
"E-Edmund?"
Setelah kepergian kereta kuda itu, Leona terlihat shock berat. Dia masih berdiri di sana menatap kepergiannya.
"Ternyata selama ini dia berkata jujur, dia anggota keluarga kerajaan." Ucap Leona.
Jastin menatap Leona. "Apa kau tahu semua ini Leona? benarkah kalau Edmund anggota keluarga kerajaan?" Ucapnya sambil menatap Leona yang masih terbengong.
"Dia ... selalu mengatakan mengenai prajurit dan kerajaan, tetapi aku tidak menyangka bahwa yang di katakannya benar. " Ucap Leona Shock.
"Jadi bagaimana sekarang?" Tanyanya.
"T-tentu saja aku akan berusaha menemuinya, kita sudah sampai di sini, biar bagaimanapun aku akan menemuinya." Jastin mengambil napas dan berkacak pinggang. "Kejadian ini betul-betul tidak terduga."
***
Sejak kedatangan Edmund yang di antar ke kediamannya membuat seluruh keluarga Alexander heboh, mereka sangat senang dan bahagia dengan kembalinya Edmund, mereka menyambut Edmund dengan gembira, begitupun tuan Windsor yang mendengar bahwa Edmund telah kembali ke Mansionnya, dia segera menjemputnya menemui Empress, setelah itu mereka berangkat ke Kastil tuan Windsor.
"Kita harus membuat acara pesta besar-besaran mengenai kedatanganmu Edmund, kita harus menyambut gembira dan bersyukur kau pulang dengan selamat."
"Ya, paman." Ucap Edmund sambil memegang terus cincin yang di kenakannya. Dia ingat ketika cincin pernikahan mereka itu di belinya di pasar, Cincin itu berasal dari penjual barang antik, sepasang cincin putih dengan gambar bintang di bagian dalamnya serta terukir nama mereka berdua, dia sengaja menyuruh pandai besi yang ada di desa itu untuk mengukirnya. Dia masih mengingat wajah bahagia Leona ketika menerima cincin itu. Edmund tiba-tiba tersenyum.
"Kau baik-baik saja, Ed?" Ucap Kenan. Dia memperhatikan sikap Emdund yang telah berubah. Dia terlihat tenang, dan lebih banyak diam seakan memikirkan sesuatu yang penting.
"Aku merindukan Leonaku." Ucapnya.
Mereka berdua berbalik, tuan Windsor maupun Kenan.
"Siapa Leona?" Tanyanya.
"Dia istriku, aku bertemu Leona di pulau Zaudett, dia yang menolongku dan aku tinggal di rumahnya, setelah itu kami pun menikah." Ucap Edmund Jujur kepada mereka.
"Aku anggap aku tidak mendengarnya Edmund, kau adalah keluarga kerajaan, garis keturunanmu harus jelas, wanita yang akan menikah denganmu harus berasal dari keturunan yang jelas dan berasal dari seorang bangsawan."
"Terserah apa kata paman, tetapi sekarang aku telah menikah." Ucap Edmund. Tuan Windsor dan Kenan saling menatap. Sikap Edmund sangat berubah drastis dengan Edmund yang dulu. Dia terlihat lebih dewasa dan tidak pemarah seperti dulu lagi yang selalu bersikap semaunya. Meskipun wanita itu jauh, dia masih mempertahankannya, dan itu bukan gaya Edmund.
"Jadi bagaimana sekarang? Apa kau ingin kembali ke pulau itu, kau tahu sendiri pergi ke pulau itu sangat berbahaya."
"Biar bagaimanapun aku harus kembali, paman. Aku tidak akan membiarkan Leona seorang diri di sana." Ucap Edmund tegas.
***
Leona baru saja selesai mandi, sekarang ini dia berada di kamar penginapan. Dia lalu terduduk di tempat tidur. "Apa yang harus kulakukan? Dia sekarang hidup bahagia dengan keluarganya, tetapi aku harus menemuinya bagaimanapun caranya." Ucap Leona. Dia mengambil napas lalu menghembuskannya. Dia kemudian berbaring.
"Apa dia masih mengingatku?" Gumam Leona. Matanya memberat dan dia pun tertidur.
~
"Wajah putrimu terlihat terpukul ketika mengetahui siapa Edmund sebenarnya, wajahnya terlihat shock." Ucap Ronald kepada kapten Lewstin.
Dia tampak berpikir keras bagaimana menghubungi Edmund. "Aku akan berusaha menghubunginya dan memberitahu Edmund bahwa Leona berada di kota ini, bagaimanapun dia harus tahu." Ucap Lewstin.
***
Keesokan paginya, sebuah pengumuman pesta besar akan di adakan di kediamanTuan Windsor. Pesta itu di adakan untuk menyambut kedatangan kembali pewaris tunggal Alexander yang mereka pikir telah wafat dan akhirnya kembali. Pesta itu akan di hadiri oleh Empress kerajaan di negara ini, yang tidak lain bibi Edmund sendiri.
Kediaman keluarga Windsor terlihat sangat sibuk, meskipun orang tua Edmund ingin perayaannya di adakan di kediamannya sendiri yang juga tidak kalah besar dengan kastil milik tuan Windsor. Tetapi tuan Windsor bersikeras mengadakan di kastilnya.
Sejak semalam Edmund tidak bisa tidur, dia selalu memandang bintang di langit dan mencari bintang milik Leona yang di berinya sewaktu di desa Zaudett.
__ADS_1
"Alpa Centaurus."
"Bintangku yang paling cerah seperti dirimu Leona, tunggulah. Aku pasti akan kembali." Ucap Edmund.
Malam itu di salah satu penginapan, seorang wanita membuka jendela dan juga menatap bintang yang paling terang di atas sana, "Aldebaran. Aku akan bertemu denganmu sebentar lagi."
***
Malam itu terlihat berbeda dari biasanya, gemerlap lampu serta lampion yang di hias di kastil milik tuan Windsor, para undangan mulai berdatangan dengan masing-masing bangsawan besar keluarga kerajaan. Apalagi Empress akan datang langsung untuk menghadiri pesta penyambutan Edmund, keponakannya.
"Kau terlihat tidak bersemangat, jangan berdiri saja, di sana banyak putri bangsawan yang menatapmu, mereka seperti berharap kepadamu." .
Edmund menaikkan alisnya. "Mereka juga mengincarmu Kenan, sampai saat ini kau belum juga menikah, apalagi usiamu lebih tua dariku, setidaknya aku sudah menikah dan memiliki Leona." Ucap Edmund.
"Tch, kau sombong sekali setelah menikah. Aku ingin lihat bagaimana wajahnya, apakah dia secantik Laura Scarlet Hoult? Kau kan dulu mengincarnya."
"Itu dulu, sekarang aku sudah punya Leona." Ucap Edmund.
"Sepertinya Leona berpengaruh cukup besar untukmu Edmund, dia bisa merubah sikap dan sifat jelekmu." Ucap Kenan sambil menepuk punggungnya.
"Lihat, siapa yang datang, Sean Nicholas Hoult dan Laura Scarlett Hoult, seperti biasa kecantikannya tidak ada yang menandingi keponakanku itu." Ucap Kenan. Edmund mengalihkan pandangannya dan melihat mereka berdua.
"Mm, mungkin tapi Leonaku lebih cantik untukku." Ucap Edmund.
"Tch, kau betul-betul telah di butakan oleh Leona." Ucapnya sambil menggeleng. Mereka berdua mendatangi Edmund dan memberikan selamat kepadanya.
"Hai Edmund kami sangat senang mendengar kedatanganmu, aku belum berterima kasih kepadamu, karena telah menyelamatkanku." Ucap Sean, Laura ikut tersenyum dan memberikan selamat untuknya.
"Jangan pikirkan, sudah seharusnya kita saling menolong bukan?" Ucap Edmund sambil tersenyum tulus, dia mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Sean. Tidak ada lagi mata tajam penuh permusuhan di wajahnya, begitupun ketika dirinya memandang Laura. Wajahnya masih sangat cantik seperti dulu, tetapi perasaan itu kini telah berbeda dan berubah, sekarang dia hanya menganggap mereka bagian dari keluarga Windsor.
"EMPRESS TELAH TIBAAA."
"Edmund. Akhirnya aku bisa melihatmu lagi. Aku sangat senang mendengar kau datang. Kita semua berbahagia dengan kehadiranmu."
"Terima kasih yang mulia, perhatian anda akan kuingat selalu." Ucap Edmund sambil memberikan hormat kepadanya.
"Aku sangat senang dengan kedatanganmu, aku sampai sibuk mencari seorang gadis yang cocok untukmu, Edmund. Kau sampai sekarang masih sendiri, di usiamu yang ke 34 tahun sudah sewajarnya telah memiliki seseorang yang mencintaimu dengan sepenuh hati. Untuk itu aku ingin memperkenalkan gadis cantik yang merupakan putri bangsawan Riddle. Bernama Sofia Riddle. Kemarilah Sofia."
Seorang gadis cantik dengan wajah menawan memikat, rambut blondenya bergelombang jatuh dengan indah di punggungnya, dia memberikan senyumnya kepada Edmund. Melihat siapa wanita yang ingin di jodohkannya, Edmund lalu mendengus dan dia tidak menutupinya. Kenan yang berdiri di ujung sana tertawa, karena dia tahu siapa Sofia Riddle, sejak dulu dia mengejar Edmund, bahkan dia menyuruh Ayahnya untuk menjadikan Edmund tunangannya. Edmund menatap Empress, dia lalu berdiri dan berbicara kepadanya.
"Terima kasih atas kebaikan yang mulia, tapi saya tidak bisa menerima kebaikan yang mulia kali ini, karena saya telah menikah. Saya telah memiliki seorang istri bernama Leona Lewstin, dan saya bermaksud untuk menjemputnya dan memperkenalkannya kepada seluruh keluarga." Ucap Edmund tanpa gentar sedikitpun.
Semua terdiam, begitupun Empress yang bingung dengan ucapan Edmund. Wajahnya sedikit mengernyit. "Kau sudah menikah? Tapi kapan pernikahanmu." Tanyanya.
"Ceritanya panjang yang mulia, saya akan secara personal akan menceritakan kepada anda mengenai pernikahanku, jadi saya minta maaf dengan menolak kebaikan yang mulia."
"Ah, tentu saja Edmund, seharusnya ada seseorang yang memberitahukan pernikahanmu, lain kali kau harus memperkenalkannya kepadaku." Ucapnya tanpa masalah sedikitpun. Sedangkan wajah Sofia sudah berubah merah karena malu, ini ketiga kalinya permintaannya di tolak. Kali ini dia tidak akan menyerah, ketika Edmund menghilang dia bertahan tidak menikah karena menunggu saat ini tiba, yaitu menjadi istri sah Edmund.
"Maafkan kelancangan Hamba yang mulia, bukankah tuan Edmund seharusnya membawa istrinya sekarang juga ke pesta ini, dia harus memperkenalkannya kepada kita semua. Bagaimana jika kita tunggu sampai pesta ini usai, jika sampai saat itu istri tuan Edmund tidak datang maka, aku bisa mengajukan diri untuk menjadi istri berikutnya, bagaimana?" Ucapnya dengan senyum kemenangan.
Wajah Empress terlihat bingung, dia menatap Edmund. "Bagaimana Edmund, itu semua tergantung padamu."
Edmund melengkungkan bibirnya, senyum jahat terlihat di wajahnya. "Maafkan Hamba yang mulia, tapi kenapa saya harus mengikuti persyaratan konyol nona ini." Ucapnya, membuat para tamu menahan napas, dia tahu emosi tuan muda Alexander terkenal meledak-ledak.
"Apakah anda takut tuan Edmund, istri khayalan anda tidak akan datang?" Ucapnya dengan senyum penuh kemenangan.
"Bukan itu, tapi aku tidak mau menikahi seorang j4lang, aku memilih siapa yang menjadi istriku. bukan seorang gadis yang setiap saat disentuh oleh pria manapun." Ucap Edmund tajam.
"Edmund !" Tegur bibinya sambil menggeleng. Meskipun begitu bibinya sedikit tersenyum, dia tahu dengan baik keponakannya ini, dia paling benci di atur oleh siapapun juga. Bisik-bisik terdengar di seluruh ruangan. Edmund tampak santai dan tidak merasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
"Maaf, Empress saya tidak terima putriku di hina oleh tuan Alexander di depan seluruh bangsawan inggris, menghina putriku sama saja menghina keluarga Riddle." Ucap seorang pria yang tidak lain Ayah dari Soffia Riddle. Wajahnya tampak pucat, sudah menjadi rahasia umum di kalangan pria bangsawan jika Putri Riddle ini bermain cinta dengan para pria bangsawan untuk memuaskan hasratnya.
"Edmund, bukankah kau harus mengatakan sesuatu kepada tuan Riddle?" Ucap bibinya memberikan peringatan kepadanya.
"Dia harus meminta maaf dengan ucapannya dulu, wanita itu sangat lancang mengancamku di depan orang banyak." Ucap Edmund sambil mengangkat bahunya. Empress menghembuskan napasnya. "Kalau begitu aku ingin kau membawa istrimu sekarang juga, agar aku tahu kau berkata jujur, karena sejak dulu kau selalu menolak perjodohan dari orang tuamu dan nenekmu."
Edmund tidak bisa berkata-kata, bagaimana bisa dia membawa Leona sekarang juga, sedangkan dia berada di pulau Zaudetta. "Bagaimana Edmund, apa kau tidak memiliki alasan lain? jika tidak, aku sebagai bibimu akan mencarikanmu seorang gadis yang cocok untukmu.
"Seperti yang saya katakan bibi, berikan saya waktu dan ....,
"EDMUND ....
Teriakan itu membuat semua orang berbalik dan menatap seorang wanita cantik yang baru saja masuk dan berdiri di depan pintu masuk. Edmund berbalik dan menatap gadis cantik dengan rambut coklat karamelnya berjalan pelan menuju ke arahnya. Gaun indah berwarna putih dengan gold lembut yang menjuntai menyapu lantai.
"L-Leona?" Gumamnya, dia tidak bisa bergerak sama sekali karena begitu terkejutnya, gadis cantik itu sedang berlari menuju ke arahnya dan seketika dia melompat dan memeluk Edmund di depan semua orang.
"Edmund aku sangat merindukanmu ...."
Flashback
Ketika pesta besar akan di langsungkan di kediaman tuan Kent Windsor, dua orang pria berdiri di sana, menatap dari kejauhan orang-orang mulai sibuk dan beberapa keluarga bangsawan sudah berdatangan ke kastil tuan Windsor.
"Dimana Leona, Ronald?" Tanya Kapten Lewstin, sambil menatap kastil besar yang berada di depan matanya.
"Dia berada di penginapan, kapten, bersama temannya Jastin."
"Temukan toko gaun termahal di kota ini yang bisa merubah putriku menjadi secantik wanita bangsawan, aku tidak peduli harganya berapa, segera temukan dan bawa Leona kepadanya, dia sudah harus siap malam ini."
"Baik Kapten."
Ronald pergi ke penginapan dan mencari Leona, dia kemudian membawanya ke perancang terkenal di kota ini.
"Untuk apa kita kemari?" Tanya Leona memasuki toko terkenal dan termahal di kota itu. Melihat tokonya saja yang megah membuat Leona enggan masuk.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, kau harus segera bersiap-siap." Ucap Ronald. Seorang wanita menatap angkuh mereka dan menanyakan perihal kedatangan mereka di tokonya.
"Dandani gadis ini dengan gaun yang terbaik yang kau miliki dan ubah dia menjadi wanita bangsawan." Ucap Ronald membuat Leona dan Jastin ternganga mendengarnya.
"Ronald, kau memiliki rencana apa sih." Ucap Leona sambil berbisik.
"Kau perlu berkoin-koin emas untuk merubahnya, gaun serta aksesoris kami terkenal berkelas dan tidak sembarang orang akan memakainya."
"Cari gaun yang termahal dan buat dia secantik mungkin, kau pasti kenal kapten Lewstin dari selatan bukan?" Ucap Ronald sambil menaikkan satu alisnya. Tiba-tiba saja ekspresi wanita itu berubah sangat drastis.
"A-ah tentu saja, apapun itu akan kami lakukan, lewat sini Nona."
"Dia harus siap malam ini juga." Ucap Ronald.
"Ngomong-ngomong aku akan kemana Ronald." Ucap Leona menatapnya tajam.
Aku akan membawamu kepadanya, jadi jangan berisik dan ikuti madam itu, kami akan segera menjemputmu ketika kau telah selesai.
Setelah membongkar koleksi terbarunya yang baru saja tiba dari negara seberang, dia akhirnya menemukan gaun yang sangat indah yang paling termahal di antara yang lainnya. Gaun indah berwarna putih di padu dengan emas serta modelnya yang berkelas membuat Leona kagum.
"Kita harus membuatmu secantik mungkin, Nona. Kita tidak punya banyak waktu." Setelah berjam-jam mendandani Leona yang membuat dirinya kelelahan hanya karena di dandani, mulai dari seluruh tubuhnya serta kulit dan penataaan make-up dan rambutnya dan kini dia siap. Malam hari telah tiba, Ronald dan Jastin telah menunggu Leona dengan membawakannya kereta kuda.
"Ck, lama sekali, mengapa wanita lama sekali jika harus berdandan? Apa mereka tidak capek karena kebosanan?"
"Hei Aku siap." Ucap Leona baru saja keluar dari pintu tengah, dia berdiri di depan mereka berdua yang tiba-tiba mematung dan terkesiap menatap kecantikan wanita di depannya.
__ADS_1