
Pria itu berjalan dan menatap mereka satu persatu, tatkala dia menyebut nama Leona, semua warga terkejut, tentu saja mereka semua mengenal gadis itu, apalagi kemarin gadis itu baru saja menikah. Tetapi karena dilanda ketakutan, mereka tidak berani bicara, mereka menutup mulut mereka rapat-rapat.
Satu orang wanita tertunduk dengan gemetar ketakutan. Dia adalah Mrs. Caron, suaminyalah yang membawa bayi mungil itu ke rumahnya dan mengasuhnya, tetapi bukan hanya dia saja, ada si tua Joanna, sebelum dia wafat, dia yang paling sayang kepada Leona, dia sangat memanjakannya dan menyayanginya, setelah kematiannya, beberapa kali Leona berpindah tangan dari rumah warga dan berakhir kembali ke keluarganya sampai dia berusia 15 tahun dan akhirnya memutuskan meninggalkan rumahnya dan hidup di dekat pohon besar dekat sungai, dia membangun rumahnya sendiri dengan kerja serabutan.
"Apa kalian tidak mendengarku? siapa kepala desa di pulau ini ?" Ucap pria yang nampak mengerikan itu.
Mr. Marshmille segera berdiri, dia sangat enggan berdiri, mata pria itu menatap ke arahnya dan berjalan di depannya. "Kau kepala desa di sini?"
Pria tua itu mengangguk cepat. "Jadi kau tahu gadis yang bernama Leona, salah satu dari kalian pasti telah membesarkannya."
Dengan ketakutan dia berusaha menjawabnya. "I-iya tuan, tapi setahuku Leona di besarkan dari satu rumah ke rumah yang lain, dia tidak menetap di satu tempat."
Seringai mengerikan terlihat di wajahnya. "Kenapa dia berpindah seperti itu?!" Hardiknya.
Tiba-tiba salah satu wanita yang terlihat mulai berani berdiri, dia adalah Nyonya Relief si tukang gosip di desa ini.
"Tuan, setahu saya Leona pertama kali di temukan oleh Mr. Caron, dia mengambilnya dari tepi pantai dan kemudian membesarkannya, tetapi setelah kepergian Mr. Caron bersama wanita lain, istri tuan Caron tidak memperlakukan Leona dengan baik meskipun putra dan putrinya menyayangi Leona, tetapi Mrs Caron selalu memarahinnya, jadi Leona di asuh oleh Nyonya Joanna yang kebetulan hidup sendiri, dia menyayangi Leona seperti anaknya sendiri, tetapi diapun wafat, setelah itu Leona hidup tidak menetap dari satu warga ke warga lainnya dan berakhir kembali di rumah Mrs Caron, tetapi setelah usianya 15 tahun dia memiliki rumahnya sendiri dan mulai hidup mandiri." Ucap wanita itu lancar.
Mrs. Caron terlihat gemetar ketakutan namanya di sebut-sebut.
Matanya berkilat tajam mengerikan, dia tidak tahu putrinya di besarkan seperti itu, meskipun dia sendiri yang menaruhnya di tepi pantai tanpa rasa kasihan, tetapi dia pergi dari pulau itu ketika dari kejauhan, dia melihat seseorang berjalan menuju bayi itu.
Tangannya terkepal kuat, "Dimana dia sekarang, apa dia ada di sini?"
"S-sepertinya tidak ada tuan, mungkin dia lari dan bersembunyi." Ucap Nyonya Relief.
***
"Haus." Gumam Leona.
Sejak tadi mereka berada di rumah pohon itu.
"Kau haus?" Ucap Edmund ketika melepaskan pelukannya. Leona mengangguk.
"Aku tahu di mana sungai terdekat di sekitar sini," Ucap Leona, tidak jauh di ujung sana ada mata air, kita bisa mengambilnya."
"Kau tunggu di sini, biar aku yang mengambilnya."
"Tapi aku lebih tahu lokasinya."
"Tidak, tunggu di sini dan aku akan segera kembali." Ucap Edmund.
Edmund mulai bergerak perlahan ketika merasakan situasi mulai aman. Dia bergerak turun ke bawah, dan segera berlari menuju mata air yang jaraknya tidak jauh dari tempat persembunyian mereka.
Hari telah gelap, Edmund baru kali ini berada di dalam hutan yang gelap gulita, dia menengok ke kiri dan kanan dan memastikan botol kosong itu terisi dengan penuh. Setelah botol itu penuh, dia meminum air langsung dari tangannya dan mencuci wajahnya. Dia berlari dengan cepat, tetapi sesuatu membuatnya berhenti, dia melihat pohon apel dan berniat memetiknya untuk Leona, karena mereka tidak sempat makan sejak tadi pagi. Edmund mengambil 4 buah apel dan segera pergi, tetapi dia mendengar suara pria dari kejauhan. Dia lalu sembunyi di balik pohon besar.
"Kata kapten kita harus mencari seorang gadis, sepertinya dia sembunyi di hutan ini." Ucap salah seorang pria.
"Jangan berisik cari dengan benar, jika sudah temukan, jangan menyakitinya, dia sangat penting bagi kapten, kalian mengerti."
Langkah mereka semakin mendekat, Edmund berjalan pelan, dia mencoba bernapas dengan perlahan, dia lalu bersembunyi dalam semak, tetapi suara kakinya tentu saja di ketahui tiga pria itu, ketika Edmund hendak berbalik, dia sudah terkepung.
"Seorang pria? Apa kapten mengatakan kita harus mencari seorang pria?" Ucap salah satu dari mereka.
"Bukan dia yang kita cari, tetapi bawa dia ke desa, jika dia melawan habisi saja."
Edmund tentu saja tidak akan membiarkan mereka melakukan seenaknya, dia berdiri dengan tangan terkepal kuat.
Satu persatu mulai mendekati Edmund, dua orang pria menyerangnya sementara pria itu mundur ke belakang dan memperhatikan sekitarnya, tetapi dengan cepat Edmund menangkis dan menyerang keduanya dengan pukulannya, Pria itu tersenyum. Dia adalah wakil kapten bernama Ronald Valfiero. Ukuran tubuhnya tidak jauh berbeda dari Edmund, dia menyerang Edmund dengan gesit, sekali menyerang, Edmund telah terjatuh di tanah dengan dua pukulan telak di wajahnya dan sekali tendangan di perutnya. Dia mengerang karena darah keluar dari sudut bibirnya.
"Bawa dia, jangan biarkan dia kabur." Ucap pria itu.
Edmund bersyukur, Leona tidak ikut dengannya, dia tidak mau Leona terluka. Edmund lalu di bawa oleh mereka ke desa. Sementara itu Leona sangat khawatir karena sampai sekarang Edmund belum kembali juga, karena tidak sanggup menunggu, dia turun dari atas pohon, dan mendengar langkah kaki dari kejauhan, dia mengikutinya dengan pelan, Leona sangat terkejut ketika melihat Edmund di tangkap oleh bajak laut itu.
Gelap gulita di hutan itu membantunya menutupi jejaknya, Leona sangat ahli dalam bersembunyi dan mengendap-endap, sejak kecil hal itu sudah menjadi kebiasaannya. Dengan langkah terlatih dia mengikuti mereka. Lalu berlari dan bersembunyi di dalam lumbung gandum yang langsung menghadap ke lapangan, dia bisa melihat dan mendengar percakapan mereka.
__ADS_1
"Kapten, kami menemukan satu lagi yan bersembunyi di dalam hutan. Semua penduduk Zaudett menatap Edmund yang berjalan, salah satu dari mereka lalu berdiri. "Pria itu ... pria itu adalah suami Leona, mereka baru saja menikah."
Sontak mata tua dengan garis luka di wajahnya menatap tajam kepada Edmund. Dia berdiri dari tempat duduknya dan mendekati dan melihat wajahnya.
"Kau menikah dengan Leona? di mana dia?" Tanyanya.
"Kenapa kau mencari Leona?" Ucap Edmund tanpa takut sedikitpun.
"Dia memiliki urusan denganku, katakan di mana kau sembunyikan dia." Bisik pria itu dengan mencekam.
"Kau pikir aku akan memberitahu keberadaannya, jika kalian ingin menyakitinya? Aku tidak akan membiarkan ....
"Kau jangan egois, serahkan saja Leona, kenapa kau mengorbankan kami untuk gadis tengik itu? Aku tidak sudi terperangkap di sini hanya karena perempuan itu, segera beritahu mereka! kau mengorbankan banyak nyawa hanya untuk melindungi dia yang tidak berharga."
"Duduk bodoh ! Apa yang kau lakukan?" Hardik tuan Marshmille kepada putrinya. Sementara itu Ronald hanya menggelengkan kepalanya.
"Wanita bodoh, kau memaki gadis itu di depan ayahnya." Gumamnya.
Leona menahan napasnya, karena sejak tadi dia telah mendengarkan ucapan mereka. Dia menginjak sebuah karung, tetapi kakinya tergelincir dan terdengar jatuh berdebam di dalam ruangan itu.
"Sial !" bisiknya.
Pria itu berjalan dengan pandangan mencekam, wajahnya semakin seram tatkala dia mendekati wanita yang berdiri dengan tampang ketakutan.
Matanya tajam berkilat. "K-kau ... mau apa?" Ucapnya dengan suara bergetar.
Satu tamparan kembali melayang di pipinya, dan itu hanya hukuman sangat kecil yang di terimanya, tetapi karena tamparan itu cukup keras bagi wanita, dia jatuh di tanah hingga mengeluarkan darah dari hidungnya.
"Jangan bicara lagi, jika tidak, kau akan kuumpankan kepada awak-awakku, mereka selama ini mengarungi lautan tanpa pernah menyentuh seorang wanita, mereka pasti akan bersorak jika mereka mendapatkanmu." Sontak Ayah dan ibu Sarah memeluknya erat. Mereka ketakutan dan tidak berbicara lagi.
***
Pria bernama Ronald Valfiero terusik dengan suara di dalam lumbung padi, dia melangkah perlahan, dan membuka pintu itu, di dalam banyak karung-karung hasil panen para petani yang tersusun rapi di setiap sudutnya. Dia meneliti dan yakin ada orang di dalam sini. Suara langkah kakinya membuat Leona menutup hidungnya, ketika dia dengan gesit berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Leona sedikit bernapas lega dan berdiri, tetapi sayang sekali karena pria itu berbohong sejak tadi, dia hanya berpura-pura pergi.
"Rupanya ada tikus lain di sini." Senyumnya sinis. Leona menatapnya tajam, wajah pria itu tidak terlalu jelas karena hanya cahaya bulan yang masuk di dalam ruangan itu. Leona yang berdiri di bawah jendela terlihat jelas oleh pria itu.
"Akhirnya kau muncul juga, Leona."
Leona mundur perlahan, dia tahu dirinya terjebak karena tubuhnya sudah menyentuh dinding kayu.
"Jangan melawan, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri, ikut denganku, dan menghadap kepada kapten dan masalah selesai, kami tidak perlu melakukan perbuatan jahat di depan penduduk ini." Ucap pria itu.
Matanya tajam menatap Leona, dia menyeringai ketika Leona mengambil ancang-ancang untuk menyerangnya. "Apa kau mau bertarung denganku? Aku tidak bertarung dengan wanita, sebaiknya kau menyerah dan semuanya akan menjadi mudah."
Pria berambut hitam itu mendekati Leona, dia mencoba meraih lengannya, tetapi dengan lincah, Leona mengambil belati di pinggangnya dan menyerang pria itu dengan cepat. Untung saja pria itu dengan gesit bergerak dan menghindari serangan Leona. Dia terkekeh karena tinggal sedikit lagi, belati itu mengenai tenggorokannya.
"Menyerahlah, kapten hanya ingin bicara kepadamu."
"Kenapa dia ingin bertemu denganku?"
"Mungkin karena kau adalah putrinya."
Mata Leona membelalak, dia kemudian mendengus. "Aku tidak punya orang tua." Ucap Leona.
"Terserah apa katamu, tetapi kapten ingin bertemu denganmu, ikut denganku, jika tidak, bisa-bisa penduduk di desa ini bisa saja menjadi sasaran kemarahan kapten.
***
Pria itu pergi meninggalkan Leona, sepertinya dia memberikan waktu untuknya berpikir, dia menutup pintu itu. Leona sekali lagi mengintip dan mencari Edmund, tatapannya jatuh pada pria tua yang duduk dengan malas di kursi, dia sedang berbicara dengan seseorang. Sedangkan Edmund duduk di lapangan itu bersama dengan yang lainnya.
Sebentar lagi fajar akan menyingsing, Leona menunggu hingga hari mulai terang, matahari perlahan-lahan menyinari lumbung padi, Leona berdiri dan menepis kotoran yang melekat di pakaiannya.
Leona membuka pintu itu dan berjalan menuju mereka. Edmund memandangnya dengan marah dan khawatir.
__ADS_1
"Leona apa yang kau lakukan di sini?" Ucap Edmund, dia berdiri ingin melindungi Leona, tetapi seorang pria memaksanya untuk duduk.
Pria yang sejak tadi duduk memandang kepada Leona, matanya sedikit membulat.
Wajahnya sangat mirip denganmu, dia mewarisi kecantikan wajahmu dan matanya seperti mataku.
Pria itu turut berdiri dan menatap kedatangan Leona. Tetapi dia hanya berdiri dan setelah itu dia pergi begitu saja.
"Hei, lewat sini, kapten ingin bicara kepadamu."
Leona masih berdiri mematung, tatapannya ke arah Edmund menaykinkan bahwa dia akan baik-baik saja, tidak begitu jauh dari lapangan, pria tua itu berhenti. Leona pun ikut berhenti.
"Aku datang hanya ingin melihatmu, ternyata kau sangat mirip dengannya, dengan ibumu, kau tidak perlu tahu namanya, dia gadis sepertimu yang tinggal di sebuah pulau."
Leona hanya diam, tidak mengatakan apapun. "Mereka mengatakan kau sudah menikah, aku tidak tahu itu, apa dia suamimu?"
Leona mengangguk. "Ya, dia suamiku."
"Lepaskan penduduk desa, mereka tidak bersalah sama sekali." Ucap Leona.
pria itu tersenyum. "Seharusnya kejadian kebakaran ini tidak akan terjadi jika saja mereka tidak menyerang kami, tentu saja kami menyerang balik penduduk pulau ini. Aku hanya datang ingin berjumpa denganmu."
Pria itu berjalan dan memberikan sebuah kerang sebesar telapak tangan. "Ambil ini, aku menemukannya di satu pulau kecil yang belum terjamah sama sekali, ada mitos yang mengatakan jika kau meniupnya, hembusan angin akan mengantarkan bunyinya pada di lautan."
"Kenapa kau memberiku kerang aneh ini?"
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin memberikan sesuatu yang bagus untukmu, kau bisa menjadikannya sebagai pajangan di rumahmu." Dia tersenyum, dan terlihat di wajahnya senyum penyesalan dan kesedihan.
"Semakin aku melihatmu, semakin aku merindukannya. Ini salahku, dia sudah tidak ada."
Pria itu kemudian ingin beranjak. "N-nama, setidaknya beritahu namamu." Ucap Leona.
"Namaku sangat terkenal di kalangan bajak laut di lautan, Namaku Furious Lewstin," Pria itu kemudian pergi.
Dia memberikan isyarat kepada orang-orangnya dan segera meninggalkan pulau Zaudetta hari itu juga. Sebelum mereka pergi, mereka menyerahkan sejumlah uang dalam kantung kecil kepada kepala desa agar mereka memperbaiki rumah-rumah mereka yang hancur.
Mereka semua telah naik ke dalam kapal, Leona berlari-lari kecil mencari Edmund, akan tetapi dia tidak di temukan.
"EDMUND, EDMUND ."
Dengan putus asa Leona mencarinya, Latty dan jastin berlari kepada Leona.
"Dia di bawa ke kapal. Kami melihatnya, tiga pria bajak laut menariknya paksa dan membawanya. Leona membelalakkan matanya. Dia berlari dengan kencang mencarinya.
"Kapten, kelihatannya putrimu sedang mengejarmu," Ucap Ronald ketika melihat Leona berlarian di sepanjang pantai.
Alisnya berkerut tidak mengerti. Dia kemudian berbalik dan sekitar 18 orang dari 25 Awaknya tengah menodongkan senjata kepadanya.
"Sudah saatnya kau berhenti menjadi kapten Furious Lewstin, kau sudah tua untuk mengarungi lautan." Ucap seorang pria dengan wajah mengerikan.
Pria bernama Ronald sangat marah tetapi senjata tajam telah di todongkan ke arah mereka semua yang setia kepada Lewstin. "Mengapa kalian membawa pria itu, apa yang ingin kau lakukan padanya." Ucap Lewstin dengan tenang.
Pria itu tertawa keras. "Kau bahkan tidak mengenalnya, padahal pria itu sangat terkenal di kota Cambridge. Dia akan membawa keuntungan besar kepada kami, dia adalah putra satu-satunya dari keluarga Alexander, dia juga merupakan kerabat penting keluarga kerajaan di inggris, mereka pasti akan memberikan imbalan besar ketika kami membawa pulang tuan muda mereka." Sekali lagi mereka tertawa terbahak.
Lewstin menatap Leona yang masih berlari-lari mengejar kapal yang sudah cukup jauh dari pantai. Leona terkejut ketika melihat dari kejauhan semua senjata mengarah kepada pria yang mengaku ayahnya.
Leona berlari hingga air laut telah mencapai pinggangnya. Dia menangis sambil berteriak kencang, dia ingin pria yang menjadi ayahnya itu mendengarnya.
"EDMUUUUNDD."
"JAGA DIA UNTUKKU, BAWA DIA KEMBALI KEPADAKU."
Lewstin menatap Leona dari kejauhan, meskipun kapal mereka sudah cukup jauh, dia masih mendengar setiap perkataan Leona kepadanya.
""EDMUUUND ... AKU MENCINTAIMU."
__ADS_1