
Langit tampak begitu gelap dan berkabut. Seakan ikut menyaksikan gemuruh api amarah sang penguasa. Yang saat ini tengah dilanda emosi. Sang asisten pun tak berani berkutik sebelum diberi perintah oleh bosnya.
Hingga selang beberapa detik, Setelah pria itu diam tanpa kata. Kini, Zello mulai menatap sang asistennya. Jackson yang paham langsung menganggukkan kepalanya. Dan ia juga segera beranjak pergi dari dalam ruangan itu. Menutup pintu ruangan rapat. Dan menjaganya agar tak ada satu orang pun yang masuk.
Sedangkan dalam ruangan itu. Saat ini hanya ada Zello, Andes dan juga Sherly. Jackson paham, Jika Zello ingin memiliki ruang. Untuknya membahas sesuatu dengan Umi dan juga kakaknya.
Zeera sudah dibawa pulang lebih dulu oleh Fatih sang kakak. Meninggal kan Uminya, Yang memang sepertinya masih dibutuhkan disini. Di mension mewah kediaman keluarga Castano.
"Maaf Nona, Anda di larang untuk masuk! ". Jackson menahan Cici yang ingin masuk kedalam ruangan kerja abangnya.
" Aduh, Aku juga ingin tahu. Siapa yang telah berani menculik abang Ze...
"Nona muda, Tolong jangan persulit kerjaan saya! _. potong Jackson cepat. Sebelum gadis cantik itu kembali keceplosan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Karena disana ada Arandia juga.
Ya, Arandia pun setelah di izinkan tinggal di mension mewah keluarga castano. Gadis itu sama sekali tak di izinkan untuk membantu pekerjaan maid. Karena Zello membebaskan Arandia selama ia tinggal di mension ini. Namun, Zello tetap akan memberikan gaji Arandia selama gadis itu tak berbuat macam macam. Dan hanya menuruti semua perintah nya.
"Ck... Jackson. Kau itu sudah mukanya datar, Dingin, Ketus dan menyebalkan. Lengkap sudah apa yang kau miliki. Wajar saja masih perjaka sampai sekarang. Padahal, Kau hampir kepala empat". Cibir Cici dengan mencebikkan bibirnya.
__ADS_1
" Nona usia saya baru tiga puluh tahun tahun ". Timpal Jackson yang tak mau dibilang tua.
" Haisss... Sama saja, Itu artinya sepuluh tahun lagi kau sudah kepala empat. Dan kau tahu Jackson, Usia tidak ada yang tahu. Karena maut dan jodoh itu rahasia Tuhan, Kau juga tidak akan tahu diantara keduanya . Entah jodoh atau maut yang lebih dulu datang menghampiri mu".
Cici malah berdakwa di depan Jackson. Yang hanya di tatap datar oleh pria asli bule itu. Bahkan, Jackson juga bukanlah muslim. Ia menganut keyakinan yang sama dengan kedua orang tuanya.
Sedangkan Arandia hanya mengulum senyumnya saja. Ia tak menyangka jika adik Zein memiliki sifat yang kocak dan juga konyol seperti ini. Mungkin, Jika lama lama terus berdekatan dan berdampingan dengan Cici. Bisa bisa ginjalnya pun dibuat ikut tertawa setiap harinya. Sebab, Gadis cantik bak boneka india itu. Tak pernah kehabisan kata kata untuk membuat guyonan. Yang membuat sakit perut karena tertawa.
"Halah, Pasti kau tak paham juga kan?. Dasar bule datar". Cibir Cici kembali. Gadis itu sangat kesal, Karena ia tak izinkan untuk masuk kedalam sana. Padahal dirinya sangat ingin tahu. Apa yang sebenarnya akan di rencanakan oleh Abang dan juga Umi nya itu saat ini.
Jackson juga hanya diam. Tanpa ingin menyela ucapan Cici. Yang hanya akan menambah kepalanya muyeng saja, Jika di tanggapi olehnya. Dan bisa bisa berakhir seperti rel kereta api yang tak ada putusnya. Sebelum sampai tujuan yang di inginkan.
Di saat Cici memanyunkan bibirnya lantaran masih saja kesal. Tiba tiba ponselnya pun berdering. Dan nama Mommy nya langsung memenuhi layar ponselnya. Seketika, Wajah Cici langsung terlihat panik. Membuat Jackson ikut menautkan kedua alisnya bingung akan ekpresi wajah nona mudahya itu.
"Hallo, Mommy". Jawab Cici berusaha setenang mungkin. Setelah ia menarik nafasnya dalam dalam, Sebelum mengangkat panggilan telepon dari Mommy nya.
" Berikan ponselnya pada abangmu!. Berani sekali dia tidak menjawab telpon dari Mommy!! ".
__ADS_1
Suara seorang wanita begitu sangat emosi dari seberang sana. Membuat Cici hanya bisa meneguk salivanya sedikit susah.
" Tapi Mom. Abang sedang meeting di dalam rua...
"Tiga puluh menit dari sekarang, Mommy dan Daddy tunggu di rumah Oma!. Ingat jangan sampai terlambat! ".
Tut... Tut... Tutt...
Panggilan pun segera berakhir, Membuat Cici menepuk jidadnya panik bukan main.
" Ayo buka pintunya!. Mereka harus kerumah Oma sekaarang juga. Ibu Negara sedang tidak ingin bercanda ". Seru Cici menatap wajah Jackson dengan segala kepanikan nya.
Ceklek...
Jackson pun tanpa pikir panjang langsung membuka pintu ruangan kerja itu. Dan Cici malah tak bergeming di tempat nya berdiri. Membuat Jackson ikut mendongakkan kepalanya. Menatap ruangan kerja bosnya. Dan ternyata Zello sudah berdiri tepat di depan pintu tersebut. Tatapan nya begitu penuh kharismatik yang tinggi. Dan sangat cool.
"Abang Mommy dan Daddy su...
__ADS_1
" Aku sudah tahu". Potong Zello santai.
"What? ".