Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 34


__ADS_3

Pria itu menunggu di dalam ruangannya yang dipenuhi dengan barang-barang antik dan berpuluh-puluh buku yang tersusun di rak-rak yang menempel di dinding, ruangan itu besar dan terlihat mewah dengan ornamen yang khas dari abad pertengahan. Terdengar seorang pria mengetuk pintunya dan segera masuk ke dalam.


"Bagaimana perkembangannya? Kau sudah menemukannya?" Ucap pria tua itu sambil duduk di meja kerjanya.


"Saya menemukan beberapa wanita yang memiliki mata yang mirip dengan yang terdapat di foto, tuan duke Windsor, tetapi wajahnya...emm tidak menunjukkan kalau salah satu dari mereka adalah cucu anda."


"Benarkah? Apakah si bodoh george tidak meninggalkan tanda atau bekas apapun yang menunjukkan bahwa Laura Scarlett adalah keturunan keluarga Windsor?" Ucapnya terdengar marah.


"Tidak tuan, tapi saya yakin kita akan menemukannya segera tuan, wajahnya sangat mirip dengan wajah Nyonya Scarlett, jika dia sudah pergi dari kota Cambridge, mungkin saja dia kembali ke desanya di pirita."


"ini semua salah dari anakku yang idiot, dan istriku yang kejam, hah ! Mengapa aku di kelilingi dengan mereka yang mengacaukan silsilah keturunan Windsor." Ucap tuan Windsor menghembuskan nafasnya keras.


"kau boleh pergi, aku menunggu kabar terbaru lagi darimu."


"Baik tuan." pria itu segera meninggalkan kediaman Windsor.


~


Setelah mendengar suara seorang pria, Sean keluar dari rumah Laura dan menatap tajam pria yang kini berhadapan dengannya.


"Kau mencari istriku?" Tanyanya.


Wajah Edmund terlihat santai, "Istrimu? Dia sudah menikah?" Ucapnya.


Laura keluar tidak lama kemudian dan menatap Edmund yang berdiri di sana bersama seorang pria, Edmund dan Sean saling menatap dengan pandangan membunuh.


"Aku tidak tahu kalau kau masih bersama dengan pria yang sudah meninggalkanmu laura, kau begitu mudah memaafkan orang Laura, jadi kau bisa memaafkan tingkahku selama ini padamu bukan?" Ucap edmund sinis.


Dia melangkah mendekati max dan menatap wajahnya lekat-lekat.


"Kau memiliki putra Laura." Ucapnya.


"Max putraku." Kata sean bangga.


Senyuman dari mulut Edmund membuat Sean naik darah.


"Apa yang kau inginkan." Ucap Sean.


"Sama dengan yang kau inginkan, tentu saja kau pasti tahu apa yang kuinginkan." Ucapnya sambil tersenyum tipis.


"Sebaiknya kau pergi dari sini, kau pasti tidak ingin menimbulkan keributan tuan Edmund." Ucap Sean dengan gigi menggertak menatap pria yang ada di sampingnya yang berdiri dengan gelisah.


"Aku pastikan Laura tidak akan bersamamu, dia tidak sesuai dengan perompak sepertimu." Edmund menatap Laura kemudian dia akhirnya pergi meninggalkan mereka bertiga.


Sean memukul meja hingga barang-barang di atasnya berjatuhan ke tanah.


"Akan kuhabisi pria itu jika dia berani menyentuhmu." Ucap Sean.

__ADS_1


Laura menatap Sean yang marah, sentuhan laura membuat sean berbalik dan menatapnya, Laura memegang tangan Sean.


"Jangan marah seperti itu di depan max, dia ketakutan melihatmu." Mata Sean kembali normal ketika menatap putranya.


"Kau takut?"


"Tidak dad." Ucap max mengangkat bahunya.


"Bagus, sekarang kita semua akan pergi ke tempatku." Matanya memandang Laura yang hendak protes dengan keputusan Sean.


"Tidak ! Dengarkan aku laura, kumohon kali ini dengarkan kata-kataku, di sini tidak aman apalagi pria itu sudah tahu dimana kau berada, jadi ikut denganku."


Laura memikirkan kata-kata Edmund pada Sean, mengapa dia tahu jika sean meninggalkannya? Dia kemudian beralih memandang Sean.


"Mengapa dia tahu kalau kau pernah meninggalkan aku Sean, apa hubunganmu dengannya?" Tanya Laura menatap tajam Sean.


Napas Sean berhembus keras dia tidak ingin mengingat masa-masa dia harus meninggalkan Laura karena ambisinya yang ingin balas dendam.


"Dia tentu saja mengetahuinya karena semua itu adalah ulahnya sehingga aku harus meninggalkanmu."


Laura menggelengkan kepalanya dan tersenyum tidak percaya.


"Waktu itu kau punya pilihan Sean, tapi pilihanmu meninggalkan aku dan anakmu." Ucap laura.


Sean memegang kedua bahu Laura.


"Aku tahu aku memiliki pilihan Laura tapi aku tidak bisa membiarkan semuanya hancur begitu saja, aku memang pria egois kau sudah tahu dari awal ketika kita pertama kali bertemu, tapi aku betul-betul menyesal meninggalkanmu waktu itu laura." Ucap Sean memohon, meskipun begitu Laura masih belum bisa menatapnya dengan kelembutan yang sama seperti dahulu.


Laura tidak memiliki pilihan lain, sejujurnya dia begitu takut ketika melihat wajah Edmund, mengapa pria itu tidak menyerah untuk mendapatkannya, apa dia gila? Banyak wanita di kota ini maupun di negaranya tetapi untuk apa dia mencari laura, Pikirnya.


Laura segera mengambil barang-barangnya yang penting, Sean mengangkat barang-barang mereka ke dalam kereta kuda.


"Mommy? Jadi kita akan bersama dengan Daddy selamanya?" Tanya max di pangkuan ibunya.


Laura hanya tersenyum menatap putranya.


"Tentu saja sayang kita akan bersama selamanya." Ucap Sean mengusap kepala putranya lalu menatap Laura.


~


Tiga orang pria berpakaian rapi baru saja turun dari kapal, mereka sedang mencari seseorang bermata tosca dengan nama Laura Scarlett di belakang namanya. Mereka sudah menjelajahi setiap desa di Estonia, akhirnya mereka telah sampai di tempat ini desa pirita, mereka mulai mencari di setiap sudut desa dengan tidak mencurigakan.


Salah satu pria duduk di sebuah kedai makanan dan menatap orang-orang yang duduk di sana, seketika dia bertanya pada seorang pelayan yang datang menghampirinya.


"Permisi, apa kau mengenal seorang wanita bernama Laura Scarlett di tempat ini?" Tanyanya.


"Ada beberapa nama Scarlett yang aku kenal di tempat ini sir."

__ADS_1


Pria itu menyodorkan beberapa lembar uang di tangannya.


"Bermata tosca, kau mengetahuinya?"


Pelayan itu membisikkan sesuatu di telinganya dengan cepat.


"Baik, terima kasih informasinya." Pria itu menyeruput kopinya dan segera pergi dari tempat itu.


~


Sean membawa Laura dan max masuk ke dalam kediamannya yang besar dan luas, seketika Sean terkejut karena di rumahnya sudah menunggu seorang wanita yang duduk di sana dengan anggunnya.


Dia lalu berdiri ketika melihat Sean datang, "Tuan Sean maafkan aku datang kemari tanpa memberitahu anda lebih dahulu, ayahku sudah menyuruh koki kami memasakkan untukmu beberapa makanan lezat, maukah kau mencicipinya?"


Mereka bertiga mendengarkan ocehan wanita di hadapannya ini.


"Dia adalah putri gubernur Kouth." Kata Sean kepada Laura.


Mata Alicia menatap Laura dengan pandangan bertanya-tanya.


"Siapa wanita ini tuan Hault?" Tanyanya.


"Oh ya, kenalkan Laura Scarlett Johansson dia adalah istriku dan ini putra kami." Ucap Sean tersenyum kepada Laura dan max.


Wajah Alicia tiba-tiba terlihat memerah, raut wajahnya yang marah membuat dirinya terlihat aneh.


"Anda mengatakan kepadaku bahwa anda tidak memiliki pendamping tuan Hault." Ucapnya marah dengan pandangan merendahkan pada Laura.


"Siapa wanita mengerikan Ini dad?" Tanya max. Sean tertawa mendengar ocehan putranya, hanya laura yang menegur max karena tidak sopan.


"Apa? Mengerikan, kurang ajar! Kau harusnya mendidik putramu?" Matanya menyala-nyala menatap Laura.


"Jaga ucapanmu Nona Kouth !" Bentak sean.


"Pergilah sekarang, atau sumbanganku pada kota ini akan aku batalkan ! Berani sekali kau berbicara seperti itu kepada putraku!"


"Putramu? Kau yakin dia putramu? Aku tidak pernah mendengar kalau kau memiliki seorang gadis yang berada di sampingmu, siapa yang tahu apa yang dikerjakan wanita ini ketika dia tidak bersamamu Sean."


Ucap Alicia nekat.


Sebuah tamparan keras dari Laura melayang di wajah Alicia, Laura tidak bisa membiarkan dirinya dihina oleh wanita yang baru pertama kali ini ditemuinya.


"Kau wanita yang mengerikan, dimana kau menemukan wanita seperti ini Sean?" ucap Laura menatapnya tajam.


Alicia memegang pipinya, mereka bertiga menatapnya heran, baru kali ini dia melihat wanita seperti alicia, baru semalam sean berkenalan dengannya di pesta dansa itu dan dia seakan-akan mengenal Sean begitu lama.


"Sekali saja kau mengganggu keluargaku, aku pastikan gubernur di kota ini bukan lagi nama keluarga Kouth kau mengerti!" ucap Sean pelan tetapi dengan nada mengancam. Alicia terkejut dia bergetar hebat, dia menyadari dirinya begitu keterlaluan.

__ADS_1


Beberapa pelayannya memegangnya agar segera keluar dari rumah Sean. Dia tidak menyangka mendapat tamparan dari seseorang, dia menatap Sean, padahal harapannya begitu tinggi ingin menjadi pendamping Sean kelak.


"Dia wanita gila dad." Max menyipitkan matanya memandang marah wanita yang telah menghina ibunya, meskipun usia max begitu muda dan dia masih kecil tapi dia adalah anak yang cerdas dan dapat memahami segala sesuatunya dengan cepat.


__ADS_2