Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 66


__ADS_3

Dia mengenakan celana panjang berwarna hitam berbahan katun dengan kemeja hitam serta rompi coklat, sedangkan wajahnya yang cantik harus dia beri kotoran di permukaan kulitnya agar wajahnya nampak menghitam, agar dia tidak terlihat seperti seorang wanita.


Leona mengenakan topi yang biasanya di gunakan oleh awak kapal, yang umum di gunakan oleh mereka para perompak atau bajak laut. Baru kali ini Leona berada di atas lautan dengan jarak sudah begitu jauh dari desanya. Malam itu laut seakan membantu mereka dengan gelombang ombak yang tenang, hingga kapal mereka berlayar dengan lancar.


Meskipun perjalanan mereka cukup lama, tetapi Leona menikmati semua pemandangan malam itu, bulan menyinari air laut dengan keindahan sinarnya.


"Oi makan ! ini untukmu," dia memberikan roti untuk Jastin dan juga kepada Leona. Sikap kasar Ronald kepada Leona membuatnya tidak suka, biar bagaimanapun Leona seorang wanita, dia tidak mau jika Leona di kasari oleh siapapun.


"Ada apa?" Ucap Ronald sambil menggigit sandwichnya.


"Kenapa bicaramu seperti itu kepada Leona?" tanyanya. dengan dahi berkerut yang dalam.


Leona sontak berbalik ketika namanya di sebut. "Berkata bagaimana? begitulah keseharianku sebagai bajak laut, aku memperlakukan pria dan wanita sama, jangan harapkan sesuatu seperti berlaku lembut kepadanya kerena aku tidak punya waktu belajar berbicara sopan dengan seorang wanita."


"Aku tidak masalah Jastin, terserah bagaimana caranya berbicara, aku tidak peduli." Ucap Leona mengangkat bahunya.


Angin malam mulai membuat menggigil tubuh mereka bertiga, untung saja Leona mengenakan jaket tebal sehingga dia tidak begitu kedinginan. Dari kejauhan telah terlihat sebuah pulau. Pulau itu tidak begitu besar, tetapi di sana banyak batu-batu raksasa yang berdiri tegak, di bandingkan pohon-pohon seperti di desanya.


"Sebentar lagi kita akan tiba, aku mendengar kapal perompak itu akan datang pagi ini, jika beruntung, mereka akan menampung kita, jika kita memberikan sedikit emas. Kau bawa emas bukan?" Ucap pria itu menatap kepada Leona.


Leona lalu menganggukkan kepalanya. Pria itu kembali menatap Jastin, "bagaimana denganmu? Kau juga akan ikut bersama kami ke kota Cambridge."


"Tentu saja aku akan menemani Leona, kapal perompak adalah tempat paling berbahaya apalagi bagi seorang wanita, meskipun Leona sudah menyamar menjadi seorang pria, tetapi tetap saja berbahaya."


"Tch, oke terserah padamu saja."


"Apa tidak apa-apa Jastin? kau kan baru saja menikah dengan sarah, bagaimana ....


"Ini keputusanku, jadi jangan terbebani karena itu, Leona."


"Baiklah."


Setelah melewati gelombang air laut, akhirnya mereka tiba di pulau Rock, desa kecil penghasil berbagai macam rempah-rempah dan besi, jadi mereka kebanyakan menjual peralatan masak sampai kepada senjata dengan kualitas hebat. Ronald turun dari kapal, begitupun dengan Leona dan Jastin.


Leona terkesima dengan melihat banyaknya penduduk di desa kecil ini, mereka tiba saat fajar, sehingga aktivitas para penduduk di desa Rock mulai terlihat sepagi ini.


"Sial, aku lapar dan ngantuk. Sebaiknya kita cari penginapan yang tidak jauh dari pantai, kalian istirahat dulu, aku ngantuk, aku mau tidur sebentar." Ucapnya sambil menguap lebar-lebar.


Jastin dan Leona terpana dengan beraneka ragam dagangan di pasar itu, tidak semua barang-barang itu di jual di desanya. Dia mengikuti pria itu mencari penginapan untuk beristirahat. Mereka harus beristirahat untuk mengisi kembali tenaga mereka, karena sebentar lagi kapal perompak akan bersandar di pulau ini.


"Leona berikan tasmu, biar aku yang membawanya." Ucap Jastin. Leona berdecak.


"Sst, apa gunanya aku mengenakan pakaian pria ini kalau sejak tadi kau memanggilku dengan Leona." Ucap Leona sambil berjalan lebar-lebar mengikuti cara berjalan Ronald yang berjalan di depannya, pria tinggi itu mendengarkan percakapan mereka meskipun dia terlihat tidak peduli.


"Lalu aku harus memanggilmu apa? Leo?" Ucap Jastin berpikir sebutan yang cocok untuknya.


"Ide bagus, kau bisa memanggilku Leo, nama itu cocok untukku." Ucap Leona sambil bertepuk tangan senang.


"Apa kau yakin orang-orang akan percaya kalau kau seorang pria?" Ucap Jastin menilai penampilan leona, tinggi Leona memang tidak sama dengan mereka, dia termasuk pendek untuk ukuran seorang pria, tetapi juga tidak tidak pendek untuk ukuran wanita.


Leona tersenyum sinis, "Kau mau bukti kalau aku terlihat seperti pria?? Ok, aku akan membuktikannya. Dia berjalan di antara kerumunan wanita yang sedang berbelanja dan berdiri di antara mereka dan dia memberikan senyuman kepada mereka. Gadis-gadis itu melihatnya dengan wajah jijik.


"Apa maumu kau pria pemabuk, pergi sebelum aku memanggil keamanan." Ucap salah seorang wanita yang sengaja menutup hidungnya melihat wajah kotor Leona.

__ADS_1


"Bagaimana? kau percaya padaku sekarang? jangan khawatir aku akan menjadi pria sebaik mungkin, Jastin." Ucapnya sambil menepuk keras bahunya. "Ayo ikuti dia, aku tidak mau terpisah darinya."


***


Pagi telah menyambut mereka, angin lautan sangat segar di pagi itu, bagi para bajak laut, pagi tenang seperti ini, hanyalah menghabiskan waktu untuk tidur. Tidak ada gangguan apapun. Sejak pagi kapten Lewstin meniup sesuatu dengan menggunakan kerang kecil, dia tahu bahwa di balik kabut itu ada kapal perompak lainnya, jika dia beruntung, kapal perompak itu merupakan milik anak buah Sean Nicholas Hault.


"Apa yang kau lakukan Lewstin? Kau sengaja meniup kerang busuk itu untuk memanggil mereka." Dia mengambil kerang itu dan membuangnya. Pria bernama Rojes itu menyeringai mengerikan, dia bermaksud ingin membunuh Lewstin jika telah melewati kapal perompak.


Tapi sayangnya tidak ada kapal yang ada di balik kabut itu. Dia hanya menerka-nerkanya. Kali ini dia tidak beruntung.


"Hei, bangun, makan ini." Ucap seorang pria membawa nampan berisi roti dan segelas air. Memberikan makanan lewat nampan saja bagi seorang perompak itu sudah cukup mewah. Edmund menatapnya tajam.


"Bagaimana aku bisa makan jika kau tidak melepaskan kedua tanganku yang terikat ini?" Ucapnya.


"Kau pikir aku bodoh, mau melepaskan tanganmu? setelah itu kau akan menyerangku, aku tidak mau mengambil resiko itu."


"Jadi aku harus menggunakan mulutku kan, kita lihat bagaiamana mereka akan memberikanmu hadiah jika kau memperlakukanku sangat buruk." Ucap Edmund sambil kembali menutup kedua matanya tanpa menyentuh makanan itu. Pria itu tampak risau, dia akhirnya memutuskan melepaskan tangannya. Setelah dia melepaskan ikatan kuat itu di tangannya, dia memukul dengan cepat wajah pria itu dengan keras hingga dua kali pukulan dan dia pingsan.


Edmud mengintip dari arah koridor. Tampak kosong karena mereka semua belum bangun. Dia melangkah perlahan hingga tiba di pintu keluar dan naik ke dek atas tempat pria tua itu terikat. Mereka saling bertatapan dan memberikan isyarat kepada Edmund agar melepaskannya.


Untung saja dua pria yang menjaga Lewstin terkantuk-kantuk dan tidak menyadari kedatangan Edmund. Dia melepaskan ikatan Lewstin.


"Sebaiknya kau kembali, sisanya biar aku yang mengurus. Mereka sebentar lagi bangun, kita masih kalah jumlah." Edmund mengikuti apa yang pria itu katakan, dia segera kembali dan bersembunyi di suatu tempat.


***


Mereka berada di penginapan, Leona duduk di atas tepi tempat tidur dan memegang liontin itu. Dia berharap Edmund tidak terluka. Leona mengambil waktunya untuk membersihkan tubuhnya, karena jika dia berada di atas kapal, belum tentu dia akan mandi, apalagi jika di kelilingi oleh para perompak gila dan mengerikan.


Jastin dan Ronald berada di dalam satu ruangan mereka. Ronald mengambil kesempatan itu untuk berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya.


"PEROMPAK ! MEREKA DATANG !"


Saat itu Ronald bangun dari tidurnya begitupun Jastin, Leona yang berada di samping kamarnya pun ikut keluar dari kamarnya.


"Mereka datang sebaiknya kita bersiap-siap, mereka biasanya mampir hanya sebentar saja dan akan kembali ke atas kapal. Ronald berlari diikuti oleh Jastin dan Leona. Mereka melihat kapal raksasa yang sedang bersandar, terlihat beberapa pria sedang mengobrol di atas dek.


"Kalian tunggu di sini, aku akan bicara dengan mereka." Ucap Ronald, dia berjalan dan naik ke atas kapal, dia terlihat berbicara serius dengan mereka. Tidak lama kemudian dia kembali.


"Berapa yang mereka inginkan." Tanya Leona.


"Sepertinya bukan hanya kita saja yang akan naik di atas kapal ini, ada beberapa warga desa yang akan ikut ke atas kapal. Mereka meminta 15 koin emas, untuk kita bertiga. Semuanya lengkap dengan makan dan tempat tidur dan perlindungan dari mereka."


"Oke, aku setuju." Ucap Leona.


"Tunggu, bukankah 15 koin emas itu terlalu mahal? dengan 15 koin emas kau sudah bisa hidup selama 5 tahun ke depan tanpa perlu bekerja." Ucap Jastin.


"Tapi itu sepadan dengan tawaran yang mereka berikan. Makan, tempat tidur dan perlindungan." Ucap Leona, dengan cepat memberikan 15 koin emas kepada Ronald. Setelah kapal bersiap akan berangkat, mereka bertiga naik, setelah menyerahkan 15 koin emas. Mereka di antar ke tempat istirahat, rupanya ada 10 orang penumpang lainnya dari pulau Rock ini.


"Bukankah kau bilang wanita tidak bisa naik di atas kapal, lihat ! ada beberapa wanita yang naik ke atas kapal ini." Ucap Leona menunjuk mereka.


"Kau tidak lihat gaun mereka ya? Mereka itu wanitanya para perompak yang di beli di desa tadi." Ucap Arnold.


Leona mengenakan jaket panjang yang menutupi seluruh tubuhnya, karena angin laut sangat dingin. Kapal sudah bergerak meninggalkan desa dan akan menuju ke kota Cambridge di inggris, perlu waktu cukup lama untuk sampai ke sana.

__ADS_1


***


Malam hari tiba, pria bernama lewstin akhirnya dapat melumpuhkan awak-awak kapalnya yang telah berkhianat. Dia akhirnya menguasai kapalnya lagi. Di bantu oleh Edmund yang mengendap-endap memberikan pasokan senjata kepada mereka, sehingga mereka akhirnya menyerah.


"Tidak bisakah kapal ini kembali ke pulau Zaudetta?" Ucap Edmund kepada ayah Leona.


"Tidak bisa, jika kau memaksakan ingin kembali, kita semua bisa mati, tidak mudah merubah haluan kapal, kita akan semakin dekat dengan pusaran air dan bisa saja kapal akan rusak dan porak poranda jika melawan arus air."


"Kita akan kembali dulu ke Cambridge, dan kau bisa kembali ke Leona, dengan kapal yang lebih baik, atau bawa dia dari desa itu, biarkan dia melihat dunia yang luas selain pulau itu."


Edmund mengangguk sambil memandangi lautan luas yang tidak berujung berwarna kehitaman. Ingatannya tertuju kepada Leona, dia sangat merindukannya.


***


Leona sangat berhati-hati ketika berada di atas kapal, sebisa mungkin dia tidak melakukan percakapan kepada siapapun selain Jastin dan Ronald. Mereka para perompak ucapannya terdengar kasar, dan matanya tajam menatap setiap penumpang kapal.


Kapal melaju dengan cepat, Leona selalu berdoa agar kapal mereka segera sampai di kota Cambridge dan segera bertemu dengan Edmund. "Sabarlah Leona, kita akan berada di atas kapal selama 7 hari, setelah itu kita akan sampai di kota Cambridge." Ucap Jastin menyemangati.


"Aku sudah bilang, jangan memanggilku Leona, mereka nanti akan curiga Jastin, bodoh." Gumam Leona menatap dua pria yang lewat, untung saja mereka tidak terlalu memperhatikan percakapan mereka.


"Haha, aku lupa, Sorry."


Ronald berdiri di samping mereka berdua, dan mengatakan sesuatu yang penting. "Kalian lihat pria yang sejak tadi duduk di ujung dek, dia salah satu perompak juga di sini dan sejak tadi dia melihat ke tempat kalian, hati-hati dengannya, terutama kau Leona." Ucap Ronald.


"Jangan menakutiku, bukan hanya dia yang menakutkan, perompak itu semua menakutkan, lagi pula kita sudah menyewa tiga perompak yang melindungi kita selama di kapal bukan?"


"Tch, yang terkuatlah yang menang, meskipun dia sudah di bayar melindungi kita, jika dia di kalahkan, sama saja sasaran berikutnya tetap kita bertiga."


"Kalau begitu kau yang maju, lihat pria itu mulai bergerak dan melihat ke arah sini, kau kan jago berkelahi." Ucap Leona, dia mendorongnya ke depan agar menghadapi pria mengerikan itu.


Pria itu berjalan pelan, setelah itu dia berdiri di sana dengan menakutkan menatap mereka bertiga.


"Jangan berdiri di sana, air laut mulai kencang." Ucapnya. Pria itu lalu berbalik dan menegur siapa saja yang terlihat berdiri di tempat yang berbahaya.


"Jangan menilai seseorang dari luarnya saja." Ucap Leona sambil menatap lautan.


***


Daratan telah terlihat, sebentar lagi mereka akan sampai ke kota Cambridge. Mereka bertiga telah berada di lautan selama seminggu lebih, Leona ingin sekali muntah, dia ingin sekali menginjak daratan.


Mereka semua telah tiba di pelabuhan. Leona menatap kiri dan kanan, banyak bangunan tinggi menjulang, serta wanita cantik yang mengenakan gaun indah dan baru saja turun dari kereta kuda.


"Wow, hebat sekali." Gumam Leona, dia kemudian melihat dirinya, "Ugh aku seperti seorang pengemis, aku ingin mandi dan melepas pakaian sialan ini." Ucapnya.


"Kita cari penginapan, setelah itu aku akan berusaha menghubungi kapten, aku tahu dimana kapten berada, sepertinya dia telah tiba dua hari yang lalu." Leona, Jastin dan Ronald berjalan di tengah-tengah keramaian, orang-orang yang melihat mereka merasa terganggu karena pakaian mereka yang kotor. dan tudung yang menutupi kepala mereka.


"Apa yang sekarang dilakukan Edmund ya? Apa dia telah sampai ke keluarganya?" Gumam Leona ketika mereka berjalan. Tiba-tiba derap kaki kuda membuat orang-orang menyingkir, puluhan prajurit berbaris dan menyingkirkan orang-orang agar menepi di pinggir jalan, terompet besar di bunyikan, terdengar kereta kuda di sepanjang jalan, semua orang sedikit membungkukkan punggungnya memberikan penghormatan.


Leona dan Jastin begitu bingung dengan situasi seperti ini, seumur hidupnya baru kali ini dia melihat hal-hal menakjubkan seperti yang ada di depan matanya. Seorang pria berteriak keras.


"BERI HORMAT KEPADA ANGGOTA KELUARGA KERAJAAN, TUAN KENT WINDSOR, KENAN WINDSOR DAN TUAN EDMUND ALEXANDER."


Sontak ketiganya mengangkat kepalanya, Leona menatap seorang pria tampan berada di dalam kereta kuda, dia hanya bisa melihat kereta besar itu melalui jendelanya yang terbuka, tampak wajah Edmund sedang berbincang dengan seseorang di dalam kereta.

__ADS_1


"E-Edmund." Gumam Leona.


__ADS_2