
"Selamat Sofia, Edmund menyetujui pernikahan bersyarat itu, sebentar lagi kau akan menjadi istrinya."
Leona mendengar ucapan selamat yang di tujukan kepada Sofia, membuatnya terhenyak, dia berdiri di sana seperti patung. Sedangkan wajah Edmund terlihat kaku. Sofia tersenyum senang mendapatkan selamat dari semua orang. Leona mengepalkan tangannya kuat-kuat, dia tidak mau menangis, dia harus bicara dengan Edmund. Ingin rasanya menghancurkan kegembiraan di wajah kedua wanita itu. Seluruh keluarganya berkumpul dan memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua.
"Apa sebenarnya yang ada di kepala Edmund." Ucap Leona. Dia mendengarkan pengumuman pernikahan Edmund yang di umumkan oleh kepala pelayan Viss.
Beberapa pelayan menyambut gembira dan beberapa pelayan tidak menyetujuinya. "Aku tidak heran hal ini akan terjadi, lihat saja Tuan Timmy dengan istrinya, dia menikahi wanita yang bukan kalangan bangsawan, tetapi karena status istrinya belum terakui, maka tuan Timmy harus menikah lagi dengan wanita bangsawan, semenjak itu hubungan keluarga itu kacau, tidak ada kebahagiaan di pernikahan mereka, jadi apa gunanya menyematkan nama belakang untuk istri yang di cintainya ketika suaminya menikah dengan wanita lain." Ucap pelayan itu mendengus.
"Kalian dengar? pernikahannya akan di adakan seminggu lagi, kita akan lihat bagaimana reaksi Nyonya Leona, mereka pasti akan bertengkar hebat." Ucap pelayan itu. Leona meninggalkan kastil itu seorang diri. Dia memikirkan semua kata-kata pelayan itu.
jadi apa gunanya menyematkan nama belakang untuk istri yang di cintainya ketika suaminya menikah dengan wanita lain.
Leona terus memikirkannya, sesampainya di mansion, jam telah menunjukkan pukul 11 malam, Leona segera mengganti gaun yang di kenakannya dan mengenakan pakaiannya sendiri, dia berada di kamar ganti yang bersampingan dengan kamarnya sendiri, saat ini Leona tidak mau melihat wajah Edmund, dia ingin sendiri dan memikirkan keputusan apa yang akan di ambilnya.
Leona mengunci kamar itu. Dia lalu berbaring di sofa. Leona mendengar suara langkah kaki Edmund yang berjalan tergesa-gesa. Pintu kamar membuka lalu tertutup, terdengar teriakan Edmund memanggilnya.
"LEONA, LEONA KAU DI MANA?" Terdengar suara langkah kaki berlarian dan beberapa pelayan menghadap kepada Edmund.
Leona bersembunyi di balik gaun-gaun, dia mendengar semua pelayan di panggil dan menghadap kepada Edmund.
"KENAPA KALIAN TIDAK TAHU DIMANA NYONYA LEONA, KALIAN KEMANA SAJA ! SIAPA YANG BERTUGAS MENYIAPKAN MAKANAN, KENAPA TIDAK ADA SATUPUN MAKANAN DI ATAS MEJA !!
"Maafkan kami tuan, kami mendengar tuan Alexander sakit dan kami semua menuju kesana karena khawatir dan tidak sempat menyiapkan apapun, saat itu Nyonya belum bangun jadi kami ..."
Terdengar suara tamparan keras di wajah pelayan itu. Mereka semua terkejut.
"Kalian semua saya pecat. Angkat kaki kalian semua dari keluarga Alexander. Viss siapkan pelayan yang baru, cari segera dan gantikan mereka semua."
"Baik tuan."
Para pelayan itu segera angkat kaki malam itu juga dari mansion, terdengar kesibukan orang-orang di larut malam begini, baik pengawal dan pelayan semua mencari Leona.
"Tuan, mungkin Nyonya Leona menginap di rumah Nyonya Laura, karena kemarin mereka sempat berjalan-jalan dan mereka berjanji akan bertemu lagi dan berangkat ke musium, mungkin karena kemalaman Nyonya Leona menginap di sana." Ucap kepala pelayan itu.
"Apa kau yakin Viss." tanyanya.
"Saya akan menuju ke kediaman Tuan Hoult dan mencari Nyonya Leona." Ucapnya.
"Tidak perlu. Aku yang akan pergi ke sana, satu hal lagi, katakan kepada pelayan dan penjaga, jangan ada yang memberitahu Nyonya Leona mengenai pernikahan sialan itu, pernikahan itu akan di langsungkan minggu depan dan setelah itu Leona akan resmi menjadi Nyonya Alexander, pernikahanku dengan Sofia hanya sebuah formalitas, setelah menikah aku akan meninggalkan wanita itu, jadi lebih baik jangan memberitahunya."
"Baik tuan."
***
Leona menghapus air matanya, "Aku benci kalian semua, aku membencimu Edmund, aku tidak butuh nama Alexander sialanmu itu, aku tidak membutuhkannya. Aku hanya ingin kau seperti dulu, seperti saat kita berada di pulau Zaudetta." Gumam Leona menghapus air matanya sambil menatap bintang di langit.
Setelah seharian menangis, Leona tertidur di sofa, dan setelah semalaman Edmund mencarinya, dia akhirnya menemukan Leona di ruangan gaun, dia tertidur lelap. Edmund menggendongnya dan membawanya ke kamar tidur mereka. Edmund menatap Leona sepanjang malam, dia memeluknya, dia sadar sudah berhari-hari, mereka tidak saling menghabiskan waktu bersama. Apalagi sebentar lagi dia akan menikah dengan wanita itu, jika Leona tahu, dia mungkin akan menggagalkan pernikahan itu, tetapi itu satu-satunya cara agar Leona masuk ke dalam daftar keluarga Alexander dan di akui oleh kerajaan.
***
Leona sengaja berlama-lama tidur, meskipun sejak tadi Edmund duduk di sebelahnya menunggunya bangun. Dia tidak mau berbicara dulu dengan Edmund. Dia ingin sendiri dan berpikir jernih. Karena Leona tidak bangun juga, akhirnya Edmund berangkat kerja, sebelum itu dia mampir ke Kastil untuk memperingati ibunya agar berhenti mengganggu Leona.
Leona membuka kedua matanya, dia kemudian bangun tidur dan segera mandi. Setelah selesai mandi dia bersiap-siap, dua orang pelayan membantunya mengenakan pakaian dan menyisir rambutnya.
Leona turun ke lantai satu. Dua orang pelayan telah berdiri di sana bersama kepala pelayan Viss. "Nyonya selamat pagi, silahkan sarapan, kami sudah menyiapkan sarapan kesukaan anda."
__ADS_1
Leona tidak menjawabnya, dia terus mendiami mereka semua. "Oh ya ini sejumlah uang yang di berikan oleh tuan Edmund, kalau saja anda ingin berbelanja hari ini di luar." Leona menatap kantong emas, dia hanya tersenyum sinis ketika melihatnya. Dia makan dalam diam, tanpa mengucapkan apapun kepada mereka.
Hari ini Leona ingin berjalan-jalan seorang diri, dia tidak perlu pengawal untuk menemaninya. "Siapkan kereta kuda."
"Baik Nyonya."
Leona pergi ke pusat kota Cambridge seorang diri dan berhenti di salah satu tempat berkumpulnya para awak-awak kapal.
"Leona."
Dia berbalik dan melihat Jastin dan Ronald sedang sarapan di salah satu restaurant di dekat kota.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Leona, dia duduk di antara mereka.
"Kami ini sedang bekerja, kau tidak tahu kalau bajak laut itu bukan hanya di lautan saja, tetapi dia bekerja sebagai pengintai dan pemberi dan penjual informasi, jadi jangan salah paham jika kami hanya seharian duduk di sini dan terlihat tidak melakukan apapun." Ucap Ronald.
"Kau baik-baik saja? bagaimana dengan suamimu itu?" Tanya Jastin.
"Tentu. Kami baik-baik saja." Ucap Leona dengan getir, dia mencoba menutupi kesedihannya.
Leona menghabiskan waktu dengan mereka berdua, baru kali ini Leona tertawa mendengarkan lelucon Ronald, dia menceritakan kisahnya ketika berada di lautan bersama kapten Lewstin.
Sampai sore tiba, Leona tidak kunjung pergi, dia tetap bersama mereka berdua. "Hei Leona, kau tidak pulang? bagaimana jika Edmund mencarimu." Ucap Jastin.
"Dia sibuk, dia akan pulang jika hari sudah larut, sebentar lagi aku juga akan pulang koq." Ucapnya masih tertawa-tawa mendengarkan lelucon Ronald.
Kereta kuda dari istana baru saja lewat, Kenan melihat Leona yang sedang duduk dan berbincang dengan dua orang pria.
"Edmund, bukankah wanita yang duduk di sana itu istrimu Leona?" Edmund menatapnya dari kejauhan, dia terlihat tertawa-tawa dengan Jastin dan Ronald.
"Berhenti."
"Kalian bertengkar ya?" Ucap Ronald terheran, Ugh, aku paling benci situasi canggung seperti ini, kalau begitu kami pergi, sampai jumpa lagi."
"Kita pulang." Ucap Edmund memegang tangan Leona, tetapi Leona menghempasnya, dia tidak mau di pegang olehnya.
"Aku bisa pulang sendiri, kenapa kau tidak kembali bersama teman-temanmu saja. Aku ingin sendiri." Ucap Leona, dia melewati Edmund dan naik ke kereta kudanya yang menunggu di ujung jalan. Edmund tentu saja mengikuti kemana Leona pergi.
Mereka naik ke kereta kuda bersama, sejak tadi Leona diam, bahkan memandang Edmund pun dia tidak mau.
"Maafkan aku Leona, aku berjanji akan cepat menyelesaikan pekerjaanku dan kita bisa bersama kembali, ayah tidak enak badan jadi seluruh pekerjaannya aku yang tangani. Aku tidak bisa mengabaikan pekerjaan Ayah. Aku tidak memberitahumu karena nanti kau akan di sakiti oleh ibu jika kau pergi ke kastil." Ucap Edmund mencoba membujuk Leona.
Tetapi sayang sekali setiap ucapan Edmund tidak membuat Leona kembali seperti dulu, dia telah merasakan jarak di antara mereka berdua, Leona yang memberikan jarak itu, dia tidak membiarkan Edmund memegangnya ataupun menyentuh tangan Leona.
***
Mereka tiba di Mansion, tepat saat itu Nyonya Alexander telah berdiri di depan pintu mansion, wajahnya berseri-seri ketika menunggu kedatangan mereka. "Menantuku baru saja pulang? Malam ini kami akan mengadakan perjamuan pesta untuk menyambut kesembuhan ayah Edmund, aku datang untuk memanggil menantuku Leona."
Leona hanya menatapnya, tidak ada ekspresi senang atau pertanyaan mengenai ayah Emdund. "Aku akan bersiap-siap." Setelah mengatakan itu dia meninggalkan mereka berdua.
"Wanita itu bahkan tidak terkejut mendengar kesembuhaan ayahmu, menantu apa dia." Ucap Nyonya Alexander.
Leona masuk keruang ganti, dia melepaskan gaunnya dan dua pelayan membantunya mencari gaun lain yang cocok untuk acara pesta makan malam. Pintu kamar terbuka, dia menyuruh dua pelayan itu keluar.
"Ada apa denganmu Leona, kenapa kau diam sejak tadi, kenapa kau menjauh dariku." Ucapnya. Leona melepaskan perhiasan yang di kenakannya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, aku hanya lelah." Jawabnya.
"Kalau kau lelah, jangan memaksakan datang ke pesta malam ini, kau tahu bagaimana sikap ibu yang kasar dan memperlakukanmu buruk, dia pasti akan melakukan sesuatu." Ucap Emdund terlihat lelah.
"Tentu saja aku akan datang, setidaknya aku datang untuk merayakan kesembuhan ayahmu." Gumamnya. Dia lalu memakai make up dan lipstik tanpa menghiraukan keberadaan Edmund yang berdiri di belakangnya.
Leona berjalan dan melewati Edmund begitu saja, tangannya di genggam erat oleh Edmund.
"Kau berubah Leona." Ucap Edmund.
Leona tersenyum miring. "Kau yang merubahku seperti ini, lepaskan tanganmu." Dia menghentak tangan Edmund dan segera berjalan menuju ke lantai bawah.
Ketiganya telah berada di dalam kereta kuda. Sejak tadi ibu Edmund terus bercerita, sedangkan Leona hanya menatap keluar jendela tidak memperhatikannya. Edmund menyandarkan sikunya di jendela, dan memperhatikan Leona sejak tadi.
Mereka tiba di kastil dengan cepat, Leona turun dari kereta dan berjalan di belakang Nyonya Alexander, dia bahkan tidak mau memegang tangan Edmund ketika dia menawarkan tangannya ketika turun dari kereta kuda.
Acara makan malam itu di penuhi oleh keluarga Alexander, dia berjaga-jaga di samping Leona, jika saja ada seseorang yang berani mengejeknya lagi. Tetapi yang terjadi di luar perkiraan Edmund. Seluruh keluarganya menyambut Leona dan memperlakukannya dengan baik, dia mengajak Leona duduk dan mengajaknya berbincang.
Tentu Leona tahu mengapa mereka bersikap seperti ini, itu terjadi karena sebentar lagi Edmund menikahi Sofia dan gelar Leona sebagai istri sah Edmund Alexander akan segera diresmikan oleh kerajaan, sebentar lagi statusnya akan naik, dan dia akan menjadi orang penting di keluarga Alexander.
Malam itu juga, Sofia Ridle juga datang, seakan Nyonya Alexander ingin mempertemukan mereka berdua, agar mereka menjalin hubungan yang baik, mereka saling duduk berhadapan.
"Ah, Nyonya Alexander apa kabar, sudah lama kita tidak bertemu." Ucap Sofia sambil tersenyum.
"Ya, sudah lama kita tidak bertemu, tetapi kau tetap terlihat j4lang seperti biasanya." Semua orang terdiam.
"Apa yang kau katakan !" Bentak ibu Edmund.
Leona masih duduk dengan tenang menatap mereka yang memusuhinya. Wanita itu berdiri dengan sangat marah, dia melemparkan gelas ke arah Leona tetapi dia menghindarinya dan mengenai kepala pelayan Viss yang berdiri di belakangnya. Leona berdiri dan melemparkan minuman di wajahnya.
Seketika wanita itu mendatangi Leona dan menamparnya, Leona tidak menunggu lama, dia memukul wajah gadis itu tepat di pipi dengan tinjunya, sehingga dia terjatuh dan mengeluarkan darah dari hidungnya. Semuanya menjadi kacau, Edmund berusaha menarik Leona keluar dari kastil, tetapi tiba-tiba ayahnya kembali memegang jantungnya dan ingin pingsan, kesibukan terlihat di sekeliling ayah Edmund, Leona menatap mereka semua dengan benci dan segera meninggalkan kastil itu seorang diri.
***
Leona pulang berjalan kaki. Dia tahu pulang ke mansion sangat jauh jika berjalan kaki, tetapi dia tidak melihat kereta kudanya, dan dia enggan mencarinya.
Tiba-tiba saja kereta kuda berbenti di sampingnya, "Leona? Apa yang kau lakukan jalan-jalan seorang diri di sini?" Suara itu membuat Leona menatapnya. Dia adalah kenan, keluarga dan teman baik Edmund.
"Apa yang terjadi, kenapa kau pulang jalan kaki?"
Leona hanya mengangkat bahunya. "Erm bolehkah aku minta tolong?" Ucapnya.
"Tentu saja, ada apa?"
"Aku ingin menemui Nyonya Laura, dapatkah kau mengantarku ke sana?"
"Tentu saja, tetapi bagaimana dengan Edmund? dia pasti akan mencarimu." Leona tersenyum pahit.
"Jangan khawatir dia sedang sibuk mengurus keluarganya." Leona masuk ke dalam kereta dan malam itu juga dia diantar ke kediaman Laura.
Setelah 20 menit perjalanan, kereta kuda mereka tiba dan Kenan segera masuk dan mencari Laura. Leona menunggu di depan pintunya sambil memperhatikan taman indah di mansion itu.
"Nona siapa?"
Leona berbalik dan melihat seorang anak kecil usianya sekitar 6 tahun berdiri di sana menatapnya dengan bertanya-tanya.
__ADS_1
"Namaku Leona dan aku teman ibumu, selamat malam."
"Selamat malam, silahkan masuk Nona, di luar sangat dingin." Ucap Mark sopan. Malam itu Leona menginap di kediaman Laura, karena dia tidak ingin bertemu Edmund dan ingin memikirkan semuanya sampai dia mengambil keputusan penting dalam hidupnya.