Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 77


__ADS_3

"Tidak ada wanita seperti yang anda cari tuan di desa ini, apa kita akan melanjutkan perjalanan hari ini?" Tanya seorang kepala pengawal. Mereka masih berada di desa Leaf.


"Kita akan beristirahat di desa, besok pagi kita akan melanjutkan perjalanan." Ucap Edmund. Napasnya terdengar berat dan tersengal. Dia merasa kepalanya pusing dan berdenyut.


"Cari tempat menginap, aku ingin beristirahat."


"Sebaiknya anda makan dulu, tuan. Seharian anda belum makan apa-apa." Ucap pengawal itu. Edmund menggelengkan kepalanya.


"Setelah istirahat aku akan makan, kepalaku sedikit pusing, beritahu yang lain agar mereka semua beristirahat."


"Baik tuan."


Edmund menginap di salah satu rumah penginapan tempa Leona menginap ketika pertama kali tiba di desa Leaf. Dia masuk ke kamar yang di tunjukkan oleh pemilik penginapan. Tiba-tiba dia berhenti. Wangi yang sangat dia kenal. Ada wangi lembut yang tertinggal di kamar itu. Sepertinya pemilik terakhir kamar ini adalah seorang wanita. Wangi itu tertinggal seperti memenuhi udara di kamar itu. Edmund menyukainya, dia lalu membuka sepatunya dan membaringkan tubuhnya yang lelah.


Dia menghirup udara dalam-dalam. Merasa merindukan wangi seperti seakan Leona ada di sisinya. Dia menutup matanya, kepalanya masih sakit dan berdenyut. Tubuhnya panas. Karena khawatir, kepala pengawal itu mengetuk kamar tuannya. Beberapa kali ketukan tetapi tidak di buka juga. Dia memegang knop pintu dan membuka kamarnya. Dia lalu menghampirinya.


"Tuan, anda baik-baik saja? Sepertinya tuan mengalami demam. Aku harus cari dokter." Pengawal itu pergi mencari dokter dan mengetuk rumah penduduk desa, tetapi hari sudah begitu larut tidak ada rumah yang terbuka.


Nampak dari kejauhan satu rumah kecil yang lampunya masih menyala. Pengawal itu berlari dan memasuki pekarangan milik Leona. Dia mengetuk keras dan Leona akhirnya membukanya.


Leona terkejut melihat seragam pria itu.


"A-ada apa?" tanyanya terlihat khawatir.


"Anda memiliki obat demam? Tuan kami terkena demam, sejak siang tadi dia terkena deman apalagi tuan belum makan sampai sekarang." Ucap pengawal itu nampak khawatir.


Leona segera masuk ke dalam dan mengambil kotak obatnya, dia mengenakan mantel bepergiannya. Kemudian mengikuti pengawal itu.


Mereka akhirnya tiba di penginapan. Leona terlihat khawatir, dia tahu tuan yang di maksud oleh prajurit tadi adalah Edmund. Perlahan dia membuka pintu kamarnya, ruangan gelap pun menyambutnya. Leona masuk ke dalam ruangan gelap itu, dan berjalan mendekati tempat tidur Edmund, dia memegang keningnya. Leona tampak terkejut.


"Panas Edmund sangat tinggi." Dia kemudian menyuruh pengawal itu membawa wadah berisi air dan handuk kecil agar Leona bisa mengompresnya, dan menurunkan panas Edmund.


Alis Edmund terus berkerut merasakan panas yang amat sangat, perlahan berubah menjadi sedikit tenang karena rasa dingin di keningnya. Leona mengambil handuk lain dan membasuh tubuhnya. Dia membuka pakaiannya dan menggantinya, karena pakaian yang di pakainya sudah basah karena keringat.


"Leona."


Leona terkejut karena namanya di sebut, dia melihat mata Edmund masih tertutup. Edmund merasakan kelembutan seseorang yang memegang keningnya. Dia melirik dan melihat Leona sedang duduk di sampingnya.


"Leona?" Bisiknya.


Leona terkejut, Edmund terlihat belum sadar sepenuhnya.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku sangat merindukanmu." Ucapnya. Air mata Leona jatuh. Ingin sekali dia memeluknya.


"Kemarilah, temani aku malam ini." Ucap Edmund.


Leona menundukkan kepalanya dan memberikan ciuman kepada Edmund. Tiba-tiba kedua tangan Edmund menyambar pinggang Leona dan menariknya ke atas tempat tidur. Dia memeluk erat Leona.


"Jangan pergi lagi, tetap di sisiku malam ini." Gumam Edmund. Matanya masih setengah terbuka. Kesadaran Edmund masih belum pulih sepenuhnya.


Leona memegang kedua pipi Edmund dan menundukkan kepalanya. Ciuman intens itu membuat Leona mengerang sudah begitu lama dia tidak merasakan ciuman Edmund.


Edmund mulai menarik gaun Leona. Tetapi tertahan oleh tangan Leona.


"T-tidak Edmund kau sakit dan kau sekarang tidak sadar. Panasmu sangat tinggi, kau perlu istirahat. Aku akan menemanimu di sini.


Edmund yang seakan mabuk dengan wangi Leona tidak mendengarkannya, dia membalik tubuhnya hingga Leona sekarang terkurung di bawah Edmund.


"E-edmund, tunggu dulu. Kau tidak bisa melakukannya, kau sakit dan belum pulih. Kau bahkan besok tidak akan mengingat semua ini."


"Aku mencintaimu Leona."


Hanya itu yang di ucapkannya. Dia mulai menerjang Leona, mengikuti nalurinya, sudah begitu lama dia tidak bercinta dengannya, membuat dirinya seperti gila. Malam itu Leona menyerahkan semuanya, dia pun begitu merindukan Edmund. Malam itu suara napas dan desahan mereka terdengar di ruangan tertutup itu. Malam itu mereka menghabiskan malam bersama, membuat kepala pengawal yang mendengarnya menjauh dari ruangan tuannya.


Edmund melepaskan Leona ketika fajar sebentar lagi tiba. Leona merasakan tubuhnya seakan remuk ketika Edmund akhirnya melepaskannya. Dia tidak bisa mempercayai dirinya. Dia ingin melupakan Edmund tetapi berakhir bercinta dengannya.


"Kau sakit dan belum pulih sepenuhnya dan masih bisa melakukannya?" Leona menggeleng keheranan, dia kemudian mengenakan kembali pakaiannya. Dia lalu memegang kening Edmund, dan merasakan bahwa suhu tubuhnya sudah kembali normal.


Leona mengecup bibir Edmund dan segera pergi. Dia berbalik sebentar dan akhirnya menutup pintu kamarnya. Pukul 08.00 Edmund membuka matanya karena silaunya sang surya, dia merasakan dirinya tidak demam lagi, anehnya tubuhnya terasa segar dan terbebaskan, letihnya hilang, dia lalu duduk dan menatap dirinya yang telanjang tanpa sehelai benangpun.


"Siapa yang membuka pakaianku?" Wangi kamarnya terasa berbeda, seakan bercampur dengan wangi seseorang. Dia seperti mengenal wangi tubuh ini. Edmund segera berdiri dan masuk ke kamar mandi. Anehnya, dia merasakan seseorang merawatnya semalam dan mendengar napas dan erangan seorang wanita.


"Apa aku bermimpi? Semalam aku demam dan tubuhku panas sekali." Setelah berpakaian. Edmund meninggalkan kamarnya dan menemui para pengawalnya.


"Siapa yang merawatku semalaman?" Tanya Edmund.


Kepala pengawal terlihat ragu untuk mengatakannya. "Seorang wanita tuan, dia merawat anda hingga larut malam."


"Oh ya, di mana wanita itu?"


"D-dia sudah pergi tuan, pagi-pagi sekali."


Edmund melihat sikap aneh dari kepala pengawalnya. Ingatan semalam tiba-tiba saja melintas di pikirannya. Suara seorang wanita memanggil-manggil namanya, dia mendesah dan menjerit lalu meneriakkan nama Edmund.

__ADS_1


"A-apakah aku menghabiskan malam dengan wanita itu?" tanyanya.


Dengan ragu-ragu kepala pengawal itu menjawabnya.


"I-iya tuan."


Edmund memijat-mijat kepalanya. "Kenapa kau membiarkan aku melakukannya? Ck, sebaiknya kita pergi dan menuju desa lainnya." Wajah pengawal itu tampak keheranan. Jelas sekali jika wanita itu mengenal tuan Edmund. Wajahnya pun mirip dengan istri tuan Edmund.


Mereka sudah berada di luar desa, tetapi kepala pengawal itu terlihat ragu-ragu meninggalkan desa. Edmund terus berusaha mengingat wanita semalam. Tiba-tiba dia menyadari sesuatu, wanita itu menyebut namanya ketika mereka bercinta semalam.


"Leona." Teriaknya tiba-tiba.


Edmund memutar kendali kudanya dan menyuruh kepala pengawal menunjukkan rumah wanita itu. Suara tapak kaki kuda kembali memasuki desa Leaf. Edmund segera turun didepan salah satu rumah kecil yang memiliki pekarangan cukup luas dengan tanahnya yang seperti baru saja di tanami bibit sayuran.


Edmund baru akan mengetuk pintu itu, tetapi seorang wanita membukanya. Leona terkejut. Dia menutup kembali pintu rumahnya, tetapi tangan Edmund sudah lebih dulu masuk ke dalam.


"Leona buka pintunya, dengarkan aku." Pintu membuka, Edmund segera menarik tubuh Leona dan memeluknya erat. Dia memeluk Leona dan menenggelamkan tubuhnya di pelukannya.


"Aku mencarimu kemana-mana, Leona. Kenapa kau meninggalkan aku. Apa kau tidak mencintaiku lagi?" Ucap Edmund melepaskan pelukannya dan menatap Leona.


"Kau kan akan menikah dengan wanita itu untuk apa aku ada di sana?" Ucap Leona marah, dia berusaha melepaskan pelukan Edmund, tetapi tentu saja Edmund tidak melepaskannya.


"Aku tidak jadi menikah dengan Sofia. Kalau kau pergi dariku, untuk apa aku menikah dengannya, lagi pula itu semua tidak di butuhkan lagi. Karena pernikahan kita telah di resmikan oleh kerajaan."


Leona menatapnya tidak percaya. "Apa maksudmu, Edmund?"


"Nanti aku akan cerita sayang, sekarang aku hanya ingin memelukmu saja dan menghabiskan waktu bersamamu." Ucap Edmund memberikan kecupan-kecupan kecil di wajah Leona.


"Tidak mau. Aku masih marah padamu Edmund. Seandainya saja aku tidak datang ketika hari itu, mungkin sekarang kau sudah menikah dengan ular itu. Apa kau pikir aku bersamamu hanya karena nama besar keluargamu? Aku hanya ingin bersamamu. Lagi pula kau sangat sibuk, kau meninggalkanku sendirian, bahkan ayahmu sakit kau tidak memberitahukan kepadaku, sementara perempuan ular itu sudah beberapa kali datang ke rumahmu. Apa kau menganggap aku begitu mudah, setelah di bujuk, aku akan mudah memaafkanmu?" Ucap Leona dengan marah. Dia menyimpan perkataan ini untuk Edmund, dia harus tahu rasa sakit yang Leona terima.


Edmund kembali berusaha membujuk Leona. Dia memegang kedua bahunya. "Aku bersalah Leona, maafkan aku. Seharusnya aku tidak memiliki ide gila menikahi perempuan itu. Aku hanya tidak ingin orang-orang membicarakan mengenai istri tidak sah keluarga Alexander. Aku muak mendengarnya. Maafkan aku. Aku tidak akan melakukan perbuatan bodoh itu lagi." Edmund menarik Leona yang tiba-tiba menangis, dia masih sakit hati jika mengingat kejadian itu.


Edmund menggendongnya dan mereka duduk di kursi. Leona berada di pangkuannya sambil terisak. Sebenarnya dia pun sangat merindukan Edmund. Tapi dia mencoba menahannya. Tetapi hari ini dia bisa meluapkan kekesalan dan kerinduannya kepada Edmund.


"Kau bisa memukulku kalau kau mau. Aku bisa menahannya, aku tidak keberatan jika istriku sendiri yang melakukannya." Ucap Edmund.


Leona menyipitkan matanya. "Kau yakin? Pukulanku sangat kuat, kau tahu kan?" Ucap Leona menaikkan alisnya.


"Lakukan saja, sayang. Aku masih bisa menahannya." Ucap Edmund. Meskipun sekarang wajahnya terlihat ragu ketika Leona memperlihatkan buku-buku jari tangannya.


"Kau yakin?" Ucap Leona sambil duduk tegak.

__ADS_1


"Kalau begitu tutup matamu. Aku tidak bisa melakukannya jika aku terus di tatap." Ucap Leona merajuk.


"Oke, sekarang aku sudah menutup mataku, sekarang lakukanlah sayang." Leona tersenyum, dia kemudian menarik kedua pipi Edmund dan mengalungkan kedua tangannya di leher Edmund, dia menarik hidungnya dan menciumnya.


__ADS_2