
Setelah makan malam. Zello langsung masuk kedalam ruangan kerjanya. Sedangkan Dia masuk kedalam kamarnya. Gadis itu memutuskan untuk menonton televisi di dalam kamar. Sambil menunggu suaminya menyelesaikan pekerjaan nya.
Malam ini, Dia berusaha untuk memberanikan diri memakai pakaian. Yang tak biasa ia kenakan sebelum nya. Sebuah gaun dinas malam, Yang tampak begitu tipis bewarna hitam membalut tubuhnya. Sehingga bagian dadanya nampak sesak. Kulitnya yang putih bersih sangat kontras dengan warna kain tersebut.
Meskipun Dia sedikit risih dengan pakaian nya saat ini. Namun, Balik lagi ia mengingat demi kebaikan hubungan nya dengan Zello. Dan semua ini juga ia lakukan untuk menggoda suaminya sendiri. Apalagi keluarga Zello juga mendukung nya penuh.
"Ayolah Arandia, Kamu pasti bisa! ". Ujarnya menyemangati dirinya sendiri.
Dia sengaja duduk di sofa, Sambil menarik nafasnya dalam dalam. Gadis itu memilih untuk menonton drama romantis. Berharap, Ia mendapatkan ilmu dari sana. Sehingga ia bisa juga menerapkan nya pada Zello suaminya.
" Apa aku harus melakukan hal itu juga? ". Guman Dia sambil memegangi bibir nya. Saat ia melihat adegan ciuman pada drama yang ia tonton.
"Aaaa... Tidak mungkin aku bisa melakukan nya. Dan tidak mungkin juga aku mempunyai keberanian seperti itu". Guman nya lagi, Sambil memukul pelan kepalanya.
Sungguh ini bukanlah sifat aslinya. Dia tidak menyangka, Jika menaklukkan hati seorang pria, Akan serumit dan sesulit ini. Apalagi, Pria yang akan ia taklukkan itu adalah pria super menakutkan. Dinginnya melebihi kutub utara dan bongkahan es balok.
__ADS_1
"Huh... ". Lagi lagi Dia menghembuskan nafasnya kasar. Otaknya sangat sulit bekerja dengan baik saat ini. Dirinya selalu kaku dan canggung. Setiap kali ia bersitatap dengan pria itu.
Drt... drt... drt...
Ponsel Dia berdering, Ia melirik ponselnya dan melihat nama Andi memenuhi layar ponsel tersebut. Senyum gadis itu terbit. Ketika ia membutuh kan teman curhat, Andi selalu datang tepat waktu.
"Halo Ndi, Kau memang sangat pengertian sekali". Seru Dia sambil melebar kan senyumnya.
"Kenapa? . Apa anda sedang dalam masalah nona? ".
" Andi aku sudah bilang berkali kali padamu. Jangan panggil aku nona lagi!. Kita itu akan jadi partner bisnis. Jadi, Aku harap kau bisa memanggilku cukup dengan nama saja! ".
"Oke baiklah. Sekarang ceritakan padaku!. Ada apa??". Tanya Andi yang sangat paham akan sikap Arandia. Sebab, Mereka berdua juga sudah tumbuh bersama sejak kecil. Jadi, Andi juga sangat mengenal betul bagaimana sosok Arandia dan apa saja kebiasaan nya.
" Apa aku salah jika mencintai suamiku sendiri??? ". Lirih Dia bertanya pada Andi. Saudara sekaligus sahabatnya.
__ADS_1
" Apa kau sudah mulai mencintai tuan Zello sekarang? ". Tanya balik Andi.
Dia pun menganggukkan kepalanya. Meskipun ia tahu, Jika Andi tak bisa melihatnya. " Perasaan ini datang dengan sendirinya Ndi. Aku juga tak paham, Kenapa aku bisa selemah ini".
Helaan nafas dari seberang telpon. Terdengar begitu jelas di telinga Dia. Ia tahu Andi sejak awal, Sudah pernah mewanti wantinya. Agar ia tidak menerima tawaran dari Zello. Apapun itu alasannya. Karena, Menurut Andi hanya akan menyulitkan posisi Dia saja. Sebagai seseorang yang dekat dengan Dia. Tentunya Andi tak ingin jika pada akhirnya. Gadis itu harus menerima luka dan kekecewaan saja. Semua bukan karena Andi memiliki rasa ataupun perasaan untuk Dia. Tetapi Lebih ke seorang kakak untuk adiknya.
"Dia, Apa kau yakin dengan keputusan ini? ". Lagi lagi Andi bertanya. Sebab, Ia bisa membaca dengan sifat dan karakter Zello. Dimana pria itu sama sekali tidak tersentuh. Mungkin akan sangat sulit untuk sekedar komunikasi dengannya.
" Andi, Seharusnya kau itu mendukung ku!. Kenapa malah membuat hatiku goyah saja?".
"Arandia, Bukan itu maksudku. Tapi, Aku hanya bisa bilang. Mundur lah sebelum rasa kecewamu semakin dalam!. Kau berhak mendapatkan pria yang benar benar tulus mencintaimu Dia!. Maaf, Bukan maksudku untuk membuat mu meragukan suamimu ataupun menyepelekan perasaan mu saat ini. Tapi, Aku hanya tidak mau jika pada akhirnya kau sendiri yang terluka". Andi tidak tahu kenapa, Dirinya tampak ragu akan perjuangan Arandia saat ini.
Ada perasaan yang membuat pria itu merasa khawatir. Karena Dia bukanlah tipe gadis yang kuat dan teguh pendirian. Ia masih butuh pengarahan dan juga bimbingan. Dia gampang goyah dan berubah ubah. Karena sesungguhnya, Rasa traumanya saat masih kecil. Masih saja menghantui pikiran gadis itu. Andi khawatir jika mereka saling mencintai nantinya. Kelemahan Zello ada pada istrinya. Dan juga orang orang yang ia sayangi.
Dan Andi juga cemas. Jika sifat Arandia nantinya malah di manfaatkan oleh musuh Zello. Untuk menghancurkan kekuasan dan juga kekuatan pria itu. Dan itu juga bisa menjadi masalah besar untuk orang orang di sekelilingnya.
__ADS_1
"Dari sekian banyak orang, Hanya kau saja yang tak mendukung ku Andi. Seharusnya, Kau juga bahagia jika aku bisa bahagia, Bukan? ". Dia tampak sedikit kesal akan kata kata Andi tadi. Ia malah sangka jika Andi sama sekali tidak pernah mendukung nya. Untuk merebut hati Zello.
Dia pun langsung mematikan sambungan telepon nya sepihak. Membuat Andi hanya bisa menghela nafasnya saja." Memang sulit untuk memberikan nasehat pada orang yang sedang di mabuk Cinta". Guman Andi sambil menatap layar ponselnya.