Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 60


__ADS_3

Mereka semua akhirnya pergi. Leona menghembuskan napas, tapi masih belum puas dengan sedikit rahasia yang dia ungkapkan, mereka hanya mencari-cari kesalahannya tanpa menyadari rahasia busuk mereka sendiri.


Untung saja Leona gadis lincah yang ulet, dia tidak akan mudah di tindas, sejak kecil dia sudah bekerja keras kesana kemari menafkahi dirinya, kadang dia menjadi kuli sayuran dan mengangkat hasil sayuran warga desa, di sana juga berbagai gosip maupun rahasia penting dapat di dengarnya. Terkadang dia mencari rumput dan memberi makan sapi-sapi atau kuda mereka setelah itu mereka akan memberinya upah.


Meskipun keluarga Caron merawatnya tetapi Leona kecil menyadari bagaimana dia di perlakukan berbeda dengan dua saudara Caron, perlakuan berbeda dan bentakan serta makian yang sering di terimanya dari Nyonya Caron, membuatnya sadar bahwa dia bukan bagian dari keluarga ini, meskipun Jastin dan Latty begitu baik dan sayang padanya. Hingga sekitar usia 15 tahun, Leona keluar dari rumah itu, mencari tempat tinggalnya sendiri, namanya pun hanya Leona, tidak ada nama yang menyertai nama belakangnya, nama itu pun hanya diberikan kepadanya, berkat kalung kecil yang di pakaikan di lehernya oleh entah siapa, bertuliskan Leona, meskipun katanya kalung itu telah hilang, itu kata ibu Latty.


Jadi Leona dapat mengetahui rahasia para penduduk di pulau kecil ini, mereka semua takut jika namanya tercoreng apalagi perpecahan dalam rumah tangga mereka, jadi mereka menyimpan rapat-rapat rahasia kotor mereka.


"Haaah, aku masih ingin membongkar sebagian rahasia mereka lagi, mereka rupanya terlalu menganggap diri mereka suci." Ucap Leona dengan marah.


"Tch mereka pergi juga, jika saja mereka berada di negaraku, semua orang-orang tadi sudah kuseret kepenjara. Leona lalu berbalik dan menatapnya. "Aku sering kali mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu, memangnya kau sanggup melakukannya? memanggil prajurit-prajurit dan mengikuti ucapanmu." Ucap Leona.


"Tentu, mereka semua tidak mengetahui siapa aku sebenarnya." Ucap Edmund sambil tersenyum sinis.


"Memangnya kau siapa? kau belum menceritakan siapa dirimu dan kau berasal dari mana, kenapa aku bodoh sekali, tidak menanyakan asal usul penumpang asing yang sudah lama menginap di rumahku." Ucap Leona sambil bersedekap.


"Ayo katakan."


Edmund menatap tajam mata coklat terang itu yang langsung menatapnya, "Kau ingin tahu?" tanyanya sambil melengkungkan bibirnya.


"Tentu, bisa saja apa yang mereka katakan itu benar, tetapi aku ragu kau itu bajak laut, di lihat dari manapun, kau tidak terlihat seperti mereka, benar kan tebakanku?"


"Mungkin saja." Ucap Edmund matanya tiba-tiba menatap tajam sosok wanita yang berdiri jauh di belakang pepohonan, dia berdiri di sana memperhatikan mereka berdua yang sedang berbincang.


"Sepertinya aku tahu siapa dalang yang melakukan semua ini, ayo masuk, nenek sihir ada di luar rumah pada jam seperti ini." Ucap Edmund dengan suara yang jelas.


"Nenek sihir? dimana?" Leona mencoba berbalik tetapi Edmund telah menariknya masuk ke dalam rumah.


Wanita itu menggigit-gigit kukunya, dia sangat geram, rencananya tidak berhasil, malah sekarang dia mengetahui rahasia yang membuat dirinya malu. "Sial, ini masih belum berakhir, kalian berdua akan mendapatkan hukuman karena memperlakukanku seperti ini." Gumamnya, dia lalu berbalik dan segera pergi dari sana.


***


Leona sedang membuat makan malam untuk mereka berdua, sore itu dia begitu gerah dan ingin mandi karena tubuhnya terasa lengket dan penuh keringat. Setelah menyelesaikan membuat makan malam, dia meletakkan di atas meja, Edmund mulai duduk di sana dan mulai makan makanannya. Sedangkan Leona sibuk di belakangnya berkutat dengan pakaiannya yang berdebu dan hendak melepasnya, Edmund mendengar suara dari pakaian yang dibuka, dia ingin berbalik tetapi tentu saja Leona akan melemparkan sesuatu kepadanya.


"Kalau kau berbalik sedikit saja, aku juga akan mengintipmu ketika kau mandi, memangnya hanya lelaki saja yang boleh mengintip." Ucap Leona dengan suara tajam, sambil menarik pakaiannya dari atas kepalanya.


"Aku tidak berbalik, kau puas."


Leona mendengus lalu mengenakan handuknya, dia melewati Edmund dengan handuk yang melilit di tubuhnya.


"Baru pertama kali kau seperti itu di depanku, apa kau mencoba mengodaku?"


Leona berbalik dan mendecak, dia lalu masuk ke dalam kamar mandi tanpa meladeni ucapan Edmund.


"Satu kesalahan yang kau lakukan di depanku Leona, aku bisa saja menyerangmu kapan saja." Gumamnya sambil mengunyah makanannya dan menatap ke arah kamar mandi.


***


Suara jangkrik sangat jelas terdengar malam itu, angin bertiup lembut dan dinginnya malam mulai terasa, Leona sudah tertidur sejak tadi, hanya seseorang yang berbaring di sana dengan gelisah, sejak tadi dia sudah balik ke kanan dan ke kiri. Matanya masih terbuka lebar, terkadang matanya tertuju kepada Leona yang tidur sambil merentangkan kedua tangannya.


Edmund lalu terduduk, dia membuka sedikit jendela yang berada di sampingnya dan menatap terangnya bulan dan gemerlapnya bintang malam itu, dia masih mengingat bagaimana dirinya di sapu oleh ombak terapung-apung di lautan yang luas, beruntung nyawanya masih bisa di selamatkan, entah mengapa tetapi dia selamat dan terdampar di pulau ini.


Edmund mengingat keluarga-keluarganya di kota Cambridge, suasana kota dan suasana kapal yang mengarungi lautan yang luas.

__ADS_1


"Apakah hidupku akan berakhir di pulau ini?" Ucapnya, dia lalu berbalik dan menatap sosok Leona yang tertidur dengan roknya yang sedikit terangkat dan selimutnya yang teronggok di kakinya. Edmund lalu menarik selimutnya dan menariknya hingga sampai ke dagunya.


"Jika saja...aku tidak bisa keluar dari pulau ini, apakah aku akan berakhir bersamamu?" Gumam Edmund.


***


Pukul 9 pagi hari mereka berdua sudah berada di pasar di desa Zaudet, banyak hal yang diinginkan oleh Leona, dia membeli beberapa gaun sederhana untuknya, serta peralatan rumah tangga dan persediaan makanan.


"Norak, terlalu norak, beli yang lain." Edmund tidak setuju dengan gaun panjang yang di beli oleh Leona berwarna violet terang di lengkapi dengan bunga-bunga yang tampak di setiap ujungnya.


"Kenapa? aku sangat menyukainya, lagi pula bukan kau yang akan memakainya, tapi aku." Ucap Leona, dia tidak peduli dengan ketidaksetujuan pria itu mengenai pakaian yang dipilihnya.


"Aku ambil ini dan itu," dia menunjuk dua gaun lagi yang berwarna beda tetapi sama-sama bergambar bunga.


"Kau sama sekali tidak mengerti dengan fashion, jika nanti kau ke kota Ambridge, aku akan membawamu melihat koleksi busana modern wanita inggris dan kau akan menganga ketika melihat keindahannya." Ucap Edmund dengan nada mengejek.


"Iya iya, di sana lebih modern tapi jauh, aku lebih memilih yang norak tapi dapat kujangkau, sir." Senyum Leona sambil berputar memperlihatkan gaunnya ke arah Edmund.


"Ah, lihat pria seksi itu, katanya dia adalah tunangan Leona, sungguh tidak pantas bukan?"


"Dia menggodanya, dan membelikannya pakaian dan barang-barang lainnya, dasar perempuan penggoda, sama sekali tidak pantas." Ucap seorang wanita yang berdiri dengan mata yang luar biasa sinis dan geram, jelas sekali di wajahnya terlihat iri dan merasa jijik melihat tingkah Leona yang menurutnya tidak pantas, dia memandangnya sangat rendah.


"Aku sudah mencoba memeberinya pelajaran dengan memanggil penduduk di desa ini, tetapi sepertinya wanita itu sungguh licik, dia malah menyerang balik dengan membeberkan rahasia terdalam orang-orang desa. Apa kau bisa mengatasinya?" Ucap Sarah kepada sepupunya yang baru saja datang dari desa seberang yang berada di sebelah pulau.


"Tentu, aku paling paham bagaimana mengatasi wanita tidak tahu malu seperti itu, apalagi kecantikanku tidak bisa dibandingkan dengan wanita pengemis itu, kita akan lihat berapa lama pria itu akan tunduk di bawah kakiku." Ujarnya, dengan memperbaiki atasan gaunnya agar lebih turun ke bawah, dengan percaya diri dia berjalan mendekati tempat mereka berdiri.


Dia berpura-pura melihat-lihat pakaian yang ada di sana, dan memilih gaun yang dipilih oleh Leona.


"Maaf, aku akan membeli gaun ini, kalau anda mau, tanyakan pada penjualnya." Ucap Leona sambil merebut kembali gaun miliknya.


"Aku sudah bilang, kalau kau mau gaun yang sama, tanyakan pada penjualnya, biar dia ambilkan yang baru untukmu." Leona mulai tidak suka dengan tingkah wanita ini, apalagi dia seringkali melirik ke arah Edmund sambil membasahi bibirnya.


"Apa kau tunangan wanita ini?" dia menatap ke Edmund.


"Ya, dia tunanganku." Edmund sudah mengjra ada yang aneh dari wanita ini, ketika dia berbalik, dia melihat wanita bernama Sarah ada di sana, sepertinya wanita itu sengaja berulah lagi dan itu membuat Edmund geram.


"Maukah kau menolongku, agar gaun itu menjadi milikku" Ucapnya. Leona menatap Emdund dengan pandangan siap tempur, dia berpikir bahwa pria ini pasti mengikuti kemauan wanita cantik itu.


"Aku tidak mencampuri urusan wanita, tetapi aku akan memberikan saran untukmu, sebaiknya kau pergi, sebelum aku melakukan sesuatu untukmu, aku tahu siapa yang menyuruhmu dan apa tujuanmu jadi sebaiknya kau pergi." Ucap Edmund.


Perempuan itu bergerak mendekati Edmund, "Oh ya, apa yang akan kau lakukan padaku?" Ucapnya tanpa malu memegang lengan Edmund, Leona yang melihatnya hanya mengernyitkan hidungnya jijik melihat tingkahnya, sementara wanita berambut hitam yang berdiri di sana seakan terbakar cemburu, dia menggigit bibirnya dan menyentak kakinya.


Edmund berjalan perlahan dan menyentak tangan wanita itu hingga dia tidak seimbang dan jatuh di tanah hingga gaunnya terkena lumpur.


"Sebaiknya kau pergi sebelum aku lebih mempermalukanmu lagi, aku heran kenapa wanita di desa ini bodoh sekali." Ucap Edmund dengan wajah jahat.


Dia kembali menarik tangan Leona setelah membayar gaun-gaunnya."


Sarah berjalan menghampiri wanita itu, begitupun dengan teman yang lainnya, entah mengapa wajahnya terlihat puas, dia memberikan tangannya agar sepupunya itu bisa berdiri.


"Sulit bukan? semakin sulit pria itu untuk di taklukkan semakin kuat keinginanku untuk mendapatkannya, aku ingin sekali menyingkirkan wanita rendahan itu." Ucap Sarah dengan tangan terkepal kuat.


"Hei, apa kau sadar apa yang telah kau ucapkan? bukankah kau sudah mendapatkan Jastin? berikan dia padaku dan pria tadi jadi milikmu."

__ADS_1


"Jangan bercanda, memiliki Jastin dan pria bernama Edmund dalam satu waktu membuatku bersemangat, aku ingin lihat sampai sejauh mana pria itu akan menolakku, aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang."


Beberapa teman-temannya mundur beberapa langkah darinya, mereka berbisik-bisik di belakangnya. Mereka tidak menyangka sarah Marshmille mengungkapkan keinginannya yang tidak tahu malu seperti itu, tetapi wanita itu tampak tidak peduli dia sudah terlanjur jatuh hati kepada Edmund, pria yang membuatnya takut dan takluk.


***


"Wanita di desa ini mengerikan sekali, apa karena pulau ini terpencil sampai otak mereka juga seperti itu." Ucap Edmund, mereka berjalan sambil menenteng barang belanjaan mereka.


"Apa kau sedang menyinggung desaku?" Tanya Leona. "Apa kau lupa? karena pulau inilah kau masih hidup."


"Kau cerewet sekali, kita cepat pulang, aku sangat lelah membawa barang-barang ini." Ucap Edmund.


Terlihat keramaian di ujung desa, para warga berkumpul ketika melihat papan pengumuman.


"Sepertinya ada pengumuman baru dari kepala desa, ayo kita lihat." Ucap Leona sambil menarik tangan Edmund.


"Pengumuman apa itu?" Ucap Edmund.


"Hmm kurasa sudah saatnya mereka mengumumkan hal ini, setiap tahun, jika seorang pria dan wanita sudah cukup umur, mereka harus menikah, hal itu mereka lakukan untuk menghindari populasi penduduk di desa Zaudet yang semakin menurun, agar kelestarian pulau ini terjaga, mereka biasanya mengadakan pernikahan massal."


Edmund tersenyum, "Menarik juga."


"Menarik? apanya yang menarik?" Leona memandangnya dengan tidak mengerti.


"Kapan upacaranya di adakan?"


"Biasanya tiga sampai lima hari dari sekarang, pernikahan itu biasanya mereka rangkaikan dengan perayaan hari jadi desa ini, setiap warga akan memasak dan berpesta bersama."


"Hmm, Oh ya."


Seorang pria berkumis dan gendut sedang memegang catatan di tangannya, dia sejak tadi memperhatikan Leona dan Edmund yang berdiri sambil menatap pengumuman itu. Dia kemudian berjalan mendekati mereka.


"Bukankah kau Leona? berapa usiamu tahun ini?" tanyanya.


"Kenapa? usiaku 20 tahun."


"Hmm, tahun ini kau sudah harus menikah."


"A-apa? kau bercanda kan Sir?"


"Tentu saja tidak, lagi pula kau sudah memiliki seorang tunangan, untuk apa di tunda lagi, jadi anda akan mendaftarkan, Sir?" Ucap pria itu sambil bersiap menulis nama mereka.


Edmund memegang tangan Leona dan menatapnya. "Ya, kami akan mendaftar dan menikah." Leona membelalakkan matanya.


"Kau gila ya?" bisiknya.


"Sebutkan nama dan usia anda sir." Ucap pria itu terdengar dengan nada santai dan bosan, tanpa menatap wajah keduanya yang saling menatap, Edmund tersenyum, sementara Leona mendesis marah kepadanya.


"Namaku Edmund Alexander, usiaku 34 tahun. Aku akan menikah dengan Leona, usia 20 tahun."


"Sekarang kalian sudah terdaftar, tunggu beberapa hari lagi pernikahan massal ini akan kami langsungkan di desa ini, terima kasih atas partisipasinya." Pria itu berjalan pergi, dan mencari pasangan lainnya.


Leona menatap tajam Edmund, "Kau gila ya? apa maksudmu kita akan menikah, siapa yang ingin menikah denganmu?"

__ADS_1


"Aku tidak gila. Aku sudah berpikir cukup lama mengenai ini, mungkin sudah takdirku untuk tinggal di pulau ini dan menikah dengan gadis di pulau ini. Jadi aku memutuskan, aku akan menikah denganmu." Edmund menarik tangan Leona, "Sebentar lagi kau akan menjadi Nyonya Alexander."


__ADS_2