Whisper Of The Sea

Whisper Of The Sea
Vol 51


__ADS_3

Hal yang tidak pernah terbayangkan di dalam kepala Edmund adalah terjun kelautan menyelamatkan orang yang menjadi saingan terbesar dalam memperebutkan cinta Laura.


Melihat Laura menangis berteriak dengan putus asa membuat Edmund tidak berpikir panjang untuk menolong perompak yang telah merebut Laura dari pelukannya.


Setelah edmund terjun kelautan, dia melihat Sean telah terapung-apung dengan darah yang mengalir dari lengannya, dengan sekuat tenaga Edmund berenang dan menariknya hingga sampai ke tepian kayu besar yang terombang-ambing. Dia menyandarkan kedua tangan Sean di kayu itu. Dia kemudian berenang mencari-cari barang yang bisa di jadikan sebagai pelampung, tidak jauh dari tubuh Sean terdapat kayu berukuran cukup besar.


Edmund berenang ke kayu itu tetapi sesuatu membuatnya tersentak, tiba-tiba saja kakinya kram tidak mau bergerak mengikuti keinginan Edmund, dia mencoba berenang sekuat tenaga ke kayu besar itu tetapi, dia tidak bisa menahan cukup lama hingga Edmund di bawa oleh ombak sore itu.


~


Laura menangis terisak sampai dia tertidur di samping tempat tidur Sean, dia menggenggam tangan Sean yang masih belum sadar, malam itu Sean membuka kedua matanya, dia menerawang menatap disekitarnya dan matanya jatuh kepada Laura yang tertidur di kursi di samping pembaringannya sambil menggenggam tangannya.


"Laura?" Ucap Sean yang sekarang merasa lebih baikan meskipun lukanya terasa sakit tetapi luka seperti ini bukanlah apa-apa bagi Sean, dia pernah mengalami luka yang lebih mengerikan di bandingkan luka tembak di lengannya seperti ini, hidup di lautan yang keras seringkali membuat tubuh Sean terluka.


Sean bangun dari pembaringannya, dia kemudian berdiri dan mengangkat tubuh Laura dengan enteng dan membaringkan di tempat tidurnya. Sean berjalan menuju jendela besar di kapal itu, ingatannya membawa Sean kepada Edmund yang menolongnya, meskipun begitu samar, Sean tahu jika Edmundlah yang menolongnya.


Sean menatap lautan yang gelap dengan ombak yang besar di malam itu, kemudian dia menatap lengannya yang di balut perban dan berbalik kepada Laura yang tertidur di ranjang. Dia menghembuskan napasnya dan kembali berbaring di samping Laura dan memeluknya dengan erat.


~


"Bagaimana? Apakah ada tanda keberadaan Edmund?" Tanya tuan Windsor kepada kapten di kapal ini, dia memerintahkan sejumlah besar orang-orangnya mencari Edmund di lautan, meskipun hasil yang didapatnya mengecewakan tetapi tuan Windsor tidak menyerah, dia terus mencari keponakannya itu.


Dia berdiri di anjungan kapal sambil menatap luasnya lautan yang terbentang, "Apakah kau masih hidup Edmund?" Bisik tuan Windsor menatap lautan yang luas dengan wajah pilu.


~


Laura terbangun pagi itu, dia menatap tempat tidurnya dan Sean tidak ada di sana, Laura mengedarkan pandangannya, mencari-cari Sean. Tiba-tiba pelayan-pelayan dan ibunya masuk ke kamar dengan membawa gaun indah berwarna putih, Laura masih terheran-heran melihat mereka dengan balutan dress yang sudah melekat di tubuh mereka.


"Ibu mau kemana?" Tanyanya.


"Bersiaplah sayang hari ini kita akan melangsungkan pernikahanmu, Sean sudah menunggumu di luar." Ucap Scarlett menarik tangan putrinya dan segera membawanya ke kamar mandi.


Tidak butuh waktu lama Laura akhirnya sudah selesai bersiap-siap, dia begitu cantik dengan wedding dressnya yang putih dan cantik.


"Berpeganglah kepada ayah dan ibu, kita akan membawamu ke tempat pria yang mencintaimu." Ucap Scarlett mengecup pipi putrinya dan George yang mengecup kening putrinya, mereka membawa Laura keluar dari kamar menuju ke ruangan yang sudah di dekorasi indah, ruangan itu sudah di penuhi oleh tamu-tamu undangan, nampak dari kejauhan tuan Windsor dan Sean yang menunggunya di sana dengan wajah tampannya, Laura menatap Sean, kebahagiaan terpeta di wajah cantiknya, sebelum mereka mengikat janji Laura memeluk erat Sean dan max, Laura bersyukur bisa berkumpul dengan orang-orang yang mencintainya dan di cintanya.


~


~


Beberapa tahun kemudian...๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


"Kakak? Kak max bangunlah, uhhh tukang tidul, bangunlah kakak, aku mendengal monstel dali kamalku." Ucap bocah kecil berumur 4 tahun itu yang suaranya terbata-bata.


"Emmm, tidurlah Edward, sebelum Daddy melihatmu keluar dari kamar lagi." Ucap max tidak memperdulikan adiknya yang bersandar di pinggir tempat tidurnya.


"Tapi...aku melihatnya." Rengek Edward.


Max memutar matanya lalu mengangkat adik kecilnya ke atas tempat tidurnya, dia menyelimutinya lalu memeluk adiknya.


"Tidurlah, tidur...Sherly lebih berani dibandingkan denganmu, lihat saja dia masih tidur nyenyak di kamarnya." Ucap max menepuk-nepuk pelan adiknya agar tertidur.


"Shellykan masih bayi, dia hanya akan menangis kalau lapal dan ngantuk saja." Balas edward sambil melipat tangannya dan mengkerucutkan bibirnya.


"Baiklah, baiklah..tidur Ed kakak ngantuk." Ucap max yang langsung tertidur begitu adiknya tidak bersuara lagi.


Kehidupan keluarga Hoult begitu bahagia, mereka sekarang ini tinggal di kota Cambridges tidak begitu jauh dari kastil tuan Windsor serta ayah dan ibunya, mereka berupaya agar Laura dan Sean tinggal tidak jauh dari mereka, hingga Sean membangun tempat tinggal mereka di kota yang sama.

__ADS_1


Mansion milik keluarga Hoult begitu besar dan luas, tetapi tidak sebesar dan seluas dari kastil tuan windsor, Sean dan Laura hidup berbahagia dengan dua orang putra dan seorang putri serta bayi yang di kandung Laura. Mereka sebentar lagi menunggu kelahiran bayi mereka yaitu anak keempat dari keluarga Hoult.


"Daddy ! Bangun dad, sudah pagi." Ucap Edward menepuk-nepuk pipi Sean dan mengecup pipi ayahnya, siapkan salapannya Daddy, Ed lapal." Ucap Edward di telinga ayahnya seperti dengungan nyamuk di telinga Sean.


Sean membuka matanya lalu menatap wajah putranya hanya beberapa inci saja dari wajahnya.


"Pagi sayang." Ucap Sean lalu mengecup pipi putra kecilnya.


"Dad?? Makan!" Bisik Edward.


"Daddy?!"


"Sekalang Daddy!" Titah Edward.


"Kau sungguh bossy pria kecil, siapa yang sedang kau tiru?" Sean menggelitik putranya yang tertawa-tawa di pelukannya.


"Siapa lagi kalau bukan kau Sean." Ucap Laura yang duduk, dia baru saja terbangun setelah mendengar ocehan Edward putranya, perut Laura sudah semakin membesar hingga dia tidak bisa begitu banyak bergerak, jadi seanlah yang memenuhi segala keperluan putra-putranya, meskipun tentu saja mereka memiliki banyak pelayan, tetapi Edward yang keras kepala tetap kukuh dengan sarapan yang harus dibuat oleh ayahnya.


Sean mendekat ke Laura dan mengecup bibirnya setelah itu mengecup perut Laura dan menyandarkan kepalanya di perut Laura, dia ingin mendengarkan tendangan bayi mungilnya di perut Laura. Edward yang melihatnya turut menyandarkan kepalanya di perut ibunya.


"Apakah aku akan memiliki adik lagi?" Tanyanya.


"Tentu sayang." Ucap Laura.


"uh, ayah masih akan menyayangi edwald kalau bayi ini lahil?" tanyanya sambil menunjuk perut ibunya.


Sean menarik Edward lalu memeluknya erat, "Kami menyayangi Max, Edward dan Sherly, begitupun adik kecilmu nanti, semuanya di sayang oleh mommy dan Daddy." ucap Sean.


Matanya menatap Sean dengan curiga, wajah Edward perpaduan antara Sean dan Laura, tetapi sikapnya begitu mirip dengan sang ayah.


Max membuka pintu kamar orang tuanya setelah mengetuk pintunya, dia membawa Sherly yang terbangun memanggil-manggil ibunya.


"Kemarilah sayang, jangan menangis lagi." Laura mengambil Sherly dari gendongan max. Sean mengacak rambut max dan mengecup putrinya.


Keluarga mereka begitu bahagia, suara tawa putra dan putri Laura melengkapi kebahagiaan keluarga kecil Sean. Tuan Windsor begitupun ibu dan ayahnya selalu datang mengunjungi mereka, dan membawa mereka ke kediamannya.


Max berteriak keras tatkala melihat kereta kuda berhenti di depan mansionnya.


"Kakek dan nenek datang, mereka membawa hadiah." ucapnya. Max dan Edward berlari menyambut kedatangan mereka, tinggal Sean dan Laura serta Sherly yang berada di gendongan Laura.


Mereka berdua menatap dari jendela besar kamarnya di lantai atas, max dan Edward yang sedang berlarian di taman menyambut kakek dan neneknya.


Sean memeluk Laura dan mengecupnya.


"Laura, aku mencintaimu." ucap Sean.


Ia menatap Laura dengan senyum tampannya. Laura tersenyum dan menyandarkan kepalanya di tubuh Sean. "Aku juga mencintaimu Sean." bisik laura


๐ŸŒŠ Fin๐ŸŒบ


Cast pemeran Whisper of the sea, menurut author pribadi yaaaaa, tmn2 readers yg mau berkhayal dengan cast lainnya, silahkan aja๐Ÿ’•๐Ÿ˜‰


Laura Scarlett Johansson



Sean Nicholas Hoult

__ADS_1



Edmund Alexander



Leona Lewstin



๐ŸŒŠEdmund Flashback๐ŸŒŠ


Langit hari itu terlihat berarak, gelombang air laut yang tenang dengan udara pantai yang nyaman, matahari begitu terik siang itu, burung-burung dipantai sedang melompat-lompat mencari kerang dan binatang laut.


Sosoknya yang terbaring di pasir pantai berwarna putih bersinar layaknya permata, kemejanya masih basah dan terlumuri oleh pasir putih. Dia masih berbaring dan belum sadarkan diri dari ombak yang membawanya ke pulau ini.


"Dia belum sadar, apakah dia masih hidup?" Ucap gadis itu.


Dia menundukkan kepalanya dan mendengarkan degupan jantung pria itu. "Dia masih hidup." Ucapnya dengan senang. Matanya berwarna hijau yang dalam menambah kecantikan gadis berwajah oval dan berambut karamel itu.


Seketika Edmund terbatuk-batuk, dia mengeluarkan air asin dari mulutnya, seluruh tubuhnya sakit dan terasa lengket, matanya menerawang ke tempat itu dan jatuh kepada wanita yang tengah duduk di hadapannya.


Matahari menghalangi wajah gadis yang duduk di hadapannya, sehingga Edmund tidak bisa menatap dengan jelas wajahnya.


"Kau sudah sadar?" Gadis itu mengambil napas lega. "Aku pikir kau sudah mati, aku sangat senang kau masih hidup, kau bisa berdiri?" Tanyanya.


"Siapa kau?" Tanya Edmund masih belum begitu jelas melihat wajah gadis di hadapannya ini karena silaunya matahari.


"Aku? Namaku Leona, aku tinggal di pulau ini, desaku tidak begitu jauh dari sini, kau bisa menginap di rumahku untuk beristirahat, ah kau tahu, sangat jarang orang-orang datang ke desa kami yang terpencil ini, begitu jarangnya sampai-sampai ada yang mengatakan pulau kami adalah pulau berhantu atau pulau yang hilang, memang sih letaknya yang begitu jauh dari pulau-pulau lainnya." ucap gadis itu dengan wajah ceria.


Gadis itu terus bercerita sambil memapah Edmund menuju desanya, setelah mereka berjalan dan cahaya matahari tidak menyilaukan mata Edmund dia akhirnya dapat melihat wajah gadis yang menolongnya.


"Cantik." Ucap Edmund.


"Apa?" Ucap gadis itu dengan matanya yang membelalak berwarna hijau yang dalam, dia tersenyum senang melihat Edmund baik-baik saja.


"Kau tinggal sendirian?" Tanya Edmund.


"Ya, aku tinggal sendiri, orang-orang di desa ini yang memeliharaku hingga aku seperti sekarang." Ucapnya sambil tersenyum, dia memperlihatkan senyuman indahnya kepada Edmund.


"Semoga kau tidak menyukai perompak!" Gumam Edmund.


"Apa? Perompak? Para perompak tidak mau datang kemari, mereka ketakutan untuk pergi ke pulau ini."


"Kenapa?" Tanya Edmund.


"Ada sebuah mitos di kalangan perompak, jika kau berada di pulau ini, kau tidak akan pernah bisa keluar dari pulau ini." Ucapnya.


"Benarkah itu?"


Sebenarnya cerita itu ada benarnya juga sih, karena sekali kau menginjakkan kakimu di pulau ini kau tidak akan bisa pergi dari sini, bukan karena mitos tetapi arus yang harus kau lewati begitu mengerikan, pusaran air laut biasanya menenggelamkan kapal-kapal yang melewatinya, tetapi kau sungguh beruntung bisa ke pulau ini dengan melewati pusaran itu ."


Edmund menatap kapal-kapal yang menumpuk akibat di bawa oleh gelombang air laut, Edmund kemudian menatap gadis manis yang sedang memapahnya.


"Mungkin aku bisa betah hidup di desa ini."


Gumam Edmund menaikkan alisnya sambil menatap wajah gadis cantik di sampingnya ini, dia tersenyum manis lalu membawa Edmund menuju ke desanya. Edmund menatap langit cerah di desa itu, dia mungkin akan hidup di desa itu cukup lama karena tidak ada tanda-tanda kapal akan melewati pulau terpencil ini, meskipun begitu Edmund tidak akan kesepian, karena ada Leona di sampingnya.

__ADS_1


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Hy tmn2 readers ๐Ÿ˜† Whisper of the Sea Fin di episode 51 nih, moga tmn2 suka deh endingnya, tmn2 jgn lupa beri ulasannya yaaaa, coment like and votenya slalu ku tunggu๐Ÿค—๐Ÿ’•๐Ÿ‘ makasih sudah mampir, jgn lupa yaaa, mampir lagi di novel-novel berikutnya.๐Ÿ™๐Ÿ™‹


__ADS_2