Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 37


__ADS_3

Laura mengintip dari pintu ruangan sebelah, dia begitu penasaran dengan kedatangan Edmund yang cukup berani dan menemui Sean.


Max berlari menghampiri ibunya, tahu kedatangan putranya Laura menunjukkan jari di bibirnya agar jangan berisik.


"Mommy, mengapa mom sembunyi di sini?" Tanyanya.


"Sstt, jangan ribut max aku ingin mendengar pembicaraan mereka."


"Oke Mom." Sambil menutup mulutnya sendiri.


"Pembicaraan penting apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Sean yang sudah duduk dihadapan Edmund.


Dia tersenyum, "Seharusnya kedatanganku ke sini untuk berbicara dengan Laura bukan kepadamu, tetapi karena kau ingin ikut campur jadi aku akan mengatakannya."


"Kakek Laura akan datang kemari untuk menjemput laura." Ucapnya.


"Kakek Laura, apa maksudmu?" Tanya Sean dengan kerutan alis yang dalam.


"Kau tidak tahu? Laura adalah cucu dari Kent Windsor, Karena suatu sebab Laura ditinggalkan di desa ini dan di besarkan oleh keluarga Johansson."


Sean begitu terkejut, begitupun Laura yang mendengarkan setiap perkataan Edmund di balik pintu.


"Bagaimana kau bisa yakin kalau Laura cucu dari tuan kent Windsor?" Tanya Sean kepalanya seakan-akan tertusuk-tusuk.


"Sudah bertahun-tahun pamanku mencarinya semenjak dia ditinggalkan di desa ini, dia menyelidiki keberadaan laura, tentu saja dia yakin kalau Laura adalah cucunya yang menghilang beberapa tahun yang lalu."


Sean begitu gelisah setelah mendengarkan perkataan Edmund, dia tidak menyangka laura adalah keluarga dari bangsawan yang ingin di hancurkannya.


"Itu semuanya tergantung Laura bukan? Dia mau atau tidak menerima Keluarga yang telah membuangnya semenjak kecil." Ucap Sean.


Edmund tersenyum miring, "ya, kau benar, tetapi pamanku ingin menemuinya ketika dia sampai di desa ini." Ucap Edmund yang kini telah berdiri dari kursinya.


Laura segera pergi ketika suara Edmund lebih mendekat dengan pintu.


"Kemari max." Ucap Laura menarik putranya bersembunyi di ruangan sebelah.


"Mommy, kita sedang main petak umpet ya?" Tanyanya sambil berbisik.


"Sst Jangan berisik."


Edmund segera pergi dari rumah Sean, tinggal sean yang duduk seorang diri berpikir dengan segala perkataan Edmund kepadanya.


Laura membuka pintu itu dan mendapati Sean sedang melamun.


"Sean?"

__ADS_1


Sean berbalik dan tersenyum kepada Laura.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Laura mendekati Sean.


Sean menarik tangan Laura dan segera duduk di atas pangkuannya.


"Aku yakin kau sudah mendengar semuanya sayang." Ucap Sean menarik dagu Laura lalu mengecupnya.


"Mm, ya aku mendengarnya Sean."


Mereka saling memandang, Laura memeluk erat tubuh Sean dan menyandarkan kepalanya di bahunya.


"Tidak ada yang akan berubah Sean, aku mencintaimu." Ucap Laura memeluk erat tubuh Sean.


"Kau benar sayang, kau bertemu dengan kakekmu atau tidak, semua itu tidak akan merubah apapun, aku ingin segera melangsungkan pernikahan kita." Ucap Sean mengecup bibir laura dengan lembut.


~


Kapal itu sudah berada di lautan yang akan menuju ke Estonia tepatnya di desa pirita yang menjadi tempat tinggal cucu perempuannya.


"Tuan sebaiknya anda masuk ke dalam, udaranya begitu dingin." Ucap salah satu pelayannya.


"Baiklah." Ucap tuan Windsor sambil memegang tongkatnya lalu masuk ke dalam. Dia memikirkan bagaimana kehidupan cucunya selama ini ketika dia di tinggalkan di desa itu. Apakah dia akan membencinya yang telah membuangnya?


Edmund tersenyum senang, dia merasa kesempatan besar telah datang kepadanya, dan kali ini dia akan berusaha membujuk pamannya agar menikahkannya dengan Laura, meskipun secara garis keturunan Edmund adalah pamannya sendiri, tetapi dia tidak perduli dia tetap ingin menikahi Laura.


~


"Sean"! Ucap Laura menegurnya.


"Kita berada di tempat terbuka, dan tubuhku masih letih, sebentar lagi max akan kemari, jadi berhentilah sayang."


Sean memeluk erat Laura dan menghirup aroma tubuh laura yang selalu membuat Sean ingin melakukannya setiap kali Laura berada dalam dekapannya, sean kali ini mendengarkan permintaan Laura.


Tidak lama max menghambur masuk mencari ayah dan ibunya dia berlarian dengan pedang di tangannya.


"Mommy, dad?" Wajahnya penuh keringat sehabis berlarian di taman.


Dia berlari menuju pangkuan Sean dan duduk di sana.


"Mommy? Bolehkah aku bermain dengan anak-anak di desa sore ini? sebentar lagi mereka akan bermain layangan di pinggir sungai, boleh ya mom, dan sudah lama aku tidak memetik buah berry mommy." Ucap max sambil menggoyangkan tubuhnya merajuk.


"Tentu saja boleh sayang, kita akan pergi bersama sore ini." Ucap Sean sambil mengacak-acak rambut max.


"Sebelum itu kau harus habiskan makan siangmu max begitupun dengan wortel dan paprika jika kau ingin bermain di luar dan tidak boleh ada yang tersisa." Ucap Laura menarik pipi max.

__ADS_1


"Key mom." Max tertunduk dengan wajah masam mendengar kata wortel dan paprika, sayuran yang menurutnya hanya diperuntukkan buat kelinci saja dan bukan untuknya.


~


Sore itu mereka bertiga berjalan-jalan di tengah desa pirita udara sejuk dan asri melengkapi keindahan desa itu, suara debur ombak dari kejauhan terdengar mengalun dan membuat perasaan terasa nyaman.


Orang-orang di desa itu menatap mereka bertiga bahkan menunjuk Laura dengan pandangan heran dan berbisik-bisik, apalagi gadis-gadis tukang gosip yang mengetahui latar belakang Laura.


Seorang wanita menghampiri mereka dengan rambut merah menyala, dia salah satu kenalan dari ajudan tuan Kouth.


"Hai laura." Sapanya.


Mereka bertiga berhenti berjalan dan menatap wanita itu.


"Hai ellena." Ucap Laura, meskipun sebenarnya saling sapa diantara mereka sangat jarang terjadi diantara keduanya.


"Bukankah Anda tuan Sean Nicholas Hoult?" Tanyanya.


Sean hanya mengangguk dan sebentar saja menatapnya kemudian dia mengalihkan perhatiannya kepada max yang sudah tidak sabar ingin pergi ke sungai.


"Apa yang terjadi? Mengapa kau bisa bersama tuan Hoult?" Tanya ellena terus terang, dia memandang Laura seakan Laura wanita tidak tahu malu yang mencoba mengganggu Sean.


Sebelum Laura menjawabnya. Sean dengan wajah dingin menatap kepada ellena.


"Tentu saja dia bersamaku karena Laura adalah istriku." Sean menarik tangan Laura meninggalkan ellena yang mematung dan membeku dengan mulut menganga. Serbuan teman-temannya datang menghampiri ellena dan ingin mengetahui apa yang di sampaikan tuan Sean kepadanya.


Laura menatap sean dan tersenyum, "desa ini betul-betul tidak berubah, begitupun wanita-wanita yang suka bergosip, aku heran melihat keingintahuan mereka dengan kehidupan orang lain." Ucap Sean sambil menggelengkan kepalanya.


~


"Paman!" Teriak Edmund yang menunggu tuan Windsor di pelabuhan dengan kereta kudanya.


"Edmund? Apa yang kau lakukan di tempat ini?" Tanya tuan Windsor dengan wajah terheran-heran.


"Nanti aku akan jelaskan paman, aku sengaja menjemput paman." Ucap Edmund.


Wajah tuan Windsor sedikit curiga mendapati Edmund berada di desa kecil ini.


"Apa yang kau ketahui Edmund?" Tanyanya.


Edmund tersenyum lalu mengambil koper tuan Windsor dan mengangkatnya ke dalam kereta.


"Semuanya paman, aku mengetahui semuanya. Jangan khawatir, aku ada di sini untuk membantu menemukan cucu paman, aku tahu di mana Laura tinggal."


Tuan Windsor menatapnya dengan tatapan mata khawatir, dia tahu betul sifat keponakannya satu ini, suka berpesta dan bermain-main dengan wanita, apalagi wanita-wanita yang pernah bersamanya sering di sakitinya, dan hal itu pernah membuat tuan Windsor kesulitan.

__ADS_1


"Aku ingin segera bertemu dengan cucuku Laura." Ucap tuan Windsor menatap jalanan di desa itu sambil mengerling Edmund yang sedang duduk di sampingnya.


__ADS_2