Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 44


__ADS_3

Malam itu begitu ramai dengan kehadiran sanak keluarga Tuan Windsor dengan gaun-gaun indah dan jas-jas yang melekat pada tubuh mereka.


Keluarga tuan Windsor berkumpul di ruangan besar yang telah di tata semenarik pesta pada umumnya yang biasanya di gelar pada pesta-pesta keluarga kerajaan. Setelah tamu berkumpul di ball room, tibalah nyonya Scarlett dan George suaminya, mereka di sambut oleh orang-orang yang hadir di sana, Kemudian Sean, Laura dan max yang berjalan di belakang mereka. Semua mata menatap kehadiran mereka.


Jon bersiul ketika melihat wajah Laura. "Sekarang aku tidak heran mengapa kau dan Sean memperebutkan wanita itu, harus kuakui dia begitu sangat cantik dan mempesona." ucap Jon.


Rianna yang melihatnya menatap tidak suka dengan Edmund dan Jon karena pembicaraan yang di dengarnya, dia melepaskan tangan Jon lalu mendengus sambil menyilangkan kedua tangannya di tubuhnya. "Hmph, cantik?" ucap Rianna sambil menggeleng.


Laura dan Sean bercakap-cakap dengan kerabat tuan Windsor, kemudian dua orang melangkah menuju kepada mereka.


Senyum merekah di wajah Jon Walter melihat wajah Sean yang membeku dan rahang yang mengeras ketika dengan berani Jon mendekati mereka berdua.


"Lama tidak berjumpa Sean, sudah begitu lama, iya kan? dan wanita cantik ini pastilah Laura Windsor, senang berjumpa dengan anda." Dia ingin menjabat tangan Laura dan mengecup tangannya, tapi Sean menahan tangan Laura agar tidak berjabat tangan dengan Jon.


"Tentu aku tidak lupa siapa kau Jon? bagaimanapun pencuri tetaplah pencuri, wajahmu itu selalu kuingat." ucap Sean menaikkan satu alisnya.


Jon menyeringai mendengar ucapan Sean kepadanya.


"Sean, bagaimana kabarmu? kau tentu masih mengingatku bukan? aku rianna, kau tentu masih mengingat kenangan kita bersama." ucap Rianna sambil mengerling Laura berharap kata-katanya membawa kecemasan dan kecemburuan di wajah Laura.


Sean menatapnya dengan wajah datar. "Tentu saja aku mengingat orang-orang yang membuat keluargaku hancur, tetapi sayang sekali aku hanya mengingatmu sebagai wanita jalang yang membantu pencuri ini merebut harta milik ayahku." Ucap Sean tanpa ragu dengan suara keras pula. Beberapa orang yang mendengarnya berbalik dengan ucapan Sean.


Wajah Jon Walter dan Rianna begitu terkejut dengan serangan Sean, tanpa berbasa basi dia mengungkapkan kata-katanya dan tidak memperdulikan pandangan orang-orang. Tentu saja Sean sudah lama menunggu hari dimana kehancuran Keluarga Jon Walter.


"Ck, Sebagai seorang bangsawan seharusnya kau mempertimbangkan setiap ucapanmu apalagi di pesta yang di selenggarakan oleh tuan windsor." ucap Jon dengan wajah merah.


"Bangsawan? jangan membuatku tertawa, pencuri tetaplah pencuri sebagus apapun pakaian yang kau kenakan jika saja aku memegang pedang di tanganku sudah sejak tadi aku akan menghabisimu." Ucap Sean dengan wajah datar tanpa basa basi.


Laura memegang erat tangan Sean, agar tidak terprovokasi dengan pria bernama jon ini.


"Ck, Sepertinya kami harus pergi, kita akan bertemu lagi Sean." ucap Jon.


"Tentu Jon, tapi sebaiknya kau harus memegang erat-erat kepalamu jika kau bertemu denganku." Sean menatapnya dengan smirk di wajahnya, terlihat jelas perubahan Sean di mata Jon. Ucapannya tidak main-main, wajah ketakutan Rianna seketika membuat dirinya ingin bergegas keluar dari tempat ini, dia tidak menyangka Sean juga akan membencinya karena kehancuran Keluarga Hoult.


"Semua baik-baik saja Laura?" tanya tuan windsor yang menghampiri mereka dan tentu saja sejak tadi dia memperhatikan dari jauh pertemuan Sean dengan Jon Walter.

__ADS_1


"Yeah grandpa, Semua baik-baik saja, ayahku hanya memberi pelajaran kepada mereka si pencuri." ucap max yang mendengar semua pembicaraan ayahnya dengan Jon Walter.


"Benarkah max? Kuharap semua baik-baik saja Laura."


Pesta itu semeriah yang di harapkan oleh tuan Kent Windsor, dan beberapa pidato darinya kepada orang-orang yang hadir di sana.


"Maukah kau berdansa denganku?" Ucap Sean menjulurkan tangannya di hadapan Laura sambil sedikit membungkukkan tubuhnya. Laura tersenyum senang meskipun dia malu karena semua mata menatap kepada mereka.


"Sean? Aku tidak tahu berdansa." Bisik Laura di tengkuk Sean ketika Sean mengambil tangan Laura lalu menarik pinggangnya menuju lantai dansa.


"Jangan khawatir sayang, kau hanya perlu mengikutiku." Bisik Sean mengecup pipi Laura dan mereka mulai berdansa dengan alunan musik yang lembut mengiringi mereka.


"Kau cantik dan selalu membuatku jatuh cinta kepadamu." Ucap Sean.


"Benarkah? Laura tersipu dengan ucapan Sean. "Dan kau menarik." Bisik Laura sambil tersenyum.


"Hanya menarik?" Bisik Sean.


"Oke, dan tampan." Ucap Laura menyandarkan kepalanya di dada Sean.


Sorot mata tajamnya seakan ingin membunuh Sean, Edmund berdiri di pojok yang sedikit gelap sambil menyesap minumannya, dia menatap murka wajah bahagia Sean dan Laura.


"Aku berjanji Laura, aku selalu bersamamu." Ucap Sean.


Sesuatu menghalangi kaki Sean dan Laura untuk bergerak, Sean menatap kakinya, di sana telah bergelayut max yang memeluk kaki Sean dengan wajah cemberut.


"Aku juga ingin berdansa dad, mommy?" Ucap max sambil merajuk.


Laura tertawa begitupun tamu-tamu yang melihat max yang mulai memanjat ke tubuh Sean.


"Nanti kau jatuh max." Sean mengambil max dari kakinya dan mulai menggendongnya, max memeluk ibunya, mereka bertiga berdansa sambil tertawa-tawa dengan ocehan lucu max.


Tuan Windsor, ibu dan ayahnya menatap bahagia mereka bertiga. Wajah tuan Kent Windsor teralihkan dengan seseorang yang berdiri di sudut di dalam kegelapan.


"Edmund?" Ucapnya.

__ADS_1


Edmund menyimpan gelas minumannya dan meninggalkan tempat itu, suasana hatinya begitu buruk, dia naik ke atas kereta menuju kediaman Jon walter, dia sudah tidak sabar ingin melaksanakan rencananya dan menghancurkan kebahagiaan di wajah Sean.


~


Sebuah ketukan terdengar dari ruangan tuan Windsor.


"Masuk." Ucapnya.


"Tuan windsor, apa yang ingin anda bicarakan." Ucap salah satu pria yang merupakan kepercayaan tuan Windsor ini.


"Aku ingin kau menyelidiki seseorang."


"Siapa orang itu tuan." Tanyanya.


"Namanya Edmund Alexander, dia keponakanku sendiri, aku ingin kau menyelidiki apa yang tengah di lakukannya selama ini dan dengan siapa dia bertemu dan apa saja yang di rencanakannya." Ucap tuan windsor.


Wajah pria itu sedikit terkejut tetapi dia tidak bertanya lebih dalam lagi kepada tuan Windsor.


"Baik tuan."


Kekhawatiran terlihat di wajah tuan Windsor, keponakannya itu bukan tipe pria yang menerima kekalahan jika dia menginginkan sesuatu, dan dia akan melakukan berbagai cara untuk merebut apa yang menjadi miliknya. Tuan windsor merasa gelisah dengan tingkah Edmund.


"Apa yang akan kau lakukan Edmund." Bisik tuan windsor.


~


Teriakan Laura bergema di kamar itu, Sean tidak melepaskan pelukannya di tubuh Laura, hujamannya yang cepat dan kasar membuat Laura Bergerak-gerak liar di pelukan Sean.


Sean menutupi wajah laura dengan ciuman liarnya, napas panasnya memburu dengan ciumannya yang dalam dan intens. Jantung Laura berdegup kencang, Sean begitu liar malam itu. Tubuh Laura bergerak seirama dengan sean dan akhirnya mereka berdua mendapatkan pelepasannya.


"Kau baik-baik saja sayang?" Ucap Sean dengan napas memburu.


"Hemm, ya Sean." Bisiknya, dia tidak sanggup menjawab pertanyaan sean, dia begitu lelah untuk sekedar berbicara.


~

__ADS_1


Malam itu angin sangat kencang, udara di desa Cambridge begitu dingin, sebentar lagi hujan akan turun deras. Kediaman Walter begitu gelap, hanya penerangan dari perapian yang memberikan cahaya kepada Edmund dan Jon.


"Aku ingin membunuhnya Jon, aku ingin menghabisinya dengan tanganku sendiri, aku tidak akan kalah dengan pria perompak Seperti dirinya. Tidak akan kubiarkan mereka berdua bahagia." Ucap Edmund sambil menatap tajam sebuah senjata yang berada di atas meja Jon Walter.


__ADS_2