
Di belahan bumi yang lain. Saat ini seorang pria tampan dengan tatapan dinginnya. Sedang memperhatikan surel yang masuk. Tatapan nya begitu tajam dan sangat jelih. Waktu di Negara ini masih menunjukkan pukul empat pagi. Namun, Ia segera bangun lantaran ada beberapa pesan yang masuk ke e-mail nya.
Dan benar saja, Sesuai dugaan nya jika sepupunya satu itu. Tentunya tidak akan pernah tinggal diam. Ketika ada orang yang berani ikut campur dengan urusannya.
"Damn it... ". Lucas mengumpat. Saat ia mulai ingat sesuatu. Pria itu segera bergegas keluar kamarnya.Dan mencari sosok pria yang menjadi biang kerok. Oleh karena pria itulah, Sekarang dirinya ikut menjadi target sepupunya yang gila itu.
Brakkk...
Ia membuka kasar pintu kamar tamu. Yang ada di dalam Apartemen nya. Membuat seorang pria tampan yang masih lelap dalam tidurnya. Jadi terlonjat kaget dan langsung membuka matanya lebar lebar.
"F*ck... Come om man!. Why? ". Zein mengumpat kesal karena sepupunya. Tiba tiba masuk kedalam kamarnya, Dengan tatapan penuh emosinya.
" Segera bersiap sekarang!! ". Titahnya tanpa banyak bicara yang lain lagi.
" Bersiap? ". Ulang Zein masih tak mengerti. ". Kita akan kemana?? ". Tanya nya dengan tatapan bingung nya.
" Pulang ke Negara mu sana!. Karena aku tidak mau ikut campur lagi. Akan urusan dan masalah mu dengan Zello. Kau tahu, Apa yang dia lakukan pada perusahaan ku? ".
__ADS_1
Zein menggeleng kan kepalanya cepat. Karena ia juga benar benar tidak tahu menahu. Tentang apa yang di lakukan Zello saat ini. Hal itu membuat Lucas hanya menatap kesal. Dengan sepupunya satu ini.
" Wajar saja, Kau itu mudah di tipu orang. Sekarang aku paham kenapa juga Zello sempat mengurungmu".
"Kenapa?? ". Zein malah bertanya dengan raut wajah polosnya. Membuat Lucas menatap tak percaya akan perbedaan sifat saudara kembar itu.
" Karena kau itu bodoh".
"What?. Lucas... hei... Kau itu benar-benar keterlaluan sekali". Zein tampak tak terima. Karena ia selalu saja di bully oleh saudaranya.
" Bereskan semua barang barangmu!!. Aku akan mengantarkan mu ke Bandara sekarang juga!! ".
"****...kau itu memang sangat menyebalkan sekali, Zein". Lucas mengusap wajahnya kasar. Dan langsung ingin beranjak pergi dari kamar sepupu nya yang sedikit aneh itu.
" Lucas, Apa yang Zello lakukan pada perusahaan mu? ". Tanya Zein sedikit berteriak.
"Dia hampir membuat perusahaan ku bangkrut. Puas kau? ".
__ADS_1
" Hah... ". Zein melongo tak percaya. Jika kejadian ini akan terulang kembali. Ia tiba tiba mengingat momen masa masa kecilnya dulu. Dimana mereka belum begitu, di pusingkan akan masalah serumit sekarang.
" Ternyata menjadi dewasa. Sangat menyusahkan diri dan pikiran. Apalagi urusan hati". Guman nya pelan.
Sedangkan Lucas saat ini. Telah kembali ke kamarnya, Dan mulai memberikan serangan balik. Untuk memberikan hadiahnya juga pada Zello. Ia juga masih bisa membantu Zein. Karena Lucas tidak sekejam Zello. Yang kadang tidak mempunyai hati nurani lagi. Makanya, Zein tak salah meminta perlindungan pada Lucas.
Sebab, Zein yakin. Sesadis dan sekejam apapun Lucas. Ia masih bisa di jadikan teman. Dan akan membantunya, Selama masalah itu, Tidak membuatnya rusak.
"Kau pikir aku akan mengalah begitu saja, Zello?". Lucas menyeringai licik. Dan mulai mengotak atik layar monitor di mejanya. Dan benar saja, Hanya dengan hitungan detik. Jari jemarinya menari nari memainkan keyboard. Kini pria itu tampak tersenyum puas.
Senyumnya semakin lebar. Kala ia melihat ponselnya berdering. Dan nama Zello langsung memenuhi layar ponselnya.
"Hai bro. Apa kau suka dengan hadiah ku? ". Ledek Lucas sambil mengulum senyum penuh kemenangan nya.
" Aku akan membunuhmu Lucas. Jika sampai masalah ini sampai ke telinga Mommy dan Daddy". Ancam Zello dengan tegas.
Lucas bukannya takut. Ia malah langsung tertawa terbahak-bahak. Karena, Hadiahnya benar-benar membuat Zello kalang kabut juga. Tak sia sia Lucas mengirim anak buahnya. Untuk mencari tahu informasi tentang kegiatan Zello beberapa bulan terakhir ini. Dan tanpa ia duga, Jika Zello sedang menyembunyikan sesuatu dari keluarga besarnya.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita melakukan negoisasi?. Hm? ". Tawar Lucas dengan seringai liciknya.
" Katakan apa maumu? ".