
Perpisahan itu cukup menyakitkan, semua kenanganku bersamanya teringat jelas di benakku, meskipun harus kuakui semakin dalam dia merengkuhku semakin aku tidak bisa lepas darinya, tapi aku harus pergi dari sisinya, meninggalkannya.
Sean harus membuat pilihan, dia atau aku yang berada disisinya, aku begitu mengharapkan dia memilihku, menginginkanku tapi... sepertinya yang kuharapkan sangat mustahil dia bersama wanita itu....Jadi aku memutuskan meninggalkannya.
~ Flashback
Perpisahan dengan lori membuat mataku sembab, air mataku tidak berhenti mengalir, aku mengucapkan selamat tinggal kepadanya yang telah membantuku, dia memelukku erat dan berdoa semoga aku berbahagia dengan sean, dia berkata genit padaku ketika kami berpelukan dan membisikkan sesuatu di telingaku, "Aku yakin seanmu hebat di ranjang". Dia lalu berkedip kepadaku dan matanya berkilat bahagia menatapku bersama Sean.
Akhirnya aku kembali dikapal ini setelah badai yang menghantamku dan berbagai musibah lainnya, tetapi kini aku sungguh bahagia, aku merasakan kebahagiaan bersama Sean meskipun dia mengatakan tidak bisa memberikan kebahagiaan seperti seorang kekasih dan perompak yang tidak mengenal cinta. Tapi aku yakin suatu saat dia akan mencintaiku seperti aku mencintainya. pikirku sambil tersenyum menatap bilik yang biasa kutempati.
Hari itu aku berkenalan dengan beberapa awak kapal yang merupakan orang-orang kepercayaan Sean, mereka ada beberapa orang dikapal ini, Arnold, alberto, rembo, Justin dan beberapa awak kapal lainnya yang aku tidak mengingat namanya . Mereka semua perompak dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda, meskipun mereka perompak yang kasar tetapi aku bisa melihat kebaikan di hati mereka dan aku mulai mengenal satu persatu dari mereka semenjak seminggu aku sudah berada dilautan mengikuti kemanapun Sean membawaku.
Sore itu aku berdiri di anjungan kapal menyaksikan Lumba-lumba, membuatku tertawa dan tertarik, bagaimana bisa mereka begitu lucu dan imut? aku ingin sekali memegang mereka. Aku tidak menyadari kedatangan Sean tangan besarnya merengkuhku dan menciumku, hangat bibirnya membuatku semakin ingin memperdalam ciumanku, dia memainkan bibirku melumatnya dan menggigitnya, aku mengikuti permainannya dan Sebersit senyuman terpampang diwajahnya.
"Kau semakin pandai sayang, siapa yang mengajarimu?" dia memiringkan kepalanya tersenyum miring di hadapanku.
"Biarkan aku berpikir sebentar, mm..mungkin seorang perompak." Kataku yang memeluknya dan bersembunyi dibalik lehernya, aku suka wanginya yang menempel di tubuhku, dia mengangkatku dan berbisik dibibirku, "Saatnya untuk masuk kamar sayang, kau pasti lelah." dia tertawa ringan, aku menyukai caranya tertawa seperti dia tidak memiliki beban dipundaknya.
"Dan kau yang membuatku lelah." Candaku memukulnya, dia menangkisku dan bibirnya menutupi bibirku, tidak melepaskan ciumannya bahkan berjalan di depan Albert yang sedang mengemudikan kapal, dia hanya bersiul lalu memalingkan wajahnya, sepertinya dia mulai terbiasa dengan pemandangan ini.
Napas kami beradu, saling memeluk satu sama lain, memandangnya dan membelai bibirnya, "Kau tidak lelah? sepertinya kita sudah berjam-jam di bilik ini." Katanya sambil mengelus rambutku yang berantakan. Aku tersenyum sambil menutup mataku, "Hm.." Gumamku.
Aku betul-betul lelah, jika mengikuti stamina Sean, tubuhku akan remuk dibuatnya, sedikitpun lelah tidak tercermin di wajahnya, gerakan intimnya membuatku merona, dia menarikku dalam dekapannya dan akupun tertidur.
__ADS_1
Setelah dua minggu dilautan akhirnya kapal akan bersandar di sebuah pelabuhan dikota, aku sangat menantikannya berhari-hari dilautan membuatku mual dan selalu muntah aku butuh daratan.
Kota Cambridges itu sungguh mengagumkan banyaknya bangunan-bangunan tua yang menjulang tinggi, orang-orang di Cambridges memakai pakaian resmi eropa, puluhan kereta kuda yang ditarik dengan penumpang di setiap keretanya membuatku ingin mencobanya.
Aku berjalan bersama Sean mengelilingi kota Cambridges, dia tersenyum melihatku begitu gembira, Sesuatu tiba-tiba membuatnya berhenti berjalan dan aku menatapnya. "Sean ada apa?" tanyaku.
"Laura, tunggu aku di sini, sebentar lagi aku akan datang."
Wajahnya begitu serius dan tatapannya seperti terkejut gerakannya yang canggung seperti seseorang yang ingin berlari tetapi sesuatu menahannya.
"Oke, aku menunggumu di sini". bisikku, dia lalu pergi begitu saja membuatku semakin penasaran. Ada apa dengan Sean? beberapa menit aku sudah berdiri di depan sebuah toko yang tertutup.
"Mengapa Sean begitu lama?" Aku begitu penasaran, kakiku yang gatal langsung saja melangkah mengikuti jejak Sean dan aku melihat sosoknya di dalam sebuah gang sempit bersama seseorang, sepertinya pembicaraan mereka sangat serius, aku bersembunyi dibalik rumah sempit dibelakangnya sehingga mereka tidak bisa melihatku.
Suaranya cukup jelas, dan Sean berdiri bersama seorang wanita cantik, pakaiannya yang mengembang khas gadis Eropa dengan rambut merah lurus yang ditata begitu cantik, sangat berbeda denganku yang digerai begitu saja.
"Kebetulan kapal kami bersandar di kota ini setelah begitu lama dilautan Emy, bagaimana kabarmu?" tanya Sean dengan intonasi suara yang baru kali ini aku mendengarnya, seperti seseorang yang begitu jauh.
"Kau meninggalkanku Sean, aku sangat sehat untuk menunggu kedatanganmu, sebagai tunanganmu tentu aku selalu berdoa agar kau selamat di lautan dan kembali padaku.
Wajah Laura begitu pucat, dia menutup bibirnya rapat-rapat. "Tunangan?" bisiknya. Jantung Laura berpacu dan berdetak keras.
Wanita itu mendekat lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher sean dia bergelayut manja, sesekali berjinjit mengecup bibir Sean, meskipun Sean tidak membalasnya dan hanya menatapnya.
__ADS_1
"Emy, hentikan ! kau tahu kita tidak bisa bersama dan bahkan mustahil." Ucap Sean.
Wajah gadis itu cemberut dan air matanya jatuh kian deras, "Sean ! Aku merindukanmu, kumohon!" Suara manjanya membuat sean menggeram, dia mendorong wanita itu di tembok dan menciumnya dengan kasar penuh nafsu. "Ini yang kau inginkan Emy ! jadi terimalah !" Teriak Sean.
Air mata Laura sudah tidak tertahankan, dia mendengar suara desahan dan kecupan antara sean dan wanita bernama Emy itu. Napas mereka saling beradu. Wanita bernama Emy mulai menjelajahi tubuh Sean, tidak begitu lama mereka berdua bercinta di gang sempit itu, membuat Laura ingin segera berlari tidak mau mendengarnya.
"Aku memang mencintaimu Emy!" Gumam Sean yang mulai membenahi pakaiannya begitupun wanita itu, napas Laura tercekat dia tidak perduli lagi dia akhirnya pergi dari situ berlari kemana saja asalkan menjauh dari Sean.
"Tapi itu dulu, sebelum kau lebih memilih pria Jerman itu, kau tahu itu dengan jelas, meskipun dulu aku tunanganmu, kita hanya melakukannya karena kebutuhan kita masing-masing, dan sekarang jangan membawa kata tunangan dan semacamnya Emy, aku muak."
Wanita itu tertawa, "Jangan khawatir Sean meskipun aku tidak memilihmu, kau bisa memiliki tubuhku kapan saja, aku juga membutuhkanmu." Gumam Emy mendekati sean dengan pandangan menggoda.
"Ini terakhir kalinya, aku tidak akan
melakukannya lagi, aku pergi Emy." Sean pergi begitu saja meninggalkan Emy yang masih bersandar di tembok sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Kau akan kembali padaku Sean." gumamnya.
~
Laura sudah berada di atas kapal, dia tidak memiliki pilihan lain, dia sama sekali tidak memiliki uang untuk pergi dari Sean, dan kota besar ini tampak sangat asing baginya, dia duduk begitu lama di dalam biliknya.
Apakah dia harus bertahan dan melihat Sean bersama wanita lain? dia berbohong padaku, perompak tidak mengenal cinta?! Omong kosong ! dia hanya mencari alasan untuk menolakku aku memang bodoh dari awal aku hanya pemuas nafsunya selama berada di atas kapal.
__ADS_1
Laura menahan tangisnya, dia lalu berbaring sambil menangis tidak berapa lama kemudian dia tertidur. Seseorang memeluknya dari belakang, membuat Laura terbangun. Sean mulai mengecup leher Laura, agar dia terbangun, seperti malam-malam sebelumnya ketika Sean ingin melakukannya. Tetapi Laura tidak meresponnya dia menutup matanya rapat-rapat, membuat sean menggeram lalu pergi dari sisinya.
Dia mencintai wanita lain, dan menjadikanku alat pemuas nafsunya? dasar perompak sialan! Aku harus pergi, tapi aku sama sekali tidak memiliki bekal selama di perjalanan, Laura kembali menutup matanya dan tertidur menunggu esok hari, memikirkan bagaimana pelariannya dari Sean.