
Leona mengintip dari pintu rumahnya, dia melihat lelaki itu duduk seorang diri di teras depan, mungkin saat ini dia sedang merenungi nasibnya. Wajahnya membingkai tampan, garis di keningnya terlihat berlipat sedang memikirkan sesuatu.
Leona keluar ke teras dan berdiri di sana, "Kau kenapa? memikirkan cara keluar dari pulau ini?"
Edmund berbalik dan menatap gadis yang selalu terlihat ceria itu, wajahnya selalu tersenyum.
"Ya, kau benar. Aku sedang memikirkan cara untuk kembali ke negaraku, tetapi sepertinya mustahil, di sini tidak akan ada kapal yang lewat kecuali kau berani mengambil resiko melewati arus itu."
"Hm, kau benar, jika kau betul-betul ingin keluar dari pulau ini, kau harus mempersiapkan diri dan nyawamu menjadi taruhannya." Dia meletakkan sepiring makanan untuknya di atas meja kecil yang berada di sampingnya. Dia tahu lelaki ini pasti lapar, hanya egonya saja yang menahannya untuk mengisi perutnya itu.
"Makanlah, nanti perutmu sakit kalau kau tidak makan, di rumahku hanya ada makanan ini." Ucap Leona sambil memandang pria itu, dia terlihat masih sedang berpikir. Edmund menolehkan wajahnya dan menatap di atas piring satu buah roti gandum yang telah diolesi mentega dan sedikit sayuran di atasnya serta segelas susu.
"Terima kasih, tapi aku tidak lapar sama sekali." Ucap Edmund. Sesuatu berbunyi, seperti suara perut yang berbunyi tertahan. Edmund segera memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidak ada apa-apa yang mereka dengar.
"Kenapa kau keras kepala sekali sih, ayo makan !" Ucap Leona meletakkan piring itu di atas pangkuannya dan segera pergi meninggalkannya.
"Ck ck, aku tidak tahu bagaimana kehidupannya di negaranya tetapi sikapnya itu menunjukkan kalau pria itu arogan, tatapan matanya seperti melihat rendah atau entah melihat kasihan kepadaku. Begitu saja terus, dan kau akan kelaparan." Gumam Leona.
***
"Kau mau kemana?" Tanya Edmund ketika melihatnya keluar dari rumah dan membawa keranjang di punggungnya serta sekop kecil di tangannya.
"Aku ingin memanen sayuran milik Jastin, selagi ibunya masih tidur." Ucapnya santai tanpa merasa canggung dengan kata-katanya.
"Kau mencuri?" Tuduh Edmund sambil melipat kedua tangan di dadanya. Leona tertawa mendengar kata mencuri dari pria itu.
"Tidak, aku hanya mengambilnya diam-diam, lagi pula Jastin memperbolehkanku mengambil sayuran di kebunnya, hanya ibunya saja yang pelit, lagi pula sayuran-sayuran itu aku dan jastin yang menanamnya."
"Itu sama saja mencuri."
Leona tidak memperdulikannya, dia tetap memakai sepatu bootnya yang di penuhi lumpur dan segera berjalan.
"Hei, dimana letak kebun itu? Aku ikut, lagi pula aku akan sangat bosan sendirian di rumah ini." Edmund berjalan dengan langkah arogannya melewati Alyena. Mereka berdua berjalan memutar dan melewati belakang perumahan penduduk.
"Kau sengaja ya berjalan di jalan becek seperti ini, kenapa kita tidak lewat jalanan seperti tadi?"
__ADS_1
"Kau ingin tahu, kenapa aku tidak mau melewati rumah-rumah tadi? pertama, mereka akan menggosipkanmu, kedua, aku tidak mau ketahuan oleh Nyonya Relif nanti dia memberitahukan ibu jastin kalau aku pergi ke kebun sore ini."
"Kau betul-betul pencuri ya." Tuduh Edmund sambil menyentak keranjang di punggung Leona.
Leona menggigit pipi bagian dalamnya, mencoba berusaha menahan kemarahannya kepada pria yang di tolongnya tadi pagi ini. Sejak tadi pria ini memanggilnya dengan pencuri, Leona sangat sebal mendengarnya.
Mereka berjalan sekitar 10 menit dari rumahnya dan melewati jalanan yang di penuhi sayuran yang sangat subur, Leona lalu segera berlari-lari kecil ketika melihat selada, kubis dan kacang polong yang tumbuh subur.
"Pegang ini, aku akan memetiknya dengan cepat sebelum ibu jastin datang dan meneriakiku pencuri."
"Sepertinya kau di benci oleh ibunya, memangnya kau kekasih Jastin?" Ucap Edmund sambil memperhatikannya memetik dengan lincah sayur-sayuran itu.
Leona memandang Edmund seakan kata-kata yang keluar dari mulutnya sangat kotor. "Kenapa kau bertanya sesuatu yang tidak berguna seperti itu? Aku tidak seidiot itu untuk menjadi kekasih jastin, dia kuanggap seperti kakakku sendiri."
"Oh ya, tetapi sejak tadi dimulutmu hanya keluar nama Jastin, jastin bilang ini dan itu."
"Benarkah? Cih kau tuli ya, telingamu mungkin penuh dengan ubur-ubur, kau pasti salah dengar, sir." Ucap Leona sengaja menggunakan kata sir yang tidak di sukai oleh Edmund.
"Jangan berisik, pegang saja keranjangnya dengan benar, aku harus memetiknya sebelum nenek sihir itu datang." Dengan cekatan dia mengambil sayur-sayuran yang dibutuhkannya. Meskipun jengkel, Edmund tidak bisa membalas gadis ini, dia hanya menatapnya dengan seringai, baru pertama kali seseorang mengatainya dengan tuli dan berkata kasar kepadanya selain neneknya, apalagi memanggilnya dengan sebutan Sir, meskipun dia berusia 34 tahun.
"Apa mereka pemilik kebun?" Bisik Edmund.
"Sst, jangan ribut, kita nanti ketahuan." Ucap Leona dengan berbisik.
"Tch baru kali ini dalam hidupku aku bersembunyi seperti pencuri karena memetik sayuran di kebun orang." Gumam Edmund.
Leona memutar matanya ketika mendengarnya bergumam-gumam, mereka melihat ibu jastin Nyonya Carron di temani putriya Latty Caron, mereka membawa keranjang seperti yang dibawa oleh Leona.
"Sudahlah ibu, dari tadi ibu mengomel saja, kenapa sih ibu sangat membenci Leona." Percakapan mereka membuat Leona memasang kupingnya dalam-dalam, dia tidak menyangka menjadi topik utama pembicaraan mereka.
"Gadis itu, melihatnya saja membuatku marah, kalau bukan penduduk desa yang berbaik hati ingin memeliharanya, dia sudah pasti mati di gulung ombak." Dia mendengus sambil memetik sayuran yang diinginkannya.
"Memangnya itu salah leona? Bukan maunya dia memilih kehidupan menyedihkan seperti itu Mom." Ucap putrinya sambil menggeleng tidak setuju akan kebencian ibunya yang tidak jelas kepada Leona.
"Katanya gadis itu anak yang dibuang oleh bajak laut karena hasil hubungan terlarang di atas lautan, cerita itu ibu mendengarnya langsung dari kepala desa, dan lagi yang paling mengerikan, bajak laut itu menculik seorang gadis dari desa seberang, lalu dia menghamilinya, karena tidak mau memelihara anak sial itu, mereka menaruhnya di tepi pantai dan meninggalkannya di sana, dia gadis tidak jelas bukan? awas saja kalau dia mencoba mendekati Jastin." Ucapnya.
__ADS_1
Leona mendengus dengan marah ketika mendengar cerita tadi, itu sudah cerita ke 1000 kalinya yang terus berulang-ulang yang digosipkan oleh warga tentangnya, dan dia sudah sangat bosan mendengarnya.
"Dasar nenek penyihir, apa tidak ada gosip lain, dia memang bermaksud membenciku, cih siapa yang mendekati Jastin, aku tidak akan pernah bersama anakmu itu meskipun dia pria terakhir di dunia ini." Ucap Leona berbisik dan mengomel. Edmund yang mendengarkan semua cerita itu lalu menatap Leona yang nampaknya tidak berpengaruh banyak kepadanya, meskipun dia marah, gadis ini nampak santai, dia sepertinya telah terbiasa mendengar gosip tentangnya.
"Oh ya satu hal lagi, ada yang melihat gadis itu sedang memapah seorang lelaki ke rumahnya, siapa dia? berani sekali dia mengotori desa kita dengan melakukan hal seperti itu, dia betul-betul gadis tidak tahu malu dan menjijikkan." Ucap wanita itu sambil terus mengomel dan tangannya sibuk mengambil sayurannya.
"Hentikan Mom, setiap kali ibu membicarakan Leona seperti itu, malah ibu yang terdengar mengerikan, Leona gadis yang baik, dia selalu berusaha ramah kepada orang-orang tetapi kalian terus berusaha membencinya dan menyalahkannya."
Putrinya lalu meletakkan keranjang itu di atas batu dan pergi meninggalkan ibunya yang bertolak pinggang melihat anaknya. "Ck ck apa yang gadis itu lakukan sampai latty membelanya seperti itu? racun apa yang di berikannya kepada Latty." Wanita itu membawa keranjangnya, lalu berjalan menjauh dari kebun.
"Percakapan yang menarik." Ucap Edmund, dia lalu memandang Leona yang terlihat memilih-milih sayuran di keranjangnya dan menghempaskan tanah yang masih menempel pada akar sayuran.
"Jadi kau anak dari bajak laut?" Ucap Edmund kepada Leona.
"Aku berharap seperti itu, kalau saja ada kapal yang lewat, hal pertama yang akan aku lakukan adalah pergi dari desa ini, kau lihat sendirikan bagaimana mereka membenciku karena cerita tidak jelas itu, sampai-sampai istri kepala desa juga bercerita seperti itu tentangku." Ucap Leona sambil mengangkat bahunya.
Mereka keluar dari tempat persembunyian, Edmund menatap gadis itu, dia tidak sedih apalagi menangis, dia bahkan mengumpat ketika wanita itu mengatainya.
"Sayuran ini masih belum cukup, cih aku harus memetik selada yang banyak, biar cepat habis, wanita itu sangat suka selada, sebaiknya kupetik semua biar dia tidak bisa makan keesokan harinya."
***
Mereka berdua kembali berjalan menuju ke rumah Leona, tetapi dia singgah di kebun lain mengambil jamur, dan beberapa buah yang tumbuh.
"Apa aku tidak akan sakit perut setelah memakan makanan hasil curian ini?" Gumam Edmund menatap Leona yang sedang memanjat mengambil buah lain di kebun tetangga.
"Aku bilang aku tidak mencuri, aku koq yang menanamnya sendiri, tetapi tentu saja bukan di tanahku, tetapi tanah milik orang lain, bisa dibilang hasil dari tanaman yang kutanam, mereka juga menikmatinya, jadi tidak ada yang kucuri dari tempat ini." Ucap Leona melompat pelan dan mengambil kembali keranjangnya dari Edmund.
Mereka berjalan melewati arah yang lain yang diketahui oleh Alyena, agar orang-orang di desa tidak menggosipkannya.
"Apa kau akan menyembunyikanku dari penduduk desa? bagaimana jika mereka mengarakmu ke desa karena membawa seorang pria tampan kerumahmu?"
Leona menatap Edmund seakan dia idiot, "Aku kan hanya menolongmu, kalau aku tidak melakukannya, hari itu juga kau akan di bawa oleh ombak, lagi pula mereka tidak akan berani melakukannya kepadaku meskipun mereka membenciku." Ucap Leona yakin.
"Kau Lugu atau bodoh? apa yang membuatmu yakin mereka tidak akan berani melakukannya?" Ucap Edmund menggeleng tidak percaya.
__ADS_1
Gadis itu tersenyum dengan seringai dan memperlihatkan wajah liciknya. "Kau mau tahu? Karena aku mengetahui sebagian rahasia penting dan menjijikkan dari setiap orang-orang di desa ini, kau pasti akan muntah jika mendengarnya, tenang saja, jika mereka berani mengusikku, saat itu juga aku akan membuat keributan besar dan keonaran di desa ini, agar mereka malu dengan aib mereka sendiri. Senyum liciknya terbingkai di wajah polosnya, Edmund menelan ludahnya ketika melihat wajah menyeramkan gadis lugu ini.