Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 81


__ADS_3

Berita mengenai kehamilan Leona sudah merebak ke keluarga Alexander. Mereka turut menyambut gembira kehadiran cucu keluarga Alexander. Leona tidak menyangka dia hamil, setelah mereka kembali ke mansion. Edmund sangat menjaga Leona, dia tidak membiarkan Leona terlalu banyak bergerak atau melakukan sesuatu yang menguras energinya.


Edmund pun melakukan semuanya, dia melakukan apa yang disuruhkan Leona. Mereka tampak sangat bahagia, hingga pelayan di mansion turut bergembira. Seseorang berdiri sambil menatap perayaan kecil-kecilan yang dilakukan para pelayan dan pengawal di tempat beristirahatnya para pelayan di belakang mansion.


Wajahnya terlihat tersenyum angkuh, dia berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Hei Maurin, kenapa kau berdiri di sana, ayo bergabung."


"Aku ngantuk, jangan menggangguku." Ucap pelayan bernama Maurin. Dia adalah pelayan setia dari Nyonya Alexander. Dia tidak begitu banyak bicara atau menunjukkan ketidaksukaannya kepada Leona, karena itu dialah yang tertinggal dan masih bekerja di mansion.


Pelayan itu bekerja di bagian jahit menjahit, dia di pekerjakan oleh Nyonya Alexander karena ketrrampilannya dalam menjahit, kini dia tidak melakukan apa-apa lagi semenjak Nyonya baru itu lebih suka membeli pakaian di toko. Dia masuk ke kamarnya dan bersandar di pintu. Jantungnya berdetak kencang. Dia menggigit kuku jarinya. Berjalan mondar mandir, dia ingin menyampaikan kabar ini kepada Nyonyanya.


Dia telah mengambil keputusan. Hari ini dia akan keluar dari mansion dan mengatakan hendak membeli kain. Setelah itu dia akan langusung menuju ketempat dimana Nyonya Alexander di tahan.


"Maurin mau kemana pagi-pagi begini? Aku melihatnya keluar berjalan kaki pagi-pagi sekali, apa dia mengatakan sesuatu padamu?" Ucap kepala pelayan, dia bertanya kepada salah satu pelayan yang sedang membersihkan perabotan di ruang keluarga.


"Tidak Nyonya, kami ... tidak dekat, Maurin tidak lebih suka menyendiri, karena dia sangat dekat dengan pelayan yang sudah di usir oleh Nyonya Leona.


"Benarkah?" Matanya tajam menatap kebun dan gerbang tempat pelayan itu keluar.


***


"Aku tidak bisa Leona," Ucap Edmund di suatu malam.


Leona sama sekali tidak bisa tidur. Dia sejak tadi balik kiri dan kanan, mencoba menutup matanya. Tetapi lagi-lagi dia tidak bisa memejamkan matanya. Sedangkan Edmund sudah tertidur lelap. Apalagi sekarang ini dia sedang membelakanginya.


Leona memegang punggung Edmund menarik sedikit selimutnya dan memelukanya dari belakang, hingga Edmund terbangun.


"Leona? Kau tidak tidur, sayang?"


Dia membalikkan tubuhnya, melihat Leona menatapnya, hanya dengan pandangan matanya, Edmund tahu apa yang diinginkannya.


Leona menarik wajah Edmund dan menciumnya, dia lalu menguasai bibirnya, hingga napas mereka tidak terkontrol.


"Leona tidak sekarang. Kata Dokter kau tidak boleh melakukan aktifitas yang menguras energimu terlalu banyak, karena kandungamu masih sangat lemah, Leona." Ucap Edmund.


"Tapi aku menginginkanmu, Edmund. Kau bisa melakukannya dengan perlahan. Oke." Ucap Leona berharap. Sekali lagi Edmund menjauhkan tubuhnya.


"Leona dengarkan aku. Kau tahu dengan jelas bagaimana aku ketika kita melakukannya, aku tidak ingin bertindak kasar kepadamu Leona." Leona mendorongnya dan membelakangi Edmund.


"Besok kita menemui dokter dan aku akan menanyakannya, aku tidak bisa. melakukannya tanpa saran dokter. Aku tidak mau membahayakanmu dan anak kita, mengertilah sayang." Ucap Edmund.

__ADS_1


***


Wanita itu tidak tampak sama seperti biasanya. Rambutnya digelung secara sembarangan, pakaian yang digunakan sama dengan tahanan lain. Dengan takut-takut pelayan bernama Maurin memasuki ruang kunjungan untuk para tahanan.


Dia duduk di salah satu kursi di ruangan sempit yang di jaga oleh pengawal. Dia kemudian mengintip roti-roti yang dibelinya di pinggir jalan untuk Nyonya Lamanya. Wanita itu di bawa keruang kunjungan. Dua orang penjaga sedang bersamanya dan menguncinya di ruang kecil tempat para pengunjung. Wanita itu duduk dan menatap wanita yang sedang duduk di hadapannya.


"Oh Maurin, sepertinya kebidupanmu lebih baik daripada kehidupanku, apa yang membawamu ke sini, hah. Aku sama sekali tidak cocok mengenakan gaun di tempat mengerikan seperti ini." Ucapnya.


"Nyonya, saya membawakan roti kesukaan anda." Ucap Maurin. Wanita itu terkekeh pelan. Hah, kau masih mengingat apa yang kusukai dan apa yang tidak kusukai. Berikan roti itu pada penjaga, agar dia memberikannya kepadaku, tapi apakah hanya ini maksud kedatanganmu?" Tanyanya.


"Tidak nyonya, tujuan saya datang untuk memberitahukan kalau istri tuan Edmund sedang mengandung." Ucapnya. Wanita itu menggigit kuku jarinya.


"Benarkah? Cih aku sama sekali tidak menginginkan cucu dari wanita itu. Aku tidak akan mengakuinya, anak itu tidak boleh lahir dari keluarga Alexander. Aku sama sekali tidak akan menerimanya sama sekali, lakukan sesuatu untukku." Ucapnya. Suara langkah kaki terdengar mendekati pintu itu.


"Waktu berkunjung telah habis."


"Jangan biarkan anak itu lahir. Lakukan sesuatu agar wanita itu kehilangan anaknya. Kau mengerti." Wanita itu menempelkan wajahnya di kaca dan berbisik kepada pelayan itu. Dia mengangguk dan segera pergi dari tempat itu.


Dia kembali mengenakan mantelnya dan melirik ke kiri dan kanan. Dia keluar dari penjara itu dan segera naik ke atas kereta.


Seorang pria berlari-lari menuju ke tuan Lewstin, dia melaporkan kejadian yang baru saja di lihatnya.


"Selidiki lebih lanjut dan cari tahu siapa wanita yang mengunjunginya, aku tidak akan membiarkan apa yang diinginkan wanita itu, bahkan ketika dia sudah masuk kedalam penjara.


***


Seorang pelayan memberikan hormat kepadanya. "Nyonya saatnya anda harus beristirahat di dalam, tuan Alexander berpesan agar anda menikmati minum teh anda di dalam mansion."


"Baiklah, aku juga sudah selesai. Aku akan segera ke mansion. Kau boleh kembali."


" Baik Nyonya."


Leona kembali ke dalam mansion, dia masuk keruang santai, teh dan cemilan sore tersedia di atas meja untuknya. Dia lalu duduk dan menatap menu di atas meja di sampingnya.


"Teh apa ini? Mengapa wanginya seperti ini? Aku lebih suka teh yang biasa kalian hidangkan." Ucap Leona, dia menjauh dari bau teh di dalam cangkir.


Kepala pelayan datang bersama kepala Chef. "Nyonya, apa bau dari teh itu mengganggu? Aku akan menyediakan teh lainnya." Ucap kepala Chef itu.


"Aku ingin teh yang biasa kau hidangkan, jangan menggantinya." Ucap Leona sambil menutup hidungnya.


"Baik Nyonya."

__ADS_1


Para pelayan membawa teh itu menjauh dari Leona. Mereka sedikit menunduk ketika mereka hendak pergi.


"Ada apa ya? Teh ini biasanya aku hidangkan kok, aku tidak pernah mengganti teh kesukaan Nyonnya.". Ucapnya.


Dua orang pelayan menyimpan cangkir itu. Salah satu pelayan tiba-tiba membuang teh di westafel. Membuat kepala Chef terkejut.


"Mauren kenapa kau membuangnya? Kita bisa meminum teh mahal itu, kau ceroboh sekali, kalau Nyonya tidak menginginkannya kita bisa menikmatinya." Ucap pelayan lainnya.


Kepala pelayan mendekati cangkir teh yang sudah kosong karena di buang oleh Mauren, dia lalu mengendusnya. Aromanya memang sedikit aneh dari biasanya. Tetapi kenapa anak itu membuangya tanpa ada perintah dariku?" Ucap kepala itu.


***


"Tsk, sial ! aku gagal. Kenapa daya penciuman orang hamil sangat hebat, dia bisa menjauhi bau yang tidak di sukainya atau bau yang menyengat dan membuatnya ingin muntah. Kalau rencana pertamaku gagal, aku masih memiliki rencana cadangan dan aku yakin, kali ini aku akan berhasil."


Pagi itu, seperti biasanya setelah sarapan pagi, Leona mengantar Edmund sampai ke pintu gerbang , sekarang dia sangat senang karena kali ini Edmund yang selalu meminta bercinta dengannya terebih dahulu, karena sudah mendengar ucapan dokter dan saran dokter agar percintaan mereka dilakukan dengan aman.


Leona berjalan menikmati udara pagi dan duduk-duduk di taman. Dia kemudian duduk di tepi kolam dan merasakan dinginnya air yang memercik.


Pelayan itu menatap Leona dari jauh. Dia menatapnya dan tersenyum. "Ibu hamil tidak boleh di biarkan stres bukan? Aku sudah menyiapkan kado besar untuk Nyonya angkuh itu." Gumamnya.


Dua orang pelayan berlari-lari menuju kepala pelayan, dia membisikkan sesuatu kepadanya.


"Ikuti saya, kita harus segera ke taman, jangan biarkan Nyonya mendapati kebunnya rusak seperti itu." Ucapnya. Kepala pelayan berlari-lari dan segera menuju kebun milik Nyonyanya. Dia menutup mulutnya ketika melihat sayur-sayuran yang sangat di jaga oleh Nyonyanya hancur tercabik-cabik mengerikan seperti ini."


"Sekarang kita perbaiki lagi sebelum Nyonya mengunjungi kebunnya. Cepat."


"Baik." Mereka semua memperbaiki kembali dan menanam kembali sayur-sayuran yang ditarik paksa hingga tanahnya berhamburan keluar. Mereka berupaya agar kebunnya kembali seperti semula. Dalam waktu satu jam, mereka berhasil, kebun Leona kembali seperti semula.


"Jika sudah selesai, semuanya keluar. Kita harus mengunci ruangan ini dan memberikannya kepada Nyonya." Kepala pelayan itu tiba-tiba berhenti dan melihat sepintas jejak sepatu yang memasuki kebun nyonyanya.


"Seeprtinya ada seseorang yang sedang bermain-main di dalam mansion ini. Aku akan menemukanmu." Geram Kepala pelayan itu.


***


"Sial ! sial, Kenapa mereka semua ikut campur sih. Apa mereka tidak ada kerjaan apapun? Rencana keduaku lagi-lagi gagal. Tinggal rencana selanjutnya dan ini kupastikan akan berhasil." senyum wanita itu.


Edmund baru saja kembali dari istana setelah selesai dengan pekerjaannya, dia langsung pulang, akhir-akhir ini dia sangat merindukan Leona, hingga kenan kadang mengejeknya, karena pulang terlalu awal. Biasanya sesudah dari kantor, mereka mampir di sebuah tempat minum. Mereka saling melepas lelah dan saling berbincang hingga malam hari, tetapi hari ini Edmund selalu pulang awal.


Edmund baru saja memasuki mansion ketika melihat dari atas mansionnya, seseorang berada di balkon kamarnya sedang meletakkan sesuatu.


"Jam seperti ini ada pelayan di kamar?" Gumam Edmund. Setahunya pekerjaan seorang pelayan dikerjakan di waktu pagi, tidak ada seorang pun bersih-bersih apalagi memasuki kamar majikannya di jam seperti ini. Edmund berjalan cepat. Pelayan itu juga tampak aneh. Setelah masuk ke dalam mansion, Edmund segera masuk ke kamarnya. Pelayan itu telah pergi, wajahnya pun tidak sempat dihatnya karena dia memunggunginya.

__ADS_1


"Tanaman apa ini?" Ucap Edmund mengendusnya. Dia menaruh tanaman kecil di dalam pot itu kedalam sebuah palstik dan membawanya keluar dari kamarnya.


__ADS_2