
Zello menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk yang ada di ruangan kerja nya. Jam sudah menunjuk kan pukul sepuluh malam. Namun, Pria itu masih saja tetap enggan untuk pulang ke mension. Bukan karena ia tidak perduli dengan Dia. Tetapi, Rasa bersalahnya terhadap Syisil kini semakin menyiksa hidupnya. Begitu juga dengan Dia, Wanita yang telah ia nikahi. Dan juga satu satunya wanita yang telah ia sentuh.
Hubungan nya dengan Syisil memang sudah terjalin sejak satu tahun lalu. Namun, Kisah cintanya tak berujung dan hanya dirinya sendiri yang tahu. Dan Jackson pun tak akan menceritakan kisah cinta tuannya. Kepada siapapun juga. Kalau tidak Zello sendiri yang memerintahkannya.
Jackson hanya diam dan tak mau mengganggu Zello saat ini. Sebagai seorang asisten nya pria itu memilih, untuk meninggalkan tuannya. Memberikan ia waktu untuk menyendiri. Mungkin dengan begini Zello bisa berpikir jernih. Untuk melanjutkan hidupnya kedepan nanti.
"Syisil, I'm sorry". Lirih Zello pelan sambil mengusap wajahnya kasar.
Saat ini Zello hanya merasa dirinya tak layak, Untuk mendapatkan cinta dari siapapun juga. Hari ini ia telah membuat wanita yang ia cintai pergi. Dan ia juga telah menyakiti dua wanita secara tak langsung.
"Aku mohon kembali lah Syisil!! ". Zello terus saja berguman. Karena sungguh ia begitu mencintai gadis itu. Melebihi dirinya sendiri. Hanya Syisil gadis pertama yang bisa meluluh kan hatinya. Bahkan, Itu sudah sejak mereka masih remaja dulu.
Tutur sapa dan keanggunan gadis itu. Serta kecerdasan nya. Sangat membuat Zello terpesona. Jika bicara soal paras. Mungkin Arandia akan kalah dengan Syisil. Namun, Zello bukan lah tipe pria, yang hanya menilai seseorang dari penampilan nya saja. Ia menyukai Syisil karena baginya. Gadis itu lain dari yang lainnya. Syisil tak pernah menunjukkan ketakutan nya. Meskipun ia sebenarnya sedang tidak baik baik saja. Gadis itu selalu mandiri, Dan tidak pernah bergantung pada orang lain.
Flashback On...
Lima belas tahun yang lalu, Di Negara Amerika tepatnya di pinggir dermaga. Kawasan LA. Seorang remaja laki laki sedang duduk seorang diri. Jam menunjukkan pukul enam sore. Hari ini adalah hari dimana kepenatannya di mulai.
Remaja tampan itu, Sangat jarang sekali pergi ke tempat umum. Namun, Entah kenapa hari ini ia malah ingin menikmati senja. Dimana langit bewarna biru keunguan, Akan tenggelam bersama sinar ke orangenan. Dimana burung buruan terbang membawa bekal hasil pencarian nya seharian ini. Menuju tempat peristirahatan nya masing-masing.
"No, Ketty!. Stop!. Ini punya ku". Seorang gadis kecil usianya yang masih sangat jauh dengan usia remaja laki laki tadi. Tampak sedang merebut kembali benda. Yang ada di tangan seorang remaja yang usianya tak jauh beda dengan nya.
" Berikan padaku!. Dasar anak pungut". Remaja bernama Ketty itu langsung mendorong tubuh gadis kecil itu. Hingga ia hampir tersungkur ke laut sana.
Jika saja remaja laki laki itu. Tidak sigap untuk menangkap tubuh mungilnya. Membuat remaja bernam Ketty itu, Langsung terlonjat kaget melihat sosok laki laki yang ia kenal.
__ADS_1
"Zello". Ujarnya dengan mata yang melotot sempurna.
Tanpa mengucapkan banyak kata. Ketty remaja pun langsung bergegas pergi dari sana. Meninggal kan gadis kecil itu dengan laki laki yang ia kenal. Karena tatapan Zello begitu mengisap nyali Ketty. Membuat iblis remaja itu, Langsung kabur dari hadapan nya.
Zello berusaha menenangkan sang gadis kecil. Saat benda yang ia pertahankan telah masuk kedalam laut sana.
"Hiks... Hiks... ".
" Kenapa kau menangis? ".
" Liontinnya jatuh... Hikss... ". Tangisnya semakin pecah sambil menunjuk kearah laut dibawah sana.
" Apa ini yang kau maksud? ". Zello remaja menyodorkan sebuah liontin pada gadis kecil itu. Yang usianya mungkin masih sekitar lima atau enam tahunan.
Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya. Sambil tersenyum sumringah. Sebuah senyuman yang langsung menusuk sampai ke hati bongkahan es balok itu. Tak sadar Zello remaja pun ikut menarik sudut bibir nya.
", Bisakalah kau bantu aku memakainya!! ". Ujar sang gadis kecil dengan wajah lugunya.
Tanpa menjawab Zello remaja pun langsung memakai kan liontin itu pada sang gadis kecil. Sungguh ini hal pertama kalinya. Untuk Zello melakukan kontak fisik dengan orang lain. Selain dengan keluarganya.
" Apa hubunganmu dengan Ketty? ". Tanya Zello langsung.
"Sister". Jawabnya dengan jujur. Zello sedikit menautkan kedua alisnya bingung. Karena setahu mereka, Ketty selama ini tinggal dengan seorang wanita bernama Maria. Yang ia panggil dengan Mommy.
" Mommy baru saja menikah dengan Daddy nya. Jadi, Kami...
__ADS_1
"Saudara tiri? ". Potong Zello cepat. Anggukan kepala gadis kecil itu membuat Zello kembali mendapatkan informasi tentang Ketty.
Sejak saat itulah keduanya sering bertemu. Dan hampir setiap sore di saat senja datang. Baik Zello maupun Syisil keduanya menunggu di tepi Dermaga. Hanya untuk saling berbagi cerita. Zello bahkan seolah lebih percaya seorang gadis kecil dibandingkan dengan saudaranya sendiri.
Satu hal yang selalu Zello ingat. Dari sekian banyak kalimat. Yang Syisil lontarkan padanya. "Jika aku dewasa nanti. Apa abang mau menikah denganku? ".
Saat itu malah dengan senyum tanpa beban nya menjawab. ". Tidak akan ada wanita lain, Yang pantas menjadi pendamping hidupku. Selain dirimu Syisil".
Flashback Off...
" Shiittt.... ".
Brakkkk...
Zello memukul badan sofa sekuat tenaga nya. Saat kata dan kalimat itu terus membayangi pikirannya. Bahkan, Mungkin ia tidak akan tenang, Selama Syisil belum mereka temukan.
" Bayi... ". Guman Zello yang baru mengingat seorang bayi, Yang berhasil anggotanya selamat kan. Saat Ketty mengalami pendarahan.
" Jackson ".
" Iya Mr".
"Dimana bayi itu? ".
" Maaf Mr. Nona Syisil membawa nya pergi juga".
__ADS_1
Deg...