
Di sebuah rumah yang terlihat paling besar di antara rumah-rumah yang ada di desa itu, pekarangannya yang luas, kebunnya pun berhektar-hektar, dia berada di lokasi yang paling mencolok jika orang berkunjung ke pulau Zaudetta, rumah itu milik kepala desa bernama Jhon Marshmille dan istrinya bernama Megan Marshmille. Seperti biasanya para pekerjanya sedang sibuk, mereka mengerjakan tugas mereka masing-masing, ada yang di dapur dan ada pula mengurus ternak dan pakan kudanya. Suami istri Marshmille sedang berada di ruang sarapan, pagi ini mereka seperti biasanya duduk dan berbincang mengenai pekerjaan suaminya serta tanah-tanah milik warga desa. Mereka duduk di sana sementara pelayan menghidangkan menu sarapan seperti biasanya.
Terdengar dari sebuah kamar barang-barang yang berjatuhan, seorang wanita memukul-mukul bantalnya sangat keras dan membenturkannya pada barang-barangnya yang lain, hingga membuat gaduh dan terdengar sampai keluar rumah.
"Suara apa itu? Coba kau periksa, dari mana suara ribut-ribut itu." Ucap Nyonya Megan.
"Baik Nyonya."
Pelayan itu menajamkan pendengarannya, dia melangkah dengan hati-hati ke arah biang ribut yang ternyata berasal dari kamar Nonanya Sarah Marshmille. Pelayan itu menempelkan telinganya di pintu kamarnya dan sekali lagi menyakinkan dirinya bahwa suara itu berasal dari kamar Nona Sarah.
Pelayan itu lalu kembali kepada Nyonyanya. "Maaf Nyonya, suara itu berasal dari dalam kamar Nona Sarah." Ucapnya.
Wajah tua nan keriput tapi di poles sempurna dengan make-up kembali mendengar suara gaduh itu, alisnya lalu berubah geriting, dia berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menuju ke kamar putrinya, lalu mengetuknya.
"Sarah? Kau baik-baik sayang?" Ucap sang ibu dengan suara khawatir, dia mengetuk beberapa kali, tetapi wanita itu masih memukul-mukul bantal di tempat tidurnya dan melemparkan di sekitarnya.
~
"Pria itu berani-beraninya memperlakukanku seperti itu, beraninya dia menolakku, beraninya dia membuat seorang Sarah Marshmille merasa ketakutan hingga kakiku gemetaran, dia hanyalalah pria yang tidak memiliki apa-apa, dia ... dia hanyalah manusia rendah yang menumpang di rumah gadis liar itu, dia bukan apa-apa, tetapi beraninya ... beraninya dia menolakku." geram Sarah sambil memukul-mukul bantalnya. Pintu lalu menjeblak terbuka, sang ibu menganga begitupun pelayan ketika melihat kondisi kamar putri tersayangnya.
"Sayang? Apa yang terjadi, kenapa berantakan seperti ini, Sarah?" Ucap Nyonya megan mendekati putrinya yang duduk di tepi tempat tidur lalu memperbaiki rambutnya yang berantakan. Dia berdehem, dia sudah merasa puas sekarang ini karena telah meluapkan kekesalannya.
"Aku baik-baik saja Mom, tenang saja, suruh mereka membersihkan kamarku, aku ingin sarapan sekarang, dan aku ingin bicara dengan Daddy." Dia memakai mantel tidurnya lalu keluar dari kamar seolah tidak terjadi apapun. Pelayan dan Nyonya Megan saling menatap, kemudian dia berdehem dan menyuruh pelayan itu segera membersihkan kamar putrinya.
***
Edmund sejak tadi memperhatikannya dari belakang, ketika Leona sedang menjemur pakaian-pakaian yang hampir sekeranjang. Dia meletakkan tangan di dagunya dan melihat segala gerak gerik gadis itu. Matanya beralih kepada pinggang kecilnya yang terikat dengan celemek biru kotak-kotak, rambutnya di gulung ke atas sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang halus, matanya beralih ke bokongnya dan dia berkedip beberapa kali, tanpa dia sadari Leona sudah berdiri di depannya sambil bertolak pinggang.
"Apa yang kau lihat, Sir Ed? Apa sekarang kau memperhatikan bokongku?" Ucapnya sambil menyipitkan matanya menuduh.
"Aku hanya membandingkannya dengan wanita-wanita yang kutemui di lautan, sepertinya ukuran milikmu lebih....
Leona melempar cucian kering yang dijemur sejak semalam, yang baru saja di ambilnya dan melemparkan ke wajahnya. "Dasar otak mesum." Ucap Leona jengkel.
"Hari ini kita akan ke kebun mengambil sayuran, kau harus bergerak dan menjadi sibuk, aku tidak mau menampung pria mesum tinggal bersamaku." Ucap Leona dari dalam rumahnya.
Edmund menghembuskan napasnya, "Tidak ada seorangpun yang pernah melempar cucian di wajahku, kalau saja prajurit melihatnya kau sudah di seret ke dalam penjara, Ck awas saja kau Leona." Gumam Edmund, tetapi dia harus mengakui, setiap lekukan tubuh yang di perhatikannya sedikit menggodanya.
~
Hari itu Leona telah bersiap-siap akan berangkat ke kebun bersama Edmund, dia berjalan di samping Leona, matanya selalu melirik ke arah Leona, dia memperhatikannya lagi, dia selalu keluar dari rumahnya tanpa polesan make-up, alisnya kadang mengernyit ketika panas matahari menerpa wajahnya, bibirnya sedikit terbuka. Leona lalu berhenti berjalan dan berhenti tepat dihadapan Edmund.
"Katakan, sejak tadi kau terus menatapku, apa kau ingin mengatakan sesuatu?" Ucap Leona, dia sejak tadi merasa Edmund terus memperhatikannya. Edmund tiba-tiba menarik dagunya hingga wajahnya terangkat sedikit ke atas.
"Sekarang, apa yang sedang kau lakukan?" Ucap Leona masih dengan dagunya di pegang oleh Edmund.
"Sejak tadi kau berbicara padaku dengan nada tinggi semaumu, apa kau tahu berapa usiaku di bandingkan dengan usiamu? harusnya kau sedikit berbicara dengan lembut seperti seorang wanita, hm?" Ucap Edmund, dia seperti menikmati melihat gadis ini geram, tatapan matanya selalu mengarah ke bibir Leona yang penuh dan kemerahan.
__ADS_1
"Jangan salahkan aku jika kau kesakitan, kau sendiri yang memulai." Ucap Leona, dia melepaskan tangan pria itu dari dagunya, dengan mendorong dada Edmund, kemudian dia menendang kakinya, lalu berlari meninggalkannya, dia berlari sambil tertawa. "Hufff rasakan, jangan bermain-man denganku." Ucap Leona, dia lalu berbalik menatap dari kejauhan.
"Apa pria itu mengaduh dan terlihat kesakitan?" Ucapnya, tetapi dia sedikit terkejut, pria itu hanya tersenyum sinis dan melipat kedua tangannya. Dia lalu berjalan mendekat ke Leona dengan santai.
"Apa itu kau sebut dengan tendangan? Apa kau mau kuajari bagaimana menendang titik terlemah seseorang, apalagi titik terlemah seorang pria." Ucap Edmund sambil tersenyum.
"T-tidak perlu, kau hanya perlu fokus memetik sayuran dan mengumpulkannya di keranjang ini. A-aku akan memetik di sebelah sana, jangan dekat-dekat denganku, aku serius." Ucap Leona, dia lalu berlari menjauhi Edmund, Leona lalu mendengarnya terkekeh dari kejauhan.
"Sial pria itu menertawaiku, dia kuat juga, tendanganku tidak menyakitinya sama sekali, aku harus hati-hati kepadanya." Gumam Leona, dia mulai mendekati kubis-kubis yang siap di panen, serta wortel dan kentang, dia harus segera memetiknya agar tidak bertemu dengan ibunya Latty, dia juga kadang datang ke kebun di siang hari seperti ini.
"Hai Leona."
Leona yang sedang berjongkok lalu berbalik dan menatap seseorang berdiri di belakangnya, dia terlihat kacau, rambutnya yang hitam terlihat berantakan, pandangannya kepada Leona terlihat sangat sakit.
"Jastin? kau terlihat kacau, ada apa?" Ucap Leona, dia lalu berhenti memetik dan berdiri di depannya.
"Leona, apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku kepadamu?" Ucapnya tiba-tiba.
"Apa yang kau bicarakan Jastin, sebaiknya kau pulang, kau harus istirahat di rumahmu, apa ibumu tahu kau ada di sini?" Dia lalu menggelengkan kepalanya, pandangannya kepada Leona terlihat aneh.
"Leona, kau sudah tahu kan, kalau aku memiliki perasaan padamu, tetapi kau mengabaikannya, kau menganggapku dan memandangku seperti Latty memandangku, aku hanyalah seorang kakak untukmu."
Leona mengerutkan alisnya dan mengendus sesuatu, dia lalu menatap sebuah botol yang terjatuh di atas kebun. "Kau mabuk Jastin, sebaiknya kau pulang dan beristirahat, kau tidak tahu apa yang kau bicarakan, sekarang ini." Ucap Leona, dia perlahan mundur ke belakang, karena pria ini terus melangkah seperti hendak menggapai Leona dan memeluknya.
Tiba-tiba saja tangannya yang besar memegang lengannya, dia menarik Leona dan memeluk tubuhnya, Leona lalu meronta-ronta berusaha melepaskan tangan kekar miliknya. "Jastin kau gila ya, apa yang kau lakukan, lepaskan aku, atau kau akan menyesal." Leona berusaha meloloskan diri tetapi sekarang dia berada di dalam kebun kacang polong yang merambat hingga berbentuk atap, sehingga orang-orang yang ingin mengambilnya tinggal mendongak dan memetiknya, tetapi tempat itu sedikit jauh dari kebun-kebun lainnya yang terbuka, dan suasana kebun sangat sepi, Leona terdesak dan terperangkap.
"Apa sih yang kau inginkan, jangan coba-coba Jastin, atau aku akan membencimu, aku tidak akan menemuimu." Ancam Leona.
"Pergi, kau mabuk Jastin, kau tidak sadar apa yang telah kau katakan." Leona kini berada di ujung kebun, di belakangnya terdapat kayu-kayu panjang yang sengaja di pasang agar kacang polong itu terus merambat.
Pria itu memegang kedua tangan Leona dan hendak menciumnya, tetapi Leona mendorongnya sekuat tenaga dan meronta-ronta hingga Jastin tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Tangannya terasa sakit sekali ketika di pegang erat olehnya, dia memegang dagu Leona dengan kuat, sebelum dia menciumnya, tangan seseorang mencengkram bahunya dan memberikan dua pukulan di wajahnya.
"Seharusnya kau tidak jauh-jauh dariku." Ucap Edmund sambil menggertakkan giginya, lalu sekali lagi dia memukulnya hingga dia jatuh tersungkur dan sedikit meringis karena pukulan Edmund. Pukulan itu seperti telah menyadarkannya. Dia memegang luka di sudut bibirnya.
Matanya kembali fokus, dia menatap Leona yang terlihat terpojok di kayu-kayu itu akibat ulahnya, wajahnya terlihat sangat menyesal, dia lalu berdiri dan berusaha mendekat ke Leona.
"L-leona, maafkan aku, apa yang telah kulakukan?" Dia menatap Leona yang terlihat ketakutan kepadanya. "Leona aku...
"Aku memperingatimu, jangan pernah mendekati Leona lagi, simpan kata-katamu dan penyesalanmu itu, semua itu tidak berguna. Leona kemarilah." Ucap Edmund, dia mendekati Leona dan memeluknya, dia membawanya menjauh dari Jastin yang tertunduk dengan rasa penyesalan yang dalam.
Edmund menarik tangannya, dia melangkah lebar-lebar, mulutnya membentuk garis tipis karena begitu marah. "Jalanmu cepat sekali, tanganku sakit." Ucap Leona yang terpaksa harus mengikuti langkahnya yang besar-besar.
Dia kemudian berhenti, lalu berbalik dan menatap gadis itu yang rambutnya terlihat acak-acakan. "Kalau aku tidak ada, apa yang akan terjadi denganmu." Ucap Edmund.
"Kau selalu bertindak semaumu, tanpa memikirkan keadaan di sekitarmu, kemarin kau di serang wanita-wanita mengerikan di desa, sekarang pria itu hampir merenggut kehormatanmu, kenapa banyak sekali masalah yang menghampirimu?" Ucap Edmund sambil menatap Leona yang membuka dan menutup mulutnya, ingin membalas ucapannya, tetapi tidak ada yang bisa di katakannya karena semua itu benar.
"Kita pulang, dan berhenti datang ke kebun ini." Ucap Edmund, dia kembali menarik tangan Leona.
__ADS_1
"Tapi...bagaimana sayuran-sayuranku?"
Edmund berbalik, uangku akan menghidupi kita cukup untuk beberapa tahun ke depan." Ucapnya lagi.
"Bukankah kau bilang nilai jual emasmu itu tidak seberapa."
"Tidak seberapa karena yang kujual hanya potongan kecil saja yang bisa menghidupi kita selama beberapa bulan."
"B-benarkah? Tapi kenapa kau irit sekali, harusnya kau membelikanku gaun, aku kan pemilik rumah, setidaknya kau membayarku dengan membelikanku gaun atau setidaknya daging berkilo-kilo."
"Jangan khawatir, besok aku akan membelikanmu apapun yang kau inginkan, asalkan jangan datang lagi ke kebun ini, apalagi jika kau sendirian." Leona mengangguk dan tersenyum sembunyi-sembunyi.
Sebelum mereka tiba di rumahnya, mereka berdua sangat terkejut, beberapa warga desa telah berkumpul di halaman rumahnya berteriak-teriak memanggil nama Leona.
"Lihat ! itu mereka." Ucap salah seorang dari warga yang berkumpul.
"Ada apa ini?" Ucap Leona terkejut.
Warga desa yang terlihat marah itu mendatangi Leona dan Edmund, mereka lalu berdiri dan melingkarinya sehingga Leona dan Edmund berada di tengah-tengah mereka.
"Leona, aku mendengar kau tinggal dengan seorang pria tidak jelas, kau menampungnya dan tidak memberitahu Tuan Marshmille mengenai dia, apa kau tahu? bisa saja dia seorang bajak laut yang menyamar dan berpura-pura terdampar di pulau ini." Ucap pria itu.
"Kami juga mendengar tindakan tidak senonohmu yang dapat mencemari desa Zaudet kita ini." Mereka yang lain bersorak dan berkumpul.
"Bawa pria ini ke rumah tuan Marshmille biar dia di adili di sana, dan bawa juga gadis ini karena sudah mengotori desa kita." Semua kembali bersorak.
Edmund menggenggam erat tangan Leona. Wajahnya terlihat tegang. Leona yang mendengar semua ucapan mereka terlihat sangat lelah, dia bosan dengan semua kebohongan yang di katakan penduduk desa ini.
"Tuan Fien !"
Leona menunjuk seorang pria kurus yang menjadi wakil kepala desa yang terdengar paling antusias ketika bicara.
"Bagaimana hubungan terlarang anda dengan Nyonya Marshmille? apakah dia sudah mendengar kalau anda sering ke desa sebelah karena sudah bosan kepadanya? bagaimana kegiatan kalian di bawah sinar bulan di dalam kandang kuda?" Ucap Leona dengan suara besar dan lantang.
Semua warga desa berbisik-bisik dan menatapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"A-apa yang kau katakan, berani sekali kau menuduhku....
"Kami masih memegang uang tutup mulutmu, tentu saja waktu itu bukan hanya aku yang mendengar desahan kalian, aku bisa memanggil saksi lainnya, bagaimana? jika kau masih bersikeras membawa kami ke tuan Marshmille, kalian semua harus membawanya juga karena tindakan pencemarannya kepada desa yang berujung membawa nama istri tuan Marshmille? Kalian pilih yang mana?"
Beberapa orang saling berbisik-bisik, wajah pria itu merah padam dia tidak bisa menyangkal dengan perbuatannya. "Kalau begitu bawa saja, tindakan pencemaran di desa ini harus segera di bereskan."
"Dan bagaimana dengan anda Sir Rocky? Aku ingin tahu bagaimana tanggapan Nyonya Rocky jika dia tahu, apa yang anda kerjakan di atas bukit bersama pelayan anda sendiri? Aku yakin dia pasti akan memotong sesuatu yang sangat berharga milik anda. Pria itu tergagap, dia lalu melihat orang-orang yang mulai berbisik dan memandangnya.
"T-tuan Fien, bagaimana jika kita minum di rumahku? aku memiliki anggur." Ucap tuan Rocky tiba-tiba.
"A-ah ya, aku juga sangat haus, kalian semua bubar, tidak ada yang perlu di permasalahkan di sini, dia hanya menyembunyikan tunangannya, dan sebentar lagi kalian akan segera menikah bukan?"
__ADS_1
"Tentu." Jawab Edmund.
"B-bagus sekali, kami nanti akan merayakan pernikahan kalian, siapa yang berani menyebarkan gosip tidak berguna itu, semua hanya salah paham, semuanya kembali ke rumah masing-masing." Teriaknya.