Yang Muda Menikah

Yang Muda Menikah
10


__ADS_3

Pukul sepuluh malam, tirai jendela masih ia biarkan terbuka. Menerbangkan helaian rambut miliknya. Matanya berair terus menerus dan ia tidak ingin menyekanya sedikit pun.


"Kenapa?" lirih Ghina lagi.


"Ya Allah, kenapa ini harus terjadi sama aku?" katanya lagi. Bahunya naik turun. Sesak di dadanya seolah tak mau reda walau sudah satu jam yang lalu ia menangis.


Beberapa jam yang lalu, setelah kepergian keluarga Kyai, sang Ibu langsung memberi Ghina wejangan yang mau tak mau, membuat hati gadis itu tertohok dan pilu secara bersamaan. Ia sadar, dirinya salah. Namun, mengapa harus solusi itu yang menjadi alternatif terbaik? tidak bisakah, fitnah itu cukup sampai sini. Toh, sekolah juga sudah percaya bahwa semua berita itu hanya hoax belaka.


"Semua yang kita lakukan ada pertanggungjawaban Nak," suara Ibunya melembut. Ghina semakin terisak.


"Nggak bisakah Ibu maafin aku, tanpa harus maksa aku nikah?" suara Ghina patah-patah karena desakan tangis yang sulit terhenti.


"Terserah kamu. Kalau kamu mau Ibu diamkan. Karena Ibu sangat kecewa." Narsih menunjukkan wajah getirnya yang membuat Ghina semakin merasa bersalah.


"Tapi Bu, nikah itu nggak mudah," Ghina berusaha membuat Ibunya tidak tega padanya.


"Ibu tahu. Ibu yang sudah merasakannya dengan Ayahmu. Ibu percaya sama Kyai. Dia nggak mungkin nyaranin anaknya nikah sama kamu, kalau dia sendiri nggak percaya anaknya bisa bimbing kamu menjadi istri yang baik." Mata Ghina kini bertatapan dengan sang Ibu.


"Percayalah Nak, solusi ini adalah yang terbaik. Kita juga turut menjaga citra pesantren. Belakangan, pesantren selalu dapat citra negatif dari masyarakat, mulai dari santrinya yang nggak bener, nggak junjung nilai-nilai moral. Banyak yang pacaran dan lainnya. Dan Fatih, dia adalah icon di pesantren. Anak Kyai, setidaknya dia bisa jadi contoh yang baik. Jika mampu dan tak mampu menahan syahwat, maka dia mencontohkan dengan menikah. Semata, untuk mengingatkan pada anak muda kalau nggak mau nikah dini, jangan sekali-kali dekati zina." Penjelasan Ibunya membuat Ghina seperti tidak bisa lagi membantah.


"Aku bersedia, tapi..." Ghina menyeka air mata di pipinya, "tolong maafkan aku Bu. Aku ingin jadi anak yang berbakti. Aku sudah mempermalukan Ibu."


"Jangan pernah trauma dengan laki-laki. Sekejam apapun Ayahmu dulu, nggak akan ada hubungannya dengan masa depanmu." Narsih mengusap pelan rambut Ghina.


"Aku nggak akan bawa masa lalu," lirih Ghina walau ia sendiri tidak terlalu yakin dengan perkataannya sendiri.


Ghina kembali mengeluarkan isak. Berat rasanya menyetujui. Namun, demi Ibunya dan demi citra pesantren. Ia harus.


Jika hidup adalah pilihan, maka kini Ghina rasanya tengah dipaksa dalam posisi untuk tidak bisa memilih.


Dering telepon menyadarkan Ghina. Ia melangkah mendekat ke arah ranjang. Di layar ponselnya tertera nama yang sudah tidak asing lagi.


"Wa'alaikumussalam," Ghina membalas.


"Eh suaramu kok serak gitu? gimana keadaanmu sekarang?" berondong Renata dari seberang. Nada bicaranya terdengar khawatir.


"Aku udah mendingan."


"Harusnya jam segini udah tidur, kamu 'kan sakit. Jangan maksa diri sendiri, tubuh kita butuh hak. Biar aja tugas dari Mister Arif itu, nggak usah dipikirkan." Renata mengingatkan agar Ghina istirahat, walau tidak secara langsung membuat Ghina akhirnya teringat dengan PR Matematika dari Mister Arif minggu lalu.


"Ya Allah, aku belum ngerjakan." Ghina mendadak gusar.


"Nggak usah dikerjakan dulu kataku! 'kan besok minggu. Malam seninnya aja," larang Renata dengan nada tinggi.


"Nanti lupa, sekarang aja." Ghina berjalan ke arah meja belajarnya. Lalu mengambil buku tugas Matermatika. Tangannya membuka LKS.


"Kemarin halaman berapa ya?" tanyanya.


"Besok aku kasih tahu," ketus Renata.


"Renatul!" pekik Ghina tertahan, ia mendadak dibuat kesal oleh Renata.


"Nggak, kamu harus istirahat!" kukuh Renata. Bisa Ghina pastikan, wajah gadis itu di seberang sana sedang merah padam.


"Aku sangat sehat. Otakku masih bisa diajak berfikir. Ayolah, nanti kalau besok aku males, aku salahin kamu loh."


"Biarin. Yang penting sekarang istirahat. Kalau nggak, aku nggak mau dibantu kamu jualan. Aku usir nanti kamu!" ancam Renata yang membuat Ghina berdecak kecil.


"Ancamanmu nggak berlaku!"


"Dasar keras kepala. Pokoknya aku nggak mau ngasih tahu."


Ghina terkekeh, tak kehabisan cara. Ia melihat buku catatan kecil berwarna pink miliknya. Di sana tertera halaman LKS yang dijadikan tugas.


"Aku dapat!"


"Jangan sampe begadang," nasiharmt Renata dengan helaan nafas yang terdengar.


"Hm."


"Ya udah aku tutup telponnya," ucao Renata lemas.


"Iya, semakin lama, kamu menghambat aku ngerjakan." Ghina berkata datar dan membuat Renata di seberang mendengus.

__ADS_1


"Dasar! ya udah assalamualaikum."


"Wa'alakumussalam."


Ghina tertawa pelan melihat layar ponselnya. Jarinya bergulir ke bawah. Sebuah nama tertera di sana. Ia membukanya. Chat terakhir adalah saat ia dan seseorang itu membicarakan tentang anggaran dana untuk proker donor darah yang telah usai dilaksanakan bulan lalu.


"Gimana kalau dia tahu, aku mau nikah sama Fatih?" lirih Ghina.


"Ya udah, kalau tahu. Biarkan." Ghina menaruh ponselnya jauh-jauh. Agar tidak mudah terdistrak saat mengerjakan soal Matematika yang saat melihatnyas saja mampu membuat matanya melebar dan dada berdebar. Luar biasa.


Tanaman Lilynya terlihat segar. Ghina sesekali tersenyum sambil menyiraminya.


"Selalu aja gini." Ghina berdecak kecil, "aku kelewat sibuk, sampe nggak perhatiin kalian. Maaf ya."


Terdengar suara sepeda motor di panaskan. Ghina menoleh, mendapati Imran yang sudah siap dengan setelan hem berwarna hitam dipadukan dengan celana jeans berwarna birunya.


"Kok bentar banget cutinya?" tanya Ghina heran. Biasanya Kakaknya cuti setengah bulan.


"Aku cuma ambil tiga hari. Hari ini harus kembali ke Mess. Urusanku juga udah selesai di sini," jelas Imran yang kini mencabut kunci motornya dan suara berisik itu terhenti.


"Yah." Ghina melenguh pelan.


"Kamu udah kangen aja?" goda Imran seraya berjalan menghampiri Ghina, badannya ia bungkukkan, lalu menyentuh salah satu bunga Lily yang mekar.


"Idih kepedean. Bukan gitu, cuma aku masih nggak enak sama Ibu," kilah Ghina sebal.


Imran tersenyum. "Gapapa, Ibu cuma butuh waktu untuk ngertiin kamu. Dia kaget dengan semua yang terjadi. Dia pengen kamu intropeksi diri. Jadi anak baik."


"Iya aku tahu, tujuan Ibu pasti begitu."


"Lagian, Ibu udah maafin kamu 'kan?" tanya Imran.


"Iya."


"Kamu beneran setuju?" tanya Imran lagi. Tadi malam, Ibunya memang mengusirnya sesaat setelah kepergian Kyai Zhafran. Dan memilih berbicara empat mata bersama Ghina.


"Aku yakin Kakak nguping padahal udah dilarang sama Ibu," tebak Ghina. Imran tertawa kecil.


"Punya kuping, sayang nggak di manfaatin hehe."


"Adikku memang anak berbakti. Coba Kakak lihat mukanya." Imran berdiri, ia mencakup wajah Ghina dengan gemas, "Nah ini dia Ghina yang seperti biasa. Cerah dan sumringah tapi rada keras kepala."


"Udah muji-muji, akhirnya mencibir juga."


Ghina menepis tangan Imran.


"Itu semua pujian. Keras kepala itu nilai plus, biar kamu teguh pendirian."


"Eleh, semua kepala orang memang keras."


"Astaga, sejak kapan adikku jadi sedikit bego?" Imran mengacak gemas kerudung Ghina.


"Ih, siram nih!" Ghina mengarahkan Gembor plastik berwarna hijau ke Imran, yang membuat wajah laki-laki itu sedikit terciprat.


"Innalillah, kegantenganku!" pekiknya tertahan, membuat Ghina seketika terpingkal dan memegangi perutnya.


"Kamu nggak pergi ke pasar?" tanya Imran. Biasanya saat hari libur begini, adiknya itu membantu temannya berjualan.


"Iya sebentar lagi, setelah mengurus mereka." Ghina mengerling ke arah bunga-bunganya.


"Kakak antar," tawar Imran.


"Nggak usah, kalau ada urusan sana pergi aja."


"Eh malah ngusir?" Imran mengangkat alisnya. Percakapan mereka terhenti saat sang Ibu memanggil mereka.


"Sebelum berangkat sarapan dulu kalian."


Ghina dan Imran saling berpandangan, "suasana hatinya sepertinya sudah membaik."


Ghina mengangguk, "semoga aja," katanya dan meletakan Gembor di dekat tanaman Lilynya.


Ia mengekor di belakang Imran. Mereka duduk di meja makan.

__ADS_1


"Ibu nggak ada agenda hari ini?" tanya Imran seraya menyuap nasi goreng yang masih mengepul ke mulutnya.


Narsih menaruh dua gelas teh ke atas meja. Untuk Ghina dan Imran.


"Ada arisan."


"Ibu nggak papa?" tanya Imran khawatir, ia tahu bahwa tetangganya juga sudah memperbincangkan terkait berita Ghina dan Fatih. Dan ia tidak ingin Ibunya nanti di sindir oleh teman-temannya.


"Emangnya kenapa?" Narsih mengangkat alisnya, lalu menyesap susu putih di gelasnya.


"Kalau maksud kamu gara-gara berita itu, Ibu nggak papa. Ibu bilang aja, itu hoax dan sekolah akan klarifikasi 'kan Na?" Narsih kini menatap Ghina yang dengan tiba-tiba terbatuk. Ghina menatap Ibunya yang berwajah santai pagi ini. Jika Ibunya percaya ia dan Fatih tidak melakukannya, mengapa masih bersikeras memaksanya menikah?


"Iya, pasti," jawab Ghina sekenanya. Ia lebih memilih fokus dengan nasi goreng di depannya. Seharusnya ia siap dengan sikap Ibunya yang mudah berubah, sesuai moodnya. Tapi entah mengapa, Ghina selalu saja tidak siap. Ibunya memang menjelma menjadi seseorang yang sulit di tebak semenjak ditinggalkan Ayah.


Ghina dan Imran bahkan sempat kewalahan saat kewarasan sang Ibu pernah sedikit terganggu. Dua psikiater sudah di datangkan ke rumah, bergantian jadwal. Syukurlah, Ibunya lebih baik dari sebelumnya. Tentu, dengan usaha yang susah payah. Jika Ghina hanya anak tunggal, mungkin dirinya pun akan ikut mengalami trauma, kecemasan berlebih dan bahkan depresi. Hanya saja, ada Kakaknya yang selalu menguatkannya.


"Na, Ibu titip bajunya Ibu Sari, pemilik Cv katering di depan SMP Jorong itu," ucap Narsih lagi. Ghina menatap Ibunya dengan senyuman.


"Iya Bu. Ibu, mau titip apa nanti?"


"Belikan ikan nila sekilo, sayur sop sepuluh ribu, sama ayam sebelah aja."


"Oke."


"Kakak nggak ada urusan mendesak amat, jadi kamu, Kakak antar ya," ucap Imran setelah mereka usai makan. Ghina mengangguk saja.


Imran melajukan motornya membelah jalan raya Jorong hingga ia menghentikannya tepat di depan sebuah SMP. Ghina turun dari motornya, lalu berjalan menuju sebuah rumah tingkat dua dengan design cukup mewah. Di samping rumahnya terdapat kios berukuran sedang dengan tulisan di atasnya "CV Saftarina Sari"


Bangunan itu berwarna putih dengan gerbang berwarna hitam di depannya. Ia memencet bel. Tak lama seorang wanita paruh baya membukakan gerbang dengan senyuman.


"Ini pesanan Ibu Sari.


"Oh iya terimakasih ya. Udah dibayar?"


"Udah. Iya sama-sama."


Imran mengantarkan Ghina sampai di parkiran pasar. Suasana pasar belum terlalu ramai. Hanya ada beberapa pedagang yang tengah sibuk membuka kios mereka. Sambil sesekali saling mengobrol dengan sesamanya.


"Mau aku belikan gorengan?" tanya Ghina.


"Boleh, untuk teman-temanku di Mess," balas Imran.


"Oke, tunggu di sini."


Ghina menghampiri Renata yang fokus mengiris pisang di dalam kios, seperti tidak menyadari kehadirannya.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumussalam, loh sudah kesini aja." Renata tersenyum dan berdiri menghampiri Ghina. Tangannya terulur ke dahi Ghina. "Hm, masih hanget dikit," katanya.


"Ya iyalah, mumpung masih pagi. Ibumu mana?" tanya Ghina celingukan.


"Kamu masih sakit ya? Ih nggak usah kesini kenapa, nanti kalau nambah parah gimana?" Renata gemas sekali dengan sahabatnya itu.


"Kamu belum jawab pertanyaanku Ren," balas Ghina datar.


"Balik ke rumah, ketinggalan minyak sayur sama ngambil tepung," jawab Renata.


"Oh, bisa buatkan gorengan 'kah untuk Kakakku?" tanya Ghiina


"Mana Kakakmu?" tanya Renata celingukan.


"Dia di parkiran."


"Oh bentar, mau berapa nih? apa aja?" tanya Renata bersemangat.


Setelah Renata menggoreng lima pisang, lalu tempe dan juga bakwan, ia membungkusnya dan menyerahkan pada Ghina.


"Nggak usah!" tolak Renata saat Ghina memberikan uangnya.


"Ih, aku beli loh Ren. Ini Kakakku yang beli." Ghina kembali menyodorkan uangnya.


"Gratis buat kamu pokoknya!" Renata mendorong tangan Ghina.

__ADS_1


"Nggak mau! aku nggak mau terima pokoknya!" kukuh Ghina sembari berkacak pinggang. Mereka saling bertatapan dengan sengit.


"Ekhem!" suara seseorang berdehem mengalihkan perhatian mereka. Menoleh bersamaan.


__ADS_2