Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 12


__ADS_3

Malam kian larut hembusan angin laut mulai menghantam permukaan kapal sehingga bergoyang, barang-barang di atas kapal berjatuhan, bagian lambung kapal tersebut terlihat meliuk-liuk terhempas terpaan ombak. 


Angin kencang membuat deburan ombak semakin ganas. laura berada di kamarnya, memegang tiang tempat tidur agar dirinya tidak jatuh terhempas. Sean sudah berpesan padanya jangan keluar dari biliknya satu langkah pun.


Mereka semua begitu sibuk, melakukan berbagai upaya agar kapal dapat seimbang kembali, tetapi terjangan ombak yang menghantam permukaan kapal milik Sean membuatnya seakan-akan tenggelam di dasar lautan dan muncul lagi kepermukaan.


Laura memeluk erat tiang yang berdiri kokoh di sampingnya, dia berdoa semoga dirinya selamat dia tidak mau mati di lautan yang gelap bersama para perompak.


Sean masuk ke kamar laura, dirinya basah kuyup karena terjangan ombak. "Jangan pernah keluar Laura, apapun yang terjadi, kau mendengarku??" Teriaknya. Laura mengangguk ketakutan, Sean tersenyum Melihat Laura tertunduk sambil memeluk tiang kapal. Apa yang pria ini pikirkan? mengapa saat seperti ini dia masih bisa tersenyum?


Sean menutup kembali pintu dan bergabung dengan yang lainnya, meneriakkan sesuatu membuat Laura mengintip dengan terjatuh-jatuh di lantai. Matanya tiba-tiba membelalak, terjangan air laut menghantam biliknya, Laura terhempas ke belakang, untung saja Laura berpegang pada tiang, tetapi air sudah memenuhi kamarnya, dengan terombang ambing dia menuju pintu dan keluar dari sana. Diluar sangat kacau tidak ada seorangpun yang ditemuinya, termasuk Sean, dia berteriak-teriak meminta pertolongan, tetapi seperkian detik dirinya sudah terombang ambing di lautan lepas. tangannya menggapai-gapai tetapi tidak ada seorangpun yang menolongnya.


Laura menutup matanya membiarkan dirinya dibawa air laut yang dingin, dia sudah pasrah jika kematian menyambutnya di lautan lepas itu, lagi pula ayah dan ibunya sudah tidak ada di dunia ini. Dia mendengar seseorang memanggil-manggilnya, suara seorang wanita menekan-nekan dadanya sehingga Laura mengeluarkan air dari mulutnya, kini Laura kembali bernapas, matanya membelalak bibirnya bergetar ketakutan. Seorang wanita tengah mengangkat tubuhnya yang lemah. laura tidak sadarkan diri, tubuhnya tidak sanggup menahan sakitnya hempasan ombak yang menerjangnya di lautan.


~


Matahari sudah terbit dari langit yang begitu cerah, kapal milik Sean terlihat mengenaskan dengan beberapa puing yang terhempas di lautan, tiang kapalnya masih berdiri kokoh tetapi beberapa bagian lambung kapal rusak parah, dan barang-barangnya telah berserakan di laut.


Sean yang sempat hanyut karena berusaha berenang ke tempat Laura dan ingin menyelamatkannya, tetapi malam itu dia terhempas dan terjatuh di lambung kapal, beberapa awaknya tersebar dibeberapa tempat untung saja mereka hanya pingsan dan mulai sadarkan diri. Sean membuka matanya, dirinya masih setengah basah dia mengerjap dan akhirnya tersadar, dia memukul-mukul kepalanya, menyisakan air yang menetes-netes di telinganya. Seketika dia teringat Laura.


Sean berlari dengan cepat menuju kamarnya tetapi tempat itu telah hancur berantakan, hanya koper milik Laura yang tergeletak basah kuyup.


"LAURA..LAURA DI MANA KAU LAURA."

__ADS_1


Teriak Sean histeris, dia membongkar barang-barang yang tertutup lemari yang terjatuh. "LAURA.....!" Hanya kesunyian yang menikamnya, dia kembali berteriak-teriak memanggil nama Laura. Beberapa awak kapalnya berkumpul menatap Sean yang mengelilingi kapal berteriak-teriak memanggil Laura.


Sean terduduk ketika melihat liontin yang dikenalnya, liontin yang diberikannya pada seorang gadis kecil sewaktu dia berkunjung ke desa pirita, dia akhirnya menyadari gadis yang ditemuinya di hutan itu adalah laura.


"Ini milik Laura, ya..ini miliknya." Dia kemudian berteriak-teriak lagi.


"Kap..kapten kami menemukan ini." Roland memberikan sobekan baju milik Laura yang terakhir dikenakannya. "Se.. Sepertinya dia dibawa ombak semalam kapten."


"DIAM..! DIA MASIH HIDUP." teriak sean menatapnya seakan-akan ingin menerjangnya. Dia kembali berteriak memanggil nama Laura.


"Adakah daratan terdekat dari sini Al?" tanya Sean. Albert meneropong dan menunjuk arah Utara, sepertinya disebelah Utara kapten, daratan tidak begitu jauh.


"Bagus ! kita akan menuju ke sana, kapal kita sudah rusak parah, kita perlu memperbaikinya". Tegasnya, Seketika mereka semua mulai menggerakkan kapal menuju arah Utara. Jantung Sean berdetak kencang, apakah Laura masih hidup? ataukah dia.....tidak ! Sean tidak mau memikirkannya, dia hidup, dia harus hidup, pikirnya.


~


"Kau sudah bangun? untunglah ! aku sangat cemas jika kau tidak sadarkan diri lagi."


Wanita yang umurnya tidak terpaut jauh dengan ibunya mengoceh panjang, dia terlihat begitu khawatir.


"Kau tahu, semalam betul-betul mengerikan, angin kencang, badai sungguh menakutkan, kau sangat beruntung sayang, sepertinya kau terhempas di lautan, bersyukurlah kau masih hidup." Dia lalu tersenyum lembut.


"Oh ya, ini baju ganti milik tetanggaku, dia memiliki seorang putri seusiamu, kau pasti cocok mengenakan pakaian ini."

__ADS_1


"Terima kasih nyonya". Seru Laura. Dia lalu mengibaskan tangannya, "Jangan memanggilku nyonya, panggil saja Lori, aku merasa setahun lebih muda jika kau memanggil namaku saja, tanpa nyonya atau madam, lagi pula aku masih sendiri." Dia lalu berkedip dan segera kembali ke dapur.


Laura tersenyum, akhirnya aku terbebas dari perompak itu, Sebersit rasa khawatir menjalar di pikirannya, apakah dia baik-baik saja? ataukah dia terbawa ombak sama seperti dirinya? Laura lalu menggeleng, dia seorang perompak yang hidup di lautan, terjangan seperti ini sudah biasa bagi mereka.


Laura bergegas mandi lalu mengganti pakaiannya, setelah membersihkan dirinya, dia mulai keluar dari tempat itu, ternyata wangi yang tercium dan merebak sampai ke dapur adalah roti yang dipanggang sepertinya lori membuka toko roti di desa ini.


Wanita yang bernama lori memanggil Laura, lalu mendudukkannya di meja makan.


"Makanlah sayang kau pasti sangat lapar, ngomong-ngomong kau sangat cantik, siapa namamu?" dia tersenyum menatap Laura yang mulai menyendok supnya.


"Laura Scarlett Johansson." Laura tersenyum tipis. "Nama yang cantik, kenapa kau berada di lautan sayang apakah kau bersama keluargamu?" Tanyanya lagi.


Laura berpikir sebentar, dia lalu mengangguk begitu saja, "Karena badai, aku terpisah dari keluargaku." Dia lalu memegang dadanya terkejut, "Semoga mereka semua selamat, kau harus kuat Laura." Laura mengangguk, entah mengapa dia tidak ingin menceritakan kisahnya yang menyedihkan kepada siapapun, ataukah dia tidak ingin Sean nantinya mendapat masalah? Dia lalu menggeleng, dia seorang penculik aku tidak boleh mencemaskannya, aku harus menghilang dari pandangannya.


~


Seminggu setelah badai membuat edmund uring-uringan, bagaimana tidak, neneknya ingin kembali mengadakan pesta di salah satu desa yang juga terpencil.


"Desa itu sangat cocok untuk berlabuh sayang, lagi pula kapten kapal memberitahuku kalau badai akan datang dua hari kedepan, sebaiknya kita berlabuh di desa itu, kapten mengatakan pada nenek desa itu sangat indah, namanya desa Kaali."


Edmund menggaruk kepalanya kasar, dia ingin berteriak pada neneknya agar menghentikan pesta konyolnya, tetapi mata neneknya yang memandang mengiba membuat Edmund mengurungkan niatnya.


"Ukh, terserah nenek saja."

__ADS_1


Edmund memandang daratan yang tidak begitu jauh lagi dari kapal pesiarnya. "Semoga aku menemukan sesuatu yang menghilangkan kejenuhanku." Dia mengambil pemantiknya dan menyalakan cerutunya sambil memandang laut lepas.


Sean akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk kapalnya agar dapat berlabuh dan memperbaiki kerusakannya, selain itu dia harus memeriksa desa ini, apakah Laura terdampar di tempat ini. Dia kemudian berdiri dan memandang dari atas bukit, desa itu tidak jauh berbeda dari desa tempat tinggal Laura. Sean sudah tidak sabar ingin memeriksa desa itu dan menemukan Laura.


__ADS_2