
Tiga hari setelah hari di mana Zello telah selesai operasi kecil. Kini Zello sudah kembali beraktivitas kembali. Seperti sedia kala lagi. Zello juga tampak tetap biasa saja. Meskipun ia sendiri tahu, Apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya. Beberapa waktu yang lalu, Ketika Dia sedang melakukan perjalanan bisnis. Untuk menemui klie nya di Bali.
Sekarang Dia harus dijaga begitu ketara. Dimana, Wanita itu sama sekali tidak diberi cela. Untuk pergi seorang diri lagi. Zello juga telah menugaskan salah satu anggotanya. Untuk menjadi asisten pribadi istrinya. Sosok wanita yang sangat dingin dan juga tak banyak bicara. Dan hari ini adalah hari pertama Dia bertemu dengan sosok wanita itu.
Setelah sarapan pagi selesai. Zello beranjak dari tempat duduknya. Di ikuti oleh Dia istrinya. Karena seperti biasanya, Setelah sarapan keduanya akan beraktivitas masing-masing. Dia yang nampak biasa dengan setelan baju kerjanya. Mengekor di belakang punggung suaminya.
"Dia".
"Iya bang".
Tanpa curiga sedikitpun, Dia pun tersenyum teduh pada suaminya. Dan kini melangkah mendekati Zello. Dimana Zello tengah berdiri di depan teras mension mewah itu. Dengan tatapan yang begitu datar dan dingin.
" Berikan kunci mobilmu, Pada Dona!! ". Titah Zello melirik sosok wanita berambut pirang sebahu. Yang saat ini berada tepat di depan mobil milik istrinya.
Dia yang bingung. Karena, Ia sama sekali belum di beritahu. Jika ada orang lain yang baru saja ia lihat hari ini.
__ADS_1
" Mulai hari ini dan seterusnya, Dona akan menjadi asisten pribadi mu!. Dan Dona juga akan mengatur jam kerja mu!. Jadi, Jangan harap ada negosiasi! _. Perintah Zello tanpa terbantahkan.
"Tapi bang, Aku...
Dia mengurungkan niatnya untuk protes. Saat dirinya melihat tatapan dingin dari suaminya. Karena, Dia juga tak berani untuk menolak. Jika semua ini sudah menjadi keputusan Zello. Meskipun, Hatinya merasa tak nyaman. Untuk selalu di perlakukan seperti ini, Oleh suaminya sendiri.
"Apa kau sudah paham? ". Tanya Zello dengan nada bicara penuh penekanan.
Dia hanya menganggukkan kepalanya saja. Karena ia juga tak ada harapan untuk menolaknya. Wanita itu menghela nafasnya kasar. Lalu meraih punggung tangan Zello. Mencium nya dengan takzim. Kemudian, Ia melangkah pamit undur diri lebih dulu. Menyerahkan kunci mobilnya. Pada wanita yang memakai setelan jas hitam nya. Dengan hells tinggi sembilan sentimeter. Namun, Sayangnya tampak begitu pas di kaki jenjangnya itu.
Wanita itu langsung membuka pintu mobil. Untuk mempersilakan Nona nya masuk. Lalu ia pun tampak membungkukkan kepalanya. Menghadap pada Zello. Sebelum ia masuk kedalam mobil. Bersama istri atasannya itu.
"Saya harap anda tidak membuat masalah baru, Nona! ". Ucap Wanita bernama Dona itu tiba tiba. Saat mobil yang ia kendarai sudah mulai menjauh dari mension mewah. Tempat tinggal Zello dan istrinya selama ini.
" Memangnya, Apa yang sudah aku perbuat?". Sangkal Dia berusaha untuk tetap santai.
__ADS_1
Dona hanya menarik sudut bibir nya saja. Sambil melirik wajah istri Zello. Lewat kaca spion depan mobil itu. Membuat Dia semakin merasa tak nyaman. Baru kali ini, Dia bertemu dengan seorang wanita. Yang baginya sangat menyeramkan. Bahkan, Auranya saja melebihi jurig.
Dona membuka laci mobilnya. Dan mengambil map bewarna coklat dari sana. Lalu menyodorkan nya pada Dia. "Di dalam sini ada beberapa agenda, Untuk kegiatan anda selama satu bulan kedepan. Saya harap anda tidak merubahnya lagi! ". Ucapnya sambil fokus dengan setir mobilnya.
" Agenda? ". Ulang Dia bingung. Karena selama ini, Yang mengurus semua jadwal pekerjaannya adalah Andi.
" Anggap saja, Ini adalah agenda baru nona".
"Biasanya Andi yang mengurus semua nya. Jadi aku...
" Mulai hari ini semua tugas Andi. Saya yang ambil alih. Karena Andi, Sudah mengundurkan diri dari pekerjaan nya. Nona". Potong Dona dengan masih dengan wajahnya yang datar itu.
"Hah, Apa??. Ngundurin diri? _". Dia semakin terkejut saja. Dan mulai mencari ponselnya. Untuk menghubungi Andi sahabat serta orang yang ia percaya selama ini.
" Apa pria itu tidak memberitahu Anda sama sekali, Nona? ". Tanya Dona dengan nada mengejeknya.
__ADS_1
"Wah, Sayang sekali. Ternyata dia adalah pria brengsek juga". Guman Dona menahan kekehan kecilnya.
Dia yang masih sibuk, Untuk menghubungi Andi. Kini malah semakin khawatir. Lantaran nomor ponsel Andi sama sekali tidak bisa ia hubungi.