
Satu Minggu Kemudian...
Cermin besar di depan sebuah kamar mewah, Menjadi tujuan seorang gadis cantik. Yang masih memakai gaun pengantin bewarna gold. Dengan payet bunga berlian. Dapat di tebak berapa harga gaun tersebut. Tentunya bukanlah harga yang murah, Karena gaun itu di rancang khusus oleh seorang desainer handal dan terkenal.
Label "JW" berada di pola resleting gaun nya. Yaitu perpaduan nama desainer dengan suaminya. Yang mana gaun itu selesai di kerjakan, Hanya dengan memakan waktu tiga hari saja. Waktu yang sangat singkat tentunya, Namun, Hasilnya tetap memukau.
Gadis itu menatap pantulan tubuhnya, Di depan cermin besar di dalam ruangan kamar tersebut. Cincin bertahtakan berlian. Melingkar indah di jari manisnya. Sebagai simbol bahwa dirinya sudah melepaskan masa lajangnya. Dan kini telah berstatus seorang istri dari pria, yang kemungkinan besar tak akan mungkin mencintainya , Dengan mudah.
Ceklek...
Arandia menoleh ketika ke pintu kamar nan luas. Dengan Ukiran mewah, Di sana sosok pria tampan dengan rahang tegas. Penuh kharismatik tinggi, Namun tatapannya begitu datar dan dingin. Nyaris tak tersentuh oleh siapapun juga.
Ia hanya menoleh sekilas pada Arandia. Lalu langsung masuk kedalam ruangan walk in closet. Mengganti semua pakaian nya. Dengan pakaian yang sedikit santai. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Baru sore tadi mereka melakukan ijab qobul. Namun, Sepertinya Zello sudah akan pergi lagi.
"Istirahat lah!. Aku ada urusan di luar. Dan kemungkinan tidak akan pulang ke Mension". Ujarnya dengan nada datar dan tatapan dinginnya.
__ADS_1
Arandia hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Meskipun, Ia sedikit kecewa. Karena di malam pernikahannya. Ia malah di tinggal seorang diri oleh suaminya. Gadis itu sadar sebenarnya. Untuk tidak berharap lebih pada pria seperti Zello. Karena untuk mendapatkan hati dan perhatian nya. Itu tidaklah mudah.
"Abang... Boleh bantu aku membuka gaunnya! ". Arandia memberanikan diri untuk meminta bantuan Zello. Meskipun, Sebenarnya ia gugup dan takut.
Ucapan Arandia membuat pria mengurung kan niatnya untuk membuka handle pintu kamarnya . Namun, Bukannya melangkah menghampiri Arandia. Zello malah berucap.
" Tunggulah di situ!. Akan aku panggil kan pelayan. Untuk membantu mu nanti". Tuturnya dengan raut wajah yang sama. Tak pernah ada ramah ramahnya sama sekali.
Setelah mengucapkan itu. Zello pun langsung keluar dari kamarnya. Meninggalkan Arandia, Yang tersenyum miris akan nasib hidupnya. Ia juga tak tahu pasti, Apa tujuan Zello menikahinya secepat ini. Satu yang Arandia, Pikirkan saat ini hanyalah untuk mengetahui. Apa motif pembantaian keluarganya. Dan sebelum itu terungkap, Mungkin Arandia tidak akan tenang hidupnya.
Namun, Hal itu tidak terjadi pada Arandia. Ia malah di tinggal begitu saja oleh suaminya. Zello malah mementingkan pekerjaan nya. Di bandingkan menemaninya malam ini.
"Pernikahan macam apa ini? ". Guman Arandia tersenyum kecut. Menatap pantulan tubuhnya. Yang sedang dibantu oleh pelayan. Membukakan resleting gaun pengantin nya.
" Bibi boleh keluar!! _.
__ADS_1
"Baik Nona muda".
Setelah pintu kamar kembali tertutup. Arandia membiarkan tubuhnya tetap setengah polos. Dan terus menatap dirinya dalam pantulan cermin besar itu. Dimana bodynya juga sangat lumayan. Tubuhya tinggi semampai kulitnya kuning langsat. Mata sipit khas orang Jepang. Dada sedikit berisi dengan bokong sintalnya.
"Apa dia juga tidak tertarik pada tubuhku? ". Guman Arandia pelan. Sambil terus memperhatikan tubuhnya sendiri.
Mungkin, Jika pria lain. Ia akan dengan senang hati untuk menghabiskan malamnya. Dengan dirinya saat ini, Namun, Itu semua tidak berlaku untuk Zello. Sedikit pun pria itu tak tertarik dengan tubuhnya. Bahkan, Zello hanya menatap dengan tatapan datarnya saja. Seolah Zello tidak menyukai tubuh wanita.
Bahkan saat hari pernikahannya tadi. Kedua orang tua Zello pun tak ikut hadir. Mereka hanya menyaksikan lewat panggilan video saja. Begitupula dengan Naura adik bungsu Zello. Pernikahan nya juga dihadiri oleh beberapa keluarga besar Zello yang ada di Jakarta. Sedangkan keluarga Arandia satu pun tidak ada lagi. Kecuali Andi, Sahabat sekaligus orang kepercayaan Arandia.
Brukkk...
Arandia langsung melempar kan tubuhnya. Di atas ranjang sana. Yang telah di taburi oleh kelopak bunga mawar. Yang mungkin akan di sukai oleh pasangan pengantin baru. Lagi lagi Arandia hanya tersenyum miris.
"Ayolah Arandia. Kau harus kuat!. Ini baru dimulai, Dan kau harus yakin, Jika pernikahan ini akan baik baik saja. Karena kau sendiri yang mengambil keputusan ". Arandia menyemangati dirinya sendiri. Agar ia tidak akan menyerah begitu saja, Dengan keputusan yang telah ia buat.
__ADS_1
Meskipun pada akhirnya, Ia tetap terluka dan kembali kecewa. Namun, Setidaknya ia sudah pernah mencobanya. Karena ia masih membutuhkan bantuan dari Zello atas kekuasannya itu.