
Di belahan bumi yang berbeda. Saat ini seorang pria paruh baya. Sedang duduk di kursi kerjanya. Sambil menatap layar ponselnya. Baru saja, Putranya marah besar padanya. Karena, Ia berani ikut campur urusan pribadinya sendiri.
"Putraku, Marah padamu Vian? ". Naura menatap wajah suaminya. Sambil berdiri di bibir pintu ruangan kerja Mark. Bahkan, Naura menyilang kan kedua tangannya di depan dadanya.
" Aku terpaksa melakukan nya. Semua itu demi kebaikan rumah tangganya dengan Arandia". Jawab Zello yang tak punya pilihan lain.
Naura melangkah maju. Untuk menghampiri suaminya. Yang terlihat sangat pusing akan permasalahan para putranya. Sedangkan dirinya tidak bisa berbuat apapun. Naura tahu, Apa yang tengah di rasakan putranya. Namun, Ia juga tidak bisa menyatukan Zello dengan Syisil. Gadis yang ternyata di sukai dan di cintai oleh Zello.
"Seandainya, Kita tahu dari awal. Mungkin, Aku tidak akan memaksa nya untuk menikahi Arandia". Lirih Naura sambil duduk di pangkuan suaminya.
" Semuanya sudah terjadi sayang, Biarkan Zello fokus pada istrinya!. Kita tidak oleh egois lagi dalam hal ini. Aku yakin, Syisil pasti bisa menemukan pria lain. Yang jauh lebih baik dari Zello". Mark menjawab dengan suara lirihnya.
Baru kali ini, Naura melihat kerapuhan suaminya. Selain melihat dirinya terluka. Ternyata anak anaknya juga merupakan kelemahannya juga.
Sepasang suami-istri itu hanya bisa pasrah saat ini. Mereka memang salah, Hanya fokus pada kebahagiaan putrinya saja. Dan tidak pernah bertanya apa yang di butuhkan oleh Zello. Sehingga mereka pun telah menghancurkan kebahagiaan putranya sendiri. Hanya karena, Mereka tidak mau melihat Cici sedih untuk kedua kalinya. padahal, Masih ada Zein yang bisa mereka andalkan selain Zello, Zello dan Zello.
__ADS_1
"Sepertinya, Kita memang sudah tua sekarang". Naura berucap sambil terkekeh. Lalu ia mengecup bibir suaminya.
" Tapi, Kau masih saja terlihat cantik. Sayang". Jawab Mark sambil ikut mengecup bibir istrinya.Wanita yang dulu mampu membuatnya tergila gila. Dan begitu dekat tak pernah ia lepaskan lagi.
Dimana Mark pun rela mendekati seorang perwira polisi. Yang seharusnya ia hindari. Tetapi, Malah ia ambil hatinya. Hanya untuk mendapatkan anak gadisnya. Namun, Di saat mertuanya itu sudah pensiun. Sekarang, Cucu nya malah jadi musuh bebuyutan polisi juga. Tapi, Sayangnya otak cucunya lebih cerdas. Dan lebih licik serta kebal hukum.
"I love you". Ucap Mark yang tak pernah bosan. Untuk mengucapkan kata cinta. Untuk wanita yang sangat ia cintai. Dan satu satunya wanita yang ia sukai, Bahkan, Setianya tak usah di ragukan lagi.
"Love you more". Balas Naura yang tak pernah henti henti nya. Untuk terus mencintai suaminya. Meskipun ia tahu apa pekerjaan Mark sejak dulu. Namun, Tak membuatnya menjauh dan menghindarinya sedikitpun juga.
Di saat Cici ingin kabur. Ia malah melihat sepasang kaki. Yang saat ini sedang berdiri tepat di hadapannya. Membuat gadis cantik itu, Langsung mendongak kan kepalanya.
"Bang, Lucas". Serunya dengan senyum dibibirnya.
" Sedang apa kau disini?". Tanya Lucas dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Astaga, Kenapa semua keluarga ku. Memiliki wajah sedingin gunung es begini sih? ". Seru Cici sambil menggeleng kan kepala nya.
"Berisik". Lucas pun mentoyor jidad adik sepupunya itu. Dimana, Cici adalah satu satunya cucu perempuan di dalam keluarga Daddy nya. Sedangkan, Adiknya Alex. Itu sudah sepupu beda nenek dan kakek.
" Sejak kapan abang ada disini?. Kapan tibanya? ".
" Baru saja". Jawab Lucas dengan singkatnya.
"Lalu, Bagaimana keadaan bang Zein? ". Tanya Cici yang ternyata juga merindukan abangnya yang keras kepala itu.
" Mana aku tahu, Mungkin sudah di makan buaya".
"What??? ".
TBC
__ADS_1