
Laura mengajak Sean kerumah bertha tapi malam itu rupanya bertha belum kembali dari pesta, Sean mengamati rumah kecil itu.
"Jadi, selama ini kau tinggal di sini Laura?" tanya Sean di tempat tidur Laura, mereka berbaring bersama di tempat tidur kecil itu.
Laura menggelengkan kepalanya, dia menutupi wajahnya di dada Sean, "Baru dua hari ini aku tinggal di sini", ucap laura. Sean mengernyitkan alisnya.
"Selama ini kau tinggal dimana?" Laura menelan ludahnya berucap dengan takut-takut.
"Rossie menolongku dia seorang pelayan di kediaman tuan Kent Windsor, dan em...kau lihat pria tadi?" Cicit Laura .
"Dia..dia menculikku dan menyembunyikanku di villanya, jadi aku bersembunyi darinya di rumah Bertha."
Sean tiba-tiba saja mengumpat marah, "Sean kumohon jangan marah." ucap laura memegang wajah Sean untuk menatapnya.
"Kumohon...", Laura mengecup bibir Sean dan menahannya di sana, Sean mengangkat Laura di atas tubuhnya. "Katakan padaku, dimana dia menyentuhmu", Ujarnya.
Laura berkedip beberapa kali, dia menggigit bibirnya, dia lalu memeluk tubuh Sean, "Jangan bertanya tentang itu Sean, aku tidak mau mengingatnya, kumohon."
Sean mencoba menahan emosinya, "Kau selalu membuatku khawatir Laura." Dia menghembuskan napasnya.
Laura menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Sean mencoba merayunya agar melupakan pembicaraan itu.
"Kau menggodaku Laura?" Mata Sean berkilat dia lalu tersenyum miring.
"Ya aku menggodamu Sean." Laura mengecup dada Sean dan rahangnya.
"Dan kau berhasil sayang, kupikir kau tidak bisa bergerak?" tanyanya.
"Aku menginginkanmu Sean." Desah Laura memancing Sean, tidak menunggu lama mereka kembali melepaskan kerinduan. percikan panas diantara mereka berdua tidak padam, Sean tidak menahan-nahan dirinya didalam tubuh Laura, serangannya sangat bertubi-tubi hingga malam itu Laura merasakan Sean begitu dalam didalam dirinya, teriakan Laura terdengar liar, percintaan mereka begitu panas hingga pagi datang Sean akhirnya melepaskan tubuh Laura yang tidak sadarkan diri di pelukannya.
~
"Kau menemukannya? suaranya tajam, memandang seorang pria yang masuk ke dalam ruangannya. "Ya sir, tapi.....
kata-katanya terhenti, dia terlihat ragu untuk menjelaskannya.
"Tapi? katakan ! ucap Edmund yang menghentikan kegiatannya dan menyilangkan kedua tangannya di tubuhnya.
"Sepertinya dia bersama seorang pria sir, kami memergokinya di salah satu kamar pelayan di istana mereka sedang erm..bercinta sir".
"Kau tahu sekarang dia ada di mana? tanyanya dengan menampilkan wajah sedatar mungkin.
"Dia tinggal di salah satu rumah di sudut kota dan tinggal bersama seorang gadis bernama bertha, sepertinya dia teman gadis yang anda cari."
"Bagus ! kau boleh pergi."
"Baik sir."
Dua pria suruhan Edmund keluar dari ruangannya. Edmund menautkan kedua jarinya.
"Siapa pria itu....?" pemahaman muncul di kedua matanya, "Sean? mungkinkah dia?" Edmund berdiri lalu mengenakan rompinya berwarna hitam, dia lalu berangkat ingin membuktikan kebenaranya.
__ADS_1
Rumah itu nampak sunyi mereka berdua masih tertidur padahal matahari sudah terbit, Sean menggerak-gerakkan pinggulnya di dalam tubuh Laura membuatnya kembali mendesah, "Cukup Sean aku begitu lelah."
"Kau membuatku terjaga hingga fajar Sean, aku sangat lelah, jadi berhentilah bergerak." Laura berjengit ketika Sean memutar kembali pinggulnya.
"Sean !"
Dia kemudian menarik kedua tangan Laura ke atas kepalanya, dan masih menggodanya dengan bergerak lambat. "Sean please!" Laura memohon.
"Please apa Laura?" goda sean.
"Aku... menginginkanmu Sean." ucap Laura dengan pandangan berkabut.
"Baiklah sayang kalau itu keinginanmu." Senyumnya. Gerakan dan hentakan cepat dari Sean membawa Laura terasa ke tepi jurang dan akhirnya dia mendapatkan pelepasannya beberapa kali bersama dengan Sean.
Dia melihat semuanya, matanya bersinar tajam, kemarahanya kian memuncak menyaksikan adegan itu.
"Kau betul-betul jalang Laura, tunggu saja jika kau sudah berada di tanganku, aku akan membuatmu menderita dan memohon padaku."
~
Seminggu sudah berlalu semenjak Laura bertemu dengan sean, laura nampak sangat bahagia. Laura kini tinggal di rumah Sean, setelah pamit dengan bertha dia ikut dengan Sean dan berniat akan berangkat dengannya kembali mengarungi lautan.
"Sean? kau akan kemana pagi ini?" tanya Laura yang sedang mengambil mantel hitam Sean di dalam lemari.
"Aku harus menghubungi yang lainnya sayang sebelum kita berangkat, kau tidak keberatan kan kita kembali ke lautan?" tanyanya dengan memegang pinggang Laura menyusuri rahang hingga leher Laura.
"Kemanapun kau pergi Sean, aku akan berada disisimu", Senyuman Sean mengembang, dia mengangkat tubuh Laura dan memutarnya, lalu menciumnya erat-erat.
Laura mengantar Sean sampai di depan pintu rumah. Seseorang memantau laura dari kejauhan.
Pertemuan itu diadakan di penginapan tempat rembo menginap selama ini. Mereka semua memandang Sean.
"Bagaimana kapten, kau pasti sudah puas bermain-main dengan wanitamu hingga kau akhirnya memutuskan menemui kami." kata rembo sarkas.
"Aku tidak akan pernah puas rembo jadi diamlah dan jelaskan rencana selanjutnya."
"Oh ya, kau pasti sudah mendengarnya kapten jika Kent Windsor tinggal di kota ini." Kata Albert menatap Sean.
"Ya aku tahu Kent Windsor, ada apa dengannya?" tanya Sean.
"Kau tidak tahu dia salah satu pria yang membantu keluarga Jon Welter memindah tangankan seluruh aset keluargamu padanya di pengadilan, Windsor sepertinya berteman dengan Mr.Welter di pemerintahan.
Mata Sean tiba-tiba memerah, rahangnya begitu jelas. sebentuk senyum terpampang diwajah Sean.
"Kalau begitu rencana berubah kan? sebaiknya kita bermain-main dulu dengan keluarga Windsor sebelum kita berangkat ke kapal."
Tangan Sean bertaut memikirkan rencana untuk menghancurkan keluarga Windsor dan Welter.
"Kita harus merencanakan semuanya dengan matang, dan pertama aku harus menghancurkan keluarga Windsor dia harus menerima kenyataan jika dia berani bermain-main dengan keluarga Hault.
~
__ADS_1
Hari itu Laura ingin menyiapkan makan siang untuk Sean dan dirinya tetapi sepertinya Sean tidak kembali untuk makan siang jadi Laura hanya berjalan-jalan di sekitar taman.
"Nona Johansson?"
Suara serak seorang pria yang tengah berdiri di luar pagar besi sudah sejak tadi dia mengawasi Laura.
Laura berbalik mencari asal suara dan melihat seorang pria berwajah lonjong dengan kulit gelap mengenakan mantel panjang layaknya seorang detektif.
" Maaf Anda siapa sir." tanya Laura.
"Dapatkah kita berbicara sebentar?" tanyanya lagi.
"Aku minta maaf sir, aku tidak bisa keluar dari pagar ini." Laura sedikit cemas, mungkin saja dia suruhan Edmund yang datang mencarinya.
"Kalau begitu maukah anda menjawab pertanyaan dari saya Miss?" Benarkah nama anda Laura Scarlett Johansson?" kata pria itu.
Laura mengernyitkan alisnya, "I..iya benar itu namaku."
"Sebelumnya anda hidup di desa pirita Estonia?" tanyanya lagi.
Dengan ragu Laura mengangguk, "Dari mana anda mengetahuinya sir?" Pria itu tersenyum, dia menunduk sebentar, lalu segera meninggalkan Laura yang kebingungan menatapnya.
Laura ingin sekali bertemu dengan Rossie Bertha maupun Ethan, tapi Sean melarangnya keluar rumah seorang diri.
"Aku seperti dikurung di rumah Sean, sementara dia keluar seenaknya, ugh aku bosan sekali."
Laura mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja berpikir bagaimana menghilangkan kejenuhannya? ide untuk menyamar muncul begitu saja, dia bergegas naik ke atas kamarnya dan mengenakan pakaian Sean yang kebesaran, lalu menatap dirinya di cermin.
"Hm cukup menyakinkan." Laura mengambil topi Sean dan sedikit menambahkan kumis dibawah hidungnya. "Ok, perfect sekarang waktunya berangkat."
Tanpa diduga penyamaran Laura berhasil, tidak ada yang mengenalinya begitupun Rossie, mereka akhirnya bertemu di rumah Bertha dan asyik berbincang-bincang dengan mereka semua, tanpa di sadari mereka mengobrol hingga matahari tenggelam, membuat Laura begitu terkejut.
"Oh tidak, aku harus segera pulang, Aku akan berkunjung lagi Bertha, terima kasih tehnya sangat enak." Mereka saling memeluk dan Laura bergegas berlari menuju rumah Sean yang kelihatan gelap.
"Masih gelap? Sean sepertinya belum pulang." Laura membuka pintu perlahan lalu menutupnya, dia berjalan di dalam gelap dan berusaha menyalakan lampu ruangan.
"Kau kemana saja Laura, aku sudah mengatakan padamu untuk tetap di rumah!" Suara Sean begitu tegas dan terdengar marah membuat Laura terkejut.
"Sean, maafkan aku....aku bertemu dengan Bertha dan Rossie, jadi aku....", Sean dengan kasar menarik Laura dan mendorongnya ke tembok.
"Apa kau tahu bagaimana gilanya aku ketika aku pulang dan kau tidak ada di rumah !" bentaknya.
"Apa yang kau lakukan Sean !" teriak Laura ketika Sean merobek pakaian Laura dengan kasar, dan menciumnya hingga Laura sulit bernapas. Tanpa kelembutan Sean memposisikan dirinya dari belakang dan dengan keras dan cepat sean menghentak Laura diantara kakinya hingga Laura menjerit kesakitan, teriakan Laura tidak digubrisnya, kemarahan Sean membuat Laura menjerit kesakitan setelah beberapa lama Sean mengentaknya hingga ia mendapatkan pelepasannya.
Laura merosot di lantai dengan tubuh yang kesakitan, dia menangis dan memeluk dirinya yang tanpa mengenakan apapun, Sean menatapnya, kemarahan masih terperangkap di wajahnya, dia mengacak-acak rambutnya yang panjang, tanpa berkata-kata dia menggendong Laura yang menangis di pelukannya dan membawanya ke kamar mandi, sean menurunkan laura kedalam air hangat di dalam bathtub dan segera bergabung dengan Laura dan memeluknya didadanya, Laura masih terisak di pelukannya, Sean tidak mengatakan apapun dia hanya memeluk Laura dengan erat.
Kemarahanya begitu besar mendengar tentang Kent Windsor dan Welter yang menghancurkan seluruh keluarga Sean, mereka harus menerima pembalasan dari keluarga Hault, pikir Sean menggeram. Sean menatap Laura yang masih terisak.
"Aku tidak akan meminta maaf Laura, ini kesalahanmu karena tidak mendengarku."
Dia menarik Laura lebih erat kepelukannya dan mengecup puncak kepalanya. "Aku bukan pria yang selalu lembut Laura jadi jangan membuatku marah, kau mendengarku sayang?" Laura terisak sambil mengangguk di pelukan Sean.
__ADS_1