmund Howl." Leona melirik kepada pria kecil yang menatapnya.


"Namaku Leona Lewstin, mulai saat ini aku tinggal di desa Leaf. Aku tidak menyangka kalau desa ini memiliki pemandangan yang sangat indah. Saya tertarik melihat sayuran di sini sangat melimpah di bandingkan beberapa desa lainnya. Kebetulan saya suka berkebun, apalagi menanam sayuran." Ucap Leona bersemangat.


"Ah, benarkah? Katakan saja jika anda membutuhkan bantuan, aku juga suka berkebun, kebetulan kebun kami baru selesai di tanami, jadi aku tidak memiliki kegiatan lain." Ucapnya, dia ibu muda yang bersemangat dan sangat ceria.


"Panggil saja dengan namaku, kita bisa bicara santai, boleh aku memanggilmu Christy?" Ucap Leona.

__ADS_1


"Tentu saja, aku sangat senang memiliki teman ngobrol yang baru. Edmund. Ayo beri salam kepada Nona Leona." Ucap Christy kepada putranya. Dia menunduk sebentar sambil menunjuk sesuatu dari kejauhan.


"Mom, lihat ! kenapa banyak orang di lapangan? Ada apa?"


Leona berdiri dan menatap pasukan berkuda yang datang dari kejauhan dan memasuki desa. Mereka berdua bersembunyi di belakang sebuah rumah dan melihat siapa yang datang.


"Mereka siapa?" Tanyanya.


"Sepertinya mereka mengumpulkan para penduduk desa. Apa yang terjadi? Akh, mungkin mereka meminta upeti, atau pajak. Bagaimana ini, tahun ini hasil kebun kami tidak cukup bagus." Ucapnya panik.


"B-bagaimana jika kita bersembunyi, aku tahu tempat yang aman." Dia menarik tangan Leona dan menggendong putranya. Mereka bersembunyi di sebuah lumbung gandum. Tempat itu sangat besar, menampung hasil gandum penduduk yang melimpah.


"Ayo naik ke atas sini, Leona." Ucap Wanita itu.


Leona mengikuti apa yang dikatakan wanita itu, mereka bertiga bersembunyi di belakang tumpukan karung gandum yang betul-betul tersembunyi.


Mata mereka membelalak ketika mendengarkan seruan pria di belakang dinding pembatas tempat mereka sembunyi.


"Apa sudah di periksa di tempat ini?" tanyanya.


"Belum tuan, sepertinya ini tempat penyimpanan gandum." Ucap pria itu.


"Periksa. Mungkin saja ada orang di dalam."


"Baik tuan."


Pintu itu terbuka dengan lebar. Dua pria memasuki lumbung itu dan memeriksa jika saja ada yang bersembunyi di dalam lumbung itu.


Leona dan wanita itu terdiam kaku di belakang tumpukan gandum. Mereka bahkan menahan napas agar mereka tidak mendengarnya. Jantungnya yang berdetak saja membuat Leona merasa bahwa dia akan ketahuan karena berdegub dengan kencangnya.


"Tidak ada apa-apa di sini, tuan."


"Kalau begitu kita periksa penduduknya, kita akan pergi malam ini juga, jika masih belum di temukan."


"Baik tuan."


Leona membelalakkan matanya. Dia mengenal suara itu. Suara itu adalah suara Edmund. "I-itu Edmund, untuk apa dia ke desa ini?" Ucap Leona dengan suara bergetar.


"Kau mengenal pria itu?" tanyanya.


"Apa? T-tidak. Aku tidak mengenalnya."

__ADS_1


Apa yang di carinya di desa ini? Apa dia mencariku? Tapi kenapa, dia kan sudah menikah dengan wanita rubah itu? untuk apa dia mencariku.


Edmund memperharhatikan semua wanita di desa ini, tetapi sayang sekali, Leona tidak ada di desa ini juga, sudah banyak desa yang dia kunjungi, dia yakin Leona bersembunyi di salah satu desa, karena dia tidak mungkin kembali ke pulau Zaudetta. Ayahnya sudah memantau kapal-kapal yang akan berangkat melaut, dan dia tidak menemukan keberadaan Leona.


__ADS_2