Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 17


__ADS_3

Ruangan itu berantakan, semuanya berserakan begitu saja di lantai kamarnya.


Wanita itu berteriak keras memohon untuk berhenti dan memberikannya waktu untuk beristirahat tapi edmund masih terus melanjutkan aksinya, hingga wanita itu teriak keras ketika menemukan pelepasannya.


"Sial ! teriak Edmund berdiri begitu saja lalu mengambil handuk kecil dan merekatkan dipinggulnya, "Keluar sekarang !" bentaknya pada wanita itu.


Wanita itu terburu-buru mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dengan menahan perih diantara kakinya, dia lalu keluar dari kamar yang dipesan oleh Edmund di salah satu kapal.


"Brengsek, mengapa wajah wanita itu selalu berada di pikiranku, yang aku inginkan hanya dia, Laura ! Seberapa banyaknya aku bersama wanita-wanita itu tetap yang masih kuinginkan hanya Laura, Sial !" Teriak Edmund.


~


Dinginnya lautan tidak dipedulikannya, tubuhnya terasa tertusuk pisau yang tajam ketika tubuhnya terkena deburan ombak dilautan, mengapa aku seperti ini? begitu mudahnya aku ingin menghilangkan nyawaku, Ayah ibu maafkan aku.


Seberkas cahaya seperti menariknya dipermukaan tangan panjang meraih tubuhnya hingga mencapai daratan, dengan susah payah dia mengeluarkan air laut dari mulut Laura hingga akhirnya Laura terbatuk lemah, dia menatap Sean yang basah dengan rambutnya yang panjang berantakan, meskipun begitu dia terlihat sangat tampan.


Laura merasa tubuhnya melayang-layang, meskipun dia masih belum sepenuhnya sadarkan diri, Laura tahu dia berada di dalam kamar yang hangat, seseorang melepaskan bajunya dan mengganti pakaiannya dengan hanya memakaikan kemeja.


"Kau betul-betul merepotkan Laura." Gumam Sean menatap Laura yang masih menutup matanya, dia memegang tubuh Laura yang kedinginan, kemudian dia mengambil selimut lalu tidur disampingnya sambil memeluk Laura dengan erat berharap suhu tubuhnya kembali normal.


Suara lautan terasa tajam terdengar di telinga Laura, dia membuka matanya dengan perlahan, menatap langit-langit kamar, lalu menemukan hembusan napas teratur yang memeluknya, dia menatap sean, pria ini lagi yang menolongnya, kenapa dia tidak membiarkan aku saja, Laura ingin melepaskan dekapan sean hingga membuatnya terbangun.


"Kau sudah sadar? tangannya yang hangat menyentuh kening Laura.


"Sepertinya kau sedikit demam." Dia lalu duduk dan menatap laura tajam.


"Jangan melakukan itu lagi Laura, atau aku tidak akan menolongmu dan membiarkanmu dibawa oleh ombak."


Laura menitikkan air matanya, "Kalau begitu mengapa kau tidak membiarkan aku saja? kenapa kau menolongku." teriak Laura pada Sean.


Rahangnya terkatup rapat, dia lalu menarik Laura ke dek utama dan menggendongnya dengan kasar, Laura yang begitu lemah tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


"Kau ingin mati? aku akan mengabulkan keinginanmu Laura." Gumam sean. Laura meronta-ronta, tubuhnya hanya berbalut kemeja putih sehingga angin dingin langsung saja membuat tubuh Laura menggigil.


"Lepaskan aku perompak ! teriak Laura sambil menangis.


"Lihat baik-baik ombak dibawah, ketika kau terjatuh tubuhmu akan seperti tertusuk-tusuk ribuan pisau dan kau akan mati dengan mudah." Dia mendorong tubuh Laura tetapi masih begitu erat memegang pinggangnya.


"Kau masih ingin mati? teriak Sean padanya. Wajah gusar dan khawatir terpampang diwajahnya.


Laura hanya menangis, seketika Sean menarik kembali tubuhnya dan memeluknya begitu erat, "Kau milikku Laura, aku tidak akan mengizinkanmu berbuat semaumu, tubuhmu bahkan jiwamu semuanya milikku, kau mengerti." Laura hanya terisak didadanya.


"Aku tahu apa yang kau harapkan dariku", bisik Sean, "perompak tidak mengenal cinta Laura, dan aku tidak bisa memberikanmu kebahagiaan seperti seorang kekasih yang ada didalam novelmu."


Laura mendorong tubuhnya ingin melepaskan diri darinya, dia tidak mau mendengarnya lagi. Sean memeluknya erat meskipun Laura mendorongnya sekuat tenaga.


"Tapi, kau harus tahu! Jika aku tidak melihatmu aku bisa gila Laura, jadi jangan pernah menyakiti dirimu sendiri." bisik Sean di telinganya, membuat Laura terdiam dari isakannya.


Apakah aku mencintai perompak ini? pikir laura, dia begitu sakit hati dengan kata-katanya, tetapi hatinya kini terasa ringan seketika mendengar ucapan Sean.


Dia membaringkannya di atas tempat tidurnya, Sean melihat tubuh Laura yang hanya mengenakan kemeja putihnya, dia mengambil selimut menutupinya, Sean hendak pergi meninggalkan Laura agar beristirahat.


lengan bajunya ditarik lembut oleh Laura, "Jangan tinggalkan aku Sean." Bisik Laura, Sean berbalik dan menatap tangan Laura yang memegang lengan bajunya.


Tanpa menunggu lagi Sean mencium bibir Laura dan menjulang di atas tubuh Laura, mereka saling memandang dan mengetahui jika Laura menginginkannya juga, mereka saling berpelukan, sekali tarikan dari sean pakaian Laura terlepas begitu saja, dia menggeram, Sean melahap bibir Laura dan menciumnya hingga bibirnya begitu bengkak.


Sekali hentakan, Sean sudah berada di dalam diri Laura, desahan hebat keluar dari bibir Laura hingga tubuhnya bergetar, Sean bergerak-gerak liar membuat Laura memekik terkejut, Sean begitu intens, dia memperlakukan tubuh Laura dengan posisi-posisi aneh hingga tidak berapa lama kemudian Laura menemukan beberapa kali pelepasannya yang begitu hebat, Setelah percintaan yang begitu panjang Sean akhirnya melepaskan diri dari tubuh laura.


Mereka saling menatap, Sean memeluk tubuh laura. "Tidurlah Laura, jika tidak aku tidak akan menahan-nahan diriku dan menyerangmu lagi".


Laura berjengit, dia mungkin saja akan pingsan atau tubuhnya akan remuk jika Sean melanjutkan aksinya di tubuhnya lagi. Laura menutup matanya, mengetahui jika Sean tersenyum menatapnya.


~

__ADS_1


Udara pagi menyapa di kediaman seorang Duke bernama Kent Windsor, gelar tertinggi dari lima tingkat gelar dalam kebangsawanan Inggris. 


Kediaman itu disebut house the right Britain, nama yang di sematkan oleh Dukes sebelumnya yaitu tuan Windsor yang merupakan saudara kandung dari Empress sekarang ini, meskipun dia sudah tua, dia mampu mengatur dan menentukan segalanya, termasuk dalam pemerintahan diparlemen.


Dia mengetukkan tongkatnya dan berjalan menatap jendela kaca besar yang terpampang luas dihadapannya. "Dimana George? aku tidak melihatnya pagi ini." Katanya tanpa memandang seseorang yang berdiri dibelakangnya yang selalu menemaninya.


"Tuan George bersama dengan nyonya Scarlett di taman." Suaranya datar seperti biasa ketika memberi laporan. Dia lalu menerawangi taman dan tersenyum.


"Dia pria bodoh meskipun dia anakku sendiri, mendengarkan wanita sekarat dan mengikuti kemauannya, sekarang dia menyadari kesalahan yang diperbuatnya, istrinya menjadi seperti itu gara-gara takhayul bodoh yang dipercayainya."


Dia kemudian menggeleng, hembusan berat dari napasnya membuatnya terduduk. "Aku tidak perduli, cari dan temukan anak itu !" Perintahnya.


"Baik tuan."


~


Pagi yang sejuk menyambut Edmund yang berdiri disisi kapal, dia tidak bisa tertidur pertunangan konyolnya sebentar lagi akan di selenggarakan dengan besar-besaran di kediamannya di Britania raya. Dia tertawa pelan mengejek kebodohannya sendiri karena mengikuti kemauan neneknya.


"Aku akan mengacaukan segalanya". Bisiknya tajam, dan gadis itu.....aku harus melakukan sesuatu terhadapnya."


Laura sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur lori, Sean mengizinkannya pergi untuk mengucapkan kata perpisahan kepadanya karena kapal milik Sean sudah dalam kondisi yang baik setelah badai menerjangnya.


Roti gandum dan keju dilengkapi daging iris serta teko teh sudah siap di atas meja makan, suara lonceng dari depan membuat Laura berbalik dan betapa terkejutnya Laura pria itu sudah berdiri dibelakangnya memperhatikannya intens, Laura mundur hingga tubuhnya terjatuh di antara kursi-kursi.


"Apa yang kau lakukan di sini!" cicit Laura terperangkap di manik mata Edmund, sudut mulutnya terangkat, dia berjalan gesit dan menarik tangan Laura hingga berdiri di hadapannya.


Dia kemudian memegang wajah Laura dengan kedua tangannya seketika mencium bibir Laura dengan lembut mendambanya. Cukup lama Edmund mencium Laura, suara kecupan terdengar menggema didapur sempit itu, dia akhirnya melepaskan ciumannya, mengamati wajah Laura kemudian menyapu bibir Laura dengan jempolnya.


"Hari ini aku akan kembali ke Inggris." Gumam Edmund, Laura masih terperangkap di manik mata Edmund yang dalam tanpa berbicara sedikitpun.


"Ini semua kesalahanmu laura karena aku bertemu denganmu." Dia lalu melengkungkan bibirnya masih menatapnya dengan penuh makna dari balik tatapannya.

__ADS_1


"Selamat tinggal Laura, berharaplah kita tidak akan bertemu lagi, karena jika aku menemukanmu, bagaimanapun caranya aku akan memilikimu." Dia tersenyum lalu berbalik kemudian dia pergi begitu saja meninggalkan Laura yang masih berdiri mematung menatap kepergiannya.


__ADS_2