
Whisper Of The Sea 2
Malam itu berangin, sejak dulu sampai sekarang seperti itu, masih dengan kapal karam yang berdesakan di pulau yang katanya berhantu itu, seorang gadis berlari-lari di pantai yang teduh, kali ini dia melemparkan umpannya, berharap ikan dapat memakan buruannya.
Rambutnya yang bergelombang tertiup angin senja sore itu, matanya yang berwarna hijau yang dalam bersinar ceria ketika tali umpannya bergerak-gerak mendesak.
"Uhhuy, yes aku dapat, kali ini aku bisa membuat pancinganku sendiri tanpa bantuan Justin lagi, dia selalu meremahkanku, hari ini aku akan membuat makananku sendiri," Gadis itu menarik tali umpannya dan sebelum dia bersorak, rerumputan lebat telah tersangkut di mata pancingnya.
"Euh lagi-lagi, sudah lama aku tinggal di desa ini kenapa tidak satupun ikan berpihak kepadaku, tidak satupun ikan itu ingin di makan olehku, mereka kejam sekali." Gumamnya sambil duduk meratapi hasil pancingannya yang berserakan di depannya.
"Haaaa, dia pasti menertawakanku kalau aku pulang dengan tangan kosong, apa aku bermalam di sini saja? aku punya tempat persembunyian di kapal karam itu, lagi pula kapal itu sudah aku bersihkan dan tidak ada seorang pun yang datang ke sana."
Debur ombak malam itu terdengar mengerikan, apalagi di susul dengan hujan yang tidak menentu dan angin yang kencang, lautan terlihat hitam mengerikan. Leona lalu berlari-lari kecil mencari sebuah perlindungan agar dia tidak kehujanan dan baju satu-satunya itu akan basah terkena air hujan.
Dia menutupi tubuhnya yang ramping itu dengan kedua tangan kecilnya, dia berlari sngat kencang seperti seekor rusa yang terkena air hujan. Akhirnya dia telah tiba di kapal karam yang terlihat mengerikan, seperti tahu seluruh kondisi kapal, leona menyalakan api pada lentera kaca yang pecah, dia menambal pecahan itu dengan besi, agar apinya tidak mati tertiup angin laut.
Gadis itu masuk ke tempat persembunyian yang telah dibuatnya ketika dia hendak ingin memancing, apalagi ketika dia kemalaman, kapal karam itu sangat berguna untuknya.
Meskipun sulur-sulur tumbuh di setiap dinding kapal, tetapi tempat itu akan menjadi tempat yang nyaman selama gadis itu menempatinya, dia adalah gadis yang telaten, cerdik dan lincah, meskipun jastin selalu mengatainya kura-kura yang lambat, tetapi dia gadis yang ceria penuh tekad dan punya keinginan yang besar.
Dia akhirnya berlindung di dalam kapal itu, api dari lentera kaca sebagai penerangnya serta sekotak makanan yang di bawanya dari desa, menjadi penghibur dari rasa laparnya. "Besok aku pasti akan menemukan sesuatu." Gumam gadis itu.
****
Salah satu rumah di desa itu terlihat panik, angin begitu kencang, pohon-pohon tertiup angin hingga terlihat atap-atap rumah seperti akan beterbangan. Salah satu penghuni di rumah itu terlihat panik, dia segera memakai mantelnya karena khawatir dengan keadaan seseorang di luar sana.
"Memangnya kau bisa kemana, bodoh ! Apa kau tidak tahu bagaimana hujan dan angin terlihat menyeramkan di luar sana." Teriak sang ibu melihat khawatir kepada putranya yang sedang mengkhawatirkan seseorang.
"Leona masih belum pulang dari tepi pantai, bagaimana jika gadis itu di gulung ombak." Ucap pemuda bernama Justin itu.
__ADS_1
"Kalau begitu itulah takdirnya, dan apakah kau mau mengikuti takdir gadis tidak jelas itu?" Ucap seorang wanita sambil memegang kedua pinggangnya menatap marah kepada putranya.
"Lihat saja, lampu rumahnya bahkan menyala, kau pikir dia terlalu lugu untuk selalu kau jaga? Kenapa kalian berdua tidak berguna, lebih baik aku tidur saja." Ucap sang ibu.
Seorang gadis dengan wajah pucat dengan mata coklat menatap kakaknya yang terlihat sangat khawatir.
"Sudahlah kak Jastin, kau pikir leona gadis yang membiarkan dirinya di gulung ombak, dia paling mengenal kapal-kapal karam dan segala sesuatu di dalam hutan di bandingkan separuh penduduk desa, dia tahu menjaga dirinya, kau terlalu khawatir, siapa suruh kau menantangnya membawakanmu ikan, kau tahu bagaimana sifat Leona ketika di tantang seperti itu, dia akan dengan mudah memakan umpannya." Ucapnya, Pria itu akhirnya melepaskan mantelnya dan kembali duduk dengan tenang. "Aku harap dia tidak kedinginan di luar sana." Ucap pemuda itu.
****
Laut seakan menariknya, kakinya kram dan dia tenggelam begitu saja, hempasan ombak menggulung tubuhnya, pria itu berakhir di salah satu pulau, dia terdampar di tepi pantai yang katanya tidak berpenghuni dan berhantu itu. Akhirnya tubuhnya tersapu di sebuah pulau, panas matahari pun menyengat kala itu.
Langit hari itu terlihat berarak, gelombang air laut yang tenang dengan udara pantai yang nyaman, matahari begitu terik siang itu, burung-burung dipantai sedang melompat-lompat mencari kerang dan binatang laut.
Sosoknya yang terbaring di pasir pantai berwarna putih bersinar layaknya permata, kemejanya masih basah dan terlumuri oleh pasir putih. Dia masih berbaring dan belum sadarkan diri dari ombak yang membawanya ke pulau ini.
"Dia belum sadar, apakah dia masih hidup?" Ucap gadis itu.
Dia menundukkan kepalanya dan mendengarkan degupan jantung pria itu. "Dia masih hidup." Ucapnya dengan senang. Matanya berwarna hijau yang dalam menambah kecantikan gadis berwajah oval dan berambut karamel itu.
Matahari menghalangi wajah gadis yang duduk di hadapannya, sehingga Edmund tidak bisa menatap dengan jelas wajahnya.
"Hei kau sudah sadar?"
Gadis itu mengambil napas lega. "Aku pikir kau sudah mati, aku sangat senang kau masih hidup, kau bisa berdiri?" Tanyanya.
"Siapa kau?" Tanya Edmund masih belum begitu jelas melihat wajah gadis di hadapannya ini karena silaunya matahari.
"Aku? Namaku Leona, aku tinggal di pulau ini, desaku tidak begitu jauh dari sini, kau bisa menginap di rumahku untuk beristirahat, ah kau tahu, sangat jarang orang-orang datang ke desa kami yang terpencil ini, begitu jarangnya sampai-sampai ada yang mengatakan pulau kami adalah pulau berhantu atau pulau yang hilang, memang sih letaknya yang begitu jauh dari pulau-pulau lainnya." ucap gadis itu dengan wajah ceria.
Gadis itu terus bercerita sambil memapah Edmund menuju desanya, setelah mereka berjalan dan cahaya matahari tidak menyilaukan mata Edmund, dia akhirnya dapat melihat wajah gadis yang menolongnya.
__ADS_1
"Cantik." Ucap Edmund.
"Apa?" Ucap gadis itu dengan matanya yang membelalak berwarna hijau yang dalam, dia tersenyum senang melihat Edmund baik-baik saja.
"Kau tinggal sendirian?" Tanya Edmund.
"Ya, aku tinggal sendiri, orang-orang di desa ini yang memeliharaku hingga aku seperti sekarang." Ucapnya sambil tersenyum, dia memperlihatkan senyuman indahnya kepada Edmund.
"Semoga kau tidak menyukai perompak." Gumam Edmund.
"Apa? Perompak? Para perompak tidak mau datang kemari, mereka ketakutan untuk pergi ke pulau ini."
"Kenapa?" Tanya Edmund.
"Ada sebuah mitos di kalangan perompak, jika kau berada di pulau ini, kau tidak akan pernah bisa keluar dari pulau ini." Ucapnya.
"Benarkah itu?"
Sebenarnya cerita itu ada benarnya juga sih, karena sekali kau menginjakkan kakimu di pulau ini kau tidak akan bisa pergi dari sini, bukan karena mitos, tetapi karena arus yang harus kau lewati begitu mengerikan, pusaran air laut biasanya menenggelamkan kapal-kapal yang melewatinya, tetapi kau sungguh beruntung bisa ke pulau ini dengan melewati pusaran itu ."
Edmund menatap kapal-kapal yang menumpuk akibat di bawa oleh gelombang air laut, Edmund kemudian menatap gadis manis yang sedang memapahnya.
"Mungkin aku bisa betah hidup di desa ini."
"Kau mengatakan sesuatu?"
Edmund mengangkat alisnya, "Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa."
"Kau makan apa sih sir, kau berat sekali."
"Sir? kau memanggilku Sir?" Ucap Edmund tidak percaya merasa dirinya terhina dengan panggilan itu.
__ADS_1
"Kalau begitu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" Ucapnya, dia masih memapah lelaki itu di pundaknya. Pria bertubuh tinggi itu tersenyum kepadanya dengan wajah arogan nan angkuh.
"Panggil aku Edmund Alexander."