WHO AM I Secret Mission

WHO AM I Secret Mission
Jalan Di Tempat


__ADS_3

Tiga Bulan Kemudian...


Arandia sedang duduk termenung di sebuah bangku panjang. Yang ada di taman belakang mension. Wajahnya ia tekuk pada lututnya. Tatapan matanya lurus kedepan saan. Baru beberapa hari ini, Gadis itu selesai wisuda. Dan kuliahnya pun berjalan lancar tanpa hambatan.


Zello menepati janjinya, Untuk menyokong dana dalam segala kebutuhan hidupnya. Bahkan, Tak hanya itu saja. Zello juga mengeluarkan dana yang tak main main. Untuk mendukung Arandia membuka usahanya.


Ya, Arandia memutuskan untuk terjun ke dunia bisnis. Sesuai dengan keahliannya. Yaitu bidang kuliner. Mungkin Arandia akan meneruskan bisnis kedua orang tuanya dulu. Dimana, Dulunya keluarga adalah pemilik berbagai cabang restoran di Negaranya. Jauh sebelum pembantaian itu terjadi.


Tetapi, Tetap saja meskipun Zello selalu mendukung apapun keinginannya. Dan pria itu juga tak pernah lepas dari tanggungjawab nya sebagai seorang suami. Dalam segi materi. Namun, Sampai saat ini hubungan Arandia dan juga Zello tak ada kemajuan sedikit pun.


Zello tetaplah Zello. Yang dingin, Datar dan tak tersentuh sama sekali. Bahkan, Zello lebih sering tidur di ruangan kerjanya. Daripada satu ranjang yang sama dengan Arandia. Kadang juga Zello, sering bolak balik ke luar Negeri. Dengan alasan kerjaan.


Seperti sekarang ini, Zello sedang berada di Singapura. Bersama asisten kepercayaan nya. Dan Arandia pun tak tahu Pekerjaan apa yang sedang di urus oleh Zello. Bahkan, dalam tiga bulan terakhir. Zello lebih sering mendatangi Negara itu.


"Dia, Sedang apa kamu disini? ". Seorang Wanita yang usianya tidak muda lagi. Datang menghampiri Arandia, Yang saat ini sedang duduk melamun sendirian.


" Ah, Oma... Kapan Oma datang?. Maaf, Dia tidak tahu jika Oma mau kesini". Arandia langsung membenarkan posisi duduknya.


Lea pun ikut duduk di samping Aran. Wanita cantik di usianya yang sudah lanjut itu. Menatap wajah Arandia dengan sedikit sendu. Ia sebenarnya sedih akan hidup gadis cantik di hadapan nya itu. Namun, Untuk memaksa Zello harus mencintai Aran. Itu sangatlah tidak mungkin. Tak ada satu orang pun, Yang bisa membuat Zello merubah keputusan nya.

__ADS_1


Naura dan juga Mark. Sudah beruntung bisa menekan Zello. Menggantikan posisi saudaranya. Untuk menikahi Arandia. Dan menjaga gadis malang itu dari beban kehidupan. Tak hanya itu, Zello juga perlahan mulai membuka kasus kematian kedua orang tua Arandia. Karena tak sulit bagi Zello, Untuk menemukan cerita lama itu.


Lea tersenyum teduh. "Apa Zello memperlakukan kamu dengan baik sayang? ". Tanya Lea yang sebenarnya kasian akan nasib Arandia saat ini.


Perempuan mana yang tahan. Dengan status nya yang sudah menjadi seorang istri. Namun, Hanya sebatas status saja. Tak pernah melakukan kontak fisik apapun. Bahkan, Sampai saat ini. Arandia masih tetap virgin.


Arandia mengangguk pelan. Karena memang benar adanya. Jika, Zello selama ini juga tak pernah main kasar padanya. Bahkan, Pria itu tak pernah membentaknya. Zello juga selalu mencukupi kebutuhan hidupnya. Namun, Hanya satu yang tak Zello lakukan. Yaitu, Mencoba untuk menyentuhnya, Ataupun memulai untuk mencintainya.


"Bang Zello suami yang baik Oma. Oma jangan khawatir!! ".


Lea merasa salut dengan Arandia. Meskipun, Ia tahu betul. Jika perasaan gadis itu sangat tersiksa. Dan pasti kecewa dengan semua sikap dingin Zello padanya. Namun, Arandia tidak pernah sekali pun membongkar aib pernikahan nya dengan siapapun.


Deg...


Arandia langsung terkejut akan pertanyaan Oma Lea. Dimana wanita lanjut usia itu, Saat ini sedang menatapnya dengan wajah seriusnya. Tetapi, Arandia masih saja bisa tersenyum.


" Sayang, Jika kau masih kuat untuk bertahan. Maka, Oma akan selalu mendukung mu. Tapi, Jika kamu ingin mundur itu pilihan kamu . Jangan paksakan diri dan menyiksa perasaanmu sendiri. Dalam jalan yang tak sanggup untuk kamu tempuh. Kamu juga berhak bahagia sayang! ".


" Oma tahu, Sampai saat ini kalian belum sama sekali melakukannya, Bukan? ". Celetuk Oma Lea blak blakan.

__ADS_1


Lea mengusap punggung tangan Arandia. Menyalurkan kekuatan nya untuk Arandia. Agar gadis itu bisa tetap sabar. Dan mencoba untuk membimbing Arandia, Agar gadis itu juga tidak terlalu lama memendam lukanya.


" Apa kau masih sanggup untuk menjalaninya?". Tanya Lea lagi


"Oma... Hiks... " . Arandia langsung memeluk tubuh Oma Lea. Saat ini ia benar benar butuh sandaran untuk menceritakan semua keluh kesahnya.


"Aku tidak bisa pergi Oma... hiks... ". Lirih Arandia pelan sambil terisak.


" Apa kamu mulai mencitai cucu Oma? ". Anggukan kepala Arandia. Membuat Lea tersenyum. Karena ia akan mendukung sepenuh hatinya. Untuk membantu Arandia mendapatkan cinta Zello.


Sebab, Bagi Lea pengakuan Arandia sudah cukup. Untuk ia jadikan amunisi. Membujuk Zello untuk belajar mencintai istrinya sendiri. Meskipun, Mereka juga tak tahu, Apa yang di rasakan oleh Zello sampai sekarang ini.


" Oma akan bantu kamu sayang, Untuk dapatkan hati suamimu".


Arandia langsung mendongak, untuk bisa menatap wajah Oma Lea. "Oma serius?". Tanya Arandia sedikit tak percaya.


Lea mengangguk kan kepalanya cepat. Membuat Arandia kembali memeluk tubuh wanita lanjut usia itu dengan erat. " Terima kasih Oma". Ucapnya begitu tulus. Lea pun kembali mengangguk kan kepalanya.


Sedangkan, Sherly hanya menatap iba pada Arandia. Dan wanita paruh baya itu. Langsung kembali melangkah masuk kedalam mension. Saat ia sudah mendengar perbincangan Mami mertuanya dan juga Arandia. Tatapan Sherly benar benar tak bisa di tebak. Namun, Wajahnya menyiratkan akan sangat sulit untuk membuat Zello menoleh pada cinta Arandia.

__ADS_1


__ADS_2