
Kediaman Sean terlihat sibuk karena kedatangan dua tamu malam itu, Sean mengajak mereka untuk makan malam di kediamannya.
"Mommy, boleh aku memanggilnya grandpa?" ucap max.
"Tentu saja sayang, cepat lepas pakaianmu max, lihat bajumu ini penuh dengan lumpur." Ucap Laura.
"Aku suka bermain di lumpur mommy, mengapa aku harus mengganti bajuku mommy?" Tanya max.
"Karena bajumu sudah kotor max dan kalau tidak di ganti, cacing-cacing itu akan mengerumuni baju dan tubuh max lihat saja warnanya mirip dengan cacing bukan?" Laura menunjuk lumpur yang mengering di baju max. Ucap Laura dengan menampilkan wajah ngeri dan jijik.
"Aku suka cacing mommy, menurutku mereka lucu." Ucap max dengan mata membulat senang.
"Lucu? Tapi menurutku max lebih lucu untukku." Ucap Laura sambil menggelitik tubuh putranya, dia tertawa-tawa senang dengan gelitikan ibunya.
"Grandpa menunggumu max, kita sebaiknya berhenti." Ucap Laura yang berhenti tertawa.
~
Mereka semua duduk di meja makan, suasananya terasa begitu canggung, Laura duduk di samping Sean sedangkan max berada di samping Tuan Windsor dan Edmund, mereka bercakap-cakap bersama.
"Grandpa suka cacing?" Max tiba-tiba bertanya menghilangkan kecanggungan saat itu.
"Kenapa?" Tanya tuan windsor.
"Karena menurutku mereka lucu, tetapi menurut mommy cacing itu kelihatan menjijikkan."
Tuan Windsor hanya tertawa sambil mengacak rambut max.
"Cacing banyak di Cambridge, kau mau ke sana?" Tanyanya.
"Benarkah?" Ucap max dengan wajah berbinar. Laura dan Sean saling melirik, membuat Edmund menatap mereka berdua.
"Jika max suka, kakek akan membawamu, bukan hanya cacing yang banyak di Cambridge, layangan dan banyak mainan lainnya, kau mau ikut kakek?" Tanyanya.
"Wow, aku ikut jika mommy dan dad ikut bersamaku."
"Tentu saja mereka ikut." Ucap tuan windsor.
Lalu matanya beralih kepada Laura dan Sean.
"Ikutlah ke Cambridge Laura, ibumu sangat ingin bertemu denganmu bertahun-tahun dia sakit-sakitan karena kehilanganmu." Ucap tuan Windsor.
__ADS_1
Wajah Laura terlihat sedih, ternyata dia masih memiliki ibu dan ayah, "Aku....
"Pikirkanlah kembali, dan mengenai pernikahan kalian, bagaimana jika kalian melangsungkan pernikahan kalian di Cambridge, ayah dan ibumu juga ingin melihatmu menikah Laura."
Laura menatap Sean. Kami akan pergi kakek, aku juga ingin bertemu ayah dan ibu." Ucap laura sambil menggenggam tangan Sean.
Hanya satu orang saja yang terlihat tidak senang dengan pembicaraan mereka semua, wajahnya terlihat murka, tangannya mengepal, tatapannya tajam melihat kebahagiaan di wajah Sean dan Laura.
Tiba-tiba dia berdiri, apa yang di rencanakannya tidak berjalan sesuai dengan keinginannya.
"Ada apa Edmund." Ucap tuan Windsor.
Dia terlihat menggeram, edmund lalu menatap tuan Windsor dan menatap tajam Sean.
"Mengapa paman menyetujui pernikahan mereka? Apakah paman tahu siapa dia ! Dia menikahi Laura untuk menghancurkan keluarga Windsor karena keluarganya hancur karena paman membantu Ayah Jon Walter waktu itu, seharusnya paman curiga dengan keinginannya menikahi Laura.
Sean berdiri tangannya mengepal keras, dia ingin sekali memukul wajah Edmund hingga tersungkur di lantai.
"Omong kosong apa yang kau katakan Edmund, aku sama sekali tidak tahu Laura memiliki hubungan dengan keluarga Windsor." Ucap Sean tenang.
"Jadi kau mengakuinya, kau mengakui ingin menghancurkan paman." Tuduh Edmund.
Laura menatap bingung kepada Sean dengan kata-kata Edmund.
"Aku menikahi Laura karena aku mencintainya, bukan seperti apa yang kau tuduhkan." Ucap Sean dengan tenang meskipun sekarang ini sean ingin sekali melayangkan tinjunya kepada Edmund sekarang juga.
Tuan windsor berdiri dan menatap Edmund.
"Kau menuduh paman membantu keluarga Walter untuk menghancurkan keluarga Hoult?? Paman sama sekali tidak melakukannya, apa yang di tuduhkan kepadaku, itu sama sekali tidak benar, mereka menggunakan namaku agar pengadilan melancarkan segala urusan Walter, dan aku sama sekali tidak mengetahuinya." Ucap tuan Windsor dengan marah.
"Kau pasti memiliki alasan lain, mengapa kau menentang pernikahan mereka?" Tanya tuan windsor dengan marah.
Edmund berdecak, dia melengkungkan bibirnya lalu menatap pamannya.
"Aku ingin menikahi Laura, aku yang akan menikahinya paman bukan pria itu." Ucap Edmund.
Laura menatap mereka ketakutan, max menggumamkan sesuatu tetapi dapat di dengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu.
"Paman ini gila, mengapa dia ingin menikahi mommy? Sedangkan aku sudah memiliki Daddy."
Edmund menatap Laura, tangannya terkepal, Karena merasa telah kalah, dia akhirnya pergi dari rumah Sean.
__ADS_1
Tuan Windsor terduduk dan menatap kepergiannya. Dia menghela napasnya, baru kali ini keponakannya itu begitu menginginkan sebuah pernikahan, padahal dia selalu menghindari setiap pertunangan yang dilakukan neneknya, dan dia selalu mendapatkan wanita manapun yang dia inginkan tetapi kali ini dia tidak akan bisa mendapatkannya.
~
Malam itu Laura begitu gelisah dia tidak bisa tidur, Sean menarik tubuh Laura dan memeluknya.
"Kau tidak bisa tidur?" Bisiknya.
"Hem, aku memikirkan semua yang terjadi tadi." Ucap Laura membalas pelukan Sean.
"Lalu? Kau tidak mempercayaiku?" Tanya Sean.
"Aku tentu mempercayaimu sean, dan sekarang kau juga tahu jika kakek tidak ada sangkut pautnya dengan nama Walter." Bisik Laura.
"Kau benar sayang."
"Kau ingin ke Cambridge?"tanya Laura.
"Tentu, jika kau memutuskan untuk pergi ke sana." Ucap Sean.
"Berjanjilah padaku Sean, jangan meninggalkan aku lagi." Bisik laura.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sayang, kemanapun kau pergi kau akan bersamaku." Sean mulai menarik tangan Laura dan menciumnya dengan lembut membuat Laura mendesah, seluruh tubuhnya meremang menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Dia menggoyangkan tubuhnya mendesak tubuh Sean.
"Jangan terburu-buru sayang." Bisik Sean kepada Laura.
Malam itu mereka larut dengan gairah, tubuh mereka hanyut dalam dekapan masing-masing, percintaan panas mereka berdua berlangsung sepanjang malam.
~
Setelah beberapa hari menyiapkan keberangkatan mereka, akhirnya Laura meninggalkan desa pirita, semua temannya mengantar kepergian mereka.
"Berjanjilah Laura kau akan menengok kami ke sini." ucap Merry sambil menghapus air matanya.
"Dan ngomong-ngomong kau tidak cerita jika tuan Hoult ayah dari max, kau akan menceritakannya jika kita bertemu kembali bukan?" ucap Merry sambil menghapus air matanya yang menggenang.
"Tentu Merry, kita akan bertemu lagi, aku tentu saja tidak akan meninggalkan tempat aku di besarkan sayang." ucap Laura menahan tangisnya.
Gubernur Kouth juga ada di sana, dia sama sekali tidak mengetahui kedatangan orang penting di desanya itu jika dia mengetahuinya, dia pasti sudah menyambutnya dengan besar-besaran.
Sementara itu ellena dan teman-temannya masih terheran-heran karena mengetahui silsilah keluarga laura, dia berubah 180 derajat terhadap Laura dan mengatakan jika dia teman baiknya dan ingin agar laura datang ke desa pirita untuk mengunjunginya.
__ADS_1
Merry mendengus mendengarnya. Laura, sean, max dan juga tuan Windsor segera naik ke atas kapal. Max melambaikan tangannya dan berteriak-teriak kepada semua orang yang ada di sana.
"SAMPAI JUMPA, KALIAN AKAN BERTEMU LAGI DENGANKU, SELAMAT TINGGAL." Teriak max dengan wajah berbinar-binar dia sangat senang karena bepergian bersama ayah dan ibu serta kakeknya.