Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 79


__ADS_3

Udara sangat dingin, malam itu di desa Leaf terdengar lolongan anj1ng saling sahut menyahut. Malam itu Edmund tidak bisa tidur. Sedangkan Leona sudah tertidur pulas di pelukannya. Napas Leona mengalun lembut, Edmund menajamkan pendengarannya. Dia mendengar suara langkah kaki di sekitar halamannya. Dia tiba-tiba terduduk. Leona terbangun ketika melihat Edmund menaikkan telunjuknya di bibirnya.


"Edmund ada apa?"


"Sst, pelankan suaramu." Leona membulatkan matanya, dia mengenakan pakaiannya dan mengikat rambutnya. Sementara Edmund juga mengenakan pakaiannya dan mengambil senjatanya yang dia simpan di samping lemari.


Dia memegang senjata api, sedangkan Leona memegang tongkat pemukul di kedua tangannya. Langkah kaki itu makin jelas.


"Jangan keluar dari kamar, tetap di belakangku, Leona." Ucap Edmund.


"B-baik."


Edmund keluar ke ruang tamu, tetapi suara ributpun mulai terdengar di malam gelap itu. Suara pertarungan. Pukulan dan bunyi pedang terdengar di halaman rumah Leona.


Pintu terbuka, nampak Jastin masuk dengan membawa pedang dan menatap Edmund. "Kalian baik-baik saja? dimana Leona?" Ucapnya dengan napas keras.


Tiba-tiba dua penyerang datang dengan membawa pedang panjang. Dia menyerang Jastin dan Edmund. Mereka tentu saja dapat di kalahkan dengan mudah dengan kemampuan pertarungan Edmund. Sekitar dua orang masuk ke dalam, dia mendapatkan pukulan serta sayatan dari Edmund dan Jastin.


Sekitar 12 orang yang di kirim oleh kapten Lewstin, mereka dapat mengalahkan mereka semua dengan kemampuannya. Para pembunuh bayaran itu berjumlah 7 orang, mereka diikat di tengah ruangan.


Edmund menatap mereka semua. "Jastin, Arnold ceritakan kepadaku apa yang terjadi." Ucap Edmund.


"Mereka pembunuh bayaran, mereka semua di bayar oleh seseorang untuk menghabisi Nyonya Leona." Ucap Ronald.


Geraman terdengar dari mulut Edmund, dia menendang salah satu pria yang terikat di lantai.


"Siapa yang menyuruhmu, katakan siapa!" Ucap Edmund. Pria itu hanya menatapnya sambil membuang wajahnya, mereka sama sekali tidak mau bicara. Akhirnya Ronald yang berbicara.


"Mereka di bayar oleh seorang Nyonya di kediamanmu Edmund. Pelayan itu mengatakan semuanya kepada kami, tetapi bukan kami yang harus memberitahukanmu, tetapi wanita itu." Ronald menunjuk seorang pelayan yang di bawa masuk oleh seorang pria. Tubuhnya bergetar tidak henti, apalagi ketika dia bertatap muka dengan Edmund.


Dia lalu terduduk dan menunduk di bawah.


"T-tuan kumohon maafkan saya, saya hanya melakukan apa yang Nyonya suruhkan, saya hanya mengantar surat yang di suruhkan, saya tidak bersalah, maafkan saya." Dia bergetar hebat.


"Katakan siapa yang menyuruhmu."


Wanita itu menunduk dalam. Dia kemudian menunduk. "Nyonya ... Alexander tuan, dia yang memerintahkan aku membawa surat kepada para pembunuh bayaran ini, dan akan membayar sisanya kalau pekerjaan mereka telah selesai, saya hanya di suruh tuan, saya tidak bermaksud menyakiti Nyonya Leona, tuan."


"Diam ! Kau harus menanggung segala perbuatanmu, kau bekerja sama untuk melenyapkan Leona, kau tunggu saja apa hukuman yang akan di berikan kepadamu." bentak Jason.


Terdengar barang jatuh, Edmund berbalik dan melihat Leon berdiri di sana, kayu yang di pegangnya terlepas dari tangannya. Dia terlihat shock mendengarnya.


"Leona, jangan kesini masuk ke dalam." Ucap Edmund, tapi Leona tidak beranjak dari tempatnya. Segitu bencinya kah wanita kepada Leona?


Edmund menghampirnya dan memeluknya. "Jangan memikirkan wanita itu, sejak awal bukan hanya kau yang jadi sasarannya, ibuku, aku, maupun kau Leona, tapi kali ini aku akan menyingkirkan wanita itu." Ucap Edmund terlihat sangat marah.


Para pembunuh itu di bawa keesokan paginya dengan kereta untuk para tahanan, sementara sebagian telah kembali ke Cambridge begitupun jastin dan Ronald yang akan mengantar para tahanan ini masuk ke ibukota.


"Kita harus ke Cambridge sayang. Aku tidak akan memaafkan wanita itu, seharusnya sejak dulu aku melakukannya, memusnahkan wanita yang menghancurkan keluargaku hingga mom wafat. Tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam."

__ADS_1


Leona mengangguk kepada Edmund, dia memeluk Edmund hingga kakinya tidak menapaki lantai. Edmund memeluknya erat. lalu menatapnya. "Kita berangkat sekarang."


Leona segera mengenakan pakaian bepergiannya, begitupun Edmund, kereta kuda telah menunggu mereka. Sebelum mereka berdua masuk ke dalam kereta. Wanita yang menjadi tetangga Leona menegur mereka.


"Leona aku mendengar semalam ada keributan, kau baik-baik saja?" Tanyanya, matanya tiba-tiba kepada Edmund.


"Aku baik-baik saja, aku dan suamiku akan le ibukota, sampai jumpa kita akan bertemu lagi, sampaikan salamku kepada Edmund. Tiba-tiba Edmund berbalik.


"Edmund?"


"Dia putra Nyonya Howl, namanya Edmund Howl, pria tampan berusia 5 tahun." Ucap Leona sambil tersenyum.


"Apa dia suamimu Leona. Waaah dia sangat tampan." Ucapnya. Suami Kristy berada di belakangnya sambil melipat kedua tangannya.


"Kami pergi Kristy, sampai jumpa." Leona melambaikan tangannya hingga rumah kecilnya terlihat mengecil dan menjauh. Hari itu mereka berdua meninggalkan kota Cambridge.


***


Perjalanan mereka menghabiskan banyak waktu hingga tiba di kota Cambridge. Setelah seharian di kereta kuda. Akhirnya mereka tiba juga, sebelum Edmund kembali ke kastil keluarganya, dia bertemu dengan kepala prajurit dan membicarakan masalah ini, dia sudah lelah dengan ibu tirinya itu. Dialah yang menyingkirkan ibu kandungnya. Yang menyebabkan ibunya sakit-sakitan dan akhirnya dia wafat.


"Leona kita akan kembali ke mansion dulu, di sana lebih aman." Ucap Edmund.


"Hm, baiklah sebaiknya seperti itu."


Edmund mengantar Leona kembali ke mansion, para pelayan berlari-lari menyambut kedatangannya, tetapi tidak semua berlaku sama seperti pelayan lainnya. Masih ada sekelompok pelayan yang memandang Leona sebelah mata, karena lebih mendukung Nona Sofia untuk menjadi istri tuannya.


Mereka masuk, Edmund membisikkan sesuatu kepadanya. "Jangan menahan dirimu sayang, lakukan yang ingin kau lakukan. Jika kau ingin menghukum para pelayan yang kurang ajar dan tidak mendengarkanmu, pecat saja dia, masalah mansion terserah padamu. Kau bisa melakukan apapun itu, sayang. Aku pergi dulu, sore hari aku akan kembali.


Edmund meninggalkan mansion karena banyak hal yang akan di kerjakannya, sementara itu Leona masuk ke dalam mansion, dan menatap tempat itu sama seperti sebelumnya.


Pelayan-pelayan mendatangi Leona, dan membawa kembali barang-barangnya. "Selamat datang Nyonya, kami sudah lama menunggu kedatangan Nyonya. Kami sedih sekali ketika Nyonya meninggalkan mansion.


"Benarkah?" Leona menatap kelima pelayan yang sedang berdiri berkelempok memandang Leona dan pelayan-pelayan lainnya.


"Kalian, Kemarilah." Ucap Leona kepada mereka berlima.


Mereka berjalan ogah-ogahan dan saling melirik dan menyenggol. Mereka beridiri dengan angkuh.


"Ada apa Nyonya." Ucapnya sambil memandang Leona dengan mata tajamnya.


"Berapa lama kalian melayani tuan Edmund di mansion ini?" Tanya Leona.


"Sudah cukup lama Nyonya. Kenapa? Apakah kami ada salah?" ucapnya menantang.


"Kalian tidak menghormatiku sebagai Nyonya di rumahku, bagaimana mungkin saya bisa memperkerjakan pelayan tidak berguna seperti kalian, hari ini angkat kaki kalian dari mansion dan pergi."


Mereka tidak bergerak. "Nyonya Alexander yang memperkerjakan kami, maka dia pun yang berhak memecat kami." Jawabnya dengan nada angkuh. Ucap salah satu pelayan yang terlihat berani


"Panggil pengawal." Ucap Leona dengan tenang. Mereka terlihat terkejut.

__ADS_1


Pengawal itu berkumpul di belakang Leona. "Bawa mereka semua yang tidak mau mendengarkan kata-kataku, usir dia dari mansionku, dan kalian kumpulkan barang-berang mereka dan buang semua di depan gerbang. Hal ini seharusnya dari dulu kulakukan."


"Baik Nyonya."


Mereka berlima terkejut. "Nyonya apa yang anda lakukan, anda tidak bisa melakukan ini, Nyonya Alexander tidak akan membiarkan hal ini terjadi." Ucapnya.


Leona tersenyum samar. "Kalau begitu segera laporkan kepada Nyonyamu itu sekarang, Usir mereka."


"Baik Nyonya."


Para pengawal menyeret kelima pelayan itu dari mansion, mereka semua adalah kepala pelayan, koki, serta tiga pelayan yang sudah lama bekerja di kediaman Edmund atas rekomendasi Nyonya Alexander, karena mereka merasa senior. Dengan seenaknya mereka menyuruh pelayan yang lebih muda untuk mengerjakan pekerjaannya.


Suara teriakan terdengar keras di kediaman Edmund, para pelayan pembangkang yang setia kepada Nyonya Alexander di seret keluar dari mansion. Mereka semua berteriak histeris. Setelah mereka di keluarkan, mereka berlari menuju kastil dan akan melaporkan kepada Nyonyanya.


***


Edmund kembali dan langsung masuk ke dalam kastil, beruntung mereka berdua ada di dalam. Ketika Edmund datang, Nyonya Alexander menyambut Edmund.


"Kapan kau kembali, Edmund. Aku tidak mendengar kabar kalau kau pulang," dia terlihat gugup matanya mencari-cari seseorang di belakang Edmund.


"Edmund ada apa ini, kenapa banyak prajurit di luar kastil, dan tuan Thomas juga ada di luar kastil." Ucap tuan Alexander.


"Tanya saja kenapa ibu, kenapa prajurit ada di sini. Ibu telah mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi Leona, beruntung Ayah Leona mengetahuinya dan menghentikan serangan mereka." Ucap Edmund sambil menggertakkan giginya.


"A-apa yang kau bicarakan Edmund. Mana mungkin ibu mengirimkan orang untuk membunuh istrimu, jangan ngaco. Ibu tidak melakukan pekerjaan yang hina seperti itu." Sangkalnya.


"Bawa dia masuk."


Dua pengawal membawa pelayan yang di suruh untuk mengantarkan surat kepada para pembunuh bayaran, dia terlihat pasrah, tetapi ketika dia bertemu dengan Nyonya Alexander. Dia terlihat ketakutan dan gemetar.


"Apa maksudmu Edmund, aku tidak mengenal wanita itu." Teriaknya. Dia mencoba tenang tetapi biar bagaimanapun juga dia tidak bisa menyembunyikan keguguoannya.


"Bawa mereka, dan buktinya."


"Edmund ! Apa yang sebenarnya kau lakukan? kenapa kau membawa banyak orang ke kediaman kita." Ucapnya.


"Bawa surat itu." Perintahnya. Surat itu langsung di bacakan oleh Sir Thomas yang bekerja sebagai kepala pengawal istana, dia bertugas menangkap orang yang bekerja sama dengan para pembunuh bayaran.


Edmund membacakan surat itu di depan mereka semua.


Lenyapkan wanita bernama Leona, dia berada di desa Leaf. Jangan menyakiti suaminya cukup habisi istrinya saja, kalian akan mendapatkan separuh bayarannya jika pekerjaan kalian telah selesai. N.A


Ayah Edmund mengambil surat itu dan membacanya. Dia lalu berbalik menatap istrinya. "Apa kau gila? Apa yang ada di pikiranmu, kenapa kau ingin melakukan perbuatan kotor itu."


"B-bukan aku, bukan. Aku tidak mengirimkannya, kenapa kau memfitnah ibumu Edmund. Kenapa?" Teriaknya.


"Sebaiknya ibu membela diri ibu nanti, simpan kata-kata ibu di pengadilan nanti, saya tidak akan membiarkan siapapun mengganggu kehidupan keluargaku, apalagi berusaha menyakiti istriku. Aku tidak akan membiarkannya. Siapapun dia." Ucap Edmund.


Saat itu surat penangkapan resmi telah keluar dan Nyonya Alexander, dan pelayan itu di bawa oleh prajurit-prajurit. Dia memberontak sekuat tenaga, tetapi surat penangkapan telah keluar, dan dia harus segera di tangkap. Ketika Nyonya Alexander sedang teriak-teriak, kelima pembantu yang datang ke kediaman sangat terkejut.

__ADS_1


Mereka semua gemetar karena melihat Nyonyanya yang selalu melindungi mereka telah di tangkap. Mereka semua gemetaran.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" ucap pelayan itu.


__ADS_2