WHO AM I Secret Mission

WHO AM I Secret Mission
Keputusan Sulit


__ADS_3

Zello menatap punggung Dia. Yang sudah tertidur pulas di atas ranjang mereka. Hanya tatapan datar dan juga nyaris tanpa ekspresi. Yang selalu Zello perlihatkan selama ini. Helaan nafasnya begitu berat. Sungguh ini bukanlah ia ia kehendaki. Namun, Sebuah takdir membawanya dalam sebuah lingkaran. Dimana ia juga akan merasa sulit untuk membuat keputusan.


"Maafkan aku Arandia!! ". Lirih Zello pelan. Sebelum ia beranjak dari ranjang nya. Dan melangkah masuk kedalam kamar mandi.


Dia menoleh saat Zello sudah masuk kedalam kamar mandinya. Hanya sebuah sudut bibir yang bisa Dia perlihatkan. Sebuah senyuman miris, Yang mungkin akan membuat hatinya kecewa.


" Apa seburuk itukah aku?. Sehingga suamiku saja tidak mau menyentuh tubuhku". Guman Dia pelan.Dan kembali memasukkan kepalanya kedalam selimut tebal itu.


Sungguh Dia juga tidak tahu, Apa yang ada di pikiran Zello. Ketika ia memintanya untuk menikah dengan nya beberapa bulan yang lalu. Namun, Dia juga sampai saat ini, Masih belum bisa untuk menaklukkan hati seorang Zello.


Di saat yang bersamaan, Zello saat ini hanya bisa diam. Meskipun, Ia juga akan membuat keputusan, Yang nantinya akan menyakiti seseorang. Dan juga dirinya sendiri. Zello meletakkan kedua tangannya pada dinding kaca. Di dalam kamar mandinya. Karena saat ini ia sedang membasahi tubuhnya Dengan guyuran air shower.


Menundukkan kepalanya. Agar ia bisa membasahi seluruh tubuhnya. Mungkin dengan demikian, Ia juga dapat berpikir jernih. Mengingat bagaimana, obrolannya dengan Andes tadi siang. Membuat dirinya kini mulai di lema berat.


"Shittt... ". Zello memukulkan tangannya pada tembok di sebelah kirinya.


Pria itu benar benar kalut saat ini. Bahkan, Andes saja tak pernah berpikir. Jika seorang Zello bisa seperti ini juga. Dan lebih parahnya lagi. Ternyata selama ini, Ia menutupi semuanya. Dari keluarga besarnya. Hingga Jackson pun ikut ikutan tutup mulut.

__ADS_1


Puas berpikir sendiri. Zello pun keluar dengan memakai handuk. Yang ia ikatkan hanya sebatas pinggang nya saja. Pria itu melirik kearah ranjang kembali. Dan kemudian masuk kedalam ruangan walk in closetnya. Mengganti pakaian nya, Dengan piyama tidurnya sebelum ia naik ke atas ranjang. Dan merebahkan tubuhnya yang gagah itu, Di atas kasur empuk. Tepat di samping Arandia.


Dia yang belum tertidur, Merasakan sedikit kenyamanan. Saat Zello malam ini. Mau tidur satu ranjang dengannya. Meskipun, Pria itu sama sekali belum tertarik dengan tubuhnya. Namun, Setidaknya malam ini adalah awal untuk kemajuan hubungan keduanya.


🌿🌿🌿🌿🌿


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Namun, Zello belum juga berniat untuk membuka matanya. Dia yang sejak tadi, sudah berada di lantai bawah dan sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya. Hanya sedikit heran saja, Sebab biasanya Zello sudah turun lebih awal. Tanpa harus ia bangunkan lagi. Tetapi, Pagi ini Zello malah belum terlihat batang hidungnya.


"Bibi, Tolong bikinkan kopi ya!. Saya ingin panggil suami ku dulu_.


" Baik Nona".


Ceklek...


Dahi Dia mengkerut. Saat ia masuk kedalam kamar. Zello masih belum membuka matanya. Perlahan, Gadis itu mendekat kearah ranjang. Dan duduk di samping suaminya. Yang saat ini masih memejamkan matanya.


"Abang... Bangun!. Abang gak ke kantor? ". Tanya Dia dengan suara pelan nya.

__ADS_1


Zello hanya menggeliat saja, Dan malah merubah posisi tidurnya. Membuat Dia menggeleng kan kepalanya. Akan tingkah Zello pagi ini.


" Udah siang loh bang. Biasanya abang juga udah...


"Hari ini aku tidak akan kemana mana". Jawabnya sambil masih memejamkan matanya.


Dia hanya diam. Tanpa ingin berkata apa apa lagi. Dan beberapa detik kemudian, Zello membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Dia. Yang terlihat sudah segar. Karena gadis itu sudah mandi lebih dulu. Sebelum ia turun ke lantai bawah tadi.


"Berkemas lah!. Kita akan terbang ke Bali pagi ini! ".


" Hah... Bali? ". Dia tampak terkejut akan penuturan Zello barusan.


" Hm, Bukankah kita belum pergi honeymoon setelah menikah? ". Tutur Zello sambil menatap wajah Dia. Yang semakin melongo saja.


Setelah berpikir keras semalam. Zello akhirnya akan berusaha membuka hatinya. Untuk Arandia, Dan itu pun ia lakukan. Agar ia tidak menyakiti banyak orang lagi. Terutama keluarga besarnya. Sementara untuk masalah nya yang lain. Akan Zello urus belakangan. Setelah ia bisa membuat Dia bisa nyaman terus bersanding dengannya.


Berat memang untuk masalah hati. Yang rumit dan sulit seperti ini. Dimana ia harus di paksa mencintai dan menerima wanita. Yang sama sekali tidak ia cintai. Tetapi, Demi saudaranya juga. Zello akan melakukan apapun. Meskipun, Ia sendiri yang akan menyedihkan hidupnya.

__ADS_1


"Kita pergi honeymoon bang?". Tanya Dia memastikan kembali.


" Hm". Zello hanya berdehem saja. Karena itu bukanlah keinginannya. Tetapi, Apa hendak dikata. Nasi telah jadi bubur. Meskipun ia tidak suka memakannya. Akan jauh lebih baik kalau ia sendiri, Yang membuat bumbu untuknya.


__ADS_2