
Keesokan harinya, Pagi pagi sekali. Zello dan Dia sudah sangat rapi. Keduanya hari ini ada janji temu. Dengan dokter obgin. Karena, Zello memutuskan untuk berkonsultasi. Pada dokter kandungan demi membuat Dia yakin. Kalau mereka berdua sama sama sehat. Meskipun sampai saat ini, Keduanya belum juga di berikan kepercayaan untuk memiliki seorang bayi.
Tangan Zello sejak turun dari mobil. Tak pernah terlepas dari tangan istrinya. Seolah ia ingin menunjukkan pada dunia. Jika ia telah memiliki seorang istri. Dan hanya Dia yang ada di hatinya saat ini. Walaupun, Sosok Sysil tak akan mudah untuk ia hilang kan begitu saja. Di dalam hatinya sampai detik ini.
Kedatangan Zello dan Dia sudah di sambut. Oleh wanita paruh baya yang masih sangat terlihat cantik dan anggun. Meskipun ia selalu menutup wajahnya dengan kain cadar. Yang begitu indah dan teduh melihat nya.
"Assalamualaikum Umi She". Sapa Dia sambil tersenyum. Dan mencium punggung tangan Sherly.
"Waalaikumsalam wr. wb. Dia bagaimana keadaan mu?. Apa putra Umi ini kembali membuat ulah? ". Sherly langsung menyinggung Zello. Yang membuat pria itu sama sekali tak menunjukkan respon apapun.
__ADS_1
Kadang Sherly juga tak paham. Apa yang ada di dalam otak keponakannya satu ini. Dan sifatnya juga jauh lebih dingin dari Daddy nya sendiri. Bahkan, Ia juga sangat pandai menyimpan perasaannya.
Zello selalu nampak tenang dalam hal apapun. Sehingga sangat sulit untuk membaca dirinya. Bahkan, Para psikiater pun. Kemungkinan tak bisa menembus mimik wajah seorang Zello.
"Hehe, Dia sehat Umi. Dan Bang Zello juga selalu memperlakukan Dia dengan baik. Umi tenang saja! ". Jawab Dia sambil tersenyum teduh.
Pria itu lebih banyak berkorban. Untuk orang orang di dekatnya. Sehingga ia melupakan kebahagiaan nya sendiri. Dan berusaha mati matian. Membuang rasa cinta nya. Pada seorang wanita, Yang telah ia cintai selama ini. Kadang Umi Sherly merasa kasian dan Iba. Akan nasib Zello, Sherly tahu meskipun Zello selalu berpembawaan tenang. Sebenarnya hatinya pun memiliki sisi rapuhnya. Hanya saja, Pria itu mampu menutupinya. Dengan sikap dinginnya itu.
"Syukurlah, Umi senang mendengarnya". Umi Sherly pun segera menggandeng tangan Dia. Untuk menuju keruangan khusus. Dimana mereka akan melakukan pemeriksaan nantinya.
__ADS_1
Dan Umi Sherly pun. Telah menyiapkan dokter khusus juga. Untuk menangani para keponakannya itu. Sementara Zello hanya mengekor di belakang, Kedua wanita beda usia itu. Tanpa, Ingin protes sedikitpun.
Bagi Zello saat ini, Kebahagian istrinya yang utama. Meskipun ia harus belajar melupakan dan membersihkan nama Sysil dari hatinya. Walaupun bayang bayang gadis itu. Kadang bermunculan di benaknya.
Jackson yang sejak tadi diam. Kini mulai memperhatikan sekitarnya. Ia akan selalu siap siaga. Demi keamanan Tuan dan Nyonya itu. Walaupun, Jackson tahu. Jika disini Zello dan Dia akan aman. Sebab, Negara ini terlindungi oleh hukum Negara nya. Sehingga tak bisa sembarangan untuk main bunuh membunuh. Apalagi di tempat umum seperti sekarang ini. Sangat beda jauh. Ketika mereka kembali ke Amerika nanti.
"Tenang saja!. Semuanya pasti akan baik baik saja! ". Ujar Zello, Memberikan semangat nya, Pada istrinya. Saat keduanya sudah masuk, Kedalam ruangan khusus Dokter Obgin.
Dia hanya tersenyum, Dan menganggukkan kepalanya. Wanita itu berusaha tetap tenang. Meskipun, Hatinya sangat ketakutan. Jika ia sampai menemukan hal. Yang malah membuat nya semakin down. Ada ketakutan sendiri di hatinya saat ini. Yang tiba tiba saja membuatnya gelisah.
__ADS_1