Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 28


__ADS_3

Laura tidak menyangka Sean Semarah itu, ketika dia tidak menemukannya di rumah setelah dia kembali, tubuh dan hati laura sangat sakit, meskipun dia sekasar itu padanya tetapi Laura masih tetap sangat mencintainya dan tidak ingin berpisah dari Sean, cinta membutakannya, dia pria yang sangat dominan, keras kepala, dan suka mengontrol apalagi mengontrol tubuh dan jiwa laura.


Malam itu sean memeluk laura erat seakan-akan laura akan menghilang darinya dan membisikkan di telinganya kata-kata cintanya pada laura mungkin dia berharap laura tidak akan marah kepadanya karena tindakan kasarnya semalam. Kaki laura masih terasa sakit karena perbuatannya.


"Laura? kau masih tidur sayang?" dia berbisik di telinganya tetapi laura jelas masih marah padanya dan tidak menggubrisnya, biarkan saja dia berbicara terus laura tidak akan menanggapinya, dia tidak berubah selalu seenaknya sendiri.


"Laura kau mendengarku?" bisik Sean lembut . Laura memejamkan matanya rapat-rapat, dia mendengar Sean menghembuskan napasnya keras dan memeluk tubuh Laura erat sampai Sean tertidur.


~


Hari itu udara cukup cerah meskipun tidak lama lagi mendung akan datang, Laura menyandarkan dirinya di kursi taman setelah sarapan pagi dia berjalan-jalan ke taman dan duduk di sana menikmati pemandangan. Tanpa membangunkan Sean Laura masih di sana menikmati udara pagi.


Sean menggeliat di tempat tidur tangannya mencari-cari Laura di sampingnya tetapi dia sendirian di tempat tidur.


"Jam berapa ini?" gumam Sean terduduk lalu masuk ke kamar mandi, setelah menyelesaikan mandinya dia melihat dari jendela Laura yang sedang duduk sendiri di kursi taman sambil menyandarkan kepalanya seperti sedang tidur.


Sean telah berpakaian, lalu menatap sarapan yang sudah di sediakan Laura untuknya, dia melangkah ke taman lalu menghampiri Laura dan duduk di sampingnya.


"Laura?"


Panggil Sean padanya. Laura menutup matanya, sean memegang kening laura.


"Panas". gumamnya. Sean lalu mengangkat tubuh Laura dan masuk kedalam rumah, dia membaringkan Laura di tempat tidur.


"Laura kau mendengarku? Laura.." Ucap Sean mencoba membangunkannya.


Laura membuka matanya yang berat dan mengerling Sean yang terlihat panik di sampingnya. "Sean? kau sudah sarapan?" tanyanya.


Sean mengecup kening Andria. "Tunggulah sebentar Laura aku akan mencari dokter untukmu". Ucap Sean menatap lembut wajah Laura yang tersenyum lemah. Laura mengangguk kepada Sean.


Sean mengecup sekali lagi kening laura dan segera keluar dari kamarnya lalu memakai mantelnya untuk memanggil dokter. Dengan cepat Sean memacu kudanya.


Tubuh Laura terasa panas, napasnya sesak dan dia membenci wangi parfum yang di gunakan oleh Sean. Perutnya bergejolak, dengan lemah Laura berlari di kamar mandi dan muntah-muntah di dalam sana.


"Kenapa sean lama sekali?" gumamnya, kepalanya pusing dan sekali lagi dia muntah, "Ugh kepalaku pusing". Laura bergerak dengan perlahan dan kembali berbaring di tempat tidurnya.


~

__ADS_1


"Dia sedang hamil sir." Kata dokter itu sambil tersenyum cerah.


"Selamat sebentar lagi Anda akan menjadi seorang ayah." Sean hanya ternganga mendengarnya.


"I..iya terima kasih dokter." Dia lalu mengantarnya sampai ke depan rumah, dia kembali kepada Laura, tiba-tiba saja tangannya bergetar dan memandang Laura lalu mengecup bibirnya lembut. Dia perlahan memegang perut Laura.


"Anakku? sebentar lagi aku akan menjadi ayah?" itu hal teraneh yang pernah di dengarnya.


Laura membuka matanya yang terasa berat, tubuhnya pun berat, "Sean?" gumamnya.


"Apa yang terjadi Sean?" tanya Laura pada Sean Yang terlihat sedikit pucat ketika menatapnya.


"Kau harus menjaga tubuhmu sayang." Dia lalu mengecup perut Laura.


"Karena Sebentar lagi kau akan menjadi ibu dari anakku." ucap sean dengan tersenyum.


Wajah Laura yang pucat begitu terkejut bibirnya sampai bergetar mendengar kata-kata Sean.


"Benar..benarkah Sean?" ucap Laura.


Sean mengangguk, dia mengecup bibir Laura dan memeluknya, "Kau milikku laura", bisiknya.


~


Dia menggoyang-goyangkan pagar hitam di kediaman Sean lalu berteriak-teriak di depan rumahnya.


Sean yang melihat itu dengan cepat menghampiri rembo, sebelum dia berkata-kata, rembo mengatakannya dengan suaranya yang parau.


"Hilang kapten! semuanya telah diambil, barang-barang kita hilang dan kapal kita hancur tidak tersisa." Sean begitu terkejut, dia berlari menuju ke arah kapalnya, setelah sampai di sana semuanya telah hilang dan hancur begitu saja, selama bertahun-tahun dia menjadi perompak dan berakhir dengan kehilangan.


"Bagaimana bisa rembo? APA YANG KALIAN LAKUKAN? KENAPA KALIAN TIDAK BERJAGA?"


Suara sean membuat rembo tertunduk, dia mengelilingi puing-puing kayu yang berserakan di tanah, semua peti-petinya yang berisi perhiasan dari berbagai negara telah lenyap semuanya.


Sean menggenggam rambutnya keras, lalu berlutut menatap semuanya, satu persatu awak kapalnya datang melihat kapal mereka yang rata di tanah.


"Semua.. semuanya hilang begitu saja, cari ! cari dan pastikan kalian menemukan orang yang melakukan semua ini, CARI !" Bentak Sean. Dia lalu mengingat semua dokumen penting tentang keluarganya juga turut menghilang, benda pusaka keluarganya telah lenyap, membuat Sean seperti gila, dia membongkar puing-puing kapal, dan mencarinya tapi tentu saja hasilnya nihil.

__ADS_1


Albert berjalan mendekati Sean, "Ini hanya perkiraanku kapten, di kota ini hanya ada satu bangsawan yang berani berbuat seperti ini, dia.. sepertinya telah mengintai kita sejak kita tiba di kota ini", Jelas Albert.


"Apa maksudmu?" ucap Sean berbalik dengan wajahnya yang memerah.


"Edmund Alexander." Ucapnya kepada Sean. "Sepertinya ini ulahnya, apakah anda mengenal pria bangsawan itu?" tanya Al.


Sean mengernyitkan alisnya, "Aku tidak perduli siapa pria itu, bawa aku kepadanya." ucap sean.


~


Malam itu sean tidak kembali ke rumah, padahal Laura baru saja menyiapkan makan malam untuknya, dia menunggunya hingga tertidur di meja makan.


Suara gedoran pintu membuat Laura terperanjat, dia mengucek matanya yang berat lalu mendengar suara Sean yang berteriak-teriak di depan pintu rumahnya. Laura segera membukanya.


"Sean? apa yang....Kau mabuk?!" teriak Laura yang melihat Sean terduduk di teras sambil membenturkan kepalanya ke pintu. Laura memapahnya masuk kedalam rumahnya dan membaringkannya di atas sofa.


"Sean? ada apa..mengapa kau seperti ini?" tanya Laura menatap aneh kepada Sean yang mulai berteriak-teriak tidak jelas.


"Maafkan...maafkan aku Lauraku, aku tidak sanggup....". Suaranya tercekat dan berhenti dia lalu memejamkan matanya.


"Aku...mungkin bukan pria dan ayah yang baik jadi maafkan aku, aku tidak bisa kehilangan semuanya." Dia kembali cegukan.


"Apa yang kau katakan Sean?" ucap Laura. tetapi Sean sudah tertidur pulas sambil sesekali mengigau. Laura mengambil selimut dan menutupi tubuh Sean di atas sofa, dia tidak sanggup membawa tubuh Sean ke tempat tidur karena tubuhnya dua kali lebih besar dari Laura.


"Apa yang membuatmu seperti ini Sean?" bisik Laura di sampingnya.


Sean mengernyitkan alisnya menyembunyikan wajahnya, setetes air matanya jatuh di pipinya, dia tahu hal yang dilakukannya tidak akan pernah di maafkan oleh Laura.


~


"Apakah kau yakin dengan kata-katamu?" tanya tuan Windsor.


"ya sir, gadis itu bernama Laura Scarlett Johansson, dia memiliki mata tosca yang terang, sama halnya dengan mendiang ibu nyonya Scarlett." ucapnya.


"Dimana dia?" tanyanya.


"Bawa dia segera di hadapanku, aku harus memastikan kalau dia betul-betul cucuku." ucapnya.

__ADS_1


"Baik sir."


Malam itu begitu dingin hingga dinginnya menusuk ke tulang, Laura menatap Sean dan tidak tega membiarkan Sean tidur di sofa, dengan sekuat tenaga Laura membawa Sean ke tempat tidur agar dia merasa nyaman dan tubuhnya tidak sakit ketika dia terbangun nanti, Laura akhirnya menguap menahan kantuknya, dia memeluk Sean sambil tertidur di sampingnya.


__ADS_2