
Jam menunjukkan pukul empat subuh. Dia baru saja terjaga, Dan tak bisa kembali memejamkan matanya. Padahal, Ia juga baru terlelap beberapa menit yang lalu. Lantaran semalam ia sama sekali tidak bisa tidur. Perasaannya gelisah, Sehingga membuat nya enggan untuk terpejam.
Wanita itu bangun, Dan membenarkan piyama tidurnya. Lalu melangkah keluar kamar. Sambil membawa gelas kosong di tangannya. Suasana villa pun tampak gelap gulita. Hanya ada lampu kamar, Serta cahaya dari lampu luar saja. Yang sedikit menerangi ruangan di dalam.
Dia sudah terbiasa, Berjalan dalam gelapnya. Bahkan, Ia juga sudah hapal letak dapur. Meskipun semua lampu masih padam begini. Sedangkan, Ara adiknya Alex. Yang menemani Dia sejak ia di ungsikan disini. Telah kembali ke Negaranya lagi. Karena, Waktu liburannya pun telah usai.
Dia hanya di temani oleh para pelayan. Serta di jaga ketat oleh anggota Alex dan juga Daddy Mark. Di villa luas, Yang sangat jauh dari keramaian itu.
Greeppp....
"Awww... ". Pekik Dia histeris. Saat tiba tiba ia di dekap dari arah belakang. Oleh seseorang, Ketika Dia sedang membuka lemari pendingin di dapur.
Dalam suasana gelap seperti ini. Dia bahkan, Tak bisa melihat dengan jelas. Wajah siapa yang saat ini ada di belakang nya.
__ADS_1
" Hussttt.... Kau bisa membangunkan yang lain, Jika kau terus berteriak begini". Ujar suara serak nan tegas. Yang langsung membuat Dia membeku.
Wanita itu yang tadi sempat berontak. Dan ingin pergi mengucilkan dirinya, Dari dekapan pria yang sama sekali tak ia ketahui siapa. Namun, Sekarang tubuh Dia malah tak bergeming. Perlahan aroma maskulin dari tubuh sang pria. Mulai menyeruak masuk kedalam indera penciuman nya.
Tubuh Dia bergetar hebat, Membuat Zello heran. Lalu ia pun segera melonggarkan dekapannya. Dan membalikkan tubuh istrinya.
"Hei, Kenapa?. Apa aku menyakitimu? ". Tanya Zello yang nampak begitu khawatir. Saat ia merasakan pipi Dia basah. Akan lelehan bening, Yang jatuh dari mata sipit nya itu.
"Sayang, Maafkan aku!. Aku terpaksa mengabaikan mu selama ini. Namun, Percayalah!. Semua ini demi kebaikanmu juga". Ungkap Zello tanpa ingin ada yang harus ia tutup tutupi lagi.
" Hiks... Hiks... Aku benci sama abang... benci". Seru Dia sambil memukul dada bidang Zello. Berkali kali sampai ia malah lemas sendiri.
"Hsttt.... Kau boleh membenci ku!. Boleh marah padaku, Dan boleh memukulku!. Tapi, Tolong jangan pergi lagi dari hidupku!. Tolong jangan bahayakan dirimu sendiri lagi, Sayang! ". Baru kali ini, Dia mendengar panggilan yang tak biasa. Yang keluar dari mulut Zello Sendiri. Bahkan, Satu kalimat itu Yang mampu membuat Dia merasa senang , Tapi sekaligus rapuh.
__ADS_1
" Tapi... Ta... pi... Abang jahat!. Kenapa memilih menikahiku?. Jika abang sendiri sudah memiliki seorang kekasih... Hiks... Hiks... ".
Arandia kembali terisak pilu. Selama hidup jauh dari suaminya. Membawa Dia berpikir keras. Ia merasa sangat bersalah pada Syisil. Gadis yang telah dicintai oleh suaminya, Selama bertahun-tahun lamanya. Namun, Harus mengikhlaskan pria yang ia cintai. Untuk hidup bersama wanita lain. Agar sang pria bisa melindungi nya. Dan juga menggantikan posisi saudaranya sendiri.
"Jangan, Bahas masalah itu lagi, Sayang!. Semua sudah menjadi pilihan ku. Biarkan aku mempertanggungjawabkan semua pilihan ku ini. Tanpa ingin melukai banyak perasaan orang lain lagi! ". Jawab Zello yang langsung memasukkan tubuh Dia, Kedalam pelukan nya.
Tubuh Dia semakin bergetar, Dan ia pun terisak tangis. Yang tak mampu lagi membendung air matanya, Pertemuan nya dengan Zello malam ini. Membuat Dia merasa kerinduan nya terobati. Namun, Ia juga tak bisa Memungkiri, Jika hatinya masih sedikit kecewa dengan Zello. Pria itu sama sekali tidak pernah jujur padanya.
Tetapi, Di lain sisi. Hatinya mendambakan suaminya itu. Dan merindukan sentuhan lebihnya. Dia tak munafik jika setiap waktu. Otaknya selalu tertuju pada Zello.
"Apa kau tidak merindukan aku?. Hm? ".
Deg...
__ADS_1