
Letaknya di selat Dover, 33,3 kilometer dari south foreland, kapal raksasa Cruise Whisper of the sea berada di sebelah timur laut Dover, ketenangan laut di pagi itu cukup cerah, ombak di lautan memudahkan perjalanan mereka seakan mengetahui hari ini adalah hari istimewa antara Sean dan Laura.
Tamu-tamu undangan sudah berada di ball room dan mereka masih menunggu mempelai wanita untuk keluar.
Gaun indah berwarna putih membalut tubuh laura yang memanjang hingga menyapu lantai, wajah cantiknya membingkai dengan berseri-seri di wajahnya. Dia memegang bunga di kedua tangannya sambil menunggu beberapa menit lagi acara akan di mulai.
Suara pintu yang membuka membuat Laura berbalik dan menatap wajah ayahnya yang sedang tersenyum menatap putrinya.
"Kau seperti ibumu Laura, cantik dan mempesona, ayah mendoakanmu semoga kau bahagia bersama Sean." Ucap sang ayah sambil mengecup kening putrinya.
Laura tersenyum menatap kebahagiaan di wajah ayahnya, dia segera menggandeng tangan Laura menuju tempat dimana Sean sedang menunggunya.
Pintu besar itu terbuka, keheningan menyambut ruangan itu dengan alunan musik yang indah, Sean menatap Laura yang datang menuju ke arahnya, alunan musik seakan menembus ke telinga Laura dengan lembut, senyum di wajah Sean yang bahagia tiba-tiba berubah menjadi tegang ketika dia menatap dari arah luar ruangan itu.
Suara-suara berisik begitu ribut dari luar turut membuat terkejut para tamu undangan, semua mata memandang ke asal suara. Tiba-tiba teriakan menggema dari seorang pelayan yang berdiri di depan pintu.
"PEROMPAK ! ADA PEROMPAK." Teriakannya berhenti dengan suara letusan senjata api mengenai punggungnya. Semua orang berteriak keras mencari perlindungan.
"SEAN ! SEAN, MAX ! DI MANA KAU MAX." Teriak Laura mencari-cari Sean dan putranya sambil memegang gaunnya yang panjang.
Orang-orang berlarian mencari perlindungan, para pembajak masuk dengan tawa sangar dan mengerikan di wajahnya. Mereka menarik, dan menangkap siapa saja yang dapat di raihnya.
Sean berlari kencang mengelilingi tempat itu mencari Laura, ketika dia melihatnya, Sean segera menariknya kepelukannya agar dia tetap aman.
Sean ! Dimana Max, dimana anakku!" Teriak Laura.
Sean mengangkat Laura ke gendongannya mencari-cari tempat aman.
"Tenanglah Laura, max bersama tuan Windsor." Ucap Sean berteriak di tengah gaduh dan teriakan orang-orang.
"Kita harus mencari tempat aman sebelum mereka menemukanku." Ucap sean.
"Menemukanmu? Apa maksudmu Sean?" Ucap Laura tidak mengerti.
__ADS_1
"Ini semuanya ulah Edmund, dia tidak ingin pernikahan kita terjadi apalagi Jon Walter yang dendam kepadaku, mereka bekerja sama untuk menghentikan pernikahan kita." Ucap Sean cepat, dia masih menggendong Laura mencari tempat aman untuk menyembunyikan Laura.
Mereka menemukan koridor panjang yang kurang pencahayaannya, tempat itu adalah gudang segala jenis minuman, Sean dan Laura bersembunyi di rak-rak sempit yang agak gelap.
Suara gaduh dan teriakan masih terdengar, letusan senjata dari berbagai tempat membuat telinga mendengung.
"Sepertinya kapal-kapal perompak yang lainnya sudah datang, rembo dan kapal pembajak sudah ada di kapal ini, sebagian masih menyusul, tidak lama lagi mereka semua akan di ringkus." Ucap Sean, mengedarkan pandangannya, lalu tiba-tiba menatap heran wajah Laura yang menatapnya sambil tersenyum.
"Kau tersenyum?" Ucap Sean yang juga tersenyum melihat Laura.
"Kau tidak ingat? Pertama kali kita bertemu di tempat seperti ini? Kau menarikku dan menyembunyikanku di gudang ini lalu menciumku." Bisik Laura.
Sean mengusap wajah cantik Laura yang sedang menatapnya.
"Bukan di sini pertemuan pertama kita sayang, apakah kau tidak ingat pria yang kau temui di hutan sewaktu kau masih kecil?" Ucap Sean.
"Waktu itu kau sedang mencari kelinci kecilmu di dalam hutan." Bisik Sean yang mulai mengecup rahang Laura dengan ciuman lembut.
"Kau ! Apakah kau pria yang di hutan itu Sean?" Wajah Laura begitu terkejut.
Sean mengeluarkan liontin kecil di hadapannya, liontin itu di pasangkan di leher Laura.
"Liontin ini aku yang memberikannya padamu sayang, kau tidak ingat?" Bisik sean yang memulai menjalankan tangannya ke tubuh Laura.
Suara pintu yang membuka membuat Sean dan Laura terkesiap, mereka diam dan tidak bergerak, sean membawa Laura lebih masuk ke dalam rak-rak yang lebih gelap.
"Apakah mereka ada di sini?" Ucap salah satu pria berotot.
"Kita harus mendapatkannya sebelum kapal-kapal besar itu mendekat, lagi pula separuh orang-orang kita sudah di tangkap, Walter sialan itu tidak mengatakan kalau musuh kita adalah Hoult, ck ck dasar pria penipu, awas saja jika dia kutemukan."
"Aku tidak tidak perduli dengan Hoult atau perjanjian sialan itu, yang aku inginkan bayarannya segera kita dapatkan, meskipun kita tidak menemukan mereka, aku tetap akan mengambil bagianku darinya." Ucap pria botak itu.
"Ck, ck kau memang dilahirkan menjadi seorang pembajak bowl, curang adalah kehidupanmu, tetapi kau selalu sial dengan pekerjaanmu botak." Ucapnya, suara mereka akhirnya kian menjauh.
__ADS_1
"Sean, apa yang harus kita lakukan? Mereka tampak mengerikan sean." Ucap laura memegang tangan Sean dengan gemetar.
"Kita harus pergi ke tempat yang lebih aman." Ucap Sean. Kini mereka berjalan mengendap-endap, Sean tiba-tiba menunduk dan merobek bagian bawah gaun Laura hingga kakinya sedikit dapat terlihat.
"Gaun ini begitu panjang sayang, membuatku kesulitan mengangkatmu." Ucap Sean yang juga membuka jasnya dan menggulung lengan bajunya.
Setelah merobek sebagian gaun Laura dia kemudian mengangkatnya ala bridal lalu berjalan dengan pelan sambil mengintai orang-orang Walter yang berada di tiap koridor.
"Aku harus mencari tempat yang lebih aman." Ucap Sean.
Sean berjalan pelan lalu akhirnya menemukan ruangan besar milik tuan Windsor, mereka berdua masuk dan bersembunyi di sana, dia menarik Laura dan menyuruhnya masuk ke dalam lemari tempat penyimpanan pakaian tuan windsor.
"Sembunyilah di tempat ini Laura, dan jangan pernah keluar." Ucap Sean.
Laura menggelengkan kepalanya, dan tidak melepaskan tangan Sean, dia menangis sambil menatap Sean.
"Jangan pergi Sean, jangan tinggalkan aku." Ucap Laura masih memegang erat tangan Sean.
"Aku akan segera kembali sayang." Bisik Sean. Laura masih menangis dan menggeleng dia begitu ketakutan dan Sean akan pergi meninggalkannya, bagaimana jika nanti dia tidak bertemu Sean? Pikiran itu membuat laura ketakutan.
"Tidak mau, aku akan menangis keras jika kau meninggalkanku Sean, jangan pergi." Ucap laura keras kepala.
Sean menarik Laura kepelukannya, dan mengecup puncak kepalanya.
"Seharusnya kalian melihat kondisi di luar, sebelum bermesraan di tempat ini." Ucap Walter yang menodongkan senjata ke arah mereka berdua.
Suara langkah kaki berada di belakang jon Walter, wajahnya membingkai dengan seringai ketika menatap Sean dan Laura yang sedang tersudut.
"Jangan menyakiti Laura." Bisik Edmund dengan pelan kepada Walter."
"Ck, kau betul-betul lemah edmund, sekarang ini adalah kesempatan emasmu, miliki wanita itu, dan aku akan lihat bagaimana kehancuran di wajahmu itu sean." Ucap Walter tertawa keras.
Sean maju melangkah di depan Laura dan membentenginya dengan tubuhnya.
__ADS_1
"Jika kau berani sedikit saja menyentuhnya, aku bersumpah akan membunuhmu, merobekmu dan aku akan menghancurkan seluruh keluargamu." Ucap Sean dengan wajah murka menatap mereka berdua.