Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 58


__ADS_3

Leona melepaskan tangan Edmund, dengan berani dia menghadapi singa-singa betina yang ada di hadapannya tanpa rasa takut. Dia memegang pinggangnya dan maju ke depan mereka.


"Mengganggu tunangan? kalian bercanda kan? Oh, aku sudah mendengar kalau kau yang ditunangkan dengan kak Jastin, seharusnya dia berpikir ulang untuk bertunangan dengan wanita licik dan licin sepertimu." Ucapan Leona membuat semua wanita-wanita di sana menganga, melihat kekurangajaran gadis ini.


Perempuan itu terlihat sangat geram, karena tidak ada seorangpun yang pernah mengatakan ucapan kasar langsung di hadapannya, mereka selalu memujinya, tentu saja karena dia adalah putri dari kepala desa, dia tidak tahu saja kalau wanita-wanita inipun sering menceritakan kejelekannya di belakang.


Wanita itu tidak bicara apapun, dia hanya menggeram dan berbalik pulang sambil menghentakkan kakinya.


"Aku tidak akan heran kalau wanita itu sebentar lagi akan mengganggumu Ed, dia tidak suka jika orang lain memiliki sesuatu yang lebih baik dari miliknya. Tentu saja aku tahu dengan baik sifatnya yang licik dan licin itu." Ucapnya.


"Benar juga, dia memang seperti itu, sangat lihai dalam memprovokasi orang-orang." Ucap salah seorang wanita.


"Dan kalian dengan mudahnya termakan dengan omongannya, bagaimana bisa aku bersama Jastin, kami tumbuh bersama, aku menganggapnya seperti kakakku sendiri dan kalian tidak lihat bagaimana ibunya? kalian pasti tahu bagaimana mengerikannya nyonya Caron, Tch." Ucap Leona berapi-api.


Wanita-wanita itu mulai bergosip dan membenarkan ucapan Leona. "Ini semua hanya salah paham saja, Leona. Kami kira kau megganggu Jastin, mengertilah kami sangat membenci wanita yang merebut kekasih apalagi suami orang lain." Ucap seorang wanita, sambil mengarahkan yang lainnya untuk bubar.


"Tunggu dulu, bagaimana dengan cakaran dan cubitan kalian di tubuhku, kalian tidak pernah potong kuku ya, kalian kira luka ini tidak sakit dan akan sembuh begitu saja?" Ucap Leona dengan marah.


"Tenanglah Leona kami akan mengirimimu obat dan sayuran, kami pergi dulu." Mereka akhirnya pergi sambil berceloteh ramai.


"Sialan, sayur-sayurku berjatuhan di pasar, aku rugi besar hari ini." Ucap Leona. Edmund menatapnya dengan marah, dia lalu menarik lengan Leona.


"Apa hanya sayuran yang ada di kepalamu? kau harus mengobati luka-lukamu." Edmund membawanya dan menyuruhnya duduk di kursi, dia lalu mengambil kotak obat di dalam lemari yang selalu di sediakan Leona karena dia sering terluka ketika pergi ke laut.


Edmund duduk di sampingnya, dan membuka kotak obat itu, dia mengambil kapas dan menuang obat merah ke kapas yang di pegangnya dan menempelkan ke luka-luka yang ada di lengan Leona.


"Tunggu saja kalau mereka tidak membawakanku sayuran, aku akan menyebarkan rahasia mereka semua."


"Diam, jangan bicara dulu, aku tidak bisa konsentrasi kalau kau bergerak-gerak." Leona menatapnya, dia lalu tertawa.


"Kau perhatian juga, sir." Ucapnya. Edmund tidak mempedulikan ucapan Leona, dia hanya terus mengobati luka-lukanya dan meniupnya.


"Bagaimana dengan wajahmu, apa ada yang luka?" tanyanya, dia memegang dagunya dan memperhatikannya ke samping kiri dan kanan. "Untung tidak ada, wajah itu sangat penting, jangan sampai terluka." Ucap Edmund sambil menutup kembali botol obat itu.


"Jangan melihatku seperti itu, nanti kau jatuh cinta, dan kau bukanlah tipe wanitaku." Ucap Edmund sambil menyeringai.


"Otaknya memang harus di perbaiki." gumam Leona sambil menggelengkan kepalanya.


"Hari ini biar aku yang masak, kau istirahat saja, kau pasti lelah sehabis berduel dengan singa-singa betina tadi."

__ADS_1


"Memangnya kau bisa masak ya." Ucap Leona mencibirkan bibirnya dan meragukannya.


"Kau belum tahu saja, aku bisa berbagai hal, meskipun aku tuan muda di keluargaku, setidaknya aku bisa membuat makanan, semua bisa kulakukan." Ucapnya.


"Istirahat saja dulu, jika kau sakit, siapa yang akan mencuci baju-bajuku?" Dia menarik tangan Leona dan menyuruhnya masuk, lalu berbaring di tempat tidurnya.


"Aku akan membangunkanmu, kalau makanannya sudah masak." Leona mengangguk menurut, dia menutup matanya dan sebentar saja, dia telah terlelap.


"Cepat sekali." Ucap Edmund ketika berbalik dan menatapnya.


Dari halaman luar, Jastin melihat segalanya, dia mengepalkan tangannya dengan marah hingga buku-buku jarinya menonjol keluar, padahal dia sudah berlari-lari dari bukit karena mendengar kabar bahwa Leona di serang oleh wanita-wanita mengerikan di pasar dan itu semua ulah tunangannya yang selalu cemburuan, Sarah Marshmille selalu membenci Leona, sejak kecil dia begitu membencinya, karena sejak kecil pula Jastin hanya perhatian kepadanya di bandingkan dengan dirinya, untuk itu Sarah meminta kepada orang tuanya agar di tunangkan dengannya. Tentu saja berita itu membuat Nyonya Caron senang, dia menjodohkan putranya begitu saja tanpa meminta pendapat dari Jastin. Dia selalu menyinggung mengenai balas budi telah membesarkannya dan akan menyakiti Leona jika Jastin menolak keinginan ibunya.


Hari itu Jastin berjalan dengan lunglai, dia tidak memperhatikan jalannya, matanya tidak fokus dan seketika matanya bersibobrok dengan Sarah Marshmille yang sedang berjalan dengan teman-temannya.


"Kau kenapa? kau dari mana saja?" Ucap Sarah memperhatikan Jastin nampak tidak bersemangat.


Dengan mengerutkan alis, dia tidak memperdulikan sarah dan berjalan tanpa menghiraukannya. Sarah melirik ke teman-temannya, dia lalu berbalik dan memberikan isyarat kepada mereka agar menunggu.


"Jastin, bagaimana bisa kau bersikap seperti itu? aku ini tunanganmu, kau tidak bisa memperlakukanku seperti ini di depan teman-temanku." Ucapnya dengan suara mendesis.


Jastin melihatnya seakan dia gila. "Apa aku yang menyuruhmu untuk bertunangan denganku? bukannya kau yang memaksakan dirimu dan memaksa ibumu agar kita bertunangan, jadi itu urusanmu, aku tidak pernah mengakui pertunangan egoismu ini." Ucap Jastin tanpa mengecilkan suaranya, dia lalu melepaskan dengan paksa pegangan tangan sarah di lengannya.


Tanpa dia sangka tamparan datang dari arah samping dan mendarat di pipi sarah. Mereka teman-teman sarah yang berdiri tidak jauh darinya begitu terkejut, ketika melihat Katty menampar calon kakak iparnya.


"Wanita sepertimu tidak pantas bersama kak Jastin, beraninya kau memperlakukan Leona seperti kemarin, aku tidak bisa membayangkan wanita culas sepertimu menjadi kakak iparku, belum menikah saja aku seperti ingin muntah. Ayo kak Jastin, tinggalkan dia." Ucap Latty.


Wanita itu memegang pipinya, dia menggeram dan menghentakkan kakinya di tanah, dia berteriak tertahan, setelah dirinya tenang dia kembali kepada teman-temannya yang membisikinya, dan mulai meragukan hubungan mesranya dengan Jastin, dia selalu menceritakan kepada mereka semua dengan berlebihan.


"Ini semua gara-gara gadis liar itu, keributan kemarin belum apa-apa Leona, aku akan membuatmu patah hati, tunanganmu itu tampan sekali, sesuatu yang bagus harus kembali kepada pemilik yang bagus juga, sementara dirimu hanya gadis miskin tidak berguna." Dia kemudian menarik napas setelah membuat rencana.


"Kau tidak apa-apa? kulihat kau bergumam-gumam di belakang sana." Ucap salah satu temannya yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya.


"Aku baik-baik saja, ayo jalan."


***


Langit yang mulai menggelap membuat Leona terbangun, seketika Leona mendengarkan suara-suara dari luar rumahnya, suara seorang wanita. Dia mengerjapkan matanya dan mencoba berdiri.


"Tch, dia tidak membangunkanku, aku sampai tidak makan siang." Ucap Leona sambil membuka-buka makanan di atas meja dengan penerangan dari lampu minyak. Leona segera berjalan perlahan mencari asal suara.

__ADS_1


"Bukankah suara ini mirip dengan suara wanita itu? si Sarah Marshmille? kenapa dia ada di depan rumahku?" Leona mengintip dari balik jendela. Dia melihat wanita itu sedang bersandar di dinding kayu dan sengaja memperlihatkan leher dan dadanya kepada Edmund. Leona mendekatkan telinganya, dia mau mendengarkan perbincangan mereka.


"Aku datang kemari ingin membawakan obat dan beberapa makanan di dalam keranjang sebagai permintaan maafku untuk Leona, aku tidak bermaksud menyakitinya." Ucapnya, dia tersenyum kepada Edmund seakan memberikan isyarat kepadanya.


Edmund hanya bersedekap, dia dulunya adalah pria yang akan menerima siapa saja wanita yang dengan rela memberikan tubuhnya kepada Edmund, dengan tangan terbuka dia akan menikmatinya, tetapi entah mengapa dirinya yang dulu telah hilang, entah karena dia bertemu dengan Laura atau karena dia sekarang tinggal bersama Leona, gairahnya seakan menurun, dan jika ada perempuan yang mencoba merayunya, dia hanya akan mengernyit dan merasakan sesuatu yang gatal seperti kutu yang mencoba menyebar di tubuhnya dan segera ingin dibasminya.


"Kau bisa menitipkan kepadaku, karena dia masih tidur." Ucap Edmund.


"Boleh aku tahu? aku mendengar kau dan Leona sangat intim, sampai ada rumor yang mengatakan kalian selalu bercinta di atas kapal karam itu, aku memang tunangan dengan Jastin, tetapi dia tidak pernah melakukan itu kepadaku, aku hanya ingin merasakan pengalaman indah bercinta di bawah sinar bulan." Ucapnya sambil memberikan isyarat kepada Edmund.


"Kau tahu yang kurasakan saat ini?" Ucap Edmund.


"Apa?" Ucapnya sambil melangkah mendekat ke arah Edmund, dia menjilat telunjuknya menatap Edmund dengan memperlihatkan wajah sensualnya.


"Euh." Gumam Leona menampilkan wajah ingin muntah.


"Kau seperti J4lang yang biasa kulihat selama aku berlayar di kapal, kau tahu? selama berada di atas kapal, aku sudah melihat ratusan wanita yang sama sepertimu, rela memberikan tubuhnya, dan wanita seperti itu tidak menarik lagi buatku, yang tertinggal hanyalah perasaan jijik ketika menatap wanita seperti itu." Ucap Edmund dengan dingin.


Wanita itu tiba-tiba membeku di tempat, wajahnya seakan telah di tampar, dia sangat tersinggung, tidak ada lelaki di pulau ini yang pernah menolak pesonanya kecuali Jastin.


"Harusnya kau hati-hati dengan ucapanmu, kau tahu siapa aku? aku bisa saja menyuruh ayahku untuk memeriksa asal usulmu dan kau akan di tahan di penjara desa kami, karena datang ke pulau kami dengan ilegal, aku akan kooperatif jika kau tahu apa yang terbaik untukmu." Ucapnya sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi.


Leona ingin sekali menampar nenek sihir itu. Tetapi apa yang dilakukan Edmund membuatnya ternganga, dan sedikit ngeri. Edmund menarik rahang wanita itu hingga dia mengerang kesakitan, wajahnya di tarik paksa sehingga kakinya ikut berjinjit.


"Tidak ada seorangpun yang pernah mengancamku, apalagi wanita rendahan sepertimu, jika kau berani menginjakkan kakimu ke rumah ini, lihat saja bagaimana nantinya kau dan keluargamu akan berakhir, kau paham." Ucap Edmund, dia melepaskan rahang wanita itu sambil mendorongnya keras. Wanita itu sangat terkejut, tubuhnya gemetaran dan ketakutan. Dia tidak bicara apa-apa lagi, wanita itu berjalan dan hampir jatuh karena kakinya masih gemetaran.


Leona segera berlari-lari dan kembali ke tempat tidurnya dan berpura-pura tertidur, dia membelakangi Edmund.


"Berhenti berpura-pura, aku tahu kau tidak tidur, Leona." Ucap Edmund lalu duduk di tepi tempat tidurnya sendiri.


"Kau menguping ya?" Tanyanya.


"A-apa? tidak, aku tidak menguping." Ucap Leona gelagapan.


"Kau sama sekali tidak pandai berbohong, sudahlah, segera makan dan tidur, aku lelah harus mendengar omongan wanita tadi."


"Mm, oke." Leona berbalik dan mengintipnya, dia sudah berbaring dan hanya memperlihatkan punggungnya saja.


"Tch, dia mengerikan juga kalau sedang marah." Gumam Leona ketika mulai menggigit roti isi yang dibuatkan Edmund untuknya. Edmund yang mendengarkannya hanya tersenyum sambil menutup matanya.

__ADS_1


__ADS_2