Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 61


__ADS_3

Leona pulang dengan marah dan mengomel, dia tidak menyangka Edmund akan mendaftarkan diri mereka untuk pernikahan massal itu, dia sama sekali tidak siap untuk menikah, apalagi usianya masih 20 tahun. Setelah menyimpan barang-barang, dia duduk di depan teras rumahnya menunggu kedatangan Edmund yang sengaja Leona tinggalkan ketika di pasar.


"Kenapa dia lama sekali? apa sesuatu terjadi?" Ucap Leona khawatir.


Leona akhirnya kembali menuju ke pasar ketika sudah 15 menit menunggu dan tidak melihat Edmund di manapun. Dia mencarinya dan melihatnya sedang berbincang dengan pria-pria yang sedang mengerjakan persiapan festival dengan menggelar spanduk dan lampu hias di sepanjang desa, Edmund tertarik dengan apa yang mereka kerjakan, dia memang mencari kesibukan, dibandingkan jika dia kembali dan hanya duduk di teras rumah dan memikirkan kota Cambridge atau menatap Leona yang akhir-akhir ini mulai menggodanya.


"Edmund? Apa yang kau kerjakan di sini?" Teriak Leona dari kejauhan.


Edmund melambaikan tangannya. Dia segera berlari mendekati Leona. "Ambil ini dan bawa pulang." Ucapnya.


"Kau mau kemana?"


"Aku ingin membantu mereka, setidaknya melatih otot tubuhku untuk bergerak, sudah lama aku tidak berolah raga."


"Tch, oke tapi jangan membuat masalah." Ucap Leona sambil mengangkat barang-barang yang Edmund letakkan di tanah.


"Lihat siapa yang bicara, bukannya kau yang suka membuat masalah? Sebentar siang aku akan kembali, dan ingat jagan pergi ke kebun." Pria itu kemudian kembali ke pria-pria yang sedang berkumpul dan mengerjakan sesuatu di sana, Leona memperhatikannya, dia tampak senang dan tertawa bersama para pemuda itu.


"Sepertinya dia mudah beradaptasi dengan mereka, Tch apa sih yang aku khawatirkan, dia adalah pria dewasa, dia bisa menjaga dirinya sendiri." Leona mengangkat barang-barang itu dan segera pulang.


Pukul 12.30


Leona telah selesai memasak dan menunggu kepulangan Edmund, dari ujung jalan dia sudah terlihat dan melambaikan tangannya kepada Leona dan tersenyum.


"Tch kenapa dia tersenyum kepadaku?" ucapnya.


Dia akhirnya tiba di depan rumah, "Lama menungguku? lelah juga, setidaknya hari ini aku sedikit berolah raga, aku akan mandi di sungai dan setelah itu makan." Ucapnya. Leona mmeperhatikan bungkusan yang di bawanya.


"Apa itu yang kau bawa?"


"Ini pakaian pernikahan kita, mereka ingin mengantarnya ke rumah tetapi karena aku ada di sana jadi mereka memberikan kepadaku." Ucap Edmund dengan santai. Leona lalu berdiri dan menghalangi Edmund masuk ke dalam rumah.


"Tunggu dulu, aku memang menyetujui kita bertunangan agar mereka tidak membawamu ke kepala desa, tetapi kenapa aku harus menikah denganmu?" Ucap Leona tidak mengerti.


"Jadi kau ingin menikah dengan Jastin? atau pria lain?" tanyanya.


"Apa kau gila? tentu saja tidak."


"Jika tidak, kau hanya akan menikah denganku, itu sudah kuputuskan. Aku serius ingin menikah denganmu dan membangun keluarga bersamamu, apa kau mau sendirian seumur hidupmu?"


"T-tapi sepertinya ini tidak benar, seperti ada yang salah."


"Apa maksudmu?" Tanya Edmund.


"B-bukankah dua orang yang akan menikah harus saling ... mencintai dan menyukai? K-kita kan tidak." Ucap Leona dengan rona merah di pipinya.


"Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku tidak menyukaimu? Aku tidak akan menikah hanya untuk bercanda, Leona."


"Apa karena usiamu kau ingin menikah? usiamu kan 34, sedangkan aku masih 20 tahun."


Edmund menatapnya tajam. "Usia bukan alasan aku ingin menikahimu, tetapi karena aku ingin bersama denganmu, lagi pula kau mau tinggal bersama seorang pria dalam satu atap tanpa memiliki hubungan? setiap saat penduduk di desa ini akan datang dan mencurigai kita." Ucap Edmund.


"Bukan mencurigai kita, tetapi lebih tepatnya mencurigaimu."


Edmund berdecak, tanpa Leona sangka tubuhnya ditarik oleh Edmund, dia lalu memeluknya erat.


"A-apa yang kau lakukan, kau berbau keringat, lepaskan aku." Ucap Leona mencoba mendorong tubuh Edmund.

__ADS_1


Dia menatap wajah cantik yang terlihat marah kepadanya, dia tersenyum miring, satu tangannya memegang tengkuknya menahan kepalanya bergerak menjauh, siang itu udara cukup panas, langit cerah berwarna biru yang indah, dan siang itu Edmund mencium Leona untuk pertama kalinya, dan sesuatu dari dalam dirinya terbangun begitu saja, bibir mereka sangat sesuai, seakan tercipta untuk melengkapi, Edmund pertama kali merasakan hal ini, Leona seakan melengkapi apa yang dibutuhkannya selama ini, dia mengangkat bibirnya, dan tersenyum melihat Leona yang tidak sadar dengan ciuman Edmund.


Dia mendudukkan Leona di kursi karena jika tidak, tubuhnya akan jatuh di lantai, Leona dapat merasakan kakinya yang lemas dan tidak bertenaga. Edmund lalu tersenyum.


"Aku akan mandi di sungai, setelah itu kita akan makan."


***


Leona memegang bibirnya yang terasa tebal dan masih terasa bekas pada bibirnya. Dia memegangnya terasa aneh dan tiba-tiba tubuhnya ikut merasakan sesuatu yang aneh, rasa panas seakan menjalar di sekujur tubuhnya.


"Dia menciumku? B-berani sekali dia melakukannya." Ucap Leona, suaranya nampak gemetar. Perasaan baru yang di rasakannya sungguh aneh.


Matanya lalu melirik bungkusan itu, rasa penasaran membuat dirinya membuka perlahan bungkusan itu, dia ingin melihat bagaimana gaun pengantin itu. Wajahnya tiba-tiba bersinar, dia terpesona dengan gaun putih yang tampak berkilau di mata Leona.


"Indah." Ucapnya, dia berdiri dan mencocokkan gaun itu di depan tubuhnya. Gaun panjang dengan hiasan bunga lavender laut yang berhias di tepinya.


"Kau suka?"


"Iya suka sekali." Dia berputar dan tanpa menyadari Edmund sudah ada di belakangnya hanya mengenakan celananya tanpa mengenakan bajunya sehingga tubuhnya yang terlihat berotot membuat Alyena memalingkan wajahnya. Rambutnya yang basah terlihat sudah panjang sebahu, garis alisnya yang tajam terlihat sedikit melengkung ketika Leona dengan malu membelakanginya dan menaruh gaun itu begitu saja di atas meja.


"Gaun itu nanti rusak sebelum kau gunakan Leona, simpan dengan baik."


Leona mendengus dan mengambil gaun itu serta kantungan yang ada di atas meja.


***


Hari itu Edmund terlihat sibuk, sepertinya dia telah menemukan kesibukan yang membuatnya cukup betah dan menyenangkan. Setelah sarapan, dia sudah akan berangkat lagi menuju lapangan tempat di adakannya Festival itu.


"Kenapa kau diam saja dari tadi, biasanya kau akan mengomel di pagi hari seperti biasanya." Ucap Edmund sambil melengkungkan bibirnya.


"Apa karena aku menciummu, sekarang kau jadi malu padaku?" Ucap Edmund.


Edmund menaikkan alisnya, "Ciuman biasa?" Ucapnya dengan mata menyelidik.


"Kau pernah mencium seseorang?" Tanyanya.


Leona membelalakkan matanya. "Tentu saja tidak, aku akan membunuhnya jika ada orang yang berani melakukannya."


"Bagaimana denganku? kemarin aku menciummu." Ucapnya.


"Aku anggap saja kalau sedang mencium ikan lele, jadi bukan masalah." Edmund sekejap terdiam di tempat.


"Apa kau bilang? ikan Lele?" Ucap Edmund tidak percaya mendengarnya.


"Aku ingin melupakan kejadian kemarin, jadi untuk melupakannya, aku anggap saja aku telah mencium ikan lele yang kutemukan di pinggir sungai." Edmund berdiri, membuat Leona juga berdiri.


"A-apa yang mau kau lakukan, jangan mendekat, pergilah ikan lele." Leona berlari dengan cepat sambil tertawa keras sebelum Edmund menggapainya, dia juga ikut berlari mengejar Leona hingga sampai di pekarangan rumahnya. Leona masih berlari sambil mengelilingi pohon besar yang ada di sampingnya.


"Itu hanya sebuah perumpamaan, seharusnya kau bersyukur aku hanya mengatakan ikan lele, bagaimana kalau aku mengatakan aku berciuman dengan kura-kura." Edmund menipiskan bibirnya, dia masih mencoba meraih gadis itu, berani sekali dia mengejeknya, baru kali ini seorang wanita mengatakan hal seperti itu padanya.


"Ikan Lele? aku akan menunjukkan bagaimana ciuman dari ikan lele akan membuatmu pingsan." Ucap Edmund berapi-api. Mereka kembali saling mengejar di antara pepohonan, sementara Leona tidak berhenti tertawa karena ucapannya.


"Kelihatannya menyenangkan sekali, kalian tampak romantis, apalagi sebentar lagi kalian akan menikah." Suara itu membuat keduanya berbalik, Latty datang membawa sesuatu di tangannya.


"Hai Latty apa yang kau bawa itu?" Ucap Leona mendekati Latty yang berdiri tidak jauh dengannya, dia lalu menghampirinya dengan napas yang masih terengah setelah berlari, Latty mengulurkan bungkusan itu kepadanya.


"Aku mendengar kalian akan segera menikah, jadi aku bawa saja ini, mungkin saja ini akan berguna di malam pertama pernikahanmu." Ucap Latty sambil mengangkat alisnya tinggi-tinggi.

__ADS_1


"Malam pertama pernikahan? apa maksudmu?" Ucap Leona sambil membongkar-bongkar bungkusan itu dan melihat sesuatu yang nampak aneh. Latty tertawa sambil menutup mulutnya.


"A-apa ini, Latty?" Ucap Leona sambil mengangkat pelan sesuatu yang terlihat seperti pakaian dalam, tetapi terlihat transparan dan sangat aneh.


"Kau tidak tahu apa itu? kau tidak pernah lihat barang seperti itu?" Suara Edmund terdengar, dia berjalan dan mendekat ke tempat Leona.


"Itu Lingerie, kau harus mengenakannya setelah kita menikah nanti." Ucap Edmund sambil tersenyum miring penuh arti.


Leona menampakkan wajah jijik, "Kau bercanda kan, mana mungkin aku mengenakan ini di hadapanmu." Ucapnya, sambil memegangnya dengan ujung jarinya.


"Kenapa tidak, sebagai istriku kau harus mengenakannya. Setelah menikah aku ingin kau mengenakannya nanti di depanku." Leona menggeram, dia melemparkan bungkusan itu kepada Edmund.


"Kau saja yang pakai, aku tidak mau." Leona berlari dan masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Latty yang masih tertawa melihat wajah terkejut Leona.


***


Sehari sebelum perayaan, seluruh penduduk desa sedang sibuk menyiapkan dekorasi serta pernak pernik di desa itu, agar Festival nanti tampak menarik dan terlihat indah, apalagi puncak perayaan itu ketika seluruh pria dan wanita akan dinikahkan secara bersama-sama di depan seluruh penduduk desa Zaudet, mereka semua akan menjadi saksi pernikahan yang di gelar setahun sekali.


Leona duduk seorang diri di dekat sungai, suara air mengalir dengan deras, yang dibawa langsung dari air terjun di pegunungan, dia sedang menatap air jernih dan dingin, lalu meletakkan kakinya di atas bebatuan sehingga derasnya air mengalir di atas kakinya.


Dia menarik napas dan menghembuskannya, "Apakah aku harus menikah dengan pria itu? sepertinya dia serius, tapi senyumnya yang selalu tampak arogan dan sinis itu selalu membuatku marah." Leona melempar bebatuan kecil dari tepi sungai.


"Apa yang kau lakukan di sana Leona? Ayo masuk, nanti kau masuk angin." Teriak Edmund dari pintu belakang rumahnya.


"Tch, siapa dia? kenapa dia memerintahku?"


"Aku akan menutup pintunya jika kau masih duduk di sana." Leona akhirnya berdiri dan kembali ke rumahnya.


***


Malam itu angin kencang membuat kapal yang berada di lautan bergoyang tiada henti, bagi seorang perompak, keadaan seperti ini sudah biasa mereka hadapi, ombak ganas menerjang kapal, membuat kapal raksasa mereka timbul tenggelam di bawa ombak ganas malam itu, seluruh awak kapal berusaha untuk berpegang pada sesuatu agar mereka tidak di bawa oleh ombak, tidak ada yang dapat mereka lakukan selain memegang sekuat tenaga apa saja yang ada di atas kapal dan memastikan layar terbentang.


"Kita akan segera tiba, setelah melewati pusaran air mengerikan itu, laut akan menuntun kita ke pulau Zaudetta." Ucap pria tua yang sekuat tenaga berpegang pada tiang kapal dan memandang ombak ganas yang sebentar lagi akan menyerang kapal mereka.


***


Hari yang dinantikan oleh seluruh warga desa telah tiba, yaitu pernikahan massal warga Zaudet di pulau Zaudetta. Pernikahan itu akan dilaksanakan pagi ini. Setelah itu di lanjutkan dengan acara festival perayaan hari jadi pulau Zaudet.


"Ck, jangan bergerak-gerak Leona, kita harus menyelesaikan ini tepat waktu, jadi tenanglah agar aku dapat menyelesaikan riasanmu." Ucap Latty.


Leona cemberut, sejak pagi tadi Latty sudah tiba di rumahnya dengan membawa semua peralatan make-upnya. Hanya dia satu-satunya yang datang mengunjungi Leona dan menemaninya bersiap-siap.


"Aku akan tampak konyol jika saja kau tidak ada, Latty. Kau adalah ibu periku, meskipun aku bisa tampil di depan semua orang dengan gaya apapun aku tidak peduli."


"Tentu saja tidak, kau harus tampil mempesona, biar Edmund akan terkejut melihat calon pengantin wanitanya. Leona mendengus mendengarnya.


Setelah hampir setengah jam, akhirnya Leona telah siap, dia berdiri dengan gaun pengantinnya yang berwarna putih, dengan rambutnya yang di gelung sempurna tetapi menyisakan sedikit di keningnya, wajah yang biasanya tidak mengenakan riasan make-up terlihat sangat cantik dan mempesona.


"Cantik, kau betul-betul sangat cantik hari ini Leona, aku yakin mereka semua yang melihatmu akan pangling dan tidak menyangka jika wanita cantik itu adalah Leona yang hobby membuat keributan." Ucap Latty sambil tertawa.


"Kau berlebihan Latty, jangan berkata seperti itu, aku bahkan lebih tegang jika kau mengatakannya seperti itu." Ucap Leona.


"Apa kau tegang karena sebentar lagi kau akan menikah dan menikmati malam pertamamu bersama suamimu yang Cool itu?"


"Ugh Shut up, berhenti menggodaku atau aku akan lari ke kebun."


"Mudah saja, aku akan menggendongmu kembali atau jika kau suka, kita bisa menikah di kebun sayur itu, kau kan sangat mencintai sayur milik orang lain dan ....

__ADS_1


Edmund tidak dapat melanjutkan kalimatnya, ketika dia melihat seorang wanita cantik mengenakan gaun putih, berdiri di dekat jendela menatapnya tajam, Latty tampak bangga dengan hasil kerja kerasnya, tapi dia dengan cepat keluar ketika melihat Edmund mendekati Leona, tampak wajahnya terpesona dengan gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


__ADS_2