
Mencintai kadang memang tak harus memiliki. Mencintai juga harus bisa berkorban. Mencintai kadang juga harus bisa menerima konsekuensinya. Baik buruknya pasangan kita. Perkara kesempurnaan dan kekurangan nya. Semuanya harus bisa di terima dengan lapang hati.
Apalagi kalau sudah memutuskan untuk berumah tangga. Seharusnya bisa saling memahami satu sama lainnya. Komunikasi kan lah apapun masalah yang sedang di hadapi dengan pasangan masing-masing. Jangan mudah terpengaruh akan hasutan orang luar. Apalagi kebenarannya belum bisa di pastikan.
Zello menatap nyalang, Sebuah bangunan yang nampak tak terawat lagi. Namun, Di dalam nya berdiri sebuah Villa nan megah. Dan di jaga ketat oleh banyaknya penjaga. Tetapi semua itu tak membuat Zello takut sama sekali.
Langkah kakinya semakin lebar, Untuk segera tiba di dalam bangunan itu. Namun, Ia hanya memakai caranya sendiri. Mana mungkin ia bertamu ke kediaman klan nya. Dengan cara baik baik.
Bahkan, Puluhan penjaga di luar mampu ia lewati dengan mudah. Hingga ia sampai di depan sebuah pintu ruangan. Yang ia yakini itu adalah tempat pemilik bangunan tersebut.
Tanpa menimbulkan suara apapun. Pintu ruangan nan kokoh itu. Mampu ia buka dengan tidak menimbulkan bunyi sama sekali. Seorang pria tengah menyesap rokoknya. Di sebuah kursi kebesaran nya, Sambil mendengarkan musik klasik favorit nya. Kursi itu menghadap kearah tembok. Hingga ia tidak mengetahui. Jika seorang pria berjiwa iblis. Saat ini tengah memperhatikan dirinya.
Saat tangan pria itu menggapai gelas wine. Di sampingnya dan akan meminumnya. Namun saat gelas belum mencapai bibir nya.
Cetarrrrr... Pyarrr....
__ADS_1
Gelas itu hancur hingga wine di dalamnya ikut tumpah. Membuat sang pemilik ruangan langsung terkejut dan menoleh kebelakang.
Matanya melotot sempurna. Saat ia melihat seorang penguasa dunia gelap. Sedang duduk di meja pojok ruangan. Sambil meniup niup ujung pistol di tangan nya. Bahkan Suara tembakannya tadi tak menimbulkan bunyi.
"K... a... u.... ". Suara pria itu bergetar hebat. Jantungnya seakan ingin lepas dari sarangnya. Namun, Sayangnya Zello tak memberikan kesempatan untuknya berbicara lebih banyak lagi.
Sebuah benda tajam dengan bentuk setengah lingkaran. Telah tertancap di leher nya. Tepat mengenai urat nadinya. Hingga tetesan darah segar, Kini mulai mengalir, Membasahi lantai keramik mahal tersebut.
"Bukan kah sebelum nya. Sudah aku peringatkan. Berhentilah menjadi bayang bayang!. Jika tidak mau mati sia sia". Ujar Zello dengan seringai iblisnya.
" Haiss.... ". Zello maju menghampiri pria itu. Saat sang pria ingin berusaha lari darinya. Meskipun keadaan nya saja sudah mengenaskan seperti itu.
Krekkkk....
" Aaa... mmmpu... n".
__ADS_1
"Sayang nya sudah terlambat". Jawab Zello dengan tatapan membunuh nya. Saat ia dengan santainya, Malah mematahkan leher sang pria. Tanpa perasaan ragu sedikitpun.
Zello meletakkan tubuh yang sudah berlumuran darah itu. Kembali ia dudukan di atas kursi sebelum nya. Bahkan, Posisinya masih sama seperti sebelumnya nya. Zello juga menambah volume musik nya. Ia menyeringai iblis, Lalu pergi meninggalkan ruangan. Tanpa ada jejak sedikitpun. Sungguh ini lah karakter Zello yang sesungguhnya.
"Na... Na... Naaa". Ia pun sambil bernyanyi sesukanya. Mengikuti alunan musik itu.
Di saat hidupnya mulai di usik. Ia akan menunjukkan. Siapa dirinya sebenarnya. Dan di saat itulah hanya ada ketakutan serta bayang bayang kematian. Yang selalu menghantui para musuhnya. Sebab, Zello akan bertindak dengan cara nya sendiri. Tanpa ada yang tahu, Kapan ia datang dan kapan ia akan pergi.
Setelah sampai di luar. Zello kembali menatap bangunan itu. Dan dengan gaya santainya. Ia mulai menghidupkan mesin motornya. Dan meninggalkan daerah itu dengan pakaian serba hitamnya.
Tak perduli gelapnya malam. Ataupun banyaknya ranjau yang terpasang di daerah itu. Zello tetap saja mampu melewatinya dengan mudah. Bahkan, Saat ada beberapa ranjau yang tak sengaja terkena ban motornya. Ia masih bisa untuk menghindarinya.
"Ada apa?? ". Zello berbicara lewat sambungan earphone nya. Karena, Jackson pasti sedang mengkhawatirkan keadaan nya. Sebab, Zello pergi tanpa memberitahu asistennya sama sekali.
" Hem, Aku baik baik saja. Sepuluh menit lagi aku akan pulang". Jawabnya lagi. Dan kembali menambah kecepatan laju motornya.
__ADS_1