
Max berlarian di sekeliling hutan hingga Sean harus mengimbangi langkah cepat max yang berlarian.
"Lewat sini tuan." Teriak max, Sean mengikutinya hingga di ujung, mereka lalu mendapati rumah itu.
Sean berhenti sebentar dia memandang rumah tua itu, dia tentu saja mengingatnya, rumah yang terbuat dari kayu yang terlihat nampak tua dan sedikit lapuk itu pernah di tinggali oleh Laura bersama ibunya. rumah yang dikelilingi oleh bebatuan dan di sekitarnya hutan yang menjurus ke lautan, dia berjalan perlahan dengan lampu yang menyala di tempat itu.
"Mom tidak ada sir, mereka pergi ke pesta itu membawa roti-roti buatan ibuku, masuklah". Ucap max memanggil-manggil Sean.
"Rupanya sudah ada yang menempati tempat ini, meskipun kelihatannya tua tetapi tempat ini sangat nyaman dan asri.
"Bagaimana dengan ayahmu, dimana dia?" tanya Sean yang masih memandang di sekitaran rumah max.
Max mengangkat bahunya, "Entahlah, ibu tidak pernah membicarakannya sir." Ucap max cuek.
Terdengar suara-suara dari kejauhan.
"Aku harus kembali ke tempat tidur sir, sebelum mom memergokiku." Ucapnya tersenyum nakal, dia mengacungkan tangannya memeluk sebentar lutut Sean kemudian berlari ke dalam rumahnya.
Sean segera pergi dan masuk kembali ke dalam hutan yang lebat, meskipun masih samar-samar terdengar suara wanita yang berbicara dengan lancar dengan logat Estonia.
~
Sean kembali ke pestanya, dia sedikit tersenyum mengingat wajah bocah yang bersinar dengan terang yang menunjukkan rumahnya.
"Tuan Sean anda dari mana saja, tamu-tamu telah menunggu anda." Kata putri dari gubernur itu. Dia tersenyum sambil menggandengkan tangannya ke lengan Sean.
Mereka yang melihatnya tampak iri, kedekatannya dengan tuan Sean merupakan batu loncatan bagi wanita-wanita yang hidup dalam kemewahan, Untuk itu mereka berusaha keras agar terlihat menarik di pesta ini, mereka ingin menangkap tangkapan besar, meskipun dengan cara apapun.
~
"Kau yakin max terlihat di halaman gubernur Kouth?" Tanya Laura kepada Merry yang melipat kedua tangannya dihadapan tempat tidur max.
"Sepertinya anakmu mengendap-endap ke sana selagi kita sibuk mengantar roti." Ucap Merry dengan suara yang besar.
Laura menggelengkan kepalanya, max putranya sangat suka menjelajahi seluruh tempat, hingga kadang dia lebih mengetahui lokasi atau tempat di pirita dibandingkan dengan Laura sendiri.
"Besok kau harus menegurnya laura, dia bisa kena masalah, kita tahu gubernur Kouth bukanlah pria pemurah, apalagi putrinya mereka tidak memandang kita sebagai warga asli pirita sedangkan mereka baru saja menempati kota ini karena tugas ayahnya.
"Baiklah Merry, besok aku akan menegur max." Kata Laura sambil menghembuskan napasnya.
~
__ADS_1
Meskipun semalam godaan putri dari gubernur Kouth begitu gencar dan membuat Sean sampai kesusahan menghadapinya membuat sean akhirnya pergi dan meninggalkannya. Entah mengapa gairah sean ketika melihat wanita-wanita yang sengaja memperlihatkan tubuh moleknya membuatnya jijik dan memandang mereka dengan murahan menjual tubuhnya hanya untuk mendapatkan kemewahan darinya, meskipun Sean adalah lelaki normal yang menginginkan agar tubuhnya puas dengan kebutuhan biologisnya tetapi tidak ada gairah yang memercik di tubuhnya ketika melihat mereka, dan Sean tahu tubuhnya butuh pelepasan.
Pagi itu dia berjalan-jalan sekedar ingin mengelilingi desa pirita dan menikmati suasana pagi yang sejuk, pancaran matanya yang hitam menangkap sesuatu di balik toko yang yang harum tercium wanginya, dia melihat dari kejauhan max sedang sarapan di toko roti itu, ingatannya membawanya kembali ketika Laura pernah membantu seorang wanita yang menolongnya, dia juga membuka toko roti seperti ini.
Tatapannya tiba-tiba beralih pada sosok wanita yang membelakanginya, hanya rambut yang digelung serta kulit pucat dan tubuh yang indah, "Apakah dia ibunya?" gumam sean dari seberang jalan.
Dia kembali melangkah sedikit mengerling kembali kepada wanita itu, bentuk tubuhnya mengingatkannya kepada Laura. Sean menggeleng dan menggeram, dia terus melangkah dan bertemu beberapa orang-orangnya di sebuah toko besi.
"Hei bukankah itu bocah kecil yang kuantar?" ucap rembo.
"Erm.. ngomong-ngomong em.. sebaiknya aku katakan ini atau tidak ya?" bisik rembo gelisah tetapi Sean mendengarkannya.
"Katakan rembo, katakan ada apa?" ucapnya.
"Erm..ibu dari anak itu kapten...dia, dia sangat mirip dengan wanitamu...Laura." Bisik rembo dengan suara yang begitu kecil, mereka tahu bahwa wanita bernama Laura begitu penting dalam hidup kaptennya. Ketika kaptennya meninggalkan wanita itu dia seperti orang kesetanan tanpa berhenti melaut dan bekerja, kadang dia berteriak-teriak seperti ingin agar tubuhnya di gulung oleh ombak.
Wajah Sean tiba-tiba memucat mendengarkan ocehan rembo, dia lalu berlari dan masuk ke arah hutan sampai dia menemukan rumah bocah itu, terdengar suara wanita yang tertawa diiringi dengan tawa kecil max yang sedang berlarian mengelilingi wanita itu.
Sean sembunyi di antara pepohonan dari dalam hutan dan menatap mereka dari balik pohon-pohon dan dedaunan yang liar.
"Berhenti max, jangan berlari lagi kau baru saja selesai makan sayang." Ucapnya.
Seketika jantung Sean berdegup kencang, detak jantungnya hingga terasa begitu kencang di pendengarannya. Dia melangkah perlahan, lalu matanya menatap wajah cantik yang begitu lama dia rindukan.
Wajah cantiknya membingkai, Senyumnya sama menawannya seperti dahulu, matanya berwarna tosca terlihat bersinar, tubuh Sean gemetar dirinya menjadi kaku tidak bisa menapakkan kakinya.
'Apa yang harus aku katakan pada Laura? malam itu aku meninggalkannya begitu saja'. pikirnya, tetapi sudah bertahun-tahun dia mencari-carinya dan akhirnya dia menemukannya. Biarlah Laura nanti akan membenciku tetapi sekarang kau ada dalam jangkauanku Laura. Pikir Sean.
~
Sean melangkah keluar dari persembunyiannya di dalam hutan, bunyi gemerisik dari dalam hutan membuat Laura dan max berbalik, wajah Laura seketika membelalak, tubuhnya membeku menatap pria yang berdiri di hadapannya.
"Laura....
"Sir?? kau datang..ini ibuku." Ucap max berlari sambil memeluk lutut Sean.
Sean menatap wajah kecil max, putranya..bocah kecil yang nakal ini putranya mengapa dia tidak menyadarinya? pikir Sean.
"Laura..? ucap Sean melangkah lebih dekat kepadanya.
Air mata kemarahan terpancar dari wajah Laura, wajahnya yang cantik membingkai dengan wajah benci dan amarah yang tidak terbendung.
__ADS_1
Laura mundur beberapa langkah ketika Sean mendekat kepada mereka.
"Kau ! mengapa kau ada di sini?" ucap Laura dengan suara dan bibir yang bergetar.
Laura melangkah cepat dan menarik max kasar dan menggendongnya.
"jangan memeluk orang sembarangan max!" bentak Laura pada max.
Dengan mata menyala, dia membawa max masuk ke dalam rumahnya dan menutup keras rumahnya hingga menimbulkan suara yang cukup besar. Sean melangkah cepat lalu menggedor keras rumah Laura.
"Buka ! Laura buka pintunya." Teriak Sean.
Tetapi pintu itu tetap tidak bergeming, dengan tidak sabar Sean menendang pintu itu beberapa kali hingga terbuka dan ambruk, dia menatap Laura yang sedang memeluk anaknya erat.
"Apa yang kau lakukan!? keluar dari rumahku!" Bentak Laura. Max yang mendengarnya menangis di pelukannya, baru kali ini dia mendengar suara ibunya begitu marah, dia menjadi ketakutan.
"Mommy ! jangan marah mom!" Tangis max dipelukan Laura.
Dengan cepat Sean menarik max dari pelukan Laura dan menggendongnya, secara perlahan max kemudian berhenti menangis dan menatap wajah Sean.
"Jangan marah kepada mommy." ucap max dengan suara terputus-putus.
"Aku tidak akan marah kepadanya." Bujuk Sean.
Sebuah kecupan dari sean mendarat di kening max.
"Maukah kau mendengarkanku?" ucap Sean. Max kemudian mengangguk menyanggupi permintaannya.
"Maukah kau memetikkanku sedikit buah berry?" ucap Sean.
"Emm Ok sir", Senyumnya. Max kemudian berlari keluar dari rumah. Laura masih menangis membelakanginya, tatapan matanya seakan begitu membenci sean.
"Aku tidak ingin melihatmu, pergi dari sini." ucap Laura sesenggukan karena tangisnya.
Sean masih berdiri dan terdiam sejenak, dia tahu Laura tidak akan mudah memaafkannya. Laura lalu berdiri dan ingin masuk ke dalam kamarnya tetapi tangannya di pegang erat oleh Sean, dengan sekali hentakan keras Laura sudah berada di dalam pelukan sean.
"Kau bisa memukulku semaumu atau membenciku laura, tapi max adalah putraku, kau tidak bisa menjauhkannya dariku", Ucapnya.
"Sekarang apa?! setelah kau meninggalkanku begitu saja sekarang kau ingin mengambil milikku yang paling berharga satu-satunya??" teriak Laura dipelukan Sean.
"Milik kita", ucap sean dengan pandangan tajam menatap wajah Laura dengan penuh kerinduan.
__ADS_1
πππ
Tinggalkan comentnya yaaaa tmn2 readers, like votenya jg yaaaπππ