
Udara di kota Cambridge membawa angin segar yang baru untuknya, dia sekarang bersama orang-orang yang mencintainya, mereka akhirnya tiba di kota Cambridge, banyak kenangan yang telah terjadi di kota itu.
Laura menatap bangunan-bangunan tinggi di kota Cambridge, sudah begitu banyak yang berubah semenjak kepergiannya.
Mereka berjalan beriringan, sean menggenggam tangan laura, Kereta kuda sudah siap untuk mengantar mereka ke kastil Tuan Kent Windsor.
"Grandpa apakah rumah grandpa besar? sebesar seperti milik Daddy?" Ucap max yang duduk di pangkuan tuan Windsor.
"Tentu, kediamanku lebih besar di bandingkan milik ayahmu max."
"Benarkah? Apakah di sana membosankan? Apakah banyak anak-anak sepertiku ada di sana?" Ucap max begitu antusias.
"Sebentar lagi kita akan sampai sayang." Ucap Laura.
Perjalanan mereka tidak begitu lama, akhirnya mereka tiba di kediaman tuan Kent Windsor.
"Woow, besar sekali." Ucap max menatap kastil itu dengan mata bersinar.
Tawa tuan Windsor selalu membingkai di wajahnya, dia sangat gembira dengan ocehan max.
"Kita sudah sampai, sebaiknya kalian istirahat dulu, sebentar lagi kau akan bertemu dengan ibu dan ayahmu Laura."
Beberapa pelayan mengangkat barang-barang mereka, pelayan-pelayan wanita seketika mematung menatap Laura.
"Bukankah itu Laura? Siapa pria yang ada di sampingnya, lihat wajahnya tampan sekali." Ucapnya sambil berbisik nyaring.
"Mengapa dia datang dengan tuan Windsor?" Para pelayan yang mengenal Laura saling berbisik-bisik ketika melihat kedatangan mereka.
Dua pelayan dengan sangat berani menghampiri Laura dan Sean.
"Kau Laura bukan? Apa yang kau lakukan di sini? Mengapa kau datang bersama tuan Windsor." Tanyanya.
"Siapa pria ini Laura? Apakah dia kekasihmu?"
"Mommy? Siapa wanita-wanita tidak sopan ini?" Ucap max dengan wajah tidak suka ketika orang-orang memperlakukan ibunya seperti itu.
Sebelum laura menjawabnya, tuan Windsor datang dengan orang-orang yang mengikutinya.
"Ada apa Laura?" Tanyanya.
"Tidak apa-apa kakek, sebentar lagi kami akan masuk ke dalam." Ucap Laura sambil tersenyum.
"Baiklah, istirahatlah dulu, kakek ada di ruangan kerja jika kau membutuhkan sesuatu." Kemudian tuan Windsor pergi diikuti oleh orang-orangnya.
"Kakek?? Kenapa kau memanggilnya kakek Laura??? Kau..kau cucunya? Apa yang terjadi, bagaimana bisa?" Ucap pelayan dengan wajah berbintik-bintik itu, dia begitu heran dan merasa tidak benar dengan kenyataan yang ada di depan matanya.
"Tentu saja bisa wanita bodoh ! Kembali bekerja dan menjauh dari cucu tuan windsor atau dia akan memecatmu jika kau berlaku tidak sopan." Ucap Rossie membelalakkan matanya menatap mereka.
"Rossie??? Ucap Laura memeluk erat tubuhnya.
__ADS_1
"Laura sayang, aku begitu khawatir ketika kau pergi dari kota ini, tetapi setelah mendengarkan berita tentangmu aku sangat gembira, sudah kuduga kau memiliki hubungan dengan keluarga tuan windsor, wajahmu itu sangat mirip dengan nyonya Scarlett." Ucap Rossie sambil menghapus air matanya.
Pelayan-pelayan itu sedang berbisik-bisik, mereka tidak mempercayai dengan apa yang dilihatnya.
Rossie menatap wajah Sean dan max.
"Apakah dia pria itu?" Bisik Rossie, meskipun begitu Sean bisa mendengar suaranya, Rossie mengetahui semua kisah Laura melalui Bertha yang sekarang menjadi keluarganya semenjak dia menikah dengan ethan.
"Dan pria tampan ini pasti putramu Laura, dia begitu mirip dengan...ayahnya." ucap Rossie canggung.
"Dia putraku, namanya max."
Setelah perkenalan singkat mereka, Laura beserta Sean dan max berada di ruangan mereka untuk beristirahat, meskipun begitu Laura sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayah dan ibunya.
"Kau baik-baik saja sayang?" Tanya Sean memegang bahu Laura yang duduk di kursi dekat jendela.
"Hmm, aku baik-baik saja."
"Benarkah? Kau harus mengatakan kepadaku jika sesuatu terjadi, jangan menyembunyikan apapun." Bisik Sean, dia mengecup puncak kepala Laura.
Laura tahu mengapa Sean berkata seperti itu, karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan ayahnya yang telah membuangnya dengan tangannya sendiri, meskipun Laura sedih dan sakit hati, tapi dia harus kuat dan menerima kenyataan tersebut.
Sean menarik tangan Laura agar berdiri dihadapannya kemudian memeluknya begitu erat.
"Max sudah tidur? Tanya Sean.
"Kenapa?
Laura menyandarkan kepalanya di dada Sean lalu tersenyum.
"Kau tidak lelah Sean?" Tanya Laura.
"Tidak, perjalanan seperti ini bukan apa-apa bagiku sayang, aku sudah bertahun-tahun mengarungi lautan." Bisik Sean.
Sean mengangkat Laura dan membawanya ke tempat tidur, dan memeluknya erat kemudian mencium bibir Laura dengan lembut, ciuman sean yang intens membuat Laura mendesah, tangan Sean mulai menjelajahi setiap inci tubuh Laura dan mulai melepaskan satu persatu pakaiannya.
Sebuah ketukan terdengar dari pintu kamar mereka.
"Mommy?"
"Mommy? Daddy?"
"Kenapa sih kamar mom dan dad terpisah dari max?" Gerutu max dari luar kamar.
"Mommy, dad?"
Laura dan Sean berbalik dan mendengarkan ocehan max di luar pintu kamar, Laura tertawa mendengarnya, Sean menundukkan kepalanya dengan putus asa.
"Kenapa kau belum tidur max?" Bisik Sean sambil bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
Max menghambur masuk dan melompat ke pelukan Sean.
"Daddy, kau tahu aku menemukan harta Karun yang banyak dad." Ucap max dengan wajah bersinar.
Laura duduk di atas tempat tidur sambil merapikan rambut dan pakaiannya.
"Harta Karun apa bajak laut kecil?" Ucap Sean.
"Aku menemukan kebun buah berry, di sana banyak sekali buahnya." Max menjelaskan dengan merentangkan kedua tangannya dengan mata membulat dan bersinar.
Laura berdiri dan menyilangkan kedua tangannya.
"Jadi, max menyelinap dari tempat tidur? Bukankah mommy sudah menyuruh max untuk tidur? Kata Laura.
"Tidak ada penjelajahan max, sebelum kau beristirahat, lagi pula bagaimana jika nanti kau tersesat max, tempat ini sangat luas."
Max tertunduk dan memainkan jarinya. Bibirnya dipenuhi warna merah dari buah berry.
"Max suka buah berry?" Tanya Sean.
"Ya dad, max suka"
"Nanti kita akan menanam buah berry dihalaman rumah, bagaimana?"
"Woow, cool dad?" Ucap max senang, matanya bertemu dengan Laura, max kembali menunduk merasa bersalah dengan penyelinapannya.
Setelah berceloteh riang, max akhirnya tertidur, dia begitu lelah dengan penjelajahannya. Laura mengecup pipi max.
Laura berbaring di samping max, lalu Sean memeluknya erat dari belakang, dan mulai menjelajahi setiap inci tubuh Laura dengan tangannya.
Laura mendesah, "Sean jangan disini, nanti max bangun." Tegur Laura kepada Sean yang mulai memainkan jarinya di sana.
Kecupan-kecupan ringan mendarat di bibir Laura, Sean menggeram, dia berdiri dan mengangkat Laura kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
~
Suara Laura begitu kencang ketika mendapatkan pelepasannya, napasnya memburu.
"Cukup Sean, sebentar lagi max akan bangun, kita sudah terlalu lama di sini." Sean memeluk erat Laura dan membenamkan wajahnya di leher Laura.
"Oke sayang." Bisiknya.
Setelah percintaan panas mereka, sebuah ketukan terdengar dari pintu kamarnya, seorang pelayan masuk dan menunduk kepada mereka berdua.
"Tuan Windsor sudah menunggu anda di ruang makan." Ucapnya, meskipun begitu dia sedikit mengerling kepada Laura yang sudah siap bersama Sean dan max, dia terlihat kikuk Karena kedapatan mengintip.
"Kami akan segera ke sana." Ucap Laura. Dia menunduk dan segera pergi dari kamar Laura.
Makan malam itu hanya dihadiri oleh kerabat terdekat keluarga Windsor, mereka diundang untuk memperkenalkan Laura kepada mereka semua.
__ADS_1
Laura berjalan perlahan bersama Sean dan max, orang-orang yang berkumpul di sana semua berbalik menatap kedatangannya. Jantung Laura berdetak matanya mencari-cari ayah dan ibunya. Mata toscanya akhirnya menemukan mereka sedang menatap Laura dengan wajah terkejut.
"Dia Laura Scarlett Windsor, cucuku satu-satunya." Ucap tuan Windsor kepada mereka semua.